Pagi yang indah di sebuah desa yang jauh dari bisingnya kota dan keramaian, matahari bersinar cerah menimpa pohon-pohon yang kelihatan hijau berkilat. Desa yang sangat sederhana dan hanya memiliki penduduk yang dapat di hitung dengan jari. Kecil, sesak, beratap kayu, reot adalah suasana rumah-rumah di Desa itu.
Desa Rogomulyo namanya. Desa Rogomulyo yang merupakan satuan wilayah pemerintahan yang berada di Kecamatan Kaliwungu Desa Rogomulyo. Terdapat enam dusun yang membagi desa itu, tetapi Rogomulyo adalah desa yang tertinggal.
Aku tinggal dengan seorang nenek dan abang dengan keadaan rumah yang sangat minim begitupun dengan perekonomian kami. Nek Ratih namanya, sudah tua dan sering sakit-sakitan, begitu pun dengan abang aku bernama Dimas yang hanya berbeda 2 tahun dariku, tetapi dia sudah berhenti sekolah karena harus membiayai aku dan nenek.
Kedua orang tua aku sampai saat ini aku tidak tau keberadaanya, aku hanya tahu bahwa mereka berpisah di waktu aku masih berumur 3 tahun dan pergi hilang tanpa kabar. Rasa rindu, benci, dan sedih yang selalu membalut perasaanku akan hal itu.
Sesekali air mata ini pun jatuh jika selalu mengingatnya. Di hati yang paling dalam aku sangat ingin bertemu dengan sosok mereka dan mengatakan bahwa aku bisa tanpa kalian. Kalimat itu yang terlintas dikepalaku.
Keindahan alam pagi yang membuatku menjadi semangat akan hal baru yang harus dijalankan. Tidak mengurangi rasa bersyukurku kepada Allah SWT yang masih memberikanku kebahagiaan. Menatap kedepan tanpa ada rasa takut, melawan apapun demi masa depanku, itulah komitmen hidupku, membuat orang-orang yang berada di dekatku menjadi senang akan hal yang kuperbuat terutama bagi keluarga aku.
Tak lepas dari rutinitas nenek yang selalu bangun di jam 3 pagi, untuk membuat kolang-kaling yang terbuat dari biji buah aren yang akan dijual di pasar untuk menambah keuangan kami, aku tahu nenek pasti lelah akan hal ini tapi setiap kutanya dia selalu bilang tidak apa-apa.
Aku bangun jam 4 pagi, kubuka pintu dengan perlahan menyambut pagi yang datang dengan udara dingin menusuk badan tetapi segar itulah pagi di desaku.
Aku melihat para warga sudah mulai melakukan aktivitas mereka masing-masing. Kusapa mereka dengan senyuman yang hangat.
Aku pun bergegas membersihkan rumah dan tidak lupa untuk sholat subuh dan langsung bersiap-siap untuk berangkat ke sekolah.
Nenek selalu membuatkan ubi rebus yang lezat untuk sarapan pagi. Beginilah kehidupanku.
“Dila, mangan ndok,” kata nek Ratih dengan lembut menyuruhku makan.
“Iyo nek,” sahutku dengan sopan. Setelah makan, aku pun berpamitan dengan nenek.
“Nek, Dila berangkat dulu yo,” ujarku memberi salam kepada nenek.
“Iya ndok. Kamu hati-hati ya dijalan,” kata nya membalas salamku.
Ketika aku ingin melangkahkan kaki menuju pintu, aku mendengar seseorang memanggil namaku. Aku berbergegas menghampirinya.
“Dila, bentar kemari,” panggil bang Dimas.
“Iyo, Bang,” jawabku dengan bertanya-tanya.
“Ini abang berikan untuk Dila,” kata Dimas sambil menyodorkan uang 30 ribu.
“Uang apa ini, Bang ?” tanya aku terheran-heran.
"Kemarin, Dila kan ingin membeli buku mengenai pelajaran Bahasa Inggris" kata Dimas menjelaskan.
"Iyo, Bang, Dila lupa, tapi kalau abang perlu uangnya, abang simpan saja, tidak usah berikan ke Dila," kataku sambil menunduk.
Yang aku tahu bahwa penghasilan Dimas hanya pas-pasan untuk makan kami. Dimasbekerja sebagai pelayan di warung makan dan tukang semir keliling.
"Orapopo Dila," sahut Dimas sambil menyerahkan uangnya.
"Suwon yo bang," kataku dengan lembut.
Hatiku sedih karena aku hanya merepotkan nenek dan abang, aku langsung memeluk mereka dengan erat dan bilang banyak terima kasih kepada abang dan nenek. Terlintas dihati, aku ingin membantu mereka dengan bekerja sampingan setelah pulang sekolah.
Aku pun bergegas pergi ke sekolah dengan mengayuh sepeda tua, jarak rumah ke sekolah lumayan jauh, berada di kotanya Rogomulyo. SMA Negeri 1 Purwokerto itulah sekolah aku, cukup sulit untuk masuk ke sekolah itu yang terbilang merupakan sekolah terfavorit.
Aku parkirkan sepeda di bawah pohon agar tidak terkena panas. Berjalan melewati lorong-lorong, dan sampai di depan ruang kelasku yang berada paling sudut.
Tak sengaja aku berpapasan dengan penjaga sekolah dan menegurnya, jarang aku tidak bertemu dengan Pak Slamet hampir setiap pagi aku melihatnya yang selalu bertemu ketika sedang mematikan lampu di setiap kelas.
