Gadis itu cantik walau pun berwajah sendu. Ia antusias menatap buku yang dipegangnya. Gerak bola matanya menatap tajam setiap kata yang ada di buku. Bibirnya yang tipis itu sesekali tersenyum kecil. Sepertinya ia tengah membaca bagian cerita yang manis. Tapi setelah itu raut wajahnya kembali seperti biasa. Sendu...
Selama ini aku hanya melihat apa yang ku lihat. Ia berwajah sendu, manis. Raut wajahnya seolah-olah tidak memiliki beban sama sekali walaupun terlihat sendu. Tapi siapa yang tau? Bisa saja hidupnya sulit, tapi bisa ia simpan rapat-rapat dibalik wajah manisnya itu. Kira-kira ia hanya setinggi bahuku.
Bukankah yang kulakukan terlalu bejad? Memperhatikan seseorang diam-diam. Tapi bagaimana lagi? Sudah menjadi kebiasaan. Yang tak pernah bisa ku ubah.
Aku duduk di tempat biasanya, tidak jauh dari dirinya dan aku merasa yakin bahwa gadis itu akan seperti biasanya. Duduk di pinggir lapangan di bawah pohon rindang sembari membawa buku untuk dibaca. Selama memperhatikan dia, sudah banyak judul buku yang ia baca dan sudah ku pastikan membaca adalah hobinya.
Suatu hari, ia tidak datang. Betapa paniknya aku.
Aku tidak pernah berani untuk mendekatinya. Bahkan jika berpapasan aku selalu menundukkan kepalaku. Pengecut? Ya aku pantas disebut itu. Hanya disaat dia melakukan kebiasaannya aku berani untuk melihat wajah indah yang sendu itu.
Tapi, hal yang tidak pernah aku duga. Bahkan tidak pernah aku bayangkan. Ia datang, tapi bukan ke tempat ia duduk biasanya. Ia malah menghampiri diriku dengan lari kecil. Nafasnya sedikit terengah-engah. Ia menatapku sekejap lalu tersenyum.
Ia meminta maaf padaku. Aku bingung dan hanya bisa diam. Ia lalu tertawa kecil.
"Maaf membuatmu menunggu dan...aku minta maaf juga karena sepertinya aku membuat kamu panik," Ia duduk di sampingku. Masih menatapku dengan senyumnya yang manis itu.
Ini pertama kalinya aku menatap ia sedekat ini. Terlalu berlebihan jika aku mengatakan keringatku bercucuran. Tidak..tidak! Keringatku tidak bercucuran, tapi jantungku berdegup kencang dengan hebatnya.
"Aku tahu apa yang kamu lakukan selama ini, memperhatikan ku diam-diamkan?" hanya dengan kata yang ia ucapkan itu, sikap pengecutku semakin membesar.
Aku menundukkan kepala. Tidak berani menatapnya.
"Tapi ku biarkan, karena aku pun juga melakukan hal yang sama."
Aku lantas menatapnya. Sedikit bagian di hatiku terasa senang. Berarti selama ini ia juga memperhatikanku?
"Maaf," hanya itu yang kusampaikan padanya. Ia langsung menggelengkan kepalanya.
"Jangan menyalahkan dirimu. Kamu gak salah," ia tersenyum.
Dia memberikan buku yang ada di tangannya padaku. Ia menunjuk judul buku itu. Setelah aku membaca judul buku itu, aku kembali memberanikan diri menatapnya, bertanya ada apa dengan judul buku yang tengah ku pegang ini. Ia kembali menunjuk buku itu, kemudian menunjukku.
"Judul di buku ini, ungkapan untukmu."
Aku tersenyum, tapi disisi lain merasa canggung. Dia pun tersenyum. Manis dan indah lekukan yang ia buat di bibirnya itu. Aku meminta maaf padanya atas sikapku yang diam-diam memperhatikannya selama ini. Lalu, tanpa aba-aba aku bercerita bagaimana rasa ini tumbuh untuknya. Aku juga bercerita, bahwa dia perempuan kedua setelah ibuku yang dapat membuatku jatuh hati sedalam ini.
Dia pun begitu, menceritakan padaku bagaimana bahagianya hari dimana ketika ia diperhatikan olehku. Ternyata ia menyukaiku sebelum aku menyukainya dan ia semakin bersemangat membaca di tempat ia biasa membaca buku. Agar ia bisa diperhatikan olehku. Sekaligus bisa memperhatikanku.
