I
Pada masa lampau; dua orang dulunya berteman, kini menjadi seorang musuh. Sebenarnya si lelaki tidak pernah menganggap bermusuhan, si lelaki hanya ingin memperjuangkan nasib rakyat, membela rakyat dan memperjuangkan hak rakyat, namun oleh teman si wanitanya tersebut ia dimusuhi.
Menurut sumber lain yang sangat valid, keduanya merupakan kekasih, selama menjalani masa berkasih itu. Tidak ditemukan adanya sebuah kecocokan, mereka sering bertolak belakang secara pemikiran, dan kerap kali cekcok. Tapi keduanya masih tetap bertahan dalam hubungan, "sebenernya diakui atau tidak, kita tidak pernah akur; dan selalu ada keributan kecil menghantui hubungan ini." Beber si wanita, sebut saja namanya Ayu Chen.
"Tapi jujur, aku tidak pernah bisa meninggalkan engkau! Bahkan aku takut kehilanganmu, setiap kita berjauhan, aku selalu merindu, menimbulkan pedihnya pilu, lantas merongrong air mataku jatuh di pipi bening ku! Aku tak berdaya dan aku hanya bisa menangis." Kata Ayu Chen.
"Emang, kamu saja yang merasakan seperti itu? Aku lebih merasakan! Tapi engkau terlalu sombong, angkuh, kau tak pernah memaknai nilai nilai kasih sayang, padahal jika engkau bener bener mempunyai rasa itu, niscaya perbedaan selama ini. Tidak perlu diributkan, dijadikan perisai agar kita selalu gontok-gontokan, bukankah itu tiada guna! Membuang waktu, bahkan lebih membuka peluang kita pecah; akibat keseringan bersitegang." Kata si lelaki, sebut saja Bahar Khan.
Kemudian Bahar Khan, meninggalkan Ayu Chen. Tak perduli, walau Ayu Chen menangis, bahkan mengejarnya. Ia tetap meninggalkanya, tanpa menghiraukan suasana hati Ayu Chen yang terasa hancur berkeping. Saat ini ada perasaan bersalah baginya, rasa sadar itu sudah mulai tumbuh, bahwa dirinya selalu membuat modhorat bagi Bahar Khan.
Maklum, Ayu Chen; masih belum dewasa, masih panjang angan angan, dilenakan oleh gemerlapnya warna warni kehidupan. Padahal sudah berapa kali, dibeberkan Bahar Khan, bahwa gemerlapnya dunia merupakan tipu daya, yang membutakan mata hati.
Tapi Ayu Chen, tetap lah Ayu Chen, ia degil, tidak bisa menyerap wejangan Bahar Khan, bahkan ditentangnya mentah mentah. Ia pernah berujar secara tersirat, bahwa saya ini sudah tegas. Padahal dirinya hanya menuruti hawa nafsu angkara murka di hatinya. Lantaran apa yang dipikirkan hanya berupa kesenangan (kebutuhan pribadinya), yakni tuntutan materi; hