"Ell Zeya..." pemuda bermanik biru muda itu mengucap nama yang baru saja ia lihat di kartu nama yang ia pegang.
Kartu berwarna biru muda berpadu dengan biru tua itu, satu-satunya kartu nama yang ada pada gadis yang masih terbaring koma di dalam ruangan khusus itu. Tubuhnya yang terbalut baju rumah sakit dengan kepala ditutupi pembungkus kepala. Sementara peralatan medis menempel di balik baju itu.
Pip! Pip! Pip! Suara peralatan medis berbunyi saling bersautan.
Di luar ruangan pemuda tampan itu masih mencari-cari nama 'Ell Zeya' di internet, ia menatap benda pipih miliknya dengan serius. Ia masih kesulitan ketika yang terlihat malah buku-buku novel, di sana tertulis nama Ell Zeya. Ia berasumsi kalau orang yang ditabraknya itu adalah seorang novelis. Ia meraup wajahnya, kemudian menelpon seseorang.
"Sean!" panggilnya dingin.
_"Pak Brandon, anda dimana? Klien sedang menunggu anda. Mereka marah dan..."_ ucapan pria bernama Sean itu terpotong.
"Aku kecelakaan," dari sebrang Sean terdiam hingga Brandon kembali meluruskan, "maksudku aku menabrak seseorang dan sekarang dia koma. Batalkan meeting dengan klien itu dan segeralah ke sini." ujarnya kembali mengusap wajahnya kasar.
_"Be...baik pak!"_ panggilan diputus oleh Brandon setelah Sean menyetujui.
Di lain sisi ia menelpon pengacaranya untuk mengurus apapun yang berkaitan dengan Polisi setelah kejadian ini. Kemudian ia menelpon temannya seorang ahli IT untuk melacak data gadis dengan nama pena Ell Zeya itu.
Hingga 15 menit kemudian, Sean datang tergopoh-gopoh. Pemuda berkacamata culun itu adalah sekretaris pribadi *Brandon.
Brandon Grissam Earth adalah seorang pengusaha di perusahaan yang bergerak di bidang elektronik dan robotik, yang sudah tersebar hampir di seluruh negara maju dan berkembang, GrissE Robotix.
"Pak Brandon, apa yang terjadi?" tanya Sean panik, ia menoleh ke arah ruangan yang tepat di ujung lorong itu.
"Aku menabraknya," ujar Brandon lemas. "Aku terburu-buru untuk menghadiri meeting tadi, dan menabrak seorang. Dia tengah berjalan di sisi jalan, aku tak bisa megendalikan laju mobil."
"Harusnya mobil anda memberi peringatan, pak atau mengatur kecepatannya." Sean berfikir tentang mobil Bossnya yang super canggih itu.
"Tapi tidak bisa jika jaraknya bahkan kurang dari 1 meter, dan kecepatan maximal. Tepatnya di tikungan tajam, dan aku terus menginjak pedal gas. Aku tidak mendengar peringatan karena kurang fokus." jelasnya membuat Sean menghela nafas.
"Baiklah, sebaiknya anda istirahat. Biar saya yang mengurus wanita itu." ujar Sean.
Brandon mengiyakan sebelum beranjak dari tempat itu, ia mengingatkan Sean.
"Dia bukan orang UK, kasusnya tidak akan sederhana. Terlebih lagi dokter mengatakan jika kemungkinan besar dia akan lupa ingatan karena luka di kepalanya."
Sean cemas dengan hal itu, namun ia tetap berusaha membereskan urusan ini.
.
.
.
Urusan dengan hukum dan media telah selesai, sudah seminggu dan gadis itu belum sadar juga walau sekarang sudah berpindah ke ruang rawat inap.
Brandon merasa sangat bersalah, ia bukan orang baik namun masih memiliki nurani untuk mempertanggung jawabkan kesalahannya.
