Adara Fredella Ulani, berikut nama gadis yang tengah duduk, sendirian di taman belakang sekolah itu.
Bahunya gemetar, sedang tangannya sibuk menyeka air mata yang terus mengalir membasahi pipinya.
Rangkulan di bahunya membuat Adara terkejut, dan langsung menyeka air matanya cepat.
"Dara." Suara itu begitu familiar di telinganya, persis suara seorang laki-laki yang menemaninya beberapa bulan belakangan.
Dan saat ia menoleh benar saja, Wirasena Adam Al Arkhan sudah duduk di sampingnya.
"Wira, ngapain kamu disini?" Adara mencoba tersenyum manis, meskipun malah senyum tipis yang menghiasi bibirnya.
Wirasena menatap Adara serius, gadis ini tentu tidak baik-baik saja dilihat dari matanya yang sembab dan hidungnya yang memerah.
Di pipinya terlihat bekas jejak air mata yang sudah mengering. Wira menghela napasnya pelan, kemudian mengusap-usap kepala Adara sayang.
Mata Adara kembali berkaca-kaca, ia memalingkan wajahnya, menghindari tatapan Wira yang bisa saja akan membuatnya menangis histeris.
"Dara, ada apa sebenarnya?" tanya Wira cemas melihat air mata, yang kembali berlomba-lomba membasahi pipi Adara.
"H-hiks, hiks." Hanya suara isakan Adara yang menjawab pertanyaannya, gadis itu menggeleng pelan dan menundukkan kepalanya.
"Hey, lihat aku. Kalau kamu ada masalah, cerita sama aku, ada yang nyakitin kamu?" Wira berlutut di depan Adara, berusaha meraih wajahnya yang selalu menghindari tatapannya.
Lagi-lagi Adara menggeleng pelan, tangan Wira menggenggam tangannya erat berusaha menguatkan.
"Kalo kamu diam gini, biar aku cari tahu sendiri," tekad Wira bangkit, kemudian mengepalkan tangannya erat.
"Wira!" teriak Adara saat laki-laki itu mulai berjalan menjauh. Langkah Wira terhenti, lalu kembali duduk di samping Adara menunggu penjelasan.
"S-sebenarnya...a-aku rindu mama," gumamnya pelan.
"Hah? Kalo gitu ayo kita bolos, kuantar pakai motorku." Wira bergegas merogoh kantung celana mencari kunci motornya.
"Ayo!" Laki-laki itu menarik pelan tangan Adara namun Adara tak bergeming. Ia menatap heran gadis di depannya, keningnya mengernyit heran.
"Adara, ayo! Tunggu apalagi, kalo urusan izin pulang nanti biar temenku aja yang urus." Lagi Adara menggeleng tak menghiraukan ajakan Wira.
"Adara, Ayo!" desaknya setengah tak sabar.
"Kamu gak ngerti!" bentak Adara menghempaskan tangan Wira, yang sedari tadi terus berusaha menariknya untuk segera beranjak.
Wira mundur beberapa langkah, cukup terkejut akan respon Adara tadi.
"M-maaf aku gak sengaja," kata Adara menyadari sikapnya yang agak kasar.
"Gapapa, lalu apa yang aku gak ngerti?" Wira menatap Adara dengan alis mengernyit heran.
"M-mamaku...meninggal seminggu yang lalu." Adara menahan isakannya yang ingin lolos.
Wira terdiam, jadi ini alasan mengapa Adara tidak hadir selama kurang lebih seminggu lamanya.
Astaga, ia merasa bersalah baru tahu sekarang, ia bahkan sempat- ah ia tak ingin mengingatnya.
"M-maaf aku baru tahu." Wira mengusap punggung Adara prihatin.
"Gapapa," ucap Adara serak menahan tangisannya kembali.
"Keluarkan saja, tidak apa-apa kok. Hanya ada aku disini." Wira merangkul Adara, tangannya sibuk mengusap-usap lengan Adara membiarkan gadis itu mengeluarkan semua bebannya.
Tangis Adara langsung pecah saat itu juga, tak dihiraukannya suara bel masuk yang sudah berbunyi.
Ia hanya ingin menangis sekarang, rasanya lelah pura-pura kuat di depan adik serta keluarganya yang lain, sedang ia juga berada di fase-fase terberat di hidupnya.
Dibiarkannya Wira yang menarik kepalanya pelan agar bersandar di bahu lelaki itu. Saat ini ia memang butuh tempat bersandar, karena setelah pulang nanti ia harus kembali menjadi sosok yang kuat bagi adiknya.
Ia sangat berterima kasih pada Wira yang bahkan rela membolos demi menemaninya.
"Sudah mendingan?" tanya Wira tersenyum menenangkan.
