Seperti tersambar petir disiang bolong begitulah yang dirasakan Ye Jin ketika ia membaca pesan yang baru saja ia terima.
Bagaimana tidak. Pesan yang begitu singkat itu telah menghancurkan mimpi dan hatinya.
"Kita Putus." Begitulah bunyi pesan itu.
Ya, pesan itu dikirim oleh seseorang yang akan menikahi Ye Jin hari itu. Semua tamu undangan telah hadir. Mereka telah menunggu lama untuk melihat sang pengantin. Namun mempelai pria tak kunjung datang juga.
Ye Jin yang shock hanya bisa terdiam dan bergetar di ruang rias. Ia tak benar-benar mengerti apa yang baru saja ia alami.
Ia masih memegang erat handphonenya. Ia masih tak percaya apa yang ia liat.
Tok...Tok... Tok...
Seseorang mengetuk pintu dan membukanya. Orang itu tak lain adalah Shin Bi sahabatnya.
Ia terkejut ketika melihat Ye Jin masih melamun.
"Hei... Ye Jin. Apa yang kau lakukan? Dia belum datang? Kau sudah menghubunginya?" Tanya Shin Bi.
Ye Jin menoleh. Melihat sahabatnya yang berdiri diambang pintu membuat Ye Jin menangis. Air matanya perlahan-lahan turun.
Shin Bi langsung menghampiri Ye Jin dan memeluknya. Shin Bi tak bertanya apapun. Ia hanya memeluk Ye Jin dan mengusap punggungnya. Ye Jin terus menangis dalam pelukan Shin Bi. Ye Jin menenggelamkan kepalanya larut dalam kesedihannya. Setelah merasa lega Ye Jin melepaskan pelukannya. Ia menatap Shin Bi yang duduk di sebelahnya.
"Berakhir." Ye Jin membuka suaranya.
"Semua sudah berakhir." Ucap Ye Jin sambil terisak.
"Dia pergi." Ye Jin menunjukkan chat terakhir calon suaminya.
Shin Bi terlihat geram setelah melihat pesan itu.
"Putus? Sekarang? lewat pesan?" Shin Bi kesal.
"Bagaimana bisa dia mengakhirinya seperti ini? Saat ini, ketika semua sudah siap dan tamu sudah datang? Bagaimana bisa dia sekajam ini?" Celoteh Shin Bi yang marah.
Ye Jin hanya bisa menangis tanpa suara tatapannya kosong. Tiba-tiba.... Brukk...
Ye Jin terjatuh ia tak sadarkan diri. Melihat Ye Jin pingsan Shin Bi menghampirinya. Ia berusaha membangunkan Ye Jin namun ia tak kunjung sadar. Shin Bi akhirnya menghubungi ambulance. Tak lama kemudian ambulance datang dan mereka bergegas ke Rumah Sakit.
Setelah sampai di Rumah sakit paramedis segera memberikan pertolongan pada Ye Jin. Shin Bi melihat sahabatnya dengan penuh kekhawatiran. Ia berharap sahabatnya baik-baik saja.
Beberapa saat kemudian datanglah seorang dokter muda yang tak asing. Dokter itu menghampiri Shin Bi.
"Tenanglah jangan khawatir. Dia baik-baik saja. Dia hanya lelah saja." Kata dokter itu.
Shin Bi hanya mengangguk ia menghampiri Ye Jin yang terbaring dengan infus ditangannya. Ye Jin yang tertidur nampak begitu pucat. Matanya juga terlihat sembab. Shin Bi hanya menjaganya. Sesekali ia mengusap keringat yang membasahi dahinya. Shin Bi dengan sabar merawat Ye Jin. Mereka adalah sahabat yang sudah seperti keluarga. Karena Ye Jin hanya hidup sebatang kara, Shin Bi lah yang selalu menemaninya. Mereka sudah bersahabat sejak duduk di bangku SMP.
Mereka saling menjaga dan melindungi satu sama lain.
Malam telah tiba. Shin Bi pun masih terjaga. Ia tak tega meninggalkan Ye Jin sendirian. Meski sebenarnya ia merasa mengantuk namun ia memaksakan matanya untuk tetap terbuka. Tak lama kemudian datanglah dokter muda yang tadi.
"Tidurlah biar aku yang jaga. Hari ini aku juga piket." Bujuk dokter muda itu.
"Kau pasti juga lelah. Biar aku saja. Kau lanjutkan saja tugasmu." Tolak Shin Bi.
"Baiklah. Kalau begitu kita jaga berdua." Pinta dokter itu.
Shin Bi pun menyetujuinya. Mereka terlihat akrab.
Ya, karena dokter muda itu adalah seseorang yang mereka kenal. Dokter Muda itu adalah cinta pertama Ye Jin dan juga Shin Bi.