"Biar saya yang menggantikan anda pak, anda bisa istirahat." ujar Sean yang baru datang dengan membawa makanan sekaligus minum.
Brandon masih sibuk dengan laptopnya yang ada di pangkuannya. Sudah 5 hari sejak gadis itu dipindahkan ke ruang VIP itu, Brandon juga lebih sering bekerja di ruangan itu.
"Hm... Aku juga malas di Mansion, ibuku sekarang rajin menginap dan kau tau? Dia merengek minta cucu, padahal kakakku saja sudah punya 3 anak. Dia sangat serakah bukan?"
Sean terkekeh mendengar curhatan bosnya, kemudian ia duduk dan mulai membicarakan tentang gadis yang masih berbaring lemah di ranjang rumah sakit. Ia menyerahkan berkas data.
"Aku telah mendapat info dari Jack (teman Brandon ahli IT), dia traveller dari Indonesia, yah seperti analisismu dia seorang novelis. Novelis terkenal dan sekarang dia menjadi tranding topic di negerinya, dengan berita hilang. Aku sudah menghubungi Kedutaan Indonesia, nanti sore mereka akan ke sini. Aku telah mengatur jadwalmu jam 3 sore. So, langkah apa yang akan kau lakukan setelah dia bangun. Entah dia lupa ingatan atau tidak. Nanti kau jelaskan pada kedutaan Indonesia tentang rencanamu itu, setidaknya agar dia tidak diberitakan hilang. Kasian keluarganya." Sean meminta kepastian.
"Aku juga telah memikirkannya, jika dia bangun dengan keadaan lupa ingatan, aku akan merawatnya hingga dia ingat. Jika dia ingat, aku akan bertanggung jawab sampai dia pulang sampai ke rumahnya dengan selamat. Intinya aku akan melindunginya sampai akhir." jawabnya yakin.
Sean tertegun, Brandon? Seorang Brandon Grissam Earth? Melakukan semua ini?
"Kau sangat bersimpati padanya?" tanya Sean lagi.
"Kasihan juga, dia sendirian di sini dan..."
"Maaf aku memotong, tapi jika hanya karena itu kau juga akan kasihan dengan para wanita yang kau ajak kencan, kemudian kau memutuskannya begitu saja. Menurutku kau tertarik padanya kan?" ujar Sean tersenyum menggoda.
Brandon diam, ia menatap gadis itu lagi dan baru menyadari bahwa apa yang dikatakan Sean benar adanya. Dia tertarik pada gadis Asia itu.
"Ah sudahlah. Aku akan pulang sebentar, gantikan aku menjaganya," melangkah pergi.
Sean menatap kepergiannya dengan senyum lucu. Brandon itu kakak seangkatannya, mereka mulai akrab ketika Sean menjadi sekretaris Brandon.
Sean mendekati ranjang dan menemuka ada sekotak putih dan ada pakaian di dalamnya. Ada juga tas punggung sedang berwarna biru dongker dan ada tas kamera kecil disana. Ia yakin itu milik gadis yang tengah berbaring lemah. Sean membuka kotak dan melebarkan pakaian yang sudah bersih itu, walau beberapa bagian robek. Sebuah baju gamis, celana panjang, baju pendek, kaos kaki, ciput ninja, hijab panjang dan sepatu kats. Sean mulai berfikir keras, pakaian apa itu? Kemudian ia mengambil tas punggungnya, mengeluarkan isinya. Itu bukan lancang tapi agar ia bisa mendapat titik terang tentang gadis itu.
Banyak sekali kertas dan sebuah buku catatan dan alat tulis di dalamnya, ada juga ponsel android yang sudah remuk. Sean beralih ke tas kamera, kameranya mati hanya lecet sedikit. Kemudian ia mengeluarkan kartu SDnya, memindahkannya pada ponsel mahalnya sendiri.