Adara mengangguk malu. "Udah."
"Ayo," ajak Wirasena kemudian menarik tangannya pergi menjauh dari taman.
"Kemana?" tanya Adara bingung, mukanya masih sembab setelah menangis tadi.
"Terserah, kita bolos aja sampai jam pulang nanti," jawabnya sambil terkekeh pelan.
Adara mengangguk dan senyuman kembali menghiasi bibirnya walaupun tipis sekali.
***
Adara membuka pintu di depannya dengan pelan, adiknya Naila Bellvania Putri tengah duduk di sudut kasur dengan wajah menunduk.
Ia menghela napasnya pelan kemudian menghampiri adiknya yang tak menyadari kedatangannya.
"Naila," panggil Adara dan duduk di sampingnya, adiknya terperanjat kaget mendengar panggilannya.
"Kakak udah pulang?" tanyanya wajahnya yang tadinya muram kembali tersenyum manis.
Adara mengangguk, wajahnya ia alihkan ke arah lain tak sanggup menatap ekspresi adiknya. Naila terlihat masih tersenyum dan mengayunkan kakinya di ranjang.
Adara tersenyum getir melihat adiknya berusaha kuat menahan perasaannya, terbukti dari wajahnya yang tiba-tiba menunduk dan bahunya yang gemetar.
"Ssh ... udah ya," bujuk Adara pada adiknya yang berusaha tersenyum, walau suara isakannya mulai terdengar.
Ia menahan isakannya, takut membuat adiknya yang baru berumur 9 tahun malah melihatnya menangis.
"Adek udah makan?" tanyanya memeluk adiknya sayang.
Naila mengangguk, tangan kecilnya sibuk mengusap air matanya yang tak berhenti mengalir dari tadi.
"Udah tadi sama papa," jawabnya pelan.
Adara melepas pelukannya kemudian mengusap-usap kepalanya pelan.
"Kakak mau makan dulu ya, laper...." kata Adara berusaha mengalihkan pembicaraan.
Naila mengangguk, senyuman getir kini menghiasi bibirnya sepeninggal kakaknya yang keluar dari kamar.
Malam harinya setelah makan malam Adara dan Naila bersiap untuk tidur.
"Selamat tidur kak," ucap Naila dan mulai memejamkan matanya.
"Selamat tidur dek," balas Adara mengecup kening adiknya sayang.
Suara dengkuran halus Naila terdengar di tengah kesunyian malam. Mata Adara menerawang teringat bahwa setiap malam, mamanya pasti akan menghampiri mereka berdua dan menemani Naila sampai tertidur.
'Kasihan Naila,' batin Adara menatap adiknya yang sudah menjelajah alam mimpi.
Ting
Suara notifikasi di handphonenya mengalihkan perhatian Adara. Dibukanya pesan dari Wirasena yang berbunyi:
"Malam Adara, aku tahu kamu kuat."
Adara tersenyum dan membalas pesan Wira. "Terima kasih, malam juga Wirasena."
Diletakkannya handphonenya di nakas samping tempat tidur kemudian mulai memposisikan diri untuk tidur.
Adara memeluk Naila dan mulai memejamkan matanya untuk menyambut hari esok.
***
Sebulan sudah berlalu, kini Adara dan Wirasena resmi berpacaran setelah lebih dari 6 bulan menjalin tali persahabatan.
Hubungan keduanya terbilang baik-baik saja, bahkan keduanya terlihat serasi. Setiap berangkat sekolah Wira akan menjemput Adara di rumahnya.
Tak terasa hubungan keduanya telah berjalan selama lebih dari 2 bulan, tapi entah mengapa terasa ada jarak yang merenggangkan mereka.
"Aku merasa kita lebih cocok sahabatan daripada pacaran," kata Wirasena suatu ketika saat Adara menghampirinya di parkiran.
"A-apa?" Adara mundur selangkah, tak percaya pada ucapan yang terlontar dari mulut Wira.
"Kita putus, tapi aku janji aku gak akan berubah. Kalau kamu perlu bantuanku bilang saja, aku akan selalu membantumu kapanpun itu," kata Wira lembut namun malah makin membuat perasaan adara terluka.
Adara tak menyangka ternyata hanya ia yang menyimpan rasa. Dengan menahan rasa sesak di dada, Adara tersenyum.
"O-oke kalau itu maumu, aku pulang duluan ya." Adara melambaikan tangannya dan berjalan menjauh menuju gerbang.
Air matanya menetes, Adara menangis dalam diam. Kakinya terus melangkah hingga suara teriakan seseorang menghentikan langkahnya.
"Adara!" teriak seorang laki-laki sambil mempercepat laju motornya menghampiri Adara.