Pagi hari.
Ye Jin terbangun. Ia melihat Shin Bi yang tertidur di sofa. Ia merasa bersalah karena sudah merepotkan sahabatnya itu. Ia hanya memandangi Shin Bi yang terlihat lelah.
Tak lama kemudian dokter muda itu masuk. Ia memeriksa keadaan Ye Jin. Ye Jin sedikit terkejut melihat dokter itu. Ia juga merasa malu karena harus menunjukkan keadaannya yang seperti itu.
"Kau sudah bangun? Bagaimana perasaanmu?" Tanya dokter itu.
"Aku baik-baik saja." Jawab Ye Jin singkat.
"Syukurlah. Setelah infusmu habis kau sudah boleh pulang." Kata dokter itu. Ye Jin hanya mengangguk.
Mendengar suara mereka Shin Bi yang terlelap pun akhirnya terbangun. Ia menyapa dokter itu dan segera memgecheck kondisi Ye Jin. Ia lega Ye Jin baik-baik saja. Setelah selesai memeriksa Ye Jin dokter muda itupun pergi meninggalkan Ye Jin dan Shin Bi.
Selepas kepergian dokter itu suasana kamar nampak sedikit canggung. Mereka terdiam. Mungkin karena mereka bertemu kembali dengan cinta pertama mereka yang hampir membuat mereka kehilangan satu sama lain.
Ye Jin yang tak tahan dengan keheningan pun mencoba untuk mencairkan suasana.
"Shin Bi-ya." Rengek Ye Jin.
"Hmmm..." Shin Bi hanya membalasnya singkat.
"Aku jenuh. Ayo temani aku jalan." Pinta Ye Jin.
"Sebentar lagi kau pulang. Istirahatlah. Setelah keluar dari sini aku akan membawamu jalan-jalan kemanapun kau mau." Janji Shin Bi.
"Benarkah?Kau serius? Kau tidak membohongiku kan?" Ucap Ye Jin yang menjadi ceria.
"Iya. Aku janji." Jawab Shin Bi sambil tersenyum.
Suasana kembali menghangat. Begitulah mereka. Tak bisa mengabaikan satu sama lain.
Shin Bi merapikan selimut Ye Jin dan menyuruhnya untuk istirahat. Sedangkan Shin Bi keluar ruangan untuk mencari makan. Ia harus mengisi perutnya yg keroncongan.
Shin Bi berjalan menuju kantin. Ketika ia melewati lobi ia melihat sesosok yang tak asing. Ia melihat seorang lelaki yang begitu ia kenal. Lelaki itu sedang bersama seorang perempuan yang tengah hamil muda. Lelaki itu adalah mantan calon suami Ye Jin. Melihat hal yang tak biasa didepannya membuat Shin Bi murka. Ia meraih segelas kopi dari orang disebelahnya. Ia menghampiri lelaki itu dan mengguyurnya dengan es kopi yang ia bawa. Lelaki itu hanya terdiam. Ia tahu kenapa Shin Bi begitu marah. Perempuan yang tengah hamil itu pun juga hanya menunduk. Ia tak mengatakan apapun.
Tak puas hanya menyiramnya Shin Bi pun menampar lelaki itu.
Plak... suara tamparan itu begitu keras. Hingga membuat orang-orang disekitar menoleh dan memperhatikan Shin Bi. Shin Bi tak peduli. Hatinya masih terasa sakit. Seakan tamparan itu tak cukup meredakan amarahnya.
Plakkkk... ia menampar lelaki itu lagi. Namun laki-laki itu masih bungkam. Ia tak mengucapkan sepatah kata pun.
Melihat hal itu membuat Shin Bi semakin marah.
Ia berusaha melayangkan tamparan lagi. Namun kali ini seseorang mencegah tangannya. Orang itu adalah perempuan hamil yang datang bersama lelaki itu. Shin Bi menatap tajam perempuan itu. Mengisyaratkan untuk melepaskan tangannya. Namun perempuan itu tak bergeming.
"Lepaskan." Teriak Shin Bi. Perempuan itu hanya menatap Shin Bi.
"Kau tidak akan melepasnya?" Teriak Shin Bi lagi.
"Hentikan." akhirnya lelaki itu membuka mulutnya. Lelaki itu meraih tangan perempuan hamil itu. Ia merangkulnya dan menenangkannya.
Melihat hal itu membuat hati Shin Bi semakin hancur.
"Apa yang kau lakukan?" Tanya Shin Bi.
"Hanya itu yang bisa kau katakan?" Cerca Shin Bi.
Lelaki itu tak menjawab. Ia semakin erat memeluk perempuan hamil itu dan mengajaknya pergi. Shin Bi ingin mengejar lelaki itu namun seseorang menggenggam tangannya dan menghentikan langkahnya.