Di sana ada banyak foto bersama rombongan berpakaian sama, jadi benar dugaan Sean. Gadis itu seorang muslim dan dia ke sini tidak sendiri melainkan bersama rombongannya. Ia mulai melacak setiap wajah di dalam foto tersebut dan menemukan media sosial masing-masing.
Kemudian ia meminta Jack melacak lebih detail lagi apa yang ia temukan, ia juga membuka ponsel android yang telah remuk itu. Mengirimkan kartu SD dan kartu SIM kepada Jack.
•
Jam 10 Brandon sampai di rumah sakit lagi setelah membersihkan badan dan berganti pakaian santai. Sean langsung memberikan berita yang mengejutkan.
"Aku telah menemukan temannya yang ada di London, aku akan pergi ke flat mereka dan meminta mereka mendampingi gadis itu," ujarnya buru-buru.
Brandon hanya mengangguk, ia melirik ke arah ranjang dan menemukan kejanggalan. Kepala gadis itu tertutup kain rapat. _Feil?_
Dalam kebingungannya ia mendapat panggilan dari sang ayah.
"Ada apa, dad?" tanyanya dingin.
"Kau berurusan dengan siapa di rumah sakit? Mobilmu masuk bengkel dan kau berurusan dengan polisi?"
Brandon membanting tubuhnya ke sofa, menghela nafas berat. Ayahnya selalu tau apa yang dia lakukan.
"Berhenti ikut campur dalam urusanku!" balasnya tak sopan.
"Hem...kalau kau tak mau menjelaskan, bagaimana dengan gadis yang sedang kau urus di rumah sakit?" tanya Abraham sinis.
"Ck..." ia mematikan sambungan telpon.
Namun, detik berikutnya ia terkejut dengan kedatangan ibunya yang tiba-tiba itu.
Brak!
Brandon spontan berdiri dan terkejut melihat wanita cantik berusia 60 tahunan itu yang masih stylist. Dandanannya cukup norak tapi semua yang dipakainya barang branded.
"Oh astagah! Dia siapa Brandon?!" pekiknya heboh.
Brandon memutar bola mata malas, ia hanya diam ketika ibunya tak berhenti mengoceh dalam 5 menit penuh seperti komentator bola.
"Kau tak mengenalkannya pada mommymu ini dan kau membiarkan mommy tau setelah dia terbaring sakit? Kau jahat!"
Bugh!
Bantal sofa mendarat tepat di wajah Brandon yang sudah kecut sejak ayahnya menelpon dan sekarang ibunya yang berulah?
Sekarang apa? Stella menangis lebay. Bagaimana bisa Brandon yang dingin itu lahir dari mantan pemain telenovela asli Mexico, dimana hidupnya hanya berisi drama dan tingkah hebohnya itu. Sudah begitu mommynya tipe orang yang suka menyimpulkan semua hal sendiri tanpa tau kebenarannya.
"Ck, mom! Come on! Calm down! Dia bukan siapa-siapa, dia bukan seorang spesial seperti yang mommy pikirkan," ujarnya frustasi.
"Lalu? Siapa dia? Kau tidak sedang menyembunyikan apa-apa kan dari mommy?"
Huft! "Tidak mom, aku menabraknya dan dia harus dirawat. Aku bertanggung jawab sampai dia bisa pulang ke negaranya."
Stella terlihat kecewa, dengan raut sedihnya ia duduk di sofa menangis. "Ku kira kau telah memilih seorang yang akan menjadi pendamping hidupmu. Kenapa kau begini, kau normal kan?"
"What?!" Brandon shock ditanyai begitu.
"Kau tidak memiliki orientasi seksual pada sesama jenis kan?"
"Oh god! Aku tidak memiliki kelainan seperti itu mom!" bantah menggeram.
"Lalu apa? Kenapa kau belum menikah di usiamu yang sudah 35 tahun itu?!" teriak Stella lagi.
