Apakah kesetiaan itu benar-benar ada? Apakah salah jika kita meninggalkan seseorang demi mendapatkan kebahagiaan yang nyata? Apakah kita harus selalu menunggu seseorang demi janjinya yang tidak tahu apakah benar-benar akan ia tepati atau itu hanya kata-kata manis saja. Yang pasti aku tidak terlalu percaya akan hal itu. Karena penantian ku selama ini berujung melepaskan.
Suara musik berdengung di telinga Hani, seorang wanita muda yang memiliki wajah cantik dan menawan. Ia sedang berada di kamarnya sambil menatap dirinya sendiri di depan cermin.
Hani melihat tubuhnya yang kini mengenakan sebuah gaun pengantin berwarna putih. Wajahnya yang cantik kini bertambah lagi setelah hiasan demi hiasan melekat dengan rapi.
Tanpa ia sadari, setetes air mata jatuh ke pipinya, membuat garis lurus diantara hiasan itu. Ia tidak bisa membendungnya. Ia kemudian mengingat beberapa bulan yang lalu, sebelum hari ini.
*****
"Sayang, aku pergi dulu ya. Jaga diri kamu baik-baik. Aku akan mengabarimu setelah sampai disana." Ujar seorang pemuda kepada seorang gadis yang tidak lain ada Nada.
"Mas Seno, kamu harus ingat janji kita." Hani menggenggam erat tangan pemuda yang bernama Seno itu dengan erat. Seakan enggan melepasnya karena takut sewaktu-waktu sosok pemuda yang ada dihadapannya itu akan menghilang.
"Iya, aku akan selalu mengingatnya. Aku janji, setelah aku kembali, aku akan melamar dan menikahimu." Seno mengulang janji yang ia ucapkan beberapa waktu lalu kepada sang gadis pujaan.
Seno lalu melepaskan genggaman tangan Hani, ia membalikkan tubuhnya dan perlahan mulai berjalan menjauh sampai akhirnya menghilang dari pandangan.
Karena tuntutan ekonomi dan keluarga, Seno terpaksa harus pergi ke kota untuk mengadu nasib dan berharap bisa mendapatkan kehidupan yang layak. Itu semua demi mewujudkan cita-citanya, menjadi kebanggaan kedua orang tuanya dan kekasih pujaannya.
Ia juga melakukan itu untuk mempertahankan harga dirinya. Untuk menunjukkan kepada orang tua sang wanita, bahwa ia bisa menjaga putri mereka dengan baik dan memberikannya kehidupan yang layak.
Hani terdiam lemah setelah tidak melihat lagi punggung kekasih pujaannya. Bagaimanapun, sulit baginya melepaskan Seno karena momen-momen indah sudah terlalu banyak mereka alami.
Hani kembali ke rumahnya, hanya untuk menemukan kedua orang tuanya sedang berbincang dengan seorang pemuda.
"Hani, kemari!" Pinta ayahnya.
"Kamu harus mengenal dia. Anak teman kantor ayah." Sambung pria paruh baya itu.
"Tapi ayah, aku sedang tidak enak badan." Hani membuat alasan. Ia tidak ingin bertemu dengan pemuda itu, karena ia tahu alasan ayahnya melakukannya.
Perjodohan!
Tapi ayahnya terus memaksa, sampai Hani akhirnya mau menemui pemuda itu.
Pemuda tersebut bernama Bintang, anak seorang konglomerat yang terkemuka di daerah itu.
Hani tidak menanggapinya lebih jauh, setelah berkenalan ia langsung meninggalkan ruang tamu tanpa permisi.
"Maafkan Hani, sebenarnya dia anak yang baik. Tapi akhir-akhir ini dia menjadi susah diatur karena dipengaruhi oleh pacarnya." Ibu Hani menerangkan kepada Bintang. Takut pemuda itu menjadi salah paham.
"Tidak apa-apa kok buk, aku bisa memakluminya. Wajar, dia masih muda." Jawab Bintang sambil tersenyum tipis.
Bintang adalah pasangan yang dipilihkan kedua orang tua Hani. Mereka begitu setuju Hani menikah dengannya daripada Seno.
Itulah sebenarnya alasan utama Seno pergi merantau. Untuk membuktikan bahwa ia layak untuk menjadi suami Hani.
*****
Sebulan, dua bulan bahkan tiga bulan telah berlalu sejak kepergian Seno. Pada awal-awal, Seno selalu memberi kabar kepada Hani. Tapi beberapa minggu terakhir, sang pemuda tidak terdengar lagi kabarnya. Bahkan saat Hani meneleponnya, hp Seno selalu tidak aktif.
"Mas Seno, kenapa kau tidak memberiku kabar. Apakah kau sudah melupakan janji kita."
*****
Hari demi hari kembali Hani lalui, tanpa kabar, tanpa pesan, tanpa informasi yang jelas tentang keberadaan Seno. Hani tetap menunggunya.
Sesekali Hani main ke rumah Seno, untuk menanyakan kabarnya, tetapi kedua orang tuanya tutup mulut, enggan memberitahunya.
"Sebaiknya kamu lupakan Seno!" Itulah kalimat yang selalu ia dengar setiap kali mengunjungi rumah sang kekasih pujaannya.
Di sisi lain, Bintang terus berusaha mendekatinya. Padahal Hani sering menolaknya secara mentah-mentah bahkan mengusirnya. Tapi sang pemuda itu tetap gigih untuk mengejarnya.
Hati siapa yang tidak akan luluh?
Sebulan lagi telah berlalu, Seno masih tidak terdengar kabarnya. Sementara itu, Hani sudah mulai membuka hatinya. Bintang sudah menjadi teman curhat dan teman jalannya saat ia sedang bosan.
Perlahan-lahan, Hani mulai memikirkan Bintang. Ia mulai menghargai perjuangan pemuda itu. Bahkan, ia sudah sering tertawa dengan tingkah laku yang dilakukan pemuda itu.
Tanpa Hani sadari, ternyata hatinya sudah berpaling. Mulai menerima Bintang untuk mengisi hatinya.
Melihat Hani sudah membuka ruang untuknya, Bintang tidak menyia-nyiakannya. Seminggu setelah Hani menerimanya, Bintang langsung melamar gadis itu dan mulai menentukan hari pernikahan.
*****
"Maafkan aku mas Seno. Bukannya aku tidak setia, tapi wanita itu butuh kepastian bukan janji manis atau sebuah harapan." Hani mengelap air mata di pipinya. Beberapa saat kemudian terdengar suara seorang wanita di luar kamar.
"Hani sayang, saatnya acara pernikahanmu digelar. Cepat persiapkan dirimu. Mempelai pria dan keluarganya sudah menunggu." Ternyata itu adalah ibunya.
"Baik Bu, Hani segera keluar." Hani memoles lagi hiasan ke pipinya, menutupi air mata yang jatuh sebelumnya.
Hari itu, Hani resmi menikah dengan Bintang. Sedangkan bayangan Seno masih tergambar jelas di benaknya.
Siapa yang salah? Tidak ada. Yang salah hanyalah waktu, karena tidak tepat mempertemukan mereka.