***
Tak terasa satu tahun sudah kami menjalani hubungan sebagai kekasih. Ia tidak seperti biasanya. Ia benar-benar tidak datang melakukan kegiatan yang biasanya ia lakukan. Awalnya aku berpikir bahwa ia terlambat datang. Tapi nyatanya sampai bel istirahat berakhir. Ia tetap tidak datang, dan bahkan ketika aku menunggunya keluar dari kelas saat pulang. Gadis itu. Ah! Tidak! Gadisku itu tidak ada di kerumunan teman-teman sekelasnya. Aku bertanya pada salah satu temannya. Bertanya gadisku itu mengapa tidak tampak hari ini.
Biasanya, jika ia tidak datang ke sekolah. Ia akan mengirimkan pesan. Sehingga aku tahu, bahwa ia tidak datang. Tapi, kali ini, dia sama sekali tidak ada mengabariku.
Namun, hal mengejutkan datang kepadaku. Aku benar-benar tidak menyangka hal ini terjadi. Debaran jantung ini berdebar dengan cepat. Debaran hebat ini sama dengan yang ku rasakan ketika pertama kali rasa ini muncul, dan ketika pertama kali aku berbicara dengan gadisku itu.
Debaran kali ini... benar-benar membuatku hancur. Aku berlari menyusuri koridor. Menuju gerbang dan dengan cepat menuju parkiran mengambil sepeda motorku.
Aku membelah jalanan sore itu dengan cepat. Tak peduli sudah berapa kendaraan yang mengklaksonku.
Gadisku...dia...pergi...
Pergi...
Aku sampai di depan rumahnya. Sudah banyak orang yang datang ke rumahnya. Tanpa permisi, aku berlari ke dalam rumah. Aku terpaku, tubuhku yang sehabis berlari tadi, tiba-tiba tidak bisa digerakkan. Membeku aku melihat apa yang ada di hadapanku. Aku masih tidak percaya. Tidak mungkin gadisku itu yang kini berada di hadapanku.
Seolah memberi kebenaran, entah angin darimana, kain itu tersibak dan memperlihatkan, wajah gadisku yang manis. Pucat dan sendu. Aku luruh ke bawah. Ternyata memang gadisku yang tertutup kain putih dan kain batik panjang itu. Aku menangis. Tidak peduli bahwa banyak orang di sekelilingku. Tidak peduli bahwa aku ini laki-laki. Yang aku tahu, duniaku serasa runtuh. Cukuplah dengan wanita pertama yang aku cintai pergi. Ya, ibuku juga pergi dan takkan kembali lagi ke dunia ini. Kini, gadisku ini ikut pergi meninggalkanku. Tuhan seolah tidak mengizinkan aku hidup dengan orang yang aku sayangi. Benar-benar hancur.
Aku mencoba untuk bergerak perlahan-lahan. Duduk di sampingnya. Lalu, seorang ibu-ibu menepuk pundak ku.
"Kamu Wira?" Ibu itu melirikku, lalu name tag yang ku kenakan. Aku mengangguk. Ibu itu tersenyum. Ia memberikan sebuah kotak kepadaku. Kotak itu terlihat sedikit penyok.
"Sepertinya ini memang untuk kamu dari Wina. Soalnya ada nama kamu ditutup kotak itu," aku melihat tutup kotak itu, ya memang ada namaku.
"Untuk Wira ku" tulisnya. Aku tersenyum kecut. Seharusnya dia yang memberikan ini secara langsung. Kenapa malah orang lain yang memberikan ketika dia ada di hadapanku. Aku melihat ke arahnya. Ku sibak kain putih itu. Aku membelai rambutnya.
Tangis yang tadi sempat terhenti, kembali datang. Tak kuasa melihat orang terkasih pergi untuk selama-lamanya. Aku memejamkan mata cukup lama. Lalu aku tersenyum, mencoba ikhlas menerima apa yang telah ditakdirkan Tuhan untukku walaupun begitu berat.
Aku bertanya ke si ibu yang memberikan kotak padaku tadi. Bertanya dimana orang tua Wina. Ibu itu tersenyum lalu menggeleng.
"Wina sudah lama tinggal dengan ibu. Ibu ART sekaligus pengasuhnya. Orang tua Wina sudah lama meninggal. Tantenya yang bekerja diluar negerilah yang membiayai Wina selama ini," kenapa aku baru tahu? Kenapa aku seolah menutup mata dan tidak pernah bertanya tentang kehidupannya. Yang aku pedulikan hanya bagaimana Wina bisa menyukaiku. Hanya itu yang selalu ku tanya setiap kami bertemu.
Bahkan saat kami belum memiliki hubungan. Aku tidak pernah sekalipun mencari tahu kehidupannya selain apa yang ia sukai. Aku bahkan tak pernah berani mendatangi rumahnya, oleh karena itu aku tak tahu ia hanya tinggal dengan pengasuhnya.
"Kenapa Wina bi-bisa pergi?" tanyaku terbata.