"Ayolah mom, aku belum menemukan seseorang yang cocok. Lagi pula usia 35 tahun itu masih muda, aku juga masih awet muda tidak ada kerutan sedikitpun," ujarnya membujug agar ibunya mengerti.
"Tidak! Jika kau tahun ini belum menikah, kau akan kesulitan menggendong anakmu nanti, kau akan bongkok ketika anakmu masih kecil-kecil," ujar Stella lagi.
Brandon hanya bisa melongo, bagaimana bisa ibunya berfikir begitu? Bongkok?! Setiap hari ia ngegym, lari pagi saat subuh dan mengonsumsi makanan sehat.
Bagaimana bisa ia harus bongkok diusia 35-60? Ia masih kuat jika dilihat dari gaya hidupnya. Kecuali jika dia mati duluan sebelum memasuki usia lanjut.
"Mommy tak mau tau kau harus menikah secepatnya!!!" teriak Stella sangat kencang hingga seorang yang terbaring di tempat tidur bergerak.
Brandon yang tak sengaja melirik itu, kemudian berlari mendekati ranjang. Ia melihat gadis itu dan melihat pergerakannya.
"Hey!" sapa Brandon lembut.
Gadis itu perlahan membuka matanya, mata khas Asia dengan bulu mata panjang hitam legam itu, menyesuikan cahaya dan menatap langit-langit kamar. Matanya masih setengah terbuka, perlahan ia menoleh ke arah kanan.
Ia mendapati pria tampan yang menatapnya penuh harap, sadarnya belum penuh ketika Stella berteriak heboh--lagi.
"Dia sudah sadar! Kau cepat panggilkan dokter!" teriaknya pada Brandon yang spontan memencet tombol.
Namun, dokter belum datang juga sehingga ia dengan tak sabar pergi memanggil dokter.
"Kau telah sadar sayang?" tanya Srella tersenyum senang.
"Aku..." gadis itu dengan suara seraknya membalas dengan bahasa Inggris pula, "siapa?" ia bingung melihat sekeliling "dan kau siapa?".
Stella terkejut mendengar pertanyaannya, seketika ia menatap ada perban yang terlihat di balik hijabnya. 'Dia, lupa ingatan?' ia jadi mendapat ide gila karenanya, ini peluang.
"Aku calon ibu mertuamu!"
Deg!
Gadis itu mengerjap tak yakin, "dan kau menantuku."
Setelah Stella mengucapkan itu, Brandon dan tenaga medis datang, mereka langsung memeriksa kondisi gadis itu yang masih kebingungan.
"Kau ingat siapa dirimu, nona?" tanya dokter itu memastikan.
Gadis itu menggeleng bingung, tidak ada memori dalam kepalanya.
"Kau ingat apa yang terjadi sebelumnya?" tanyanya lagi.
Gadis itu kembali menggeleng, ia bingung sekali.
"Bagaimana dengan orang tuamu?" menggeleng lagi.
"Rumahmu?" lagi...
Dan akhirnya dokter menyimpulkan, "maaf tuan Brandon, kita harus bicara."
Brandon langsung mengikuti dokter, seketika pandangan gadis itu melihat ke arah Brandon. 'Siapa dia?'
@Ruang Dokter
"Seperti yang sudah saya katakan sebelumnya, kemungkinan terbesarnya adalah dia mengalami lupa ingatan," ia menjeda "tapi tuan tak perlu khawatir karena ini hanya soal waktu. Seiring berjalannya waktu, nona Ell akan kembali mengingat semuanya," jelasnya membuat Brandon arus memikirkan langkah selanjutnya.
•
@Ruang Rawat VIP
Brandon masuk ke dalam ruangan dengan wajah datar, ia kemudian melihat Stella dengan berbicara dengan gadis itu.
Mereka berdua menoleh ke arah Brandon, saat itulah Brandon dan gadis itu saling melempar tatapan.
