Namaku Kiara Verdova. Aku putri bungsu dari keluarga Verdova, tetapi hidup sebagai anak bungsu dari keluarga terpandang tidaklah menyenangkan. Kalian mungkin berpikir mereka akan menyayangi dan memanjakanku, tetapi hal itu sama sekali tidak terjadi, karena aku bukan putri kandung keluarga ini.
Usiaku kini dua puluh tahun. Aku diadopsi dari panti asuhan Kasih saat masih berusia dua belas tahun. Dulu orang tua angkatku terlihat begitu baik saat datang ke panti. Aku merasa sangat bahagia bisa ikut dengan mereka. Namun, aku baru tahu mereka tidak tulus menyayangiku. Mereka hanya ingin memperoleh pujian karena mengadopsi seorang anak yatim-piatu.
Tangan akan melayang untuk memukul. Kaki juga akan menendang tubuh kurusku saat aku melakukan kesalahan. Setiap hari, aku juga harus memasak dan membersihkan rumah. Jika aku terus mengulang kesalahan yang sama, mereka akan mengurungku di gudang atau kamar mandi tanpa memberi makan dan minum.
Aku takut untuk berada di dalam sana semalaman. Kubayangkan sosok-sosok monster muncul dan membawaku untuk menjadi santapan mereka.
***
Lisa menggebrak meja dengan marah. Matanya menatap tajam ke arahku. Lisa adalah kakakku. Usianya lima belas tahun dan sama seperti ayah dan ibu, dia tidak pernah memperlakukan aku sebagai adik, melainkan seperti pelayan.
"Kamu tahu apa kesalahanmu?" tegurnya.
Aku menggeleng. Jantungku berdetak kencang. Aku selalu takut membuat Lisa dan orang tuaku marah. Aku takut mereka kecewa padaku dan mengirimku kembali ke panti. Anak-anak yang lain selalu bilang mereka iri padaku karena diadopsi keluarga kaya dan terpandang.
Benar. Aku beruntung. Kini aku memiliki keluarga. Ayah dan ibu, bahkan seorang kakak. Aku benar-benar beruntung. Karena itu, aku tidak mau membuang keberuntunganku. Aku selalu saja menurut, meski diperlakukan buruk. Aku tidak mau dianggap sebagai anak durhaka. Bagaimanapun juga sekarang mereka adalah keluargaku.
"Apa kesalahanku, Nona?" tanyaku. Tidak ada panggilan kakak untuknya atau ayah dan ibu. Semua hanya nona, tuan, dan nyonya. Jika aku tidak memanggil mereka seperti itu, maka tamparan akan melayang di wajahku.
"Masakanmu itu keasinan. Nih, coba kamu cicipi," ujar Lisa. Aku mengambil sendok untuk mencicip, tetapi Lisa justru menuang makanan itu di kepalaku. Rambut dan bajuku lengket dan basah oleh kuah sayur.
"Bagaimana rasanya? Keasinan bukan?" tanya Lisa lagi. Aku hanya mengangguk sambil menahan air mataku yang hampir menetes. Lisa tertawa melihatku, sedang ayah dan ibu angkatku hanya diam. Tentu saja mereka tidak mungkin membelaku dan memarahi putri kesayangan mereka.
Aku sudah berusaha melakukan yang terbaik untuk keluarga ini, tetapi selalu saja salah di mata mereka. Mereka semua selalu menemukan alasan untuk menyiksaku. Tidak ada orang lain yang tahu tentang ini. Mereka juga bilang aku sangat beruntung dan keluarga Verdova sangat baik mengadopsiku. Pujian yang selalu mereka sukai.
Mereka tidak tahu tentang siksaan yang kualami, karena aku pandai bersandiwara. Semua baik-baik saja dan aku bahagia. Ayah dan ibu angkatku yang menyuruh. Kurasa sekarang aku semakin ahli menyembunyikan air mata di balik tawa kepalsuan.
***
Suatu malam, Lisa mendatangi kamarku yang berukuran sempit dan bobrok. Dia berniat mengajakku ke sebuah pesta. Bahkan sebuah gaun indah berwarna hijau muda telah disiapkan untukku.