"Semalam Wina katanya mau keluar nemuin seseorang namanya Wira. Berarti kamu kan? Terus dia bawa tas, isinya kotak ini. Tapi selang beberapa lama setelah dia pergi. Ada yang nelfon ibu dan ngabarin kalau Wina kecelakaan. Saksi mata bilang, tas berisi kotak ini terjatuh ke pinggir jalan, Wina mau ke pinggir untuk ambil kotak ini. Tapi ada mobil melaju dari belakang dan nabrak Wina.
Wina sempat dibawa ke rumah sakit, tapi diperjalanan kondisi Wina sudah tidak bisa diselamatkan. Pendarahan dalam di kepalanya terlalu parah," ibu itu menceritakannya dengan raut wajah begitu sedih.
Aku tak tahu lagi harus berkata apa. Mengapa malam itu Wina tak mengabariku? Apa dia ingin memberikan kejutan? Kenapa ia harus pergi? Ini karena aku bukan? Karena ingin memberikan kotak ini, makanya ia pergi. Ya ini salahku. Jika tahu seperti ini, dari awal aku tak seharusnya mengajak ia ke hubungan yang lebih lanjut. Tak seharusnya kami saling kenal.
Aku tak mempedulikan pandangan orang lain yang ada di ruangan tersebut. Aku menangis, sekuat-kuatnya. Dulu ibu, sekarang Wina gadis yang ku cintai pun ikut pergi, dan ini semua karena diriku. Aku pantas mati, jika tidak nantinya orang yang ku sayang pun akan pergi jika berada didekatku.
Aku menatap nanar ke arah wajah gadis manis itu. Tak ada lagi air mata yang sanggup keluar. Aku memejamkan mata, berharap ini hanya mimpi. Cukup lama, akhirnya aku membuka pejaman mata. Tubuh yang terbujur kaku itu masih di hadapanku. Membuatku tersadar bahwa ini memang nyata bukan mimpi.
Hari itu, aku menemani kesayanganku sampai ia disemayamkan di tempat tidur terakhirnya. Aku pulang, membawa kotak pemberiannya dengan kesedihan yang mendalam. Aku belum berniat membuka kotak tersebut. Aku takut, jika aku membukanya, isinya malah semakin membuat diriku sedih.
Aku hanya memeluk kotak itu. Aku ingin tidur, dan berharap ia datang ke mimpiku. Tapi mata ini tak bisa terpejam. Dengan tegar, aku mencoba melihat isi kotak tersebut. Aku membukanya, yang pertama kulihat adalah buku yang waktu itu ia tunjukkan padaku. Judul buku ini yang mengungkapkan hatinya.
'Kamu Cintaku Sampai Akhir' seperti itu ungkapannya. Miris, ungkapan ini memang benar adanya. Aku adalah cinta sampai akhir hidupnya. Tak terasa air mata ini kembali luruh.
Bukankah aku lelaki yang pengecut? Yang tak mampu menahan tangis? Aku menghela disela tangis, terasa sesak. Aku kembali melihat isi kotak itu. Ada sebuah foto, aku dan dirinya yang ada di dalam foto itu. Foto yang kami ambil setiap kami bertemu.
Lalu ada juga foto ketika kami belum saling mengenal. Itu foto diriku saat memandangi ia dulu. Ternyata Wina mengambil gambarku diam-diam. Aku tersenyum tipis.
Kemudian, aku mengambil lagi isi kotak itu. Ada dua gelang, dan ada tulisan di gelang tersebut. Yang satunya 'Wina Cinta Wira', sedangkan yang lain sebaliknya 'Wira Cinta Wina'. Gelang pasangan. Aku memasang dua gelang itu ditanganku.
Masih banyak barang yang ada di kotak itu. Yang terakhir, ada surat di dasar kotak itu. Haruskah aku membacanya? Aku menghela nafas terlebih dahulu. Ini sangat tiba-tiba. Aku berjalan menuju balkon rumahku. Lalu dengan sepenuh hati aku membaca isi surat itu.
Untuk Wira,
Cinta terakhirku,
Aku sengaja menyuruhmu membaca surat ini ketika aku pulang. Jika kamu baca di depanku. Pasti memalukan, aku tidak mau kamu melihat wajahku yang memerah. Hehe...kamu suka tidak barang-barang yang aku berikan? Jika kamu suka, katakan nanti saat kita bertemu lagi. Ada beberapa hal yang tak ku ceritakan dan perlihatkan padamu. Itu ada foto dirimu yang ku ambil dulu saat kita saling memandang diam-diam. Haha...maaf jika lancang, tapi tahu tidak setelah mendapatkan potret dirimu, betapa senangnya aku. Aku pernah memandangi foto itu sampai tertidur, dan berharap kamu bisa menjadi milikku. Ternyata permintaan yang besar itu dikabulkan Tuhan. Sekarang kita adalah sepasang kekasih.