"Mari kita bicara!" Brandon menggeser bangku yang ada di sisi lain dan menatap gadis itu dingin.
Gadis itu hanya diam menatap Brandon bingung, kata Stella dia adalah calon suaminya. Benarkah itu?
"Aku minta maaf sebelumnya telah membuatmu seperti ini, aku telah menabrakmu dan kamu lupa ingatan." ungkap Brandon merasa bersalah.
Kemudian Stella buru-buru menyela, "Brandon dia baru bangun kamu jangan membuatnya bingung dulu."
"Mom..."
"Sebenarnya apa yang terjadi? Mengapa nyonya mengatakan kalau aku calon menantunya dan kau...tunanganku, apa yang terjadi?" gadis itu kebingungan.
Brandon terkejut dengan hal itu, mengapa ibunya berbohong? Stella yang mendengar Brandon akan protes, memilih pamit pergi setelah membuat gadis itu kebingungan.
"Mommy ada arisan, kau bisa lanjutkan bicara dengan tunanganmu!" teriaknya sembari keluar ruangan.
Brandon menelan ludahnya sediri. Sial! Ibunya mengacaukan segalanya.
•
"Nanti teman-temanmu akan datang ke sini, jangan pikirkan apa yang dikatakan mommyku. Itu tidak benar. Jadi, lebih baik kau tunggu sampai temanmu datang." ujar Brandon.
Ia harus meluruskan semuanya sebelum Stella melakukan hal yang lebih jauh lagi, ibunya itu mengerikan.
"Lalu cincin ini?" tanya gadis itu masih bingung, ia mengacungkan tangan kanannya berisi cincin di jari manisnya
Brandon mengamati cincin itu, dan ia kembali terkejut mengetahui bahwa cincin itu milik ibunya yang secara turun-temurun diwariskan.
Ia menjilat bibirnya yang kering, sungguh ini semua gila.
"Itu...maafkan ibuku, dia sedikit gila karena dia menginginkan aku menikah secepatnya," gadis itu tak mengerti. "Baiklah aku jelaskan dari awal mengapa kau di sini, intinya kita tidak ada hubungan apapun."
Gadis itu mengangguk, yah ia lebih mepercayai Brandon daripada Stella yang sepertinya suka mengarang cerita.
"Aku hanya tau bahwa namamu Fatmala Sri Wulan, kamu ini novelis dengan nama pena Ell Zeya. Kamu berasal dari Indonesia dan kau sedang travelling di sini--Inggris...ketika kecelakaan itu terjadi," gadis bernama Fatma itu terdiam mengetahui fakta itu.
Ini cukup membingungkan tapi ia yakin bahwa kata-kata Brandon tidak salah.
"Aku yang menabrakmu hingga seperti ini, aku sungguh minta maaf. Tapi aku akan tetap bertanggung jawab apapun yang terjadi." Fatma diam.
Wajah lembutnya mengerut sedih, ia merasa seperti orang bodoh.
"Lebih baik kau makan dulu, setelah itu minum obat," ia mengambil makanan di atas nakas dan bersiap menyuapi.
Namun, Fatma menolak dan berusaha bangun dari berbaringnya susah payah. Melihat kesulitan itu Brandon meletkakan makanan itu dan mengatur ranjang bagian atasnya agar Fatma bisa nyaman dalam posisi duduk.
"Aku makan sendiri saja..." ujarnya kemudian dituruti oleh Brandon.
"Aku akan pergi, sekitar sejam lagi teman-temanmu akan segera datang," jelasnya ketika matanya melirik ke arah jam tangannya.
"Iya" Fatma meneruskan makannya dan meinum obat setelah Brnadon pergi.
•
Benar apa kata Brandon, sejam kemudian 2 orang gadis berpakaian syar'i menghambur memeluknya dengan tangis haru. Sean yang mengantar kemudian meninggalkan ruangan, memberikan privasi bagi ketiganya.
