Sepertinya aku bakal ngulang tahun ini,
itu yang ku pikirkan. Tahun ke tiga,
orang bilang nilai akan naik seiring
berjalannya waktu.
Mungkin mereka bilang itu karena
sebagian orang akan sadar akan
posisinya dan langsung belajar
namun tidak dengan ku.
Aku? Tentu saja aku lebih memilih memainkan instagram dari pada
belajar pelajaran aneh ini.
Nama ku Helena putri, aku mahasiswa
sastra jepang di Universitas Glory.
Mungkin sebagian orang akan mengatakan 'wow! SASTRA JEPANG!'
dengan pikiran kalau aku bisa bahasa
Jepang.
Tapi tidak, aku sama sekali tidak bisa
bahasa Jepang, dan tidak akan mungkin
bisa berbahasa itu.
Karena ya, ini bukan jurusan yang aku
ingini, aku mengambilnya karena
aku ingat aku sempat menyukai
anime saat aku kecil.
Namun menyukai bukan berarti
mencintai, suka hanya suka. Itu hanya bertahan sementara, kalau saja saat itu
nilai ku dapat menembus ptn yang ku
inginkan mungkin aku gak akan
menderita dengan pelajaran aneh ini.
Orang tua ku yang miskin dan
cenderung protektif dengan ku, menaruh ku ke PTS terdekat.
"Kamu gak usah milih-milih!
yang penting kuliah!" kata mereka
kepada ku.
Emang makan, gak usah pilih-pilih?!
Ini menyangkut masa depan ku!
Aku marah begitu mengingat orang tua ku, yang menaruh ku di PTS yang tidak menyediakan jurusan yang kuingini.
Gara-gara itu, aku jadi asal memilih
jurusan, dan jadilah mahasiswa gagal
di jurusan ku.
"Breng#$#!" aku mengumpat, menundukkan kepala ku di atas meja,
menyembunyikan wajah ku yang
sudah frustasi dan malu.
"Put, lo gak pulang?"
tanya sebuah suara, yang amat lembut.
Aku mendongak, menatapnya dengan
senyum di wajah ku.
Itu Maria, teman sekampus ku.
Dia memang terkenal lembut dan cantik,
selain cantik dia juga pintar.
Sial! Bagi-bagi dong Luky nya!
Kok semua diambil dia?
Gak adil banget.
"Enggak, nanti aja."
"Oh gitu, kalau gitu mau ikut gue ke festifal? Sekalian temenin gue jaga stand,"
Maria menatap ku, dengan matanya yang penuh harap.
Aku tahu dia akan jaga stand di klub Umado, Klub jejepangan yang berisikan
anak-anak otaku atau wibu.
Kalau aku dulu, mungkin akan mengangguk dan langsung menggaet tangannya pergi kesana, namun
aku menggeleng dengan senyum
di wajah ku.
"Enggak deh, maaf ya."
"Yaudah gak apa-apa, kalau gitu
gue duluan ya. Dah..." ucapnya
melambaikan tangannya, diikuti
dengan ku.
Aku hanya kembali menutup wajah ku,
menghela nafas lelah dengan semua
rutinitas yang aku jalani.
Drt...
sebuah pesan membuat aku bangkit
dari tempat ku.
To. Helen
From. Mama
Kabar baik! Adik mu lolos
perguruan tinggi negri di Upi!!
Nyut...
Sakit di dadaku semakin terasa
parah, saat aku mendengar kabar itu.
Bukannya aku tak suka, namun
aku tahu. Orang tua ku, pasti akan
membangga-banggakan adik ku,
dan menyisihkan ku.
Dengan segera, aku memasukan
semua barang ku diatas meja,
ke dalam ransel ku. Tak lama aku
bangkit, mengingat festival yang di adakan kampus ku, untuk merayakan
hari terakhir masa ujian.
Festival klub, diadakan setiap
setahun sekali. Terletak di belakang
gedung utama, lokasi yang sangat strategis mengingat panggung yang terletak di tengah taman untuk menampilkan beberapa klub disini.
Dari Sana aku dapat melihat berbagai
macam kegiatan klub, ada yang tengah
menyanyi, ada juga yang tengah menari
untuk menarik perhatian orang-orang.
Dan ada juga yang memakai kostum,
warna-warni yang ku lihat disini membuat
kaki ku tak bisa berhenti melangkah,
menatap keseruan kegiatan mereka.
"Wow!" kata ku, menatap semua orang
disini. Ini meningkatkan ku akan festival
budaya di SMA jepang, dimana para
murid akan beraksi untuk menunjukan
kehebatan stand dan klub mereka.
"Lucu banget!"
langkah ku terhenti oleh salah satu stand,
yang menjual berbagai macam ganci
dan aksesoris lainnya.
Aku menatap ganci bergambarkan
karakter anime kesukaan ku dulu, dengan
senyum. "Silahkan kak, gancinya!"
"Berapa har." kata-kata ku terhenti saat
melihat pemilik suara itu, seorang lelaki
dengan tubuh tinggi tegap dan kulit putih,
tersenyum kepada ku.
"Ganteng." kata ku spontan.
"Ya?"
"Oh! Enggak!
Maksud saya, ini harganya berapa?"
ucap ku gugup, setelah mengucapkan
kalimat bodoh itu.
"Itu sepuluh ribu aja, lagi diskon kak."