"Tuan dan Nyonya tidak akan setuju," ucapku.
"Jangan cemas, aku sudah membujuk mereka dan mereka tidak keberatan," ucap Lisa sembari tersenyum.
Aku tertegun menatapnya. Kenapa tiba-tiba dia berubah dan bersikap baik?
Senyum itu makin lebar.
"Kamu heran dengan perubahan sikapku, ya?" tanya kakak angkatku itu.
Aku hanya diam. Aku takut dia kembali marah jika mendengar jawabanku.
"Aku ingin bersikap baik padamu. Aku ingin menganggapmu sebagai adikku mulai sekarang. Ayah dan ibu juga akan menganggapmu sebagai putri mereka," jelasnya.
"Tapi kenapa?"
"Karena aku sudah sadar sekarang. Ayah dan ibu juga. Kamu diadopsi untuk menjadi bagian dari keluarga ini. Seharusnya disayangi dan dimanjakan, bukan disia-siakan atau disiksa. Kau mau memaafkan kami bukan?" tanya Lisa dengan penuh harap.
Aku mengangguk. Meskipun merasa aneh karena Lisa tiba-tiba minta maaf, tetap saja aku bahagia.
"Nah, sekarang temani aku ke pesta. Biar aku yang dandani kamu," ujarnya lagi dengan penuh semangat.
Kakakku memang luar biasa. Gaun indah itu sangat pas untukku. Membuatku terlihat cantik dan elegan. Jepit rambut berwarna senada juga membuatku semakin percaya diri. Lisa tersenyum menatapku.
"Ini baru adikku yang cantik," ucapnya.
"Nona ...."
"Kamu itu panggil aku Kakak. Juga nanti saat bertemu ayah dan ibu, kamu jangan lagi memanggil mereka tuan dan nyonya," cetusnya.
Aku hanya mengangguk. Biasanya aku memang sering didandani, tetapi hanya sementara. Untuk membohongi orang-orang tentang kehidupanku sebenarnya. Apakah kali ini juga sama? Aku menggeleng dan menatap Lisa. Senyum tulus itu pasti tidak akan berbohong.
Setelah merasa siap, aku dan Lisa segera berangkat. Semula bingung saat hendak berpamitan dengan orang tua angkatku, tetapi senyum ramah juga terbias di wajah mereka.
"Ayah, Ibu, aku berangkat," ucapku pelan. Mereka mengangguk dan tiba-tiba memelukku. Perasaanku membuncah bahagia. Andai ini mimpi, tidak ingin aku terbangun. Ini adalah masa terindah dalam hidupku.
***
Suasana pesta di kafe mewah tersebut terbilang mewah. Aku terpesona saat melihat dekorasi-dekorasi unik yang menghias di dalamnya.
"Kak," panggilku pada Lisa. Entah mengapa, kali tidak ada senyum di wajah. Malah dia terlihat kesal. Lisa langsung meraih tanganku dan menyeret ke dalam.
Di saat aku masih bingung dengan perubahan sikapnya yang begitu mendadak, tiba-tiba terdengar suara berbisik di telingaku.
"Kemarilah, kemarilah, Gadis Cantik."
Aku menoleh sekeliling dan tidak melihat siapa pun mengajakku bicara. Lisa juga terlihat sedang membicarakan perjanjian. Entah perjanjian apa, aku sama sekali tidak tahu.
"Kak," panggilku lagi. Aku merasa terasing dan takut. Situasi ini benar-benar membuatku tidak nyaman.
"Diam kau, Pelayan!" sahutnya kasar. Aku semakin bingung karena Lisa kembali seperti semula. Dia bahkan marah dan memakiku saat salah mengambilkan minuman untuknya. Teman-temannya juga menertawakan aku saat Lisa mendorong-dorong kepalaku dan mengataiku gadis bodoh.
Aku terisak pelan, tetapi mereka tidak ada yang peduli. Orang-orang itu justru terlihat senang seperti menonton sebuah hiburan. Teman-teman Lisa juga mulai memperlakukanku seperti pelayan dan menyuruhku mengambil minuman untuk mereka.
