Jangan pernah melupakan bahwa kita hidup berdampingan dengan makhluk tidak kasat mata di dunia ini. Mereka selalu melihat mu,mengawasi setiap gerak gerik dan mengamati agar terlihat mirip menyerupai bentuk manusia lalu menganggu. Dalam pernyataan berikut seyogianya kita tidak bisa memungkiri kehadiran mereka. Di sudut-sudut ruangan sekalipun, bahkan dia bisa mendirikan sebuah tempat sebagai rumah.
Cerita sejarah makhluk ghaib akan selalu berganti dan mengisahkan misteri. Permata seorang anak indigo yang tinggal di desa yang berdampingan dengan wilayah ghaib, sebuah desa yang sangat meresahkan warga masyarakat.
Di kala itu setiap dedaunan yang berguguran terbawa tiupan angin kencang berserak di atas atap rumah-rumah warga wilayah Utara. Jika senja telah datang, cahaya bercak jingga menyelimuti hawa kegelisahan penampakan makhluk halus yang hadir membawa jiwa-jiwa murni, merampas kebahagiaan dan menghadirkan cerita-cerita baru yang semakin menggegerkan desa berkabut.
Permata menutup jendela kamar dan mengunci sekeliling rumah. Dia tidak memperdulikan teriakan adiknya yang masih menyiram bunga di depan.
"Kakak! kenapa di kunci pintunya? aku masih menyiram bunga!."
"Masuk lah atau kakak biarkan kau terkena sinar jingga yang mematikan itu."
Permata mengintip dari balik kaca jendela. Cahaya yang sangat terang di kala senja yang menakutkan. Para makhluk berwujud wanita atau wujud lainnya bergentayangan di luar dan juga siap masuk ke rumah-rumah yang belum menutup rapat pintu dan jendela. Mereka menenggelamkan jiwa dengan rasa takut dan menelusuri pikiran yang kosong, makanan yang terhidang di atas meja mereka santap mengambil sari Pati dari makanan dan meninggalkan ampas walau makanan masih terlihat utuh oleh manusia.
"Cepat tutup makanan mu kak Mereli atau para makhluk itu menikmatinya!."
Kebiasaan Permata menekankan permohonannya agar tidak di langgar tentang apapun yang sudah terlihat olehnya kepadanya anggota keluarga.
Auuuuuuww.
Lolongan hewan berkaki empat dari kejauhan menggema di dalam kesunyian malam tanpa bintang. Seperti biasanya jika matahari berganti rembulan, suasana desa di selimuti Kabut putih semakin tebal bersama hawa dingin di sekitar.
Tok,tok,tok. "Bu Sarah! hiks,hiks "
"Ada apa Bu Titin?."
Bu Sarah adalah ibu dari Mereli, Permata dan Candra. Suaminya bernama Pak Franklin yang setiap sebulan sekali pulang. Seorang direktur Pertamina itu selalu sibuk dengan pekerjaan. Panggilan Bu Titin dengan suara terisak-isak itu membuat dahi Bu Sarah mengerut dan menarik masuk Bu Titin ke dalam rumah.
"Duduk lah, ada apa Bu?."
"Anakku belum pulang, bantulah aku mencari bersama para warga."
------------------
Dion masih saja belum pulang kerumah. Ibunya Titin sangat menghawatirkan anak semata wayangnya itu. Kebiasaannya bermain bersama teman-temannya di sungai menghawatirkan Bu Titin akan terjadi sesuatu pada anaknya.
"Anakku yang nakal! apakah dia hanyut di sungai pak RT?."
"Kita doakan semoga tidak terjadi sesuatu dan apapun Bu."
"Dioonnn, Dion!."
Panggilan para warga menelusuri pinggiran sungai. Suasana yang di selimuti Kabut membuat pandangan mereka terhalang. Obor -obor penerang malam semarak ramai mencari keberadaan Dion.
Sudah dua jam mereka mencari, badan mereka juga menggigil karena berenang terlalu lama. Dimana Dion?
Di dekat sungai yang terletak hutan bambu. Permata berniat mencari keberadaan bocah yang malang tersebut. Dia turut prihatin akan kehilangan Dion. Malam hari Permata bersiap menyusul ibunya yang masih menemani Bu Sarah dengan berbekal lentera di tangannya.
