Sosok tubuh wanita muda itu tergeletak tanpa nyawa di atas tumpukan rumput liar di hutan yang tidak terpelihara.
Rambut panjangnya tergerai menutupi sebagian wajah. Darah yang hampir mengering mengubah daerah di bawah dan sekitar tubuh menjadi merah.
"Bagaimana?" tanya Alex kepada seorang petugas otopsi yang sedang menyisir tempat tersebut.
Sang petugas menggeleng.
"Kita masih harus menunggu visum lengkapnya, tetapi daerah ini benar-benar bersih. Sepertinya semua jejak pembunuh terhapus oleh hujan semalam. Dia benar-benar beruntung," jawab lelaki muda itu.
Alex hanya diam.
'Benar, pembunuh itu beruntung, tetapi korban dan keluarga, mereka adalah orang-orang yang ditimpa kemalangan.' tukasnya dalam hati.
***
Mimpi buruk itu muncul kembali di benak Alex. Dia adalah seorang detektif yang disegani, tetapi setiap selalu tangannya berlumuran darah. Meski hanya mimpi, dia tahu itu bukanlah darahnya.
Keesokan wajah pria muda itu nampak kusut. Dia terus saja memikirkan soal mimpi itu.
"Alex!" panggil seseorang dengan suara cukup keras menyadarkannya.
"Ada apa? Apa ada yang mengganggumu? Kau nampak sangat lelah."
Ada kecemasan dalam suara orang tersebut.
"Tidak, Zhe, aku baik-baik saja," sahut Alex sembari tersenyum kecil.
Zhe alias Zahra adalah rekan kerja Alex. Lebih dari itu, mereka menjalin hubungan romansa. Meski seorang wanita, Zhe adalah detektif andal yang cerdas bersemangat. Itulah yang membuat Alex tidak bisa menyangkal cinta yang bersemi di hatinya.
Kebersamaan mereka yang cukup intens saat memecahkan kasus makin menambah romansa indah antara keduanya.
"Baguslah, kalau kau baik-baik saja, kita harus pergi untuk melihat otopsi pada korban," tukas Zhe lagi. Ia masih terlihat sefikit cemas.
"Atau kalau kau tidak enak badan, aku akan pergi sendiri," lanjut wanita muda itu lagi.
"Tidak, tidak, aku akan menemanimu," ujar Alex sambil menggeleng dan bergegas bangkit berdiri.
"Ayo kita pergi sekarang!"
Meski masih ragu, Zhe hanya bisa mengangguk dan ikut dengan Alex.
***
Ruang otopsi tidak terlalu besar, tetapi cukup nyaman. Ada pendingin ruangan yang menyala di sudut, untuk menjaga kondisi jenazah tidak membusuk.
Pemeriksa otopsi sedang membacakan laporan kepada Alex dan Zhe, saat Alex yang melihat sekilas ke arah jenazah yang telah ditutupi kain putih.
Tiba-tiba, dia melihat tubuh terbungkus kain tersebut bergerak. Sosok yang telah meninggal dengan tragis tersebut bergerak bangkit dari tidurnya. Ia duduk di atas dipan pemeriksaan, lalu berpaling dan menatap langsung kepada Alex.
Tangan kurus dan pucat wanita muda itu terangkat dan menunjuk langsung kepada pria itu.
"Kau yang telah membunuhku!" ujarnya.
***
Tubuh Alex gemetar hebat. Pria itu lalu jatuh terduduk.
"Tidak! Aku tidak melakukannya! Bukan aku pelakunya! Aku bukan pembunuh!" teriaknya berulang kali.
Zahra yang kebingungan ikut merasa panik.
"Alex! Kau kenapa?" tanyanya.
"ALEX!" panggil gadis itu sekali lagi, saat rekannya itu tergeletak tidak sadarkan diri.
***
Alex tertawa. Tangannya menggenggam sebilah pisau. Di depannya ada seorang wanita muda yang menangis tidak berdaya. Memohon kepadanya untuk dilepaskan, tetapi pria itu menggeleng. Tangan lalu mengayun, pisau menghunjam tubuh tidak berdaya tersebut berulsng kali. Alex tertawa puas sembari melihat darah segar yang mengalir di sela-sela jemari tangan.
"TIDAK!" teriak Alex keras. Matanya terbuka lebar. Ia lalu menatap sekeliling. Ruangan berdinding putih dan bau obat yang tajam menusuk hidung, membuatnya tahu bahwa ia kini berada di rumah sakit.
Zahra yang berdiri tidak jauh segera menghampiri.
"Kau tidak apa-apa? Sebaiknya kau beristirahat, jangan bekerja dulu," ucapnya.
Alex tidak menjawab. Ia langsung meraih gadis itu dan memeluknya. Mimpi buruk itu seolah ingin menariknya ke dasar dan dia tidak ingin tenggelam. Saat ini, dirinya membutuhkan Zahra untuk bertahan dari kegilaan yang berusaha menggapai.
***
Pembunuhan kembali terjadi. Namun, kali ini ada jejak yang ditinggalkan pelaku. Sepotong serat baju milik sang pembunuh berada di kuku korban.
Saat diperiksa serat dari kain tersebut memiliki DNA pelaku yang ternyata justru mempunyai kesamaan dengan DNA Alex.
Saat ini, pria itu tidak datang ke TKP, Zahra menyuruh dia untuk beristirahat di rumah.
"Jadi maksud kalian Alex pelakunya? Tidak mungkin. Alex tidak akan melakukan hal semacam itu," ujar Zahra.
"Kalau begitu, kita ke rumah dia sekarang dan bertanya langsung padanya," sahut salah seorang detektif yang bertugas.
Zahra dan yang lain segera pergi ke rumah Alex. Namun, setiba di sana, rumah itu kosong.