"Mereka jahat, Cantik. Kau seharusnya membalas mereka."
Suara bisikan itu lagi. Aku kembali melihat sekeliling. Siapa yang bicara padaku? Kenapa Lisa dan yang lain seolah tidak mendengarnya?
"Apa kamu mencariku, Cantik? Aku berada di sini dan aku akan membantumu," ucap suara itu lagi.
Langkahku terhenti saat di hadapanku ada sebuah busur dan anak panah. Entah mengapa kakiku seolah bergerak sendiri untuk mendekat dan tanganku terayun untuk mengangkat benda tersebut. Benda itu benar-benar anggun dengan ukiran huruf sansekerta di setiap ujungnya.
"Bagus, Cantik. Mulai sekarang, aku adalah milikmu," ujar suara itu lagi.
"Kamu ...," ucapku tidak percaya sembari menatap busur tersebut.
"Benar. Akulah yang berbicara padamu. Kita sudah ditakdirkan bersama. Mulai sekarang, kamu adalah majikanku dan aku akan melindungimu."
"Tapi, aku tidak membutuhkan perlindungan," ucapku pelan. Rasa takut kembali melanda saat menyadari yang berbicara padaku adalah 'penunggu' yang berdiang dalam busur antik tersebut.
Aku berniat meletakkan kembali busur itu pada tempatnya, tetapi tiba-tiba terdengar suara di belakangku.
"Gadis pemegang busur pusaka, kamu telah mengangkat busur itu. Itu artinya kamu siap mengikuti kompetisi memanah," ujarnya.
"Aku tidak bisa. Cari saja orang lain."
"Mana bisa begitu. Ini busur pusaka. Selama ini tidak ada yang mampu mengangkatnya, tetapi kamu bisa melakukannya," ujar pria itu lagi sembari membimbingku ke luar kafe.
Di luar telah berkumpul banyak orang. Lisa dan teman-temannya juga berada di sana. Aku segera menghampiri dia.
"Kak, tolong aku. Mana bisa aku ikut kompetisi memanah?" ujarku sembari melihat ke arah orang-orang yang tengah bertanding. Mereka terlihat hebat, sedang aku bahkan tidak pernah memanah sebelumnya.
"Ini semua salahmu sendiri. Kau yang mencari masalah. Sekarang tangani sendiri," sahut Lisa enteng.
Aku menggeleng.
"Aku tidak bisa melakukannya," ucapku lagi.
"Lis, adikmu akan bertanding. Bagaimana kalau kita bertaruh? Kalau dia kalah, kita serahkan dia pada Om Danu?" ucap salah seorang teman Lisa.
"Ide bagus," sahut Lisa sembari menyeringai.
"Kak, aku ...."
Sebuah tamparan melayang di wajahku. Aku hanya diam meringis kesakitan.
"Jangan panggil aku kakak lagi, Bodoh. Asal kau tahu, kau dibawa ke sini untuk dijual untuk melunasi utang Ayah. Sekarang anggap saja kau beruntung, bisa mengikuti kompetisi ini untuk meloloskan diri," ucapnya.
Air mataku berderai. Aku memang bodoh. Begitu mudah tertipu kata-kata dan senyum manis. Sekarang aku harus mengikuti kompetisi itu, meski tahu tidak mungkin menang. Kurasa Lisa juga tahu itu, karena itu dia setuju dengan taruhan tersebut. Itu artinya aku akan tetap dijual pada Om Danu.
Tanganku erat menggenggam busur saat maju menuju arena. Air mata nyaris menutupi pandanganku. Sekali lagi, aku menoleh kepada Lisa dan temann-temannya. Mereka tersenyum padaku.
Rasa itu membuncah dalam hatiku. Perasaan amarah dan dendam yang tidak pernah kurasakan sebelumnya. Saat kuambil anak panah dan kurentangkan busur, amarahku kian memuncak.
Di luar dugaan, bidikanku tepat sasaran dan membuat para tim penilai berdecak kagum. Mereka lalu mengumumkan aku sebagai juara. Kupikir aku sudah lepas dari masalah, tetapi kemenanganku justru membuat Lisa marah. Dia menyuruh teman-temannya membawaku paksa ke kamar Om Danu.
