(Cerita agk berantakan)
Hujan deras yang membasahi bumi berganti menjadi gerimis. Orang-orang yang berlalu lalang menurunkan payung yang mereka gunakan untuk menembus hujan itu.
Begitu juga orang-orang yang lebih memilih menunggu di suatu tempat untuk berteduh. Mereka mulai meninggalkan tempatnya.
Berbeda dengan denganku.
Aku lebih memilih menikmati gerimis pengantar senja ini. Begitu indah dan membuat damai.
Aku mengulurkan tanganku. Merasakan setiap tetes-tetes nikmat yang Tuhan turunkan dari langit.
Detik berikutnya aku tersenyum kecut. Kenangan masa lalu tiba-tiba lintas di benakku.
Sebuah kenangan yang takut ku lupakan, namun perlahan memudar di makan waktu.
Sebuah kenangan tentang ku, dia, dan hujan.
----------------
Cerita itu bermula sewaktu aku duduk di masa putih biru. Kenangan 4 tahun lalu yang masih jelas ada di kepalaku.
Suatu kenangan yang ku simpan manis di hatiku.
Waktu itu....
Mentari masih bersembunyi di upuk timur, rembulan pun dalam perjalanan untuk turun. Aku berjalan dengan seragam putih biru di dini hari yang masih menusuk dengan rasa dingin.
Namun tak juga mengurungkan niatku tuk terus berjalan ke arah tujuanku. Rumah sederhana dengan dua lantai, itu adalah tujuanku. Aku masuk tak lupa mengucap salam, dan berjalan ke arah dapur melihat bibiku sedang sibuk berkutat dengan dapur. Aku tersenyum melihatnya, lalu ku edarkan pandanganku mencari sosok yang akan menjadi tumpanganku ke sekolah. Raka.
Tak ada. Yang ada hanya pintu kamar yang tertutup. Aku mendesah kecewa, apa terlalu pagi aku kemari?
Bibiku yang melihatku hanya tersenyum, ia lalu menyuruhku untuk masuk ke kamarnya, dan membangunkannya. Aku yang tak mau terlambat ke sekolah pun dengan terpaksa berjalan ke arah kamarnya.
Sebenarnya aku tak nyaman membangunkannya, karena dia tipe seorang yang keluar malam dan kembali dini hari.
Tapi itu juga salahnya, seorang pelajar tidak boleh keluar larut malam.
"Bangun," ucapku senormal mungkin. Sebenarnya aku tak terlalu dekat dengannya, sejak dia beranjak dewasa.
Entah apa kendalanya, hanya ada perasaan canggung setiap kami bertemu.
Ia menggeliat, membuka sedikit matanya menatapku lalu melirik jam. Ia mendengus, "masih terlalu pagi, gak ada siapa-siapa di sana," ucapnya dengan suara serak.
Sebenarnya aku tahu kalau ini terlalu pagi, tapi siapa yang tidak mau berangkat pagi-pagi di hari pertama sekolah? Pasti banyak anak-anak lain yang melakukan hal sama denganku. Semangat untuk melihat sekolah baru kami, dan menjadi seorang siswa SMP yang resmi. Melepas status pelajar SD yang kekanakan setelah menuntut ilmu 6 tahun.
Aku keluar dengan helaan nafas kecewa, membiarkannya kembali tertidur untuk beberapa menit kedepan. Toh dia akan bangun sendiri nanti, pikirku.
Aku kembali berjalan ke dapur, tak lupa melirik jam di dinding yang menunjukkan pukul 5.15 menit.
Aku duduk bersila menunggu dia bangun sambil sesekali melirik ke arah kamarnya, apa dia sudah bangun?
Kapan dia akan bangun?
2 pertanyaan yang tak hentinya menyapa kepalaku itu terus mengusikku. Namun aku hanya bisa pasrah, dan menunggu dia untuk bangun.
Kami berangkat ketika jam hampir menuju pukul tujuh. Satu jam lebih aku menunggunya untuk bangun, dan beberapa menit untuk berkemas. Di mana kata awalnya, itu sudah terlambat. Ia berhasil mencoreng namaku sebagai siswa teladan 6 tahun yang sama sekali tak pernah terlambat.
Untung saja ini hanyalah MOS jadi tak ada hukuman yang di berikan untuk siswa yang terlambat. Bahkan hampir setiap kelas mengalami jam kosong, dan membiarkan siswanya berkeluyuran ke kantin.
