Adit menolak permintaan ibu, untuk kesekian kali. Dia bersikukuh, berkata, kalau tekadnya telah bulat, tidak akan pulang sebelum ia berhasil mendapatkan apa yang ia cita-citakan selama ini. Sampai sebuah kata akhirnya terlontar keluar dari mulut ibu. Sekeras-kerasnya Adit bersikukuh, sekonyong-konyong ia menjadi sosok yang berbeda. Adit yang lain, berubah, lemah.
Rumah. Akh, satu kata itu, kenapa juga ibu harus mengucapkan frasa itu. Dulu, Adit bersumpah di hadapan bapak tidak akan lagi menginjakkan kaki ke rumah itu sebelum ia berhasil membuktikan kepada bapak kalau apa yang bapak katakan perihal cita-citanya itu adalah salah. Sebenarnya sumpah itu bukan sekonyong-konyong keluar dari mulut Adit, sebelumnya bapaklah yang lebih dulu mengulitimatum Adit, meminta Adit untuk memilih, yang sesungguhnya itu adalah paksaan belaka, Adit harus memilih menuruti kemauan bapak atau Adit keluar dari rumah itu.
Tentu saja keluar yang dimaksud bukanlah sebatas menjejakkan kaki dari ambang pintu ke halaman luar, tapi lebih dari itu, Adit harus bertanggung jawab terhadap dirinya sendiri. Kasarnya, Adit harus hidup tanpa pertolongan dari keluarga, terutama untuk mencukupi kebutuhan hidup sehari-hari. Kata bekennya, Adit harus hidup secara, mandiri(-mandiri=semaunya sendiri; begitu bapak mengartikan!)
Dengan berat hati ia harus melangkah keluar rumah, bukan hanya karena ia harus kehilangan apa-apa yang sesungguhnya menjadi hak seorang anak, tapi juga lebih dari itu, ia harus menanggalkan segala kewajibannya sebagai seorang anak, terutama terhadap kedua orang tuanya.
Dan satu hal lagi, ia dan kenangannya akan rumah itu; rumah itu tidak sedikit meninggalkan kenangan bagi seorang Adit, dari awal lahir hingga tumbuh kembangnya, terlebih, ketika bapak pertama sekali merintis usahanya. Banyak cerita yang tertinggal dari rumah itu, entah suka entah duka, yang menjadi bagian dari Adit tapi harus diputus kemudian, begitu saja, perih memang, tapi mau bagaimana lagi.
Adit sang rajawali harus belajar mengepakan sayapnya, begitu ia membesarkan hatinya.
Rajawali, begitulah Adit memberi julukan bagi dirinya, dan bukan cuma sekedar julukan tapi itu juga menjadi nama pena bagi dirinya; Cita-cita yang tidak dikehendaki oleh bapaknya menjadi, seorang penulis cerita.
Besar dan kuat tekad Adit untuk menjadi seorang penulis cerita bukan hanya karena ia sering memenangkan sayembara tulis menulis, ataupun karena tulisannya yang sering nampang di surat-surat kabar, baik lokal maupun nasional, tapi lebih karena... Adit hanya ingin membuktikan ke bapak kalau apa yang dulu menjadi cita-cita bapak itu bukan sesuatu yang salah. Iya, bapak dulu bercita-cita menjadi seorang penulis cerita, tapi, kemudian bapak membungkus rapat-rapat, lalu, membuangnya jauh-jauh; sayangnya, bapak lupa, untuk membuang berkas kenangan ibu, yang pengakuan ibu kepada Adit kecil kalau itu adalah surat cintanya bapak dulu, yang sejatinya semua surat-surat itu berisi cerita-cerita pendek.
Ibu begitu menggilai cerita-cerita itu.
Dan ternyata kadar bagusnya cerita itu bukan berdasarkan penilaian sepihak ibu saja; Sewaktu masih susah dulu Ibu pernah menjual satu dua cerita itu untuk menyambung hidup, tanpa sepengetahuan bapak tentunya.
Kenapa mesti tanpa sepengetahuan bapak? Iya, selain cerita itu ditujukan hanya dan untuk ibu, bapak bersikukuh, kalau cerita-cerita itu tidak akan pernah bisa membuat kita sejahtera. "Tidak ada satu orang pun yang bisa kaya dari menulis!"
Menurut bapak, sepengakuan ibu, bagi bapak menulis itu hanya hobi, gak lebih.
Tapi alasan yang sejatinya bukan itu, tapi...
Ketika dua orang petugas jaga bertandang ke rumah, yang bilangnya hanya ingin bertamu saja, padahal ujung-ujungnya berniat ingin menemui Adit, katanya ingin memberi satu dua petuah bijak kepada Adit, sambil menunjukkan salin cerita Adit di salah satu koran lokal, mereka meminta kepada bapak agar bapak bersedia menasehati anak satu-satunya itu, demi kebaikan dan masa depan Adit kelak ; disitulah semuanya terkuak.
Di ruang tamu, bapak menunggu, menanggung amarah yang berkecamuk, geram ia koyak salinan cerita tersebut. "Aku gak mau semua ini terulang lagi!"
Sesampainya Adit di depan pintu, ayah menghardik. Adit tidak kaget, perihal ini telah ia duga sebelumnya. Karena sejam sebelumnya, ketika hendak pulang ke rumah, di pertigaan jalan atas suruhan ibu seseorang mencegat Adit, memintanya untuk tidak balik dulu ke rumah, berhubung di rumah, ada dua orang dengan tampang mencurigakan yang sedang mencarinya. Adit pun menunda kepulangannya.
Dibumbui umpatan dan makian bapak menguliahi Adit satu jam setengah lebih kurang. Lalu mengulitimatum Adit, sebelumnya dengan cara yang baik-baik ia meminta Adit untuk tidak melanjutkan tulisannya, bahkan Adit diminta untuk meninggalkan dunia tulis menulis yang telah sekian lama menjadi kegemarannya, karena Adit bersikukuh menolak, ultimatum itu pun keluar. Dan Adit tetap dengan keputusannya.