Kehidupannya datar,sifat acuh yang tidak mau peduli pada sekitar,hidup dalam kesendirian ditengah keramaian,Membuat alara enggan memiliki rasa pada manusia.
Perasaan sedih Karna kehilangan berulang kali membuatnya sama sekali tak ingin mencintai sosok manusia,baginya dunia hanyalah sebuah ruang permainan yang akan selesai jika ia mati.
"Hatiku mati,namun tidak dengan hidupku...bahkan luka fisik pun tak akan terasa apa² bila dibandingkan sakitnya batinku."Gumamnya menatap hamparan manusia yang sedang tersenyum bahagia.
Dilangkahkannya kaki jenjangnya itu,senyum palsunya merekah memandang seorang pemuda yang sedang tersenyum dengan seorang gadis.
"Sampai kapan aku harus berpura pura bodoh,melihat penghianatan mu."Gumamnya tersenyum tipis,Tak ada rasa sakit yang ia rasakan seperti dulu.Kini rasanya biasa saja mungkin Karna ia sudah terbiasa.
Ia pun kembali melangkah kan kakinya kembali ketempat semula,Ia tak mau menampakan dirinya dihadapan pacarnya itu,Karna ia tahu pacarnya itu sedang bahagia bersama dengan kekasih barunya.
Mata indahnya menatap sendu langit senja,mencari kehangatan yang mampu menghidupkan aroma kehidupan,namun ia sadari bahwa ada kalanya kegembiraan menjadi kesedihan begitupun sebaliknya,seperti senja yang datang dan pergi,dan sudah pasti akan kembali.
"Alara...kau ada disini !"Kaget seorang pemuda setelah melihat alara yang masih sibuk menatap senja sore dengan kedua mata sendunya.
"Hm..."Gumamnya masih sibuk menatap langit senja itu,Pemuda itu pun memilih untuk menetap,Entah apa yang ada dipikirannya.
"Alara...aku ingin bertanya sesuatu padamu."Ucap pemuda itu serius.
"Katakanlah."Jawabnya tanpa menatap pemuda itu.
"Hmm...Kalo misalnya seorang pria berselingkuh tanpa sepengetahuan pacarnya,Apakah pria itu akan dibenci oleh gadisnya ?"Tanya nya memandang penuh harap wajah gadis yang kini telah menyandang status pacarnya.
Sebenarnya pemuda itu tak nyaman dengan sifat dingin dan acuh alara,itu sebabnya ia lebih nyaman dengan wanita lain,tetapi jujur saja ia sangat mencintai alara.
"Iya,Semua orang akan benci dengan seorang penghianat,Tetapi jika kau berselingkuh aku tidak akan membencimu."Ucap alara tenang,seperti tak mempunyai perasaan.
Angga menoleh dengan terkejut,Rasa gugup dan ketakutan menyelimuti hatinya,ia menjadi tak tenang takut perselingkuhannya terbongkar oleh alara.
"A...aku tidak akan berselingkuh,aku mencintaimu alara."Ucap Angga dengan wajah dibuat serius.Alara memilih untuk diam,merasakan hembusan angin yang menerpa wajahnya.
Dulu ia memiliki banyak teman,dan sanak keluarga,tetapi sejak kematian kedua orang tuanya, ia mengalami kesulitan, Disana lah ia mengetahui bahwa dirinya hanyalah sendirian.Tidak ada teman yang peduli padanya.
"Alara kau tidak akan meninggalkanku kan ?"Tanya pemuda itu serius,Alara menggeleng.
"Aku akan pergi,aku tidak mau menjadi pelangi untuk orang yang buta warna."Ucapnya tersenyum.
"Apa maksudmu alara?"Ucap Angga menahan tangan gadis itu,Alara menepisnya dengan halus.
"Jangan sakiti gadis lain,cukup aku yang mengetahui bahwa kau tidak setia,jangan sampai gadis itu tahu bahwa kau sudah memiliki pacar."Ucap alara dengan wajah tanpa ekspresi.
"Mulai hari ini,kita putus...jangan tamui aku lagi,Jika kelak kita bertemu,anggap kita tak pernah saling mengenal."Ucap alara,Angga terkejut,Dari kapan alara mengetahui perselingkuhannya.
"Alara...maafkan aku !"Teriak Angga mengejar gadis itu,namun gadis itu tak menghiraukannya.
"Ku mohon alara,aku akan memutuskan dia...aku hanya menjadikannya pelampiasan,perlu kau tahu bahwa aku sangat mencintaimu."Ucap Angga menatap dalam manik mata sendu itu.
Jangan mempercayai pria yang sudah berselingkuh,Karna kelak ia akan melakukan hal itu lagi,Bahkan itu akan lebih parah dari sebelumnya.itulah yang dipikirkan oleh alara.
Alara hanya tersenyum sambil menatap Angga,tidak ada lagi yang harus ia harapkan,semua hanyalah penghianat.Bahkan dirinya pun seorang penghianat yang berpura pura tersenyum dikala sedih.Seperti merasakan hujan dilangit cerah,Yang artinya menangis disaat bibir tersenyum.
"Lupakan aku,anggap aku sudah mati."Ucapnya melangkah pergi,Angga menatap bahu kecil itu dengan pandangan tak rela.