Kata orang, orang yang sudah meninggal arwahnya akan selalu berada di rumah sampai 40 hari, sekaligus pamit sebelum arwah tersebut benar-benar kembali ke alam kubur.
Nenekku tadi malam meninggal dunia di usia 92 tahun. Aku amat sedih karena kehilangan dirinya, sebab hanya nenekku yang bisa mengerti perasaanku. Mungkin karena semasa kecil aku hidup dengan nenek ketika ayah dan ibuku merantau ke luar pulau, oleh sebab itu aku benar-benar merasa kehilangan nenek.
Esoknya saat hari kedua meninggalnya nenek, aku mendengar beberapa tetangga yang membantu masak sedang membicarakan almarhumah nenek. Kata mereka, saat mereka hendak pulang ke rumah, mereka mendengar seseorang dengan memakai terompah seperti sedang mengikuti mereka.
"Heh, masa iya tadi malam aku denger ada suara terompah ngikutin aku habis bantu-bantu dari sini," ujar lik Sri.
"Kok ya sama, ya lik, aku tadi malam denger juga. Mana keras banget. Apa jangan-jangan itu arwah almarhumah nenek Suryatin, ya? Soalnya 'kan cuma dia satu-satunya orang yang pakai terompah di kampung ini," kata lik Luluk sambil mengulek sambal buatannya.
"Wah, ternyata ini bukan kebetulan, ya lik. Cuma ini bukan aku sih ngalamin, tapi suami aku. Kata dia, tadi malam dia ngelihat nenek Suryatin lagi mondar-mandir pake terompah sambil zikir di depan rumahnya setelah tahlilan usai," ujar lik Susi.
"Ah, masak sih lik? Yang bener, lik," tanya lik Desi sambil mengupas bawang merah.
"Ih, bener lik Des. Kalau gak percaya tanya saja sama suami aku," ujar lik Susi.
Mengetahui aku datang, mereka segera menghentikan gosip tentang nenekku dan melanjutkan pekerjaan mereka.
***
Aku menerima para tamu yang berdatangan ditemani oleh ibu. Ada satu rombongan ibu-ibu datang, sepertinya mereka orang jauh karena naik truk dan tampilannya seperti orang-orang yang tinggal di daerah pegunungan. Mungkin mereka adalah tetangga nenek, karena nenek sendiri orang gunung sebelum menikah dengan kakek. Lalu salah satu dari mereka nyeletuk.
"Ini yang meninggal beneran nenek Suryatin, kan?"
"Iya," ujarku sambil menyalami mereka satu persatu.
"Terus itu yang lagi duduk di pojokan siapa?" ujarnya lagi.
Lalu ia disenggol oleh temannya. "Hus! Kebiasaan kamu ini. Ayo duduk, jangan banyak tingkah," ujarnya. Seketika ia terdiam.
Aku pun hanya membalas dengan senyuman.
***
Sehabis tahlilan, orang-orang berlalu dan kembali ke rumah masing-masing.
Di rumah hanya ada aku dan kedua orang tuaku, sedangkan kedua anak dan cucu-cucu nenek yang lain masih belum datang dari kota.
Malam semakin larut, sedari tadi aku masih belum bisa tidur karena insomniaku kambuh, padahal ini sudah lewat jam dua belas malam.
Tiba-tiba, aku mendengar suara terompah dari luar kamarku. Mendengar itu, aku segera memeriksa asal suara itu khawatir ada maling masuk ke rumah. Kucoba cari mulai dari ruang tamu, kamar ayah dan ibu, kamar tamu, ruang makan, dan berakhir di kamar nenek yang ada di dapur. Ternyata suara itu berasal dari kamar nenek yang menyatu dengan dapur dan hanya ditutupi dengan tirai putih.
Kuhidupkan lampu. Cahaya lampu dari dapur memperlihatkanku seseorang tengah salat. Bayangan orang itu tembus melalui tirai putih di kamar nenek. Salat malam sendiri sering dilakukan nenek semasa hidupnya. Nenek tidak pernah meninggalkan salat malam walau sehari. Seusai salat, biasanya nenek akan mengaji dengan suaranya yang lirih.
Aku pun menunggu orang itu hingga selesai salat.
Aku penasaran siapakah gerangan orang yang sedang salat di kamar nenek itu. Padahal tak ada orang lain di rumah kecuali aku dan kedua orang tuaku.