Hari-hari berlalu dengan kegiatan yang sama, berangkat ke rumah sederhana di dini hari dengan berjalan kaki. Dan terlambat ke sekolah, rasanya guru piket sudah hampir menghafal nama dan alasanku setiap kali aku meminta surat izin masuk. Bahkan aku yakin kalau buku piket itu sudah penuh oleh namaku dan alasan terlambatku yang selalu sama. Iya hanya aku.
Karena orang itu hanya melenggang pergi ke kelasnya setelah memparkirkan motornya. Ia pernah sempat berpesan kepadaku, kalau aku tak perlu mengambil surat izin masuk kelas karena kami hanya telat kurang 5 menit bukan 15 menit. Aku yang baru paham pun melakukannya tapi tak lama, rasa tak enak hatiku menyuruhku untuk mengambil surat izin itu. Jadilah aku memiliki suatu hobi baru, yaitu mengoleksi surat izin masuk kelas dengan alasan yang sama di setiap lembaran kertas kecil itu.
Tak jarang kami pulang di saat hujan yang deras. Ia tak mau berhenti, untuk sekedar berteduh. Dan kadang ia menjahiliku dengan menunduk saat berkendara ketika hujan. Alhasil wajahku juga merasakan pedihnya air hujan yang menghantam wajah.
Dan ia hanya tertawa dan sesekali melirik, melihat ke arahku hanya untuk sekedar melihat ekspresi kesalku.
Hari-hari terus berganti dan kami sudah menginjak ke semester 2. Ia mulai les untuk ujian dan pulang agak lambat dari jam pulang kami, hingga kadang membuatku harus menunggu jemputan kakekku atau meminta tumpangan ke kenalanku.
Kata "ujian" sama sekali tak mengusiknya dan menghentikan kebiasaanya untuk keluar malam. Jika di tanya mau lanjut atau tidak, ia akan bilang "tidak" dan lebih mau ikut ayah dan pamanku kerja bangunan. Ia tidak mempunya cita-cita tapi ia seorang yang rajin dan pekerja keras.
Ia bekerja malam hari, dan pulang dini hari.
Ia juga anak yang rajin bersih-bersih. Ia mencuci bajunya sendiri dan membersihkan rumah, seperti menyapu dan mengepel lantai. Masakannya juga enak, ketika dia memasak. Ia punya begitu banyak keahlian tapi juga begitu banyak kejahilan.
Kadang kalau aku main ke rumahnya di jam makan untuk bermain bersama Rean. Aku sering mengunjungi tempat favoritku, dapur. Melihat bibiku memasak untuk keluarganya adalah hal yang paling ku suka, karena bisa membantu sedikit dan mengganggu. Waktu itu pernah sekali Bibiku memasak kacang mia tanpa bumbu dan penyedap.
Aku yang bingun pun hanya bisa menatap sayur jenis kacang-kacangan itu penasaran bagaimana cara makannya.
"Bagaimana cara makannya kalau tidak di kasih penyedap atau rempah, Bi?" tanyaku yang penasaran kepada bibiku yang sedang memindahkannya ke wadah tanpa mengambil airnya.
"Tinggal dimakanlah, Ngah (sebutan untuk anak kedua di Sambas)" ucapnya yang menaruh wadah itu di dekat lauk pauk yang lain.
Jawaban yang tak memuaskan itu membuatku harus melakukan penelitian. Aku menatap sayuran itu lama, memikirkan apakah rasanya akan enak?
Tak lama, Raka masuk ke rumah mengambil piring dan mengisinya dengan nasi. Ia makan siang duluan, tanpa mau menunggu yang lain. Entah dari mana anak itu, ia berpakaian cukup keren dengan tampang badboynya.
Aku yang masih di sana, hanya menatap ia makan tanpa berniat untuk ikut. Yang ku tunggu adalah cara makan ulapan itu, dan rasanya. Ia mengambil ulapan itu, memberinya sedikit sambal lalu memasukannya ke mulut di susul dengan nasi yang masih agak panas.
"Enak?" tanyaku. Ia memincingkan matanya menatapku ku lalu berkata, "bego."
Bibi menyuruhku untuk makan, kalau ingin merasakannya tapi aku tak berniat. Perutku yang kecil hanya bisa menampung sekali makan siangku tadi.
Hari minggu, hari yang menyenangkan untuk terus bermalasan di tempat tidur. Begitu juga denganku, kaum rebahan seperti ku ini pastilah paling suka kalau hanya rebahan di kasur di temani selimut dan bantal yang hangat. Namun itu tak berlangsung lama, karena adikku datang dan menyuruhku untuk bangun dan segera berkemas rumah.
Aku mempunyai 2 adik yang benar-benar menjengkelkan. Yang satu hanya tahu banyak bicara dan yang satunya sangat pandai marah-marah. Kadang aku ragu, apa benar mereka adikku? Atau mereka yang sebenarnya kakak dan aku adalah si bungsu di sini?