***
"Om, jangan, Om, jangan lakukan. Tolong lepaskan saya," pintaku sambil menangis saat Om Danu melepaskan pakaiannya.
"Gadis cantik, kau benar-benar manis. Sesuai dengan seleraku," ucap lelaki bertubuh tambun itu sembari mendekat.
"Jangan, Om," pintaku sekali lagi. Namun dia malah tertawa terkekeh. Aku segera berlari menghindar.
"Gadis Nakal, kamu ingin bermain kejar-kejaran, ya? Kalau tertangkap berarti kamu harus melayaniku," ucapnya lagi.
Aku sangat ketakutan, tetapi kemudian kusadari sesuatu. Entah bagaimana, busur dan anak panah yang tadi terjatuh saat teman-teman Lisa menyeretku menuju kamar ini kembali berada di tanganku.
"Om, jangan coba-coba mendekatiku!" ucapku sambil merentangkan busur. Namun dia masih saja nekat. Aku tidak punya pilihan. Kutembakkan anak panah di busurku. Jerit kesakitan itu terdengar nyaring sebelum dia roboh dengan anak panah di keningnya. Darah mengalir deras di karpet tebal tersebut.
Tubuhku masih gemetar saat pintu dibuka paksa dari luar.
"Kiara, apa yang kamu lakukan? Kamu sudah membunuh Om Danu!" tegur Lisa.
Aku diam dan menatap Lisa. Lalu senyuman terbentuk di bibirku.
"Kalau begitu, aku juga akan membunuh kalian," ucapku. Lisa dan yang lain tampak menatapku bingung, tetapi aku tidak membuang waktu. Kembali kurentangkan busur. Kali ini, sebuah anak panah melesat dan langsung menembus tubuh mereka semua. Satu per satu mereka roboh di hadapanku. Aku melangkah melewati mereka sambil tetap tersenyum.
Kini aku mengerti mengapa orang tua angkatku begitu senang menyiksaku, karena rasa takut dari orang lain membuatmu senang. Sama seperti saat ini, aku menikmati rasa takut yang masih terbias di mata orang-orang itu.
***
Anak panah yang kutembakkan melesat dan menembus tubuh ayah angkatku. Raut wajah penuh ketakutan itu semakin membuatku merasa senang. Sekarang tinggal ibu angkatku. Si wanita cerewet yang sering menampar wajahku.
Aku kembali merentangkan busur. Air mata dan permohonan maaf beliau tidak kuhiraukan. Aku justru tertawa melihatnya. Saat hendak kutembakkan anak panah, tiba-tiba muncul sekelompok orang yang mendarat dari langit.
"Nona, serahkan busur itu," ucap salah seorang yang bertubuh tinggi.
Aku menggeleng.
"Aku tidak mau," sahutku tanpa takut.
"Nona, benda itu berbahaya. Dia akan membawa malapetaka untuk banyak orang termasuk dirimu," ucapnya lagi.
"Aku tidak percaya padamu. Benda ini telah melindungiku dan memberi keberanian."
"Nona, benda itu memiliki kekuatan kegelapan dan saat ini dia berusaha menguasai tubuhmu."
"Dasar sok tahu. Memang siapa kau?"
"Namaku Dhami dan mereka semua adalah rekan-rekanku. Kami kemari untuk mengambil busur tersebut."
Aku menggeleng kesal. Mana bisa kuberikan busur ini pada mereka? Apalagi saat aku melihat ibu angkatku tengah melarikan diri.
"Aku tidak mau!" teriakku sambil berusaha mengejar wanita itu. Namun lagi-lagi mereka mengepung dan menghadang. Baik, mereka sendiri yang cari masalah denganku. Segera kurentangkan busur dan menembakkan anak panah. Salah seorang dari mereka tampak terkejut dan roboh ke tanah sambil menyeringai kesakitan. Para makhluk bersayap itu tampak terkejut. Aku tidak membuang waktu dan segera mengejar ibu angkatku. Kupastikan untuk membunuh dia dengan tanganku sendiri.