"Fatma kenapa bisa kayak gini?" ujar Titi mahasiswi di London yang juga teman akrab Fatma di Majelis Ta'lim.
"Iya Fat, kita semua udah bingung nyariin kamu. Ajeng, Aliya, Meca, Rara sama Onif udah balik ke Indo kemarin. Mereka coba minta bantuan dari Indo, kami dapat kabar dari orang tadi kalau kamu di sini. Kemarin kami udah menghubungi Kedutaan Indonesia dan mereka mau bantu. Alhamdulillah kamu udah siuman!" cerita Fitri panjang lebar.
Ia ibu rumah tangga yang menemani suaminya kuliah di London.
Fatma terdiam mengamati keduanya, ia tersenyum lega. Ada yang mengenalinya.
"Maaf, aku tak ingat," ungkap Fatma menyesal.
Mereka sedih mendengarnya, namun mereka tidak terkejut sebab Sean sudah mengatakannya tadi.
Titi mengelus tangan kanan Fatma yang tidak diinfus. Kemudian ia menatap wajah sahabatnya itu tersenyun.
"Gak papa, kita bareng-bareng usahain kamu agar ingat semuanya."
Fitri mengangguk, "iya tadi aku bilang sama keluarga kamu bahwa kamu udah ketemu. Mereka akan ke sini 2 hari lagi," mereka tersenyum.
Fatma merasa terharu dengan keberadaan orang-orang yang mengusahakannya. "Terima kasih" mereka berdua mengangguk.
"Nama kalian siapa?" tanya Fatma polos.
"Aku Fitria Rahayu" ujar Fitri terkekeh.
"Aku Titi Arum Sari, panggil aja Titi."
Fatma mengangguk, "dan kamu Fatmala Sri Wulan"
Fatma tersenyum, "tuan Brandon udah bilang sama aku, tentang namaku dan latar belakangku. Aku seorang novelis?" tanyanya lagi, membuat keduanya mengangguk.
"Novelis yang udah buat para muda-mudi sedih ketika denger kamu tidak ditemukan, sayang!" ujar Titi tersenyum.
•
@Kantor
Sean menghampiri Brandon yang baru saja duduk setelah meeting selama satu jam.
"Mereka udah di rumah sakit?" tanya Brandon pada Sean.
"Yah, begitulah. Jangan lupa nanti jam 3 Kedutaan Indonesia akan ke rumah sakit."
Brandon hanya mengangguk sekenanya, saat Sean menyadari ekspresi lesunya.
"Ada masalah?" tanyanya simpati.
"Ibuku ngaku-ngaku jadi calon mertua Ell (Fatma), dia balas dendam mungkin gara-gara aku gak nikah-nikah," ungkapnya membuat Sean shock.
Ia sampai membekap mulutnya agar tidak berteriak. Namun, ia tak bisa menahan tawanya.
"Tante Stella itu sesuatu! Dia luar biasa, membuat seorang Brandon bisa kalang kabut seperti ini. Haha!" ujarnya terpingkal.
"Kau tau bagaimana frustasinya aku ketika dia juga menuduhku memiliki masalah orientasi seksual!? Ini gila kan?"
Lagi, Sean tidak bisa menahan tawanya sampai perutnya sakit.
"Astagah! Benar-benar, jika aku di posisimu aku pindah negara saja!" ujarnya lagi.
"Ah sudahlah, aku tak peduli. Intinya aku harus segera menyelesaikan urusan dengan gadis itu," ia duduk di atas singgasananya dan menyesap sebatang rokok untuk menghilangkan stres.
•
Jam 3, Brandon, Pengacaranya dan Sean menemui pihak Kedutaan Indonesia yang berkunjung ke rumah sakit, bersama dengan Fitri, Titi dan suami Titi mendampingi Fatma.
