Larutan kemerahan pekat itu masih panas. Bau wanginya terbang menyengat syaraf-syaraf penciumanku. Daun-daun teh yang hampir masih berbentuk lembaran-lembaran dan sobekan tebal bercampur dengan bunga melati mengendap di dasar cangkir. Ada beberapa bagian, yaitu yang berbentuk batang, mengambang di permukaan.
Asap mengepul di udara pagi, menghangatkan. Aku sepagi ini telah duduk di teras, dengan meja bulat kecil dari kayu jati, memandangi larutan teh buatanku hingga uapnya yang menghangatkan menyapu wajahku. Pelan-pelan, sesekali, kusruput airnya dengan nikmat. Hangatnya mengaliri kerongkonganku, membasahi rongga dada dan lalu bermuara di perut.
Kabut dan embun pagi masih tampak menutupi pemandangan sawah dan perbukitan di depanku. Zat putih nan lembut itu menyelip di helai-helai daun padi yang basah dan segar. Merambati kulit batang, ranting, dan dedaunan pohon-pohon kecil yang tumbuh di tanggul. Udara begitu dingin, sampai semacam asap putih keluar dari mulutku setiap kali aku menghembuskan nafas ke udara. Dingin itu menyentuh kulit wajahku, tertahan hangatnya uap teh cangirku. Walau dingin tak sampai menyikasa tulang, sampai sumsum, namun tetap saja membuat banyak orang malas untuk beranjak dari tempat tidurnya seawal ini ketika pangeran mentari masih belum sempurna, terselimuti kabut dan lebih memilih untuk tetap, kukuh, tinggal, mantap di dalam selimut tebalnya sambil mengeloni pasangan yang mereka cintai.
Sebenarnya dinginnya udara bukan hanya dikarenakan oleh suasana hari yang masih sangat dini, tapi karena tempat ini terletak di kawasan kaki gunung Merapi, bagian utara Propinsi Yogyakarta. Setiap pagi hawa dingin menyebar ke seantero kawasan, mneyejukkan alam dengan ucapan selamat paginya.
Aku toh sebenarnya tak ingin beranjak dari ranjang agungku bila saja tangan kananku tak mulai bergetar hebat lagi, kumat, kambuh. Aku terpaksa bangun dengan mata melotot serasa mau copot, otot-otot tubuh mengejang, tubuh berpeluh, dan tangan kanan yang bergetar hebat.
Aku bermimpi lagi!
Telah berkali-kali sejak aku berhasil membeli tanah dan rumah sederhana di desa Donoharjo ini dua bulanan yang lalu, aku selalu bermimpi aneh, menakutkan, mengerikan, dan yang jelas memaksaku untuk bangun dari ranjang secepatnya dan berusaha menenangkan tangan kananku yang bergetar lagi. Akibatnya aku harus membiasakan diri dengan udara pagi kaki gunung seperti layaknya penduduk asli yang telah terbiasa bekerja di bawah udara ini. Seperti simbok-simbok yang menyirih dengan menggendong, menyunggi, memakul, barang-barang, sayuran dengan bakulan atau besekan untuk di jual ke pasar. Atau pakde-pakde yang telah membawa cangkul atau menggiring sapi-sapinya menuju tempat kerja, sawah, sambil melewati depan rumahku tersenyum ramah menyapaku, aku balas dengan anggukan kepala.
Entah bagaimana caraku untuk menjelaskan fenomena ini, tentang penyakit, atau entah apalah namanya, yang bersarang di lengan kananku. Acapkali ia bergetar dengan hebat, tak terkendali, kadang-kadang secara ekstrem pula, dari bahu, siku, hingga ujung jari-jari. Kalau sudah begitu aku harus dengan mati-matian menenangkannya. Biasanya tangan kirikulah yang ambil bagian paling besar. Dengan tangan kiri, tangan kananku yang bergetar kudekap dan kurapatkan pada dada atau perutku sampai ia menenang, lalu aku akan mengelus-elus dan menghangatkannya. Beberapa caranya adalah dengan melilitkan selimut atau kain tebal agar ia hangat. Dapat pula dengan caraku saat ini, yaitu menyeduh minuman hangat.
Lama-kelamaan aku suka sekali menggunakan metode minuman ini hingga akhirnya aku jadi ahli dalam menyajikan berbagai macam minuman hangat, paling tidak menurut seleraku sendiri, dan menjadi penikmat sejati. Aku suka sekali membuatkan teh hangat, susu putih maupun susu coklat panas, coklat panas, kopi panas dengan berbagai merk dan jenisnya.
Teh yang kubuat pagi ini bukan teh biasa yang dibuat dengan rajangan daun teh yang bakal menjadi ampas setelah disaring. Tehku lebih kental karena daun teh yang dicampur dengan bunga melati kurebus dulu bersama air hingga mendidih, kemudian diseduh dalam keadaan panas dengan sedikit saja gula pasir tebu murni yang butirannya berupa bonggol-bonggol yang bersar-besar. Kadang-kadang aku juga suka membuat teh tubruk yang juga kental, daun tehnya nikmat sekali bila sambil sesekali dikunyah atau digigit kecil-kecil.
Khusus kopi, telah berbagai macam kunikmati jenisnya. Dari kopi Lampung, kopi Bali, kopi Jawa, kopi Pontianak, kopi Palembang, sampai cappucino ala Italia. Pekatnya kopi terasa sekali di bibir dan langit-langit mulut. Membuat mata membelalak segar.
Setelah acara hangat-hangatan selesai, tangan kananku yang bergetar hebat akan dengan perlahan melunak dan dapat kuatur kembali. Lalu apa penyebab tanganku jadi bergetar? Dingin? Tidak juga. Banyak hal sebenarnya, lebih ke hal-hal psikologis semacam rasa panik, grogi, emosi, lelah, bingung, stres dan depresi, atau bahkan birahi. Seperti kejadian yang kualami malam ini. Beberapa malam yang lalu aku bermimpi tentang sebuah mata yang melotot, akar-akar retinanya memerah, dan mata itu seakan ingin melompat keluar menerjangku. Aku tak tahu mata siapa itu, karena wajahnya tak terlihat jelas dalam mimpiku, apalagi dengan distorsi mimpi yang kompleks. Aku bangun pagi sekali dan memutuskan untuk kedinginan di luar dengan tangan yang bergetar hebat daripada harus tidur dan bermimpi lagi. Betapa ingatnya aku akan mimpi itu.
Suatu malam beberapa waktu sesudahnya, aku bermimpi lagi. Sama! Mata, hanya sebagian, kelihatannya sebelah kiri. Tapi kali itu aku dapat melihat sebagian wajahnya, hidung dan siluet-siluet yang tidak jelas. Mata itu masih melotot ke arahku. Mimpi itu berulang sampai beberapa kali.
Anehnya, setiap aku bermimpi, mata itu mulai menunjukkan sisa-sisa bentuknya perbagian. Seperti malam tadi, yang paling ganas dan mengerikan. Aku hampir melihat seluruh wajah dari mata itu, bahkan lengkap dengan bentuk badannya walau masih dengan samar. Nampaknya sang empunya mata adalah seorang perempuan, ya perempuan dewasa. Ia memiliki rambut panjang sebahu, hidungnya mancung, pipi mulus dan putih namun seperti terluka, tergores, dengan mulut yang ... yang ... terbuka lebar, mengenga seakan ingin menjerit. Wajah itu memandangku, matanya yang sebelah kanan tertutup dengan semacam bayangan orang ... entahlah ... mungkin kain, atau sesuatu. Perempuan itu dalam posisi terbaring menyamping, karena masih bisa kuingat bahwa aku melihat ia memakai baju, atau daster putih ... mungkin krem atau malah coklat yang mbladus dan kotor.
Tapi dari semua penggambaran mengerikan itu, hal yang paling membuatku merinding takut sekaligus penasaran adalah mimiknya. Kata orang mata adalah jendela hati. Dari mata kita dapat paham perasaan seseorang, baik itu cinta, benci, atau rasa yang bercampur aduk. Dari mata perempuan dalam mimpi itu dapt kulihat mimik perasaan sengsara yang amat sangat ... ah entahlah, bisa jadi malah benci yang luar biasa. Bagaimana tidak, selama bermalam-malam aku harus selalu melihat mata yang membelalak, melotot kearahku, seakan sengaja menakut-nakutiku, seakan memberi peringatan bahaya dan sengit sekaligus. Ah ... bila kuingat-ingat bisa gila nantinya aku.
Oh, terlalu lama melamun, sampai tak kuperhatikan waktu yang tetap berjalan. Puncak gunung Merapi terlihat jelas di depanku. Tersirami sinar keemasan mentari. Asap mengepul dari moncongnya yang nun jauh di sana, kamarku memang menghadap ke arah utara, tepat sekali berhadapan dengan arah gunung Merapi. Jam dinding plastik berbentuk segi enam di ruang tamuku memunjukkan pukul setengah tujuh pagi. Bagaimanapun dinginnya aku harus mandi karena aku harus ke kantor segera.
