Tapi gak tau juga genrenya sedih apa gak 🤔
auah, selamat membaca ajadh kalian..
_____________________
Seorang anak bernama Bian Juandika. Bian sedari kecil selalu di abaikan atau bisa di bilang tidak di anggap sama sekali di sebuah keluarga itu. Kenapa? tentu saja itu semua karna sebuah kecelakaan kecil dahulu.
Bian saat itu sedang mengajak adiknya yg sekitaran berumur 5 tahun untuk bermain di taman hiburan. Ah, sebagai kakak Bian selalu mengawasi adiknya karna takut kenapa-napa.
"Uhh.. Kakak Bian, Rinrin mau es krim yg di sana" Ucap Rin memelas sambil menunjuk penjual es krim.
"Baiklah, tapi jangan ke mana-mana ya tetap di sini ya" Ucap Bian sedikit khawatir.
"Iya, yaudah sana beli" Ucap Rin memayunkan bibirnya.
"Baiklah" Ucap Bian dan kemudian pergi ke tempat penjual es krim.
Selagi menunggu kak Bian nya, Rin melanjutkan permainannya itu. Saat sedang bermain Rin melihat ada sebuah kupu-kupu yg menarik perhatiannya, Rin pun Menggejar kupu-kupu itu.
~~~
Bian kembali ke tempat bermain adiknya, Namun.. Bian melihat keseluruhan arah tapi tidak ada sedikit pun terlihat adiknya itu. Haa.. Kini Bian cemas bagaimana keadaan adiknya. Kemudian Bian mengeluarkan Handphone di saku celananya setelah itu ia menelpon orang tuanya.
"Iya, ada apa Bian?" Tanya sang Ibu.
"Ibu... " Ucap Bian
"Ada apa? ayo cerita" Ucap Sang Ibu
"Rin hilang.. ma-" Ucap Rin namun kepotong.
"Kau! Cepat cari Rin sekarang. Kalau belum ketemu kamu tidak usah pulang ke rumah" Ucap Sang Ibu dengan emosi karna mendengar kabar Rin hilang.
Lihat betapa khawatir nya Sang Ibu saat mengetahui Rin hilang. Seharusnya Bian membawa Rin saja ke tempat ia membeli es krim tadi..
"Ba-baik bu" Ucap Bian terbata-bata.
Sambungan telepon pun terputus. Bian mencoba berlari kesana kemari sambil berdoa semoga adiknya Rin tidak apa-apa.Namun kenyataan tidak seindah realita. Bian melihat Rin terluka, sepertinya Rin terjatuh dan lukanya ada di bagian kepala. Bian berlari ke puskesmas terdekat. Setelah itu Bian mengirimi alamat puskesmas yg ia tempati.
Kedua orang tua mereka pun datang dan kemudian masuk ke dalam sambil menanyakan alamat kamar yg mereka tuju ke suster.
"Ibu.. Ayah.. Ma.. Maaf.. Ak-" Ucap Bian, Namun kepotong lagi.
"Bian! kenapa kamu tidak bejus menjaga adikmu sendiri. Kalau seperti ini jadinya kenapa juga ibu memberi ijin ke kamu Bian! Awas saja kalau Rin kenapa-napa! " Emosi Sang Ibu.
Sedangkan Sang ayah hanya diam, namun ekspresi yg di lihatkan seperti nya ia juga marah. Tiba-tiba dokter yg menangani Rin keluar dari ruangannya.
"Apakah kalian keluarga pasien? " Tanya Sang dokter.
"Iya, kami berdua orang tuanya" Jawab Sang Ibu.
"Baiklah, tentang mengenai soal pasien. Ia baik-baik saja, tapi.. " Ucap Sang dokter namun ia potong.
"Tapi apa? " Tanya Sang Ayah.
"Tapi sepertinya pasien mengalami benturan keras. Yg membuat pasien lupa ingatan, tapi untung nya masih ada cara untuk menyembuhkan nya. dengan mengenang tempat-trmpat yg pasien kunjungi" Ucap Sang dokter panjang lebar.
"Gitu, baiklah" Ucap Sang ayah.
"Kalau begitu saya permisi dulu" Ucap Sang dokter.
Setelah dokter pergi. Ibu Bian murka, yaiyalah murka orang anak kesayangan lupa ingatan. Haa.. kasian Bian..
"Kau lebih baik pulang, karna kau Rin jadi seperti ini" Ketua Sang Ibu. dan di balas anggukan dari Bian
"Dan oh ya, jangan pernah kau bersama Rin. Karna kau Rin jadi begini" Ucap Sang ibu kesal.
"I-iya" Ucap Bian menunduk karna takut melihat wajah kesal ibunya.
Bian pun pulang ke rumah sambil menangis dan mengatai diri sendiri bahwa ia yg telah membuat adiknya begini seharusnya ia berhati-hati.
Haaa.. semenjak hari itu Bian selalu menghindari Rin walau sebenarnya ia ingin bermain bersamanya.
Beberapa tahun berlalu, kini Rin tumbuh menjadi seorang pemuda yg tampan dengan tubuh kekarnya di usia 16 tahun (Waw😶)
Rin sekarang kelas 1 SMA sedangkan kakaknya yaitu Bian kelas 3 SMA. Bian selalu menghindari adiknya karna ia tidak mau adiknya mengingat dirinya. Kalau itu sampai terjadi, maka Bian akan mendapat masalah.
"Aa.. dia tampan sekali, iya tampan, semoga dia teman sekelasku, meleleh sudah diriku ini, ah pingsan dah gw, mas ayo kawinin aku mas, waaaaaa.. bla bla bla" Berbagai sorakan terdengar di telinga Rin. Hih, Rin gedeg dengarnya. Itu terlalu berisik, ah Rin melihat ada seorang pemuda langsung saja Rin menarik baju pemuda tadi dan akhirnya Rin bisa keluar dari kerumanan itu.
Rin langsung saja berlari, tanpa ia sadari kalau Rin juga membawa seseorang.
"Me-ma-maaf apakah kau bisa melepaskan genggaman ini? A-aku ingin ke kelas" Ucap Bian gagap, ya macam mana gak gagap cobak. di depannya bisa di liat kalau yg menggenggam tangannya itu adiknya sendiri.
"Ah maaf" Ucap Rin.
"I-iya gpp" Balas Bian.
"Mmm.. kamu kelas berapa? " Tanya Rin.
"Ah, kelas 3-e " Jawab Bian.
"Oohh.. kukira kamu anak kelas 1"Ucap Rin sambil menggaruk pipi yg tidak gatal.
" Lagian tu badan pendek juga. Kok bisa kelas 3" Sambung Rin.
"Iih, walaupun pendek kan umur tetep tua" Ucap Bian kesal.
"Pfftt" Tahan tawa Rin.
Ting Tong
(Bunyi bel)
"Yasudah sampai ketemu lagi nanti" Ucap Rin sambil melambaikan tangan.
*Sepertinya tidak, kalau kita ketemu lagi dan itu di liat ibu ayah pasti mereka marah* Batin Bian.
Tamat~
_____________________
Oke segitu aja, selebihnya silakan mau anda buat sendiri atau gak. Bagi yg sudah baca terimakasih.
Sampe jumpa