Ya, dia adalah Ye Jin. Ye Jin yang sedari tadi menyaksikan semuanya. Ye Jin yang sedari tadi menahan amarahnya. Ia juga ingin melakukan hal yang sama seperti yang dilakukan Shin Bi.
Tapi ia tak cukup kuat. Ye Jin menatap Shin Bi. Matanya seolah memohon pada Shin Bi untuk berhenti.
Shin Bi melihat Ye Jin yang sudah berlinang air mata. Ia merasa iba melihat sahabatnya itu.
"Ye Jin-ah" Ucap Shin Bi.
Mendengar nama Ye Jin lelaki yang tadinya pergi menghentikan langkahnya.
"Ye Jin-ah. Kenapa kau disini? Kenapa kau keluar?" Tanya Shin Bi yan juga ikut menangis.
Ye Jin hanya mengangguk. Ia berusaha tegar.
Ia melepaskan tangan Shin Bi dan menghampiri lelaki itu.
"Oppa..." Kata Ye Jin lirih.
Lelaki itu masih terdiam ia tak menoleh.
"Jae woong-ssi..." Lelaki itu masih diam.
"Hei... Park Jae Woong." Ye Jin sedikit berteriak dan membuat lelaki itu menoleh dan menatapnya.
Ye Jin menghampiri lelaki itu.
"Ini cincinmu. Aku tidak membutuhkannya lagi." Kata Ye Jin sambil melepas cincin yang ada di jari manisnya. Ia memberikannya kepada Jae Woong.
"Semoga bayimu sehat selalu dan lahir dengan selamat. Aku tulus mengucapkan selamat untukmu." Ucap Ye Jin sambil melirik perempuan yang ada disebelah Jae woong. Perempuan itu hanya menunduk. Kali ini ia merasa malu.
Jae Woong menerima cincin itu. Ia merasa bersalah. Ia ingin menjelaskan kepada Ye Jin namun Ye Jin menolaknya.
"Simpan saja semua alasanmu. Aku tidak butuh semua itu." Celetuk Ye Jin dan ia berbalik meninggalkan Jae Woong dan perempuan hamil itu.
Ye Jin berlari sambil menghapus air matanya. Shin Bi mengikutinya.
Terlihat seorang dokter muda mengawasi mereka dengan tatapan sedih. Dokter itu telah melihat semua kejadian itu. Dokter itu bisa merasakan betapa hancurnya hati Ye Jin. Betapa terlukanya Ye Jin. Namun dia tak bisa menghiburnya.
Ye Jin dan Shin Bi berhenti disebuah lorong. Shin Bi memeluk erat Ye Jin. Ia menenangkan sahabatnya itu. Ye Jin kembali menangis. Dadanya terasa sesak. Akhirnya ia mengetahui alasan mantan calon suaminya tidak hadir dipernikahannya. Alasan itu membuat hatinya semakin sakit. Bagaimana mungkin lelaki itu tega menghianati cinta mereka yg telah bertahun-tahun. Meskipun ia sedikit mengerti kenapa Jae Woong memilih perempuan itu. Karena selama mereka bersama Ye Jin memang tidak pernah membahas soal anak. Karena Ye Jin belum memikirkan untuk memiliki seorang anak. Karena ia tumbuh tanpa orang tua, Ye Jin tidak cukup berani untuk bermimpi memiliki anak dan membesarkannya. Jae Woong pun mengetahui hal itu dan tetap melamarnya. Namun Jae Woong malah memilih menghianati Ye Jin.
"Dasar... lelaki b*****. Jika memang dia menginginkan seorang anak seharusnya ia membicarakannya denganmu. Harusnya dia meyakinkanmu. Bukan malah membuat anak dengan perempuan lain." Kata Shin Bi kesal.
"Harusnya dia bisa lebih memikirkanmu. Jika dia benar-benar mencintaimu. Harusnya dia bisa bersabar." Shin Bi semakin geram.
Ye Jin hanya terdiam. Ia merasa bisa memahami alasan Jae woong. Ye Jin pun merasa sedikit lega. Ia memutuskan untuk merelakan Jae Woong. Ia tidak peduli lagi.
Kali ini, ia hanya ingin memikirkan dirinya sendiri. Ia pasti bisa bahagia meski tanpa Jae Woong. Ia masih memiliki Shin Bi. Sahabatnya yang selalu ada untuknya. Ye Jin menghapus air matanya.
Ia melihat Shin Bi dan tersenyum.
Matanya seolah berkata ia baik-baik saja. Dan ia akan baik-baik saja.
Shin Bi pun membalas senyuman itu. Ia menguatkan Ye Jin dan meyakinkannya. Bahwa dia pasti bisa bahagia dan semua itu akan berlalu.
Merekapun saling menguatkan dan memberi semangat.
The End.