Aku bekerja di pabrik rokok tepat didepan hotel Hyatt, beberapa kilometer ke selatan, sebelum Monumen Jogja Kembali, yang terkenal sebagai produk sejarah orde baru. Aku bekerja sebagai pencatat data barang melalui truk-truk pengangkut yang masuk maupun keluar pabrik. Mengapa aku dapat pekerjaan ini akupun tak tahu. Mungkin karena aku tak dapat melakukan apa-apa lagi dengan baik. Aku cuma lulusan STM. Sewaktu lulus aku masih tinggal bersama paklikku di Cebongan. Ia yang memaksaku mencari kerja secepatnya agar tak perlu lagi merepotkan keluarga lagi. Apalagi bulikku dari dulu selalu saja uring-uringan. Semenjak pertama aku tinggal di rumah mereka, aku rasa bulik memang tak senang denganku, maklum aku bukanlah anak mereka. Meskipun mereka tak memiliki anak seorangpun, tak langsung berarti aku disayang, mentang-mentang aku bisa mewakili kasih sayang seorang anak kandung.
Seingatku, pakliklah yang menyekolahkanku sejak aku SMP sampai tamat STM dan masih membiayai kos-kosanku di Jalan Kaliurang, sembari mencari kerja dan menghindari omelan terus-menerus bulik. Aku ia ambil dari salah satu panti asuhan di Jakarta. Ia mendapat kabar dari laki-laki yang mengaku mengenal almarhum ibuku dengan baik. Laki-laki itu merasa prihatin dengan keadaanku di panti asuhan dan sengaja mencari barang seorang sanak keluarga yang masih memiliki hubungan darah untuk memeliharaku. Pertama-tama bulik sangat senang dengan kehadiranku.
Namun lama-kelamaan ia menganggapku tak berguna, aku selalu menyusahkan, tak dapat membantu. Ya, karena aku lemah. Tangan kananku yang sering bergetar membuatku menjadi sangat ringkih, tak bisa menyentuh pekerjaan berat macam apapun.
Aku bisa bangkrut kalau harus makani cah cacat koyo ngene, katanya suatu saat pada paklik.
Aku selalu sadar dengan keadaanku. Aku berasal dari keluarga yang tidak jelas siapa, dimana ayah ibunya. Hanya sedikit sekali yang kuingat tentang ibu dan ayahku. Sewaktu kecil, awal kali aku tinggal di panti asuhan, ingatanku tentang ibu dan ayah yang sering mengangkat aku tinggi-tinggi ke udara, menciumiku, atau mengajakku bermain ke taman hiburan masih bisa aku ingat. Beberapa mungkin terlupa, tapi lama-kelamaan aku memang telah melupakannya, mungkin memang sengaja, karena toh aku rasa aku tak membutuhkannya lagi. Hanya saja kadang-kadang keinginanku untuk mengingat memori itu datang begitu saja.
Pernah bulikku yang memang terlihat benci padaku mengatakan bahwa ibuku adalah seorang perempuan nakal, wanita murahan. Laki-laki yang menunjukkan informasi tentang keberadaanku kepada paklik katanya adalah salah seorang kekasih gelapnya, itulah sebabnya ayahku meninggalkannya. Untung saja ibuku adalah kakak perempuan paklikku, jadi paklik mau berbaik hati memeliharaku. Ah entahlah ... aku tak terlalu peduli, telah lama aku melupakan segala ingatan di otakku tentang orangtuaku, dan lagipula bulik memang cerewet.
Aku bukan laki-laki pintar, tapi aku sama sekali tidak bodoh, apalagi goblok. Memang aku lemah, tapi lihatlah bila bekerja keras aku ternyata bisa hidup. Pekerjaan yang kudapat mungkin hanya pekerjaan biasa, tapi aku percaya akan hukum perbuatan dan imbalan. Lebih dari lima tahun aku bekerja di pabrik rokok itu. Aku tak perlu lagi dibiayai paklik untuk hidup dan ngekos. Namun, mungkin karena keuletanku dan rasa sayang yang dalam paklik terhadapku, diam-diam ia menuliskan surat warisan sejumlah tanah atas namaku. Kurang dari setahun yang lalu ia meninggal karena penyakit jantung - aku rasa karena stres oleh ocehan istrinya. Tak dinyana aku mendapatkan warisan, harta nomplok yang sekarang kubelikan tanah dan rumah, serta motor bebek bekas yang sederhana.