Adik perempuanku itu lemah lembut dan ulet, dia yang paling dewasa di depan orang-orang termasuk kedua orang tuaku. Tapi tidak di depanku, ia akan menjadi seorang yang benar-benar berbeda. Ia akan marah-marah padaku untuk sesuatu yang sepele. Ia kadang juga akan banyak bicara hal yang tidak penting, tingkah aslinya yang ia perlihatkan kepadaku membuatku agak jengkel sedikit. Kadang aku agak iri dengannya, dan kadang juga kasihan. Sikapnya yang lembut dan mau-mau saja kadang di manfaatkan keluarga besarku untuk di jadikan pengasuh anak mereka, dan sekaligus tamparan untukku karena terus dibanding-bandingkan dengannya.
Aku itu adalah sosok yang tak suka di kekang, apa lagi kalau harus di suruh untuk menjaga anak-anak. Aku hanya menyerahkan tugas itu kepada adikku dan dia mau saja walau dengan wajah tak terima dan protesannya yang melayang kepadaku setiap kami kembali ke rumah.
Seperti pagi ini, kami pergi ke rumah bibiku setelah berkemas rumah.
Aku masuk kerumah di ikuti oleh adik perempuanku tanpa mengucap salam, toh gak juga ada yang bakal jawab karena hanya ada anak-anaknya di rumah.
Kami masuk ke dalam dan benar saja, anak-anak bibiku sedang asik menonton kartun di temani kakak keduanya yang kerap kami panggil Rean. Ia hanya melirik acuh kepada kami, dan lanjut menonton kembali. Rean seumuran dengan adik perempuanku, hanya berjarak beberapa bulan saja.
Kami sering membuat ulah berdua, memancing, membuat mainan dengan gumbar (batang sagu), memasak dan lebih banyak lagi.
Hanya berdua, karena tak mungkin aku mengajak pria itu dan adikku.
Kami lebih banyak melakukan sesuatu berdua, dan itu biasanya tak jauh dari kata konyol. Seperti bermain masak-masakan padahal dia cowok, dan umurku waktu itu sudah cukup besar. Bermain boneka barbie, dan banyak hal aneh lainnya. Kembali ke pria itu.
Ia menikmati tidurnya, dan ku dengar ia sedang bekerja di malam hari. "Raka kerja apa, An?" tanyaku kepada Rean yang sedang menikmati mie instannya. "Kerja di pasar malam dia," ucap Rean masa bodoh dan lanjut menikmati mienya.
Mengenal kedekatan Raka dan Rean sebenarnya jauh dari kata dekat dan akrab.
Bahkan bisa di bilang kalau aku, dan Rean adalah sekutu dan Raka sendiri adalah blok Timur. Jahat emang tapi itulah kenyataanya, ia selalu membuat ulah kepada kami hingga salah satu di antara kami menangis.
Pernah waktu ingin memanjat jambu, dia membuat Rean menangis karena menghalanginya untuk memanjat sedangkan aku yang sudah cukup tinggi pun di ganggunya untuk segera turun dan membiarkannya memanjat duluan.
Aku yang merasa kesal pun lebih memlilih untuk mengalah, dan membiarkannya untuk memanjat duluan. Ia memanjat duluan dan aku di bawahnya. Entah setan apa yang menghantuinya hingga membuat sifat usilnya muncul di tengah-tengah memanjat.
Ia meludahi tanganku dan membuatku benar-benar marah, yang malah membuatnya tertawa keras di ikuti tawa Rean di bawah.
Rean itu cengeng, iya. Tapi kalau melihatku di jahili dia akan tertawa menertawakanku. Namun jika dia jahili oleh Rean, aku tak pernah sekalipun menertawakannya juga tidak menghiburnya. Sebenarnya aku turut merasakan apa yang di rasakann keduanya, Raka seorang kakak yang ingin mendapat perhatian orang lain, dan Rean yang ingin sekali bisa bergaul dengan kakaknya. Yah, walau akhirnya pasti ada tawa dan tangisan dari kedua belah pihak, di susul aduan Rean ke kakek dan acara kejar-kejaran antara Kakek dan Raka.
Kadang bukannya meminta maaf, Raka pasti akan membalas ke Rean karena mengadu. Dan akan kembali terulang hal yang sama, tapi itulah yang ku suka ketika mengunjungi rumah Bibiku.
Pertengkaran yang selalu saja di menangkan Raka dengan cara tak adil, dan tangisan aduan dari Rean akan menjadikan hal yang paling ku rindukan. Rumah yang berisik karena tangisan dari Rean dan acara kejar-kejaran dari Kakek dan Raka.