Urusan diselesaikan secara kekeluargaan toh Brandon bahkan berniat untuk menanggung semua biaya rumah sakit Fatma, sampai menyiapkan perawatan di Indonesia. Intinya Fatma tinggal melakukan beberapa pengobatan setelah 5 hari lagi ia bisa pulang ke Indoensia. Brandon juga menyiapkan pesawat pribadi untuk Fatma, dengan perlengkapan medis. Semua sudah rapih.
•
Empat tahun berlalu, kehidupan Fatma telah kembali seperti semula. Ia sudah mengingat semuanya dengan pengobatan yang diberikan Brandon.
Namun, satu hal yang masih ia pikirkan. Cincin milik Stella ada padanya, ia ingat ketika Stella mengaku sebagai calon mertuanya. Ia menghela nafas dan menatap cincin itu.
Selain menjadi penulis, ia juga menjadi editor sebuah media dakwah. Kini ia tengah berada di kantor ketika sebuah panggilan masuk ke ponsel pribadinya. Namun, kode telepon jelas bukan +62. Perlahan ia mengangkatnya, ketika ia mendengar suara itu, dunia seakan berputar pada satu titik waktu.
_"Hallo Ell, aku Brandon. How are you?"_
"A..._i'am fine, and you?_" ia tergagap menjawabnya.
_"I'am fine too, but... aku ingin menanyakan perihal cincin."_
Fatma tersentak, baru saja ia memikirkan cincin itu. Ia masih menyimpannya.
"Aku masih menyimpannya, apakah aku boleh meminta alamatmu? Aku akan kirimkan lewat paket," ujar Fatma yakin.
Di sebrang, Brandon terkekeh dan berkata.
_"Kau juga meninggalkan buku di sini, jika hanya lewat paket kita akan main kirim-kiriman paket. Aku akan ke Indonesia 3 hari lagi. Mumpung ada bisnis di sana!"_
"Oh, baiklah kalau begitu. Mau bertemu dimana?" tanyanya sambil memikirkan tempat.
_"Di rumahmu saja."_
Deg!
"Di...di rumah?"
_"Kau keberatan?"_
"Te...tentu saja tidak, malah bagus aku tak perlu repot-repot meminta temanku menemani," ujarnya gugup.
Ini kejutan bukan?
_"Baiklah, sampai jumpa 3 hari lagi yah!"_
"Ya, sampai jumpa!"
Klik! Fatma memutusnya terlebih dahulu, ia mencoba menenangkan pikirannya agar tidak berfikir macam-macam.
•
Tiga hari kemudian...
Ghani dan istrinya mendampingi adik bungsunya Fatma, bertemu dengan Brandon. Ketika itu Fatma berada di dapur bersama sang ibu, ia membantu menyiapkan jamuan sementara ia tak tau bahwa Brandon datang tidak sendiri.
Sampai ketika Fatma dan ibunya keluar membawa beberapa makanan dan minum, Fatma kebingungan dengan kehadiran Stella dan seorang pria gemuk di sana. Di sofa lain ada seorang keturunan Arab juga ada seorang pria tua bule lainnya.
Ia berusaha untuk tenang, walaupun semua mata tertuju padanya. Ia dan sang ibu meletakkan makanan dan minum di atas meja.
Kedua belah pihak memulai percakapan, Fatma kemudian mengeluarkan sekotak kecil dan isinya cincin.
Ia menyerahannya pada Brandon, namun Brandon menolak.
"Itu buatmu saja."
Fatma jelas tak mengerti, apa maksudnya?
"Kalau kau mau menerima lamaranku!" yakin dan padat.
Fatma terdiam, apakah ia bermimpi? Ia mengerjapak matanya, tapi sayang semua tidka berubah dan ia mmtka bangun-bangun.
"Maksudmu apa?" tanya Fatma terkekeh geli, ia menganggap itu lelucon.
"Aku serius Ell!"