Tentu saja bulik mencak-mencak. Di pengadilan aku disumpahinya habis-habisan. Dibilangnya tukang tipulah, brengseklah, sampai macam-macam binatang di Gembiraloka ia sebutkan. La piye? Memangnya aku bodoh? Gini-gini aku kan pernah sekolah, jadi tahu benar resmi tidaknya surat-surat macam warisan, de es be. Tidak seperti bulikku yang tidak lulus SD, malah cepat-cepat disuruh kawin oleh orangtuanya, mana tahu ia bahwa paklik memang benar-benar menuliskan warisan tanahnya kepadaku tanpa diketahuinya, dan syah menurut hukum.
Lain kata bulik, lain pula kata teman-teman kerjaku. Mereka bilang aku memang beruntung dan berhak mendapatkan warisan itu. Mereka bilang aku adalah pekerja bawahan yang baik dan ulet. Aku penyabar, serius, dan memiliki kredibilitas tinggi terhadap pekerjaan. Belum lagi sifat ramah dan baikku. Aku mengenal semua pekerja dari berbagai macam tingkat dan pangkat. Tetu saja mereka tahu kelemahanku yang satu itu, tangan kanan yang bergetar. Itu juga mengkin hal yang disayangkan para atasanku dan hal krusial yang dipertimbangkan untuk menaikkan jabatanku.
Mbak Wana, atasanku, juga tahu dan prihatin dengan keadaanku ini. Ia berusaha mencari informasi tentangku dari kawan-kawan sepekerjaanku. Kata Bardi temanku, ia ingin mempromosikanku ke jabatan yang lebih tinggi. Ah mbak Wana ... aku sadar akan kemampuanku. Aku toh sudah mendapatkan yang pantas aku inginkan. Warisan paklikku merupakan hadiah yang pantas untuk segala usaha dengan kemampuan yang terbatas.
Hari ini aku lembur.
Lelah sekali rasanya. Aku ingin segera pulang dan tidur ... ah sialan ... tidur! Bagaimana bila aku bermimpi lagi? Aku rasa aku mulai ketakutan, tanganku mulai bergetar perlahan, namun segera bisa kudiamkan kembali. Aku harusnya tidak langsung pulang, baru jam delapan malam. Aku masih bisa berputar-putar sebentar, sambil menunggu larut, agar aku dapat benar-benar lelah dan tidurku benar-benar nyenyak, tanpa mimpi.
Setelah membereskan barang-barang dan berpamitan kepada yang lain aku tuntun motor bebekku keluar parkiran. Aku menuju gerbang dan menyapa Satpam. Sejenak kuperhatikan sesosok perempuan duduk di dalam pos. Mbak Wana. Aku tersenyum ke arahnya, ia balik senyum. Basa-basi kutanyakan pulang dengan siapa ia.
"Wah mbak kayaknya nggak dijemput deh, dek."
Aku mengernyitkan kening. Bagaimana bisa?
"Mbak lupa bilang sama supir kalo mbak pulangnya pake dijemput. Ini sedang mbak coba hubungi rumah tapi kok nggak diangkat ya?"
Iseng aku tawarkan untuk kuantar pulang. Aku toh juga harus menghabiskan waktu dan meletihkan badan.
"Lho adek nggak capek? Nanti saya malah merepotkan."
Tentu saja aku katakan kepadanya bahwa aku tidak bakal merasa direpotkan. Ini namanya membantu atasan. Ia tersenyum, kemudian keluar dari pos, pamitan kepada Satpam, naik ke kursi belakang motorku, memakai helm yang memang selalu aku bawa dua biji, untuk jaga-jaga. Kami lalu melesat ke arah selatan, membelok lewat Ring Road ke Jalan Gejayan, dimana rumahnya terletak.
Sepanjang jalan ia banyak menanyakan macam-macam dariku. Kujawab seperlunya. Tentang rumah, keluarga, hobi dan macam-macam lagi. Saat ia bertanya itulah, ababnya terbaui olehku. Wangi, sewangi teh melati racikanku. Ia berbicara dekat sekali di telingaku, mungkin beberapa kali bibirnya menyentuh telingaku. Membayangkan ini tangan kananku mendadak bergetar pelan.
"Adek nggak papa?" Ia menyadari motor bergoyang sedikit.
Cepat-cepat aku katakan padanya bahwa aku baik-baik saja, menutupi perasan aneh yang membuatku malu ini.
Ah Mbak Wana. Terus terang aku merasa menjadi orang yang nekad berani menawarkan tumpangan pada seorang Wana. Wanita yang menjadi perhatian seluruh karyawan laki-laki di pabrik ini. Yang begitu populer, diperhatikan, dan menjadi buah bibir di setiap pojok dan sudut, menjadi bahan pembicaraan di mana saja ketika para karyawan laki-laki berkumpul untuk rehat dan bergosip.