Raka dan Rean itu berbeda ayah namun memiliki ibu yang sama. Raka itu jahil, banget. Tapi di balik kejahilannya, ia mempunyai rasa kasih sayang yang besar.
Itu yang membuatku tak pernah mau melupakan semua hal tentangnya, ia begitu menyayangi keluarganya walau dengan cara yang berbeda.
Sampai saat itu datang. Sebuah kalimat yang tak bisa ku percayai dan terima. Sebuah berita yang di bawa di dini hari dengan gerimis yang turun seakan turut berduka.
Kakek ku datang ke rumah kami di dini hari, di tengah gerimis yang juga ikut menambah suhu dingin yang sudah dingin.
Mengatakan kalau Raka tenggelam ketika berkumpul dengan teman-temannya semalam.
Kami awalnya tak percaya, karena kakeku mengatakannya dengan nada biasa-biasa saja. Namun untuk soal nyawa, apalagi itu cucunya tak mungkin ia berbohong. Ibu lantas pergi ke kamar menangisi keponakannya yang belum tahu bagaimana keadaannya sekarang.
Aku hanya diam. Mencoba mencerna kalimat yang benar-benar tak bisa ku percaya.
Jum'at.
Setelah, berusaha keras mencari tubuh itu. Ia ditemukan dengan tubuh yang sudah buai, dan kembung. Wajahnya luka-luka, dengan mata yang tertutup tak bernyawa.
Tubuhnya biru dan basah.
Air mataku menetes membasahi pipiku, mencoba untuk mendesak keluar. Hatiku pilu, dan sangat ingin aku memeluk tubuh itu. Menyuruhnya untuk segera membuka mata, dan melihat senyum jahilnya. Hatiku sesak, masih menolak untuk percaya akan takdir Tuhan.
Rasanya baru kemarin dia menjahiliku dan memarahiku karena bertindak kekanankan dan bukan seperti perempuan.
Rasanya juga kemarin ia menunjukan cengiran tak berdosanya setelah menjahili kami. Benar-benar sulit untuk di percayai, wajah itu. Wajah yang selalu di hiasi ekspresi menyebalkan dan kasih sayang yang di tunjukan dengan wajah jahilnya. Tak akan pernah dapat ku lihat lagi.
Semuanya sudah hilang, tak ada uluran tangan lagi yang akan menarikku ketika ku sakit, tak ada lagi waktu berjam-jam yang akan ku habiskan hanya untuk menunggunya bangun tidur.
Tak ada lagi tangan yang akan meminta cemilan dan traktiran ketika hari minggu. Dan tak ada yang blok timur yang akan menyatakan perang lagi kepadaku dan Rean.
Dia sudah pergi, tanpa berpamitan.
Dia sudah pergi, tanpa ada cengiran dan kejahilan di wajahnya yang kadang sendu itu.
Andai. Andai saja aku bisa mengatakan padanya kalau ada banyak orang mencintainya. Banyak orang yang sayang padanya, walau sifat jahilnya itu mendominasi.
Sekarang hanya ada rindu. Rindu yang tak bisa di ungkapkan kepadanya, rindu yang tak bisa akan hilang kalau memelukanya. Sekarang yang bisa kulakukan hanya berdoa. Semoga segala amal yang dia perbuat di dunia di terima di sisi-Nya. Dan dia tenang di alam sana.
Dan satu kalimat untuknya, "Aku merindukanmu."
.
.
.
"Sya," suara seseorang menarik ku untuk kembali ke kenyataan. Dia Rean. "Ngapain nangis? Kayak anak kecil aja," ejeknya.
"Kalau sebelah dua belas sama gue, jangan sok-sok an deh ngeledek gue," ancamku sambil menyeka air mata rindu kepada Raka.
"Indih, siapa juga yang sebelas dua belas sama, lo?" tanyanya yang mendapat pukulan langsung dariku di bahunya.
Sekutu yang selalu di tindas blok timur, sekarang sudah merdeka. Namun kenapa rasanya lebih menyenangkan saat di tindas oleh Raka dulu. Mungkin aku tidak akan menjadi seorang yang cengeng, dan Rean tidak akan menjadi seorang yang kaku seperti ini.
Ia akan menjadi pemuda yang ceria dan tegas kalau saja ia bisa banyak bercerita kepada Raka.
Dan Raka terima kasih sudah memberiku kehangatan dari sosok yang paling aku idam-idamkan.
Sudah menjadi kakak laki-laki bagiku walau hanya untuk sebentar.