Jika kita bertemu lagi, aku ingin menceritakan tentang kehidupanku, keluargaku dan segalanya yang ingin kamu tahu. Tapi untuk saat ini kamu harus tahu satu hal, orang tuaku sudah lama meninggal. Aku kehilangan wanita berharga yang sangat menyayangiku yaitu ibu, dan juga kehilangan cinta pertamaku yaitu ayahku. Setelah itu, cinta dalam hidupku tak pernah ada lagi. Rasanya sudah mati. Tapi ternyata...aku salah. Kamu hadir. Bukankah ajaib, saat pertama melihatmu aku langsung mematri dalam hati dan pikiranku. Kalau aku sudah jatuh cinta padamu. Kamu membuka pintu yang sudah lama ku tutup rapat. Tapi pernah terlintas rasa tak percaya diri, bahwa kamu takkan menerimaku. Biarlah aku mencintaimu dari jauh. Seperti yang ku ceritakan padamu. Rasanya masih seperti mimpi. Bahwa kamu pun juga diam-diam mencintaiku.
Kamu tahu? Entah bagaimana jika ada masa kita berpisah, aku merasa, aku takkan lagi bisa mencintai siapa pun. Maka dari itu aku yakin kamu adalah cinta terakhirku.
Wira, kemarin aku bermimpi, aku pergi meninggalkan kamu...selamanya. Aku takut, karena itu aku langsung menulis surat ini. Wira, aku takut kita berpisah. Jika kita nanti berpisah, berjanjilah padaku untuk hidup bahagia. Begitu pun denganku, aku akan mencoba untuk bahagia.
Masih banyak yang ingin ku tulis. Tapi nanti kamu bosan membacanya. Biar ketika esok kita bertemu. Mari kita ceritakan isi hati kita. Mari kita buat kenangan lebih banyak. Sebentar lagi kita lulus, aku ingin kuliah di tempat kamu juga berkuliah. Karena mimpi itu aku tak mau berpisah denganmu. Aku takut bisa saja mimpi itu jadi kenyataan. Kalau surat ini kamu baca didekatku pasti kamu akan marah karena aku mengatakan hal tentang perpisahan.
Aku mencintaimu Wira. Sangat mencintaimu. Aku berdo'a agar kita selalu bersama. Wira, maaf jika hadiah ulang tahunmu hanya ini yang bisa aku berikan. Selamat ulang tahun cinta terakhirku.
Dari Wina,
Kalau kata kamu si gadis berwajah sendu:)
Aku bahkan tak pernah mengingat kapan hari lahirku. Tapi Wina mengingatnya. Ini salahku, jika saja bukan karena ulang tahunku. Mungkin Wina takkan pergi malam itu. Aku memeluk surat itu. Lalu juga memeluk foto kami berdua. Malam itu ku habiskan dengan menangis. Biarlah jika orang mengatakan hanya laki-laki lemah yang menangis. Aku tak peduli.
Tuhan...aku ingin Wina kembali. Tak bisakah Engkau kembalikan Wina padaku? Aku masih berharap ini semua hanya mimpi. Tapi setiap kali aku bangun, kenyataan bahwa Wina memang sudah pergi tak bisa dielak.
Begini saja, Tuhan tolong lahirkan Wina kembali. Atau ambil nyawaku, dan persatukan aku dengan Wina dikehidupan kami selanjutnya. Bisakah? Bisakah aku kembali bersama kekasihku itu?
Wina...bagaimana aku bisa bahagia tanpa dirimu? Aku tak bisa memenuhi permintaanmu untuk bahagia. Aku tak tahu lagi caranya untuk bahagia. Aku tak bisa menepati janji itu.
"Wina...jika kamu mendengarku. Katakan pada Tuhan. Aku menunggumu dikehidupan selanjutnya. Mari kita hidup lebih lama, melukis kenangan lebih banyak lagi. Mengukir cerita baru dan menceritakan tentang kehidupan kita. Aku ingin memperbaiki kesalahanku yang menutup mata dan telinga tentang kehidupanmu. Katakan pada Tuhan, Wira akan selalu menunggu sosok Wina kembali. Katakan pada Tuhan, bahwa Wira sangat mencintaimu,"
Setelah hari itu, aku selalu menunggu Wina kembali hadir. Tak lagi ku biarkan ada yang membuka hati ini. Karena hati dan seluruh perasaan ini hanya untuk Wina. Hanya Wina. Dia cintaku sampai akhir.
TAMAT
Maaf ya kalau ada kekurangan dicerita pendek aku kali ini
Semoga suka ya
Oh iya aku ada cerita lain loh, My Heart Choice yang gak kalah serunya^^
Tinggal cek aja profil aku:)
The Yelion♥️🍀🍁
XOXO