Ia orang Solo. Kulitnya putih bersinar, dari wajah sampai seluruh tubuh, tipikal putri Solo. Wajahnya ayu namun dewasa. Setahuku umurnya dua puluh sembilan tahun bulan depan. Ia lebih tua dariku empat tahunan - aku dua puluh lima tahun.
Senyum selalu mengembang di wajahnya. Senyum itu ... aku sebenarnya takut salah mengatakannya, takut salah ... agak genit, tapi begitu menggoda, benar-benar menggoda, termasuk lirikan matanya yang dasyat. Rambutnya panjang sebahu, hitam lurus, jarang sekali ia tambahkan ornamen pada rambutnya. Ia biarkan alami. Bila ia berkeringat, kulit putihnya seakan cermin yang memantulkan bayangan sinar lampu atau matahari bersama peluh yang mengalir lewat pori-pori wajahnya, mengalir melalui sela-sela rambut dan di leher. Tubuhnya wangi sewangi teh melati, namun pekat seperti coklat dan kopi, terutama pada saat ia berkeringat atau saat sekarang duduk di balakangku.
"Nah, sampai jembatan merah di depan sana, kemudian belok ke kiri ya dek," aku tersadar.
Aku harus segera menghapus khayalanku bila tidak mau terjatuh karena tangan kananku yang bergetar kambuh lagi. Ya, kami sampai.
Rumah mbak Wana cukup besar dengan pagar tinggi dan garasi beserta mobilnya. Ia tinggal sendirian, ia cerai dua tiga tahun yang lalu tanpa memiliki seorang anakpun, mungkin tipe wanita pekerja pikirku.
"Ayo masuk sebentar dek," mbak Wana mencegah aku pergi setelah turun dari motor.
Tentu saja aku menolak dengan alasan sudah malam dan sebagainya.
“Kan masih jam delapanan, mbak juga memang sudah lama mencari adek, mencari informasi soal adek, karena mbak mau membicarakan hal yang sangat penting. Nah, sekarang malah ketemu orangnya, masuk ya?" Katanya sedikit memohon.
Terus terang aku jadi merasa tidak enak. Apalagi bila ingat kata-kata temanku yang ingin melakukan apa saja agar mendapatkan kesempatan dekat dengan mbak Wana. Apa yang akan dikatakannya bila tahu aku sedang diundang untuk memasuki rumah mbak Wana? Tapi aku memang harus masuk supaya urusanku dengan atasan bisa selesai, selain karena aku adalah pekerja yang baik, aku sebenarnya juga tak mungkin dapat menolak ajakan mbak Wana, karena senyumannya yang genit dan lirikan matanya yang begitu menggoda dan ... memaksa!
Aku masukkan motorku ke garasi, disamping sedan merah marun milik mbak Wana. Agak malu memang menyandingkan motor bebek butut dengan sebuah sedan yang harganya kupikir berkisar puluhan juta.
Aku dipersilahkan duduk di ruang tamu, tapi ruang tamu dalam, di depan televisi. Seberapa kuatnya aku menolak tawaran mbak Wana, tetap saja aku kalah. Aku telah memasuki wilayah teritori mahluk mempesona ini.
Ia menawarkan aku minuman, aku tak bisa menolak karena sama saja bohong, aku pasti kalah. Akhirnya aku memilih teh panas. Sembari menunggu mbak Wana ganti pakaian, aku menyruput teh buatan pembantunya, juga teh melati, harumnya juga sama dengan bau tubuh dan abab mbak Wana. Aku juga sesekali memperhatikan acara di televisi. Aku sudah mengumpulkan uang untuk membeli televisi yang bakal menghiasi hari-hariku di rumah Donoharjo, meskipun tak sebesar dan sebagus yang ini. Kuputar mataku menjelajahi sekeliling. Mbak Wana kelihatannya suka sekali dengan ornamen rumah dari bahan logam atau perak. Sinar lampu memantul dari lapisan wadah lilin, piring hias, rak buku, lemari hias dan sebagainya. Sinar itu membias di wajahku seperti gelombang air , dan menjilati tubuhku seperti puluhan ekor ular logam. Aku menyandarkan tubuhku, meletakkan kepalaku dengan tenang dan tanpa sengaja karena terlena kenyamanan, aku menutup mata, hampir terlelap. Saat itulah mataku yang tertutup membawa dengan cepat pandanganku ke sebuah pemandangan yang benar-benar ingin kuhindari beberapa waktu ini, sebuah pemandangan yang mengerikan, sebuah mata kiri yang melotot!