Adara mengusap kasar air matanya dan menoleh. Motor itu berhenti di samping Adara, setelahnya laki-laki itu menaikan kaca helmnya.
"Tristan?"
Laki-laki yang dipanggil itu tersenyum manis, menampilkan deretan giginya yang rapi. Tristan Farrel Anindito, nama pria yang masih duduk di motornya dan tersenyum padanya.
Wajahnya tampan ditambah dengan hidungnya yang sangat mancung itu. Tristan adalah sahabat laki-lakinya, sebelum ia menyatakan perasaannya pada wira sebulan yang lalu.
Adara menolaknya karena ia masih menjadi pacar Wira waktu itu.
"Aku antar kamu pulang," titahnya kemudian memberi isyarat agar segera duduk di jok motornya.
"Gak, gausah. Aku pulang sendiri aja," tolak Adara, kepalanya menggeleng.
"Aku memaksa," perintah Tristan tak mau dibantah, matanya menghunus tajam.
Adara menghela napas kemudian dengan enggan menaiki motor Tristan. Ia mengantarkan Adara dengan selamat sampai ke rumah.
Yah ... sejak Tristan mengetahui kandasnya hubungan antara Wira dan Adara, ia semakin gencar melakukan pendekatan pada Adara.
Hingga akhirnya Adara menyerah dan menjadi pacarnya walau hubungan keduanya terbilang singkat, karena Adara yang tak ingin menyakitinya karena belum bisa melupakan Wirasena.
***
Adara kali ini harus menahan rasa cemburu saat sahabatnya berpacaran dengan Wira. Padahal ia tahu bahwa Adara belum bisa melupakan Wira, tapi ia malah membuat hubungan persahabatan keduanya retak.
Awalnya Adara tidak tahu kalau keduanya berpacaran, ia mengetahuinya secara tak sengaja saat ia mencoba menghubungi ponsel Wira, namun malah suara sahabatnya itu yang menyapa indra pendengarannya.
Tanpa kata Adara langsung mematikan panggilan itu, ia berusaha berpikir positif tapi kelakuan sahabatnya itu malah memperkuat keyakinannya.
Terlihat beberapa kali ,sahabatnya itu seolah sengaja memamerkan kemesraan keduanya untuk membuat Adara cemburu.
Adara sakit hati, sebenarnya saat masih pacaran dengan Wira ia sempat melihat kalau keduanya agak dekat.
Ia saja yang begitu bodoh, karena tak menyadari sikap mantan sahabatnya yang mencoba menarik perhatian Wira.
Adara mencoba mengikhlaskan Wira walau sulit, prinsipnya asal Wirasena bahagia, ia akan ikut bahagia walau harus selalu makan hati.
Setahun berlalu dan ia masih saja belum bisa melupakan Wira. Lagipula Adara juga tak pernah mencoba untuk menghubunginya lagi.
Ting
Adara segera membuka handphonenya dan menemukan sebuah pesan dari Wira. Awalnya Adara tak menggubrisnya, tapi lama kelamaan ia malah gelisah sendiri.
Setelah berkutat dengan pikirannya, akhirnya ia memutuskan untuk membalasnya. Dan dari situlah hubungan keduanya kembali terjalin.
Wira sering curhat padanya kalau ia tak nyaman, akan hubungannya dengan mantan sahabat Adara.
Keduanya kembali menjalin hubungan secara diam-diam, tanpa sepengetahuan mantan sahabat Adara.
Adara tahu ini salah, tapi patutkah menyalahkan cinta? Jika Adara juga bisa memilih, ia tak ingin jatuh cinta pada Wira.
Mantan sahabat Adara yang sudah mulai curiga pada hubungan keduanya, berusaha menfitnah Adara untuk menarik perhatian Wira.
Lantas karena muak, Wira pun memutuskan hubungannya dengan mantan sahabat Adara itu, dan sekarang perhatiannya hanya fokus pada Adara.
Tapi sekali lagi hubungan mereka kembali diuji saat Wirasena harus kuliah keluar kota. Awalnya keduanya masih sering bertukar kabar, tapi karena kesibukan Wira hubungan mereka kembali merenggang.
Dengan hati yang berat Wira memutuskan hubungan keduanya untuk fokus dulu pada pendidikannya.
Wira berjanji setelah lulus kuliah nanti ia akan segera meminang Adara untuk menjadi istrinya. Adara manut saja, berusaha sabar menunggu saat-saat itu terjadi.
Tapi akankah Adara terus menunggu tanpa kepastian, atau malah menyerah di tengah jalan untuk menyambut sesuatu yang sudah pasti?
Bagaimana menurut kalian, apakah Adara akan tetap menunggu Wira?
The End