"Dia pasti telah melarikan diri," ujar seorang petugas. Yang lain mengangguk setuju. Hanya Zahra yang masih terlihat ragu.
Namun, tiba-tiba Alex berjalan masuk dan menyapa mereka.
"Kalian sedang apa di sini? Bukankah kalian harusnya menyelidiki kasus pembunuhan berantai itu?"
"Justru kami kemari karena sudah menemukan pelakunya."
Para petugas itu bergerak cepat dan langsung menangkap Alex.
"Apa ini? Apa maksud semua ini?" tanya Alex kebingungan.
"Alex, kau adalah tersangka utama untuk kasus ini. Kami menemukan kecocokan DNA yang berada pada korban dengan DNAmu," jelas Zahra. Alex terkejut dan menggeleng tidak percaya.
"Dan kalian yakin aku melakukan tindakan mengerikan itu?" tanya detektif muda itu sambil menatap mereka satu per satu. Tatapan itu lalu berhenti pada Zahra. Gadis itu hanya berdiri diam
***
"Biarkan aku pergi!" pinta Alex.
"Aku tahu siapa pelakunya. Biarkan aku menangkap dia!"
"Kau jangan mengada-ada! Kau pikir kami akan percaya padamu?" bentak petugas yang menginterogasinya.
"Aku tidak mengada-ada. Pembunuh itu, aku tahu siapa orangnya," jawab Alex lagi.
"Siapa dia?" tukas Zahra yang bergegas masuk setelah mendengar keributan tersebut.
"Ibuku, Ranti Sumarsih," jawab Alex mantap.
Beberapa orang tampak terperanjat.
"Kau putra "The Lady Killer?" ucap seorang petugas dengan suara pelan.
Alex hanya mengangguk.
"Tapi, Alex, bukankah kau bilang bahwa ibumu sudah meninggal?" tanya Zahra.
"Aku berbohong, karena aku ingin menjadi seorang detektif. Anak seorang pembunuh tidak mungkin menjadi detektif."
***
Dalam perjalanan, Zahra baru mengetahui bahwa Ranti Sumarsih adalah seorang pembunuh berantai yang memiliki kelainan psikopat dan kepribadian ganda.
Namanya begitu tenar, karena seorang pembunuh wanita termasuk jarang. Apalagi dengan jumlah korban mencapai belasan orang.
Zahra menoleh kepada Alex yang duduk di sampingnya. Ia tidak sanggup membayangkan perasaan kekasihnya itu. Tangan gadis berambut panjang tersebut terulur menggenggam tangan Alex.
"Aku masih kecil sewaktu ibu ditangkap. Setelah itu, aku dirawat di panti asuhan. Seorang dermawan baik hati mengangkatku menjadi anak asuh. Aku tidak mau lagi mengingat dia. Bagiku, dirinya sudah tiada," ucap Alex pelan.
"Namun, ibu tidak membiarkan hal itu terjadi. Pembunuhan yang dulu sering kusaksikan, dia ingin aku terus mengingatnya. Dia selalu meneleponku dari rumah sakit jiwa tempat dia dirawat. Awalnya aku mengira dia akan selamanya, tetapi tepat sebelum kasus pertama pembunuhan berantai ini terjadi, ibu melarikan diri. Pihak rumah sakit sudah menghubungiku, tetapi aku tidak peduli."
Pria itu menutup wajah dengan tangan.
"Ini semua salahku. Seandainya sejak awal, aku tahu ibu yang melakukan pembunuhan berantai ini, aku pasti akan langsung mencari dia," ucapnya pelan.
Zahra menggeleng.
"Tidak, ini bukan salahmu. Ini juga pasti berat untukmu, karena bagaimanapun dia adalah ibumu," ucapnya sembari memeluk pria yang sangat dicintainya itu.
***
Kendaraan yang membawa Alex, Zahra, serta yang lain berhenti di depan rumah berdinding kayu. Seorang wanita paruh baya keluar dan langsung memeluk Alex.
"Putraku, kau benar-benar datang. Lihat kau sudah besar sekarang! Kau sungguh mirip dengan ayahmu," ucapnya.
"Aku senang kau datang. Ratna benar. Hanya perlu menyingkirkan beberapa orang untuk membuatmu datang kemari."
Selang beberapa saat, ekspresi wajah dan gestur tubuh wanita itu berubah menjadi lebih tegas. Amarah terdengar jelas dari suaranya.
"Dasar bodoh! Dia kemari untuk menangkap kita!" tukasnya.
Dia lalu menatap Alex tajam.
"Kau kemari untuk menangkap ibumu sendiri? Anak macam apa kau ini?" tegurnya.
"Jangan marah, Ratna. Bagaimanapun dia itu putra kita," sahut wanita itu sendiri dengan suara lebih kalem.
Perempuan berambut kelabu tersebut menyeringai.
"Kau benar," sahutnya dengan suara kembali tegas.
"Dia putra kita."
"Ibu, hentikan semua ini," ucap Alex pelan.
"Jangan membunuh orang lagi."
Wanita itu hanya diam dan membiarkan petugas memborgol kedua tangannya.
"Alex," panggil beliau sebelum dimasukkan ke dalam mobil.
"Jangan lupa, kau adalah putraku."
***
Pria itu tampak gemetar ketakutan dan bergegas melarikan diri. Alex hanya mengamati. Seringai muncul di wajahnya.
'Kau tidak akan bisa lolos. Namun, permainan ini menjadi semakin menarik. Ibu benar, aku adalah putranya. Dan menghabisi nyawa orang lain adalah hal paling menyenangkan yang beliau ajarkan padaku," ucapnya dalam hati. Hidup kini terasa sempurna untuknya.
Tamat