Aku hampir tak dapat menggerakkan badan. Mata itu tetap melotot, wajahnya kini mulai terlihat jelas, luka guratan menyobek pipi mulusnya, hidung mancungnya mengeluarkan setitik darah dari salah satu lubangnya, mulutnya menganga dengan jerit yang tertahan. Mata itu semakin lama semakin mendekat ke arahku. Aku lihat tangan kirinya yang lunglai terangkat, seakan berusaha menyentuhku. Tangan dan mata itu mendekat, mendekat, semakin dekat. Tiba-tiba rongga kepalaku diisi oleh bau yang kukenal, ya, teh melati.
Aku mencoba berbalik dan lari dari tempat itu, tapi tangannya yang dingin mencengkram pundakku, "Capek ya?" Mataku terbelalak, nafasku memburu, namun kutahan sebisa mungkin, aku terbangun. Mbak Wana memegang pundakku dari belakang.
"Kamu nggak papa tho dek? Kok sampai bergetar begitu," katanya agak panik seraya tiba-tiba duduk di sofa, di sampingku, dekat sekali.
Aku menggeleng-gelengkan kepala dan menggeser duduknya agak menjauh darinya. Campuran rasa takut dengan kejadian barusan dan rasa tidak enak karena duduk terlalu dekat.
"Maaf lama menunggu ya dek?" Ujarnya kemudian setelah kami diam beberapa detik.
Aku mengangguk.
Ia telah berganti pakaian. Tanktop dan celana super pendek. Nafasku memburu lagi. Kulitnya ternyata memang putih, berkilat oleh sinar lampu dan cahaya keperakan pantulan ornamen ruangan.
"Saya harap adek dapat maklum mengapa mbak mengajak adek sampai masuk ke rumah", katanya.
"Adek pasti merasa sungkan terhadap mbal, apalagi mendengar tuturan teman-teman pekerjaan adek kan? Mbak sebenarnya cuma ingin mengenal adek lebih jauh dan lebih akrab, ya hubungan bawahan dan atasan lah. Toh mbak yakin adek memiliki kemampuan dalam bekerja yang sangat baik. Mbak ingin kita bekerja sama dalam memajukan perusahaan kita."
Caranya berbicara kepadaku, entah bagaimana sangat mengesankanku. Seperti sosok orang yang aku kenal dengan baik, orang yang lebih tua. Ia benar-benar terus mencoba akrab dan melehkan situasi dan kesanku yang dingin. Aku mulai membuka diri. Ia menanyakan banyak hal kepadaku. Aku dengan mulai tak sungkan lagi berani membeberkannya dengan diselingi lelucon dan tawa di sana-sini. Tawanya mengembang, ah alangkah ayunya. Aku ceritakan asal-usulku, keluargaku, paklik bulik, pendidikan, rumahku di Donoharjo, dan tentunya kelemahan pada tangan kananku.
"Jadi apa yang adek lakukan bila tangan adek mulai bergetar lagi?"
"Apakah itu menyiksa?"
"Sudah pernah ke dokter?"
Pertanyaan-pertanyaan semacam itulah yang ia ajukan kepadaku. Tentu saja aku mencoba menjawabnya dengan selengkap-lengkapnya. Tak lama kami sudah terlena dalam keakraban sampai aku lupa waktu, dan tersadar ketika kulihat jam tanganku menunjukkan angka sebelas malam tepat.
Aku bergegas pamitan dan berdiri hendak berangkat pulang. Tapi mbak Wana mencekal lenganku.
Tunggu sebentar, mbak masih ingin membicarakan satu lagi hal penting. Dengan ragu dan perasaan tak mampu menolak aku kembali duduk.
"Begini, adek tahu mbak ingin sekali mempromosikan adek ke atasan untuk kenaikan pangkat, karena mbak tahu adek memang pekerja ulet dan pantas untuk itu. Tapi kelemahan adek yang satu itu ... tahu maksud mbak kan? ... sulit diajak kompromi," katanya dengan nada suara yang santai namun terkesan menyembunyikan sesuatu.
Tentu saja aku jelaskan bahwa aku paham dengan keadaan itu, dan benar-benar bisa menerimanya.
"Tapi adek kan tetap harus menaikkan derajat kehidupan adek. Dengan penghasilan yang cukup tinggi adek akan hidup lebih makmur.”
Aku tahu itu. Makanya aku sangat bersyukur mendapatkan warisan dari paklik, dan aku rasa aku telah mendapatkan gaji yang cukup untuk menghidupi diri sendiri, itu juga kujelaskan padanya.