Aku langkahkan kaki dan masuk ke ruang kelas, aku lihat belum ada seorang pun yang datang. Aku melihat lantai sedikit kotor lalu aku ambil sapu untuk menyapunya. Tak lama di batas pintu, sosok datang yang tampak benci kepada aku, aku tidak tahu dia sengaja atau tidak sengaja melakukannya, dia masuk ke kelas dengan menyeret-nyeret kotoran yang lagi aku sapu kembali masuk ke dalam kelas.
Namanya Desi, pindahan dari Jakarta. Aku hanya mengelus dada dengan tingkah yang diperbuatnya, tak heran bagi aku.
Desi selalu tampak seperti itu setiap hari kepadaku, berlaku sangat kasar, hingga suatu hari dia sangat mencela pekerjaan nenek dan abang aku yang tidak sederajat dengan pekerjaan orangtuanya.
Selesai menyapu, aku manfaatkan waktu yang ada sebelum bel berbunyi dengan membaca buku tambahan mengenai pelajaran Inggris dan menuliskan beberapa kosa kata dalam bahasa Inggris. Aku suka bahasa Inggris sejak kecil karena kakek dulu terkenal sebagai seorang guru bahasa Inggris desa yang cerdas, dan menurun kepada aku.
Aku bermimpi untuk mendapatkan beasiswa dan bersekolah di luar negeri. Selepas pulang sekolah, aku tidak langsung pulang tetapi aku pergi ke sebuah warung yang menyediakan internet untuk mendapatkan berbagai informasi mengenai beasiswa yang ingin aku peroleh. Setelah itu, aku bergegas pergi ke sebuah pasar loak yang menjual berbagai buku untuk membeli buku tambahan. Setelah mendapatkannya, aku pun pulang.
Aku melihat nenek dan abang belum pulang ke rumah, dan bergegas mengganti pakaian dan menyusul nek Ratih ke pasar untuk membantunya. Kulihat nenek dari kejauhan yang menaruh besar harapan ke dagangannya agar laku terjual.
Aku menghampiri, dan memberikan nasi dengan lauk tempe tahu untuk makan siangku. Aku menatap dia dengan rasa haru.
Aku melanjutkan sesekali untuk menjual dagangannya ke sekeliling tempat, dan nenek menegurku. “Baca saja buku yang kau beli itu, Nak,” kata nenek dengan secercah harapan.
“ Iyo nek, “ kataku.
°°°
3 tahun pun berjalan seiring dengan waktu, aku kembali ke Desa Rogomulyo setelah mengerjakan studi di Universitas Oxford di London dan mendapat gelar dan pekerjaan.
Tak jauh beda, desanya masih seperti dulu yang masih asri akan udaranya. Aku mengeluarkan kamera dan memotret akan indahnya pemandangan, letak rumah-rumah pun masih sama, aku mampir untuk membeli kolang-kaling kesukaan untuk abang Dimas dan membuatku teringat kepada nenek.
Aku melihat seorang gadis yang kurasa pun seumuran dengan aku yang sedang duduk menunggu orang untuk membeli kolang-kalingnya.
Aku menghampiri dan dia bangkit dengan semangat melayani aku.
“Mau beli berapa mbak?“ tanyanya dengan lemah lembut.
“ Satu bungkus saja mbak, “ kataku membalasnya sambil mengambil uang pas.
Terlintas sepertinya aku mengenali perempen ini, iya dia adalah Desi, teman aku dulu di waktu SMA.
Aku tidak menduga seperti ini keadaannya sekarang, dengan keberanian aku pun bertanya.
“Kamu Desi kan?” tanyaku dengan hati-hati.
“ Iyo aku Desi, Dila rupanya, “ kata Desi.
“ Maaf ya, Dil, sikap aku dulu tidak baik sama kamu bahkan sampai sangat membenci kamu, aku selalu iri kepada kamu karena kamu sangat baik dan cerdas sampai-sampai aku mengejek nenek kamu yang berjualan kolang-kaling. Itu tak sepantasnya aku lakukan, maafkan aku, ya, Dila," jelas Desi sambil mengeluarkan air mata.
“Iyo Des, tidak apa-apa sudah kumaafkan dari dulu, sebenarnya dulu aku pun sangat tidak suka dengan perbuatanmu itu, tetapi nenek selalu bilang untuk memaafkanmu, Des. Mm ... Nenek sudah meninggal ketika aku hendak berangkat pergi melanjutkan studi aku, “ kataku.
“Ayahku meninggal karena kecelakaan, dan perekonomian kami menurun karena biaya pengobatan ayahku, tetapi ayahku tetap dipanggil oleh Allah SWT mungkin dari sini aku diberi ganjaran oleh Allah karena aku selalu menyusahkan orangtuaku, aku harus membiayai kehidupanku dan Ibuku yang sedang sakit-sakitan, hanya ini yang dapat aku perbuat Dil dengan menjual kolang-kaling,” kata Desi.
Aku tidak menyangka akan seperti ini ke hendak Allah, dulunya Desi memiliki semua apa yang diinginkannya, tetapi sekarang harus membiayai keluarganya, hatiku pun bergetar mendengar cerita Desi, Aku hanya dapat memberikannya pelukan dan sebuah senyuman harapan bahwa dia dapat menjalani kehidupannya.