"Kakak mau kemana?", tanya Candra menarik baju Permata.
"Kakak mau menyusul ibu, kamu sama kak Mereli jaga rumah ya kakak hanya sebentar saja."
"Satu langkah keluar dari rumah atau kakak akan mencubitmu?", teriak kan Mereli dari balik pintu kamar.
Niat untuk mencari keberadaan Dion masih tetap di pegang teguh oleh Permata. Dari balik alam bawah sadarnya dia melakukan perjalanan berjalan-jalan menuju sungai dan hutan bambu yang bersebelahan.
Tubuh Permata sangat berkeringat, dia sangat gemetar saat melangkah keluar rumah di sekeliling kabut putih itu terdapat berbagai jenis yang berkeliaran dengan bentuk-bentuk yang mengerikan. Pertama-tama dia melangkah menuju sungai, dari kejauhan terdepat makhluk yang sangat tinggi dan berbulu dengan mata yang menyala memperhatikannya. Hanya makhluk tersebut, "Dimana Dion?" gumamnya.
Permata memasuki wilayah hutan bambu melangkah perlahan mengingat jalan untuk kembali pulang agar tidak tersesat. Saat memasuki area hutan terdapat dua Ekor ular berkepala manusia menjaga tempat tersebut.
"Permisi, apakah aku boleh masuk?."
Suara desis bercampur geliat melata melingkari Permata. Malam itu kaki permata terasa lemas mencoba berdiri tegak melawan rasa takut yang menyerang.
" Seperti inikah sikap kalian kepada makhluk yang sudah meminta dengan sangat sopan? enyahlah aku akan kembali pulang!."
Permata berkeras berbalik arah tanpa memperdulikan dirinya sedang di intai dan di ikuti dua makhluk mengerikan tersebut sampai ke dalam rumah.
Permata terbangun di pagi hari. Sepertinya dua ekor makhluk tadi malam telah kembali ke asalnya. Dia masih mendengar kabar bahwa Dion belum di temukan.
"Untuk apa bunga mawar sebanyak ini Bu Sarah?", tanya Bu Titin.
"Untuk syarat pemanggilan Dion, Anakku belum ditemukan jadi Bu. Saya memanggil dukun untuk menebar tujuh rupa bunga di sekitar sungai."
"Bu, Dion tidak ada di sungai. Permata melihatnya sendiri tadi malam", Permata berbisik kepada ibunya.
Mawar yang ranum bersemi di halaman rumah Permata telah gundul di bawa oleh Bu Sarah.
-------
Hari ini belum ada tanda-tanda matahari tenggelam menuju barat tetapi kabut tebal mulai menutupi sekitar desa. Hanya beberapa masyarakat yang masih terbilang kolot, memberikan sesajian di dekat sungai untuk memanfaatkan kabut tebal dalam ilmu-ilmu yang terbilang merugikan diri mereka sendiri.
Sebenarnya kabut tebal yang sampai di kaki bukit pedesaan,karena desa Utara termasuk wilayah dataran tinggi. Akan tetapi masih menjadi pertanyaan mengapa desa tersebut menebar kabut saat menuju senja atau dimulai dari pagi hari saat waktu tertentu.
Siapa yang dapat mempercayai perkataan permata atas semua yang dia lihat? Hanya anggota keluarga yang memahami yang mengetahui bahwa permata mempunyai penglihatan lain dan para kerabat dekatnya saja.
Hari kesepuluh tepatnya pada malam Jumat Kliwon. Permata memulai perjalanan dunia ghaib mencoba kembali ke hutan bambu. Dia masih penasaran dimana keberadaan Dion. Permata kali ini di temani oleh penunggu yang berada di rumahnya. Sekartaji makhluk ghaib yang berpakaian putih yang terkadang berbicara dengan permata.
"Kali ini aku mengajakmu karena kau meminta! jangan berharap apapun dariku."
Jawaban anggukan dari makhluk berwajah pucat dan menyeramkan itu masih terasa membuat buku kuduk Permata merinding. Walau bagaimanapun Pertama manusia biasa.Permata berjalan dengan langkah yang cepat di ikuti oleh Sekartaji yang melayang di sampingnya. Dia adalah penunggu rumah Sekartaji, hanya dia hantu atau sejenisnya yang tidak menggangu Permata. Pertama jarang menghiraukan celoteh atau tegur sapanya.