“Lha adek jangan egois dong. Bagaimana kalau adek punya istri dan anak nanti? Bagaimana adek dapat memenuhi kebutuhan adek sehari-hari? Sekarangpun adek kan juga butuh hal-hal tersier seperti perabotan, televisi, motor yang layak atau bahkan mobil, liburan dan sebagainya."
Aku menggumam. Benar juga pikirku. Aku juga manusia biasa yang butuh hal-hal berupa materi. Lalu?
"Nah, mungkin adek sulit sekali untuk naik pangkat, tapi adek bersedia mendapatkan uang tambahan dengan pekerjaan yang menyenangkan namun gampang?"
Apa maksudnya? Tentu saja aku bersedia. Semua orang juga bersedia melakukan pekerjaan semacam itu, bila memang ada. Lalu apa imbalan dan macam pekerjaannya.
"Mbak akan memenuhi semua kebutuhan adek!"
Ia duduk dengan menegakkan punggung dan melebarkan dadanya. Tanganku bergetar hebat. Nafasku memburu. Darahku mengalir dengan cepat, sampai kepalaku pusing. Jantungku berdegup kencang. Jangan mbak, jangan, ini salah. Saya tidak berani lancang terhadap mbak. Tapi ia malah mendekat, mepet. Aroma wangi tubuhnya menyeruak dengan vulgarnya, menusuki penciumanku. Ia semakin mendekat. Tanganku bergetar hebat, ekstrem. Kurasakan sakit pada otot-ototnya.
"Kenapa dek? Kambuh? Mbak nggak tahu kalau tangan kanan adek juga bergetar kalau sedang dalam keadaan tergoda seperti ini," ia tersenyum nakal.
Aku mengapit kedua lenganku di perut.
"Tak perlu," katanya.
"Yang adek butuhkan adalah kehangatan, bukan? Ini solusinya," Ia meraih tanganku. Aku tak dapat menolak. Aku berpeluh. Tetesannya memedihkan mataku.
"Sudah hangat? Bila belum,.mendekatlah," aku mendekat, menurut bagai kerbau yang dicucuk hidungnya. Kurasakan tangan kananku menghangat di genggamannya. Entah bagaimana getaran tangan kananku melemah, rasa hangat birahi ternyata menyebar ke segala jalinan syarafku.
Tubuh kami merapat sampai dapat kurasakan panas tubuhnya menyapai panas tubuhku. Aku mulai merasa nyaman dan menutup kedua mataku.
Tubuh kami berdua sekarang sudah benar-benar menempel, berpelukan, hingga tahu-tahu bayangan itu muncul lagi. Mata itu membelalak, merah, marah, benci, menakutkan, mengerikan, menjijikkan. Tanganku bergetar lagi. Kubuka mata. Tertutup lagi. Bayangan itu datang lagi. Kubuka lagi. Tertutup lagi. Mata itu di depanku!
Sekarang mataku benar-benar tertutup. Tubuh itu kejang, kaku, dengan mata melotot dan tangan menggapai-gapai kearahku. Jangan! Pergi sana! Jangan ganggu aku! Tapi ia semakin mendekat, kulihat jelas wajahnya. Rasanya aku kenal. Ooohh tidak, perempuan yang ada dalam mimpiku itu adalah ... mata kiri yang melotot, yang sebagian tertutupi bayangan, mulut menganga, rambut sepanjang bahu, daster putih berlumuran darah yang berasal dari luka di wajah dan lobang hidungnya, terbaring menyamping, tangan menggapai-gapai ... adalah mbak Wana yang ada di dekatku, yang sedang memelukku.
Aku berteriak keras sekali sampai terasa memekakkan telingaku sendiri sehingga memaksa kedua mataku terbuka lebar. Kulihat mbak Wana, matanya melotot ke arahku. Ia melotot. Jangan melotot! Mengerikan! Jangan melotot!
Kuguncang-guncangkan bahunya. Ia memegang tanganku dengan erat, lalu berusaha menggapai wajahku. Tangannya menggapai! Ahhh aku takut, tanganku bergetar hebat sekali, yang terhebat yang pernah aku rasakan. Kulingkarkan kedua tanganku ke lehernya, kutekan kuat-kuat, kucekik dia. Ia melotot, matanya seperti mau copot, mulutnya menganga seakan ingin menjerit, ia meronta, tangannya menggapai-gapai. Kucekik dia dengan lebih keras.