"Ini" ucap ku, memberikan
uang ku kepadanya.
"Helen!!" aku menoleh saat Maria, tiba-tiba
memanggil ku. Gadis itu, memakai
maid, menghampiri ku dengan senyum.
"Katanya lo gak mau dateng!
Tapi akhirnya dateng juga! Bilang aja
lo gak bantuin gue!!" katanya, dengan bibir
yang mengerucut.
"Maaf-maaf, gue sebenernya introvet. Makanya gak mau bantuin lo,"
"Omong kosong!" katanya.
Aku hanya tertawa mendengar keluhannya,
tak lama menatap pakaian yang ia pakai.
Baju itu terlihat pas di tubuhnya, dengan kulit yang putih membuatnya terlihat semakin
cantik dan manis dimata siapapun.
Tampa sadar aku menatap kulit ku yang kecoklatan, dengan kulit ku yang seperti ini mana mungkin aku cocok dengan pakaian yang seperti itu.
"Kakak mau coba pakai?" tanya cowok
ganteng itu.
"Hah?" aku nenatap lelaki itu bingung,
coba? Mana mungkin aku coba.
Kulit ku kan coklat.
"Lo mau Hel? Kalau mau gue bayarin,"
"Eng..."
"Udah bawa aja ke ruang kostum,
tolong ya!" tampa aba-aba Maria
langsung meraih tangan ku, pergi.
Sesampainya disana, aku melihat
bebagai macam kostum di gantung.
"Tunggu ya! Gue cariin yang pas." katanya
yang pergi meninggalkan ku.
Bodoh, untuk apa aku kemari
Aku pun beranjak dari tempat ku,
"Helen! Mau kemana? Ini kostumnya!"
Paggil Maria yang menghampiri ku,
seraya membawa kostum maid berwarna
coklat.
Aku menatap kostum itu, menggeleng.
"Gak jadi deh." kata ku.
"Loh? Kok gak jadi? Ini udah di bayarin
kak Daniel loh! Kan sayang kalau gak jadi."
Daniel? Jadi nama cowok itu Daniel?
Merasa tak enak, akhirnya aku pun mengenakan pakaian itu.
Selama festival, Maria mengajak ku berkeliking sambil mempromosikan stand nya. Ini pertama kalinya aku berpakaian seperti ini, dan terasa aneh untuk ku.
Apa lagi banyak mata yang melihat ku,
beruntung maria selalu ada disamping ku
membuat ku nyaman mengenakan pakaian ini.
"Helen! Lo pakai kostum maid?" tanya Tasya,
teman sekelas ku. Ia menatap ku dengan
senyum dan tak percaya.
"Iya, aneh ya?"
"Aneh apanya? Imut kok, cantik lagi"
katanya yang membuat ku tersentak.
"Iya, kamu lucu tahu. Gini dong
sekali-sekali ikut acara kampus, kan kita bisa main bareng," ucap Natasya yang berada si samping Tasya. Aku hanya mengangguk
dengan senyum, tak ku sangka teman-teman ku begitu baik pada ku.
Ku pikir aku hanya sendiri, tak ku sangka
mereka seperti ini pada ku.
Sepanjang festival, aku tak bisa berhenti
memikirkan lelaki itu. Kak Daniel, lelaki
yang membuat ku berani untuk mencoba
kostum ini, yang akhirnya aku memutuskan
untuk masuk dalam kegiatan klub,
agar dekat dengannya.
Berbeda dari pikiran ku yang terkesan
suram, ternyata klub ini lebih berwarna
dari perkiraan ku. Meski para senior
agak garing, dan kadang gak jelas.
Namun kegiatan klub, membuat ku
menemukan warna ku sendiri. Hobi
menggambar yang dulu aku buang karena
keputus asaan ku, kini kembali ku geluti.
Aku pun juga aktif mengikuti kelas dan
belajar dengan baik, lewat anime yang ia
tunjukan sewaktu berada di klub.
Drt...
sebuah pesan masuk, membuat ku menghentikan kegiatan belajar ku.
Aku meraih ponsel ku, membuka pesan
yang masuk.
To. Helen
From. Maria
Helen!! Gue ada kabar gembira!!
Gue resmi pacaran sama Kak Daniel!!
Deg!!
saat itu juga aku jatuh, aku menatap ponsel ku tak percaya. Untuk kedua kalinya, aku
kembali jatuh lagi. Aku kesal dan ingin marah, namun aku bukan siapa-siapa.
Tak lama aku menulis sesuatu disana,
To. Maria
From. Helen
Selamat ya!
Aku tahu aku kesal, namun aku juga tidak
seharusnya membenci teman ku.
Perlahan aku teringat akan kenangan itu,
kenangan dimana lelaki itu membuat ku
mencoba hal yang ku inginni, jika aku
tidak bertemu dengannya mungkin
selamanya aku akan menarik diri.
Jika aku tidak bertemu dengannya,
mungkin selamanya aku tidak mempunyai
warna. Jika aku tidak bertemu dia, mungkin
selamanya aku akan berada dalam zona
nyaman ku. Aku tersenyum mengingat itu
semua, meski sakit aku senang dapat
bertemu mereka.
Karena mereka, yang membuat ku
menemukan warna ku.
Terimakasih cinta pertama ku,
dan selamat tinggal.
-----Terimakasih sudah membaca----