Fatma berhenti terkekeh, ia meneguk ludahnya yang berat itu. Ia menatap satu persatu orang yang ada di sana.
"Aku butuh waktu untuk mencerna tuan Brandon, ini tiba-tiba." ujar Fatma tersenyum getir.
Ghani selaku wali Fatma angkat bicara, "sebelumnya aku ingin bertanya. Apakah kamu muslim?" tanyanya serius.
"Iya, sejak 2 tahun lalu. Pak Tariq menjadi guruku sejak saat itu." ia menunjuk seorang keturunan Arab yang duduk di single sofa.
"Tapi kau berislam bukan karena adikku kan?" tanya Ghani lagi meyakinkan.
"Awalnya iya, kemudian aku kagum pada Islam, dan yakin dengan alasan karena keimanan!"
"Kalau begitu jika adikku menolakmu, kau akan tetap muslim?" tanya Ghani lagi.
"Iya, tapi aku tetap optimis dia mau menerimaku!"
Fatma diam saja, ia menahan malu. Mana ada orang melamar seperti ini? Dia PD sekali.
"Berapa usiamu?" tanya Ghani lagi.
"39 tahun"
Ghani, ibunya, dan istrinya terkejut. "selang 11 tahun, kau yakin? Jaraknya sangat jauh."
"Aku yakin dan saking yakinnya sampai menahan malu dengan jarak usia, sekarang tinggal menunggu keputusan dari Fatma."
Fatma mengangkat wajahnya dan berkata, " aku butuh waktu."
"Baiklah, satu minggu bagaimana?" tanya Brandon.
Fatma berfikir sejenak, "Baik" setuju.
"Seminggu lagi aku akan menunggu, kemudian cincin itu dan buku ini sebagai jamianannya." ia mengeluarkan biku catatan kecil.
"Ini bukan hutang kan?" bantah Fatma.
"Lebih berat dari hutang, makanya jangan menolakku yah!" ia justru tersenyum ke arah Ghani yang sepertinya tidak setuju dan menampilkan wajah sebal.
•
"Fatma, dia itu sangat tua untukmu!" ujar Ghani tak setuju.
"Ibu harap kamu membuat keputusan yang tepat, nak!" ujar Wati ibu Fatma.
"Iya dek, si Branson emang ganteng tapi jangan dilihat fisiknya." jelas Amalia, kakak iparnya.
"Fatma istikharah dulu yah bu, mas Ghani dan mba Amalia. Aku gak bisa ngambil keputusan tanpa peran Allah Swt, dan aku tau Brandon orang yang baik. Bahkan sebelum dia berislam." jelasnya membuat yang lain, mau tak mau mngiyakan.
•
Dalam istikharahnya ia meminta Allah Swt yang memutuskan untuknya, ketika dalam mimpi jawaban itu menjelaskannya.
Ghani, Wati dan Amalia menunggu jawaban Fatma setelah 7 hari.
"Aku..."
"Fatma please, aku gak mau punya adek ipar yang lebuh tua."
Plak!
"Aw!" Wati menabok paha Ghani keras, "dengerin dulu."
Ghani menelan segala protesnya dan mulai fokus kembali pada adik kesayangannya.
"Fatma menerima lamarannya bu, mas dan mba!" ia mneunduk setelah menjawab itu.
Deg!
Semuanya terdiam, Watinyang lebih dulu bereaksi.
"Jika itu pilihanmu, ibu cuma bisa mendo'akan yang terbaik bagimu sayang!" ia memeluk Fatma penuh sayang.
Sementara Ghani masih saja kecewa, ia belum bisa menerima.
•
Besok sorenya, Brandon dan orang tuanya melamar secara resmi dan menentukan tanggal.
Sesederhana itu, dan Stella sangat bahagia melihat anak laki-lakinya menikah. Kebohongannya dan cincin yang ditinggalkan pada jari manis Fatma, benar-benar menjadi miliknya kini.
TAMAT