Ya! Pelototan itu memudar, badan itu tak bergerak lagi. Ha ... ha ... ha ... ha ... mata itu tak melotot lagi, mulut itu tak menganga lagi, tangan itu tak menggapai lagi. Dia mati, dia sudah tak bernafas lagi, mbak Wana sudah mati ... apa?! Mbak Wana sudah mati. Tubuh indah itu menggelepar kaku di sofa, kepalanya lunglai kearah lantai, setengah terjatuh.
Apa yang kulakukan? Aku membunuhnya ... aku membunuh mbak Wana! Aku menangis, meraung, dan berjongkok di sisi sofa, sampai mbok pembantu mbak Wana tergopoh-gopoh mendatangiku.
***
SEKITAR DUA PULUH DUA TAHUN YANG LALU, DI SEBUAH RUMAH BTN YANG SANGAT SEDERHANA.
Seorang laki-laki menampari wajah seorang perempuan, menarik rambutnya, dan melemparnya ke tengah ruang tamu hingga kursi-kursi plastik berhamburan. Wanita itu berteriak-teriak dengan histeris.
"Dik, apa yang kau lakukan? Kamu mau membunuhku?" kata perempuan itu sambil menangis dan menahan sakit di bibir dan wajahnya yang terluka.
Seorang bocah berumur tiga tahunan meringkuk di sudut ruangan, tak berani melakukan sesuatu. Ia menahan tangis dengan tangan kanan yang bergetar, terluka oleh tarikan keras laki-laki tadi, sebelum ia menghajar ibunya.
"Kenapa tidak kaubunuh anak itu tiga tahun yang lalu, sewaktu kau tahu bahwa kau hamil," sang laki-laki membentak.
Dengan berdarah-darah dan menahan sesenggukan, sang perempuan mencoba menyusun kata-kata, "Ia anakku, darah dagingku, yang kulahirkan dengan sakit dan cinta."
"Aku tak peduli. Sejak kita memiliki hubungan intim lain selain hubungan darah, kita sama-sama tahu bahwa perbuatan kita salah. Lalu apa salahnya membunuh anak yang celaka itu!?”
"Aku tahu bahwa kau adalah adik kandungku, dan kita sadar melakukan hubungan yang terkutuk. Tapi aku tidak mau membunuh bayi yang tidak berdosa itu, dan ia juga anak kandungmu.”
"Apa katamu, tidak berdosa?!" Laki-laki itu menjambak dengan keras rambut sang perempuan, kemudian melepaskannya lagi.
"Sekarang ia telah berdosa, bagimu dan bagiku. Aku tidak ingin aib ini sampai diketahui banyak orang, terutama istriku. Kau kakak kandungku, tapi aku sekarang berlaku sebagai laki-lakimu. Jadi aku berniat untuk membunuh anak itu! Lagipula aku tidak pernah menganggapnya sebagai anak kandungku," lanjut sang laki-laki dengan penuh emosi.
Mendengar ini si perempuan semakin histeris. Ia mencoba bangun dengan berpegangan pada celana panjang si laki-laki. Menarik-nariknya, memukul sekenanya, berontak. Si laki-laki merasa kewalahan sekaligus jengkel, "Diam ... diam! Jadi ini kan yang kaumau hah!?" Ia meraih tubuh si perempuan, membantingnya kelantai, menindihnya dan mulai mencekiknya. Sambil mencekik, sang laki-laki terus-terusan berteriak-teriak, "Ini kan yang kamu mau hah, ini kan?!"
Anak laki-laki berumur tiga tahun yang meringkuk di pojok menyaksikan segalanya. Laki-laki itu menindihnya, mencekiknya, mata kanan sang ibu tertutup badan si laki-laki, mata kirinya yang terlihat, melotot, memandang anaknya. Mulutnya menganga. Tangan sang ibu menggapai-gapai kearahnya. Dengan suara yang hampir habis, si ibu masih sempat mengucapkan sepatah kata, "Perg ... ggi,” kemudian menghembuskan nafasnya yang terakhir.
Sang anak laki-laki dengan ketakutan, tangan kanan yang bergetar, rasa sakit, berlari keluar rumah dengan sekuat tenaga. Si laki-laki yang ternyata adalah pakliknya sendiri melihat si anak mencoba melarikan diri, mencoba menangkapnya. Namun terlambat, sang anak telah jauh pergi, berlari sekuat tenaga. Ketika tadi si anak laki-laki berlari keluar, ia sempat menubruk segelas teh melati diatas meja buatan ibunya yang semula diperuntukkan untuk paklik yang sekaligus ayahnya. Gelas itu jatuh menghempas ke lantai, pecah dan isinya tumpah ruah. Aroma wangi teh dan melati yang pekat menebar ke segala penjuru.
Sudah