"Aku tidak berniat berteman dengan siapapun, kau pergi lah jangan membuntuti ku!."
Permata berkeras dan berlari menghindarinya. Tidak ada manusia yang bisa mengalahkan lomba lari maraton dengan makhluk halus. Sekar mengikutinya sampai di pintu masuk menuju hutan.
"Kakak, aku hanya membuntuti sampai disini. Aku sangat takut masuk ke dalam sana."
"Ahahah, hantu takut hantu!", tawa Permata berjalan dan Kembali bertemu dua ekor ular hijau yang melingkar di pohon bambu.
Kali ini ular-ular hijau itu memberikan batu berwarna merah kepada Permata dan mempersilahkan permata masuk ke dalam hutan.
Langkah Permata di sambut oleh seorang nenek tua yang menyeringai dan melambaikan tangan. Dia melirik batu yang beradab di tangan Pertama lalu menghilang bersama angin yang kencang.
Selanjutnya Permata melihat sebuah sangkar raksasa yang terdapat seorang penunggu raksasa dengan air liur yang berjatuhan ke tanah memandang ganas memukul-mukul hentakan tangan menuju tanah. Suara erangan yang kuat sangat memekik telinga.
"Hei gadis kecil! menjauh atau kau di makan olehnya!", teriak seorang wanita yang sedang membakar Ranting-ranting pohon.
Permata di tarik menjauh dari raksasa tersebut. Dia melihat sebuah rumah yang terbuat dari bambu berukuran persegi panjang. Setelah menarik Permata, dia kembali melanjutkan kegiatannya membakar Ranting-ranting pohon.
"Asap ini mirip campuran kabut di desa, apakah kau yang melakukan semua ini?."
"Ya, ini wilayah kami! kalian yang terlalu ikut campur dan terlalu ingin mengetahui yang seharusnya tidak boleh di ketahui! anak-anak itu seharusnya tidak masuk kesini."
"Anak-anak itu? salah satunya seorang anak laki-laki?."
"Ahahahh, dia yang paling istimewa di bandingkan diantara teman-temannya yang telah di tangkap raksasa itu."
"Apa?! jahat sekali!."
"Cukup, kau masuk saja kesana dan tinggallah selamanya menjadi tawanannya disana!."
"Apa? aku tidak bisa membawanya pulang."
"Bisa, gantilah dengan jiwamu."
Sahut seorang lelaki tua yang berjalan membungkuk dari balik pohon bambu.
---------
Hujan deras mengguyur desa berkabut wilayah Utara bersama hawa dingin menusuk ke sela-sela tulang dan membawa kabar duka yang membawa jeritan seorang ibu muda. Dion telah di temukan oleh Tim SARS dengan keadaan tidak bernyawa. Apakah Permata telah menggantikan jiwanya untuk Dion?
Sebelum bangun dari dunia nyata, terakhir kali Pertama memulangkan kembali pemberian batu merah kepada penjaga pintu hutan bambu.
"Permata, kepada wajahmu pucat sekali nak?."
Setelah membuka matanya, tubuh permata sangat letih dan lemas. Seperti tenaga yang telah habis terkuras dan suhu tubuh yang secara drastis naik. Permata kembali tidur setelah mendapat obat dari ibu.
Kejadian ini tidak hanya sekali namun telah berulangkali, dua tahun lalu seorang anak laki-laki di juga mengalami hal yang sama. Ada yang kembali tanpa nyawa atau kembali tanpa ingatan.
Sepertinya kabut itu seperti tanda akan kehadiran para makhluk-makhluk lain atau sinyal berita misterius.
Sampai saat ini misteri cerita di desa berkabut masih berlanjut mengisahkan luka dan kegelisahan tidak berujung. Sebagai insan yang beriman kita hanya meminta dan berdo'a Kepada Tuhan Yang Maha Kuasa agar terhindar dari malapetaka,bencana dan bala. Segala rahasia dan kejadian di muka bumi seutuhnya hanya sang pencipta yang mengetahuinya.
-END-