Tak berselang lama, orang itu selesai salat. Lalu dia mengambil sesuatu di lemari nenek yang biasa nenek gunakan untuk menyimpan barang-barangnya, termasuk kitab Al-quran. Dengan jalan terbungkuk-bungkuk dia pun duduk kembali di atas kasur nenek.
Mirip sekali seperti nenekku.
"Bismillahirrahmanirrahim ...."
Suara itu adalah suara nenek.
Apakah itu nenek?
"Nek, apa itu nenek?" tanyaku memastikan. Dengan perasaan ragu, aku mendekati tirai dan membukanya.
Pssst!
Tiba-tiba lampu dapur mati.
Pandanganku menjadi gelap dan tak mampu kulihat sekeliling. Mendadak suaraku hilang saat hendak memanggil orang tuaku. Aku menjadi semakin panik. Sementara itu, orang yang suaranya mirip nenek terus mengaji dan membuatku bergidik ngeri. Lalu ia berhenti.
"Miraaaaa .... Ini nenek. Nenek kangen sama kamu. Apa kamu sudah makan? Jangan lupa minum obatmu ya, Mir biar kamu gak tidur malam lagi," ujarnya.
Mampus aku. Kenapa orang itu mengaku-ngaku nenekku dan tahu kalau aku punya insomnia? Sementara itu aku berusaha berteriak, tetapi tetap saja tak ada suara pun yang keluar dari mulutku. Tiba-tiba dari arah belakang seseorang seperti sedang memijat kepalaku. Pijatan ini seperti pijatan yang sering dilakukan nenek saat aku mengalami insomnia. Aku semakin panik. Tanganku gemetar. Kakiku menjadi kaku. Ingin rasanya aku berteriak sekencang-kencangnya. Namun, apalah dayaku yang tak mampu mengeluarkan suara. Aku hanya bisa diam dan membiarkan tangan itu memijat kepalaku. Tak berselang lama, tangan itu menghilang dari kepalaku.
Byur! Byur! Byur!
Tiba-tiba terdengar suara orang mandi dari dalam kamar mandi. Aku meraba-raba tembok dan berusaha mencari pintu kamar mandi. Berharap yang sedang mandi adalah ibu atau ayah.
Tok! Tok! Tok!
Kuketuk pintu kamar mandi. Seketika suara gebyuran air yang berasal dari kamar mandi mendadak berhenti.
Lalu aku mendengar suara terompah dari dalam.
Klatak! Klatak! Klatak! Klatak!
Suara terompah itu semakin mendekat. Lalu terdengar pintu kamar mandi terbuka dan suara terompah itu kembali terdengar.
Klatak! Klatak! Klatak! Klatak!
"Miraaaaa .... Ini nenek. Nenek pamit pulang," ujar suara itu.
***
"Mir! Bangun! Mira!" Kurasakan seseorang tengah menggoyang-goyangkan tubuhku dan ternyata itu adalah ibu bersama saudara-saudaranya. Sementara itu, suara azan subuh terdengar sayup-sayup di telingaku
"Kamu ngapain tidur di kamar nenek?" tanya budheku yang ternyata sudah datang dari kota. Dia adalah anak kedua nenek setelah ibuku.
"Aku ketemu nenek," ujarku.
Ibu dan budheku saling pandang.
"Kamu juga didatangi nenekmu?" tanya pamanku, anak ketiga nenekku.
Aku mengangguk.
"Memangnya kenapa, paman?" tanyaku.
"Kami juga didatangi almarhumah ibu, bahkan Ririn yang masih berumur sepuluh tahun juga didatangi," ujar pamanku.
Kami pun saling pandang.
Semenjak kejadian malam itu, kami memilih menutupi cerita itu rapat-rapat. Meskipun kadang kami masih sering mendengar beberapa gosip dari tetangga yang menceritakan kalau dari mereka ada yang didatangi nenek. Ada yang bilang mereka ketemu nenek sedang jalan menuju ke surau tiap menjelang maghrib dan menjelang subuh, ada juga yang bilang ketemu nenek di jalan pakai mukenah yang mana pertemuan-pertemuan ghaib itu selalu diawali dengan datangnya suara terompah yang biasa dipakai nenek.
Setelah hari ke-40 nenek meninggal, aku tak pernah mendengar gosip tentang nenek lagi. Keadaan seketika berasa normal kembali. Mungkin saja saat ini nenek benar-benar sudah kembali ke alamnya.
Selamat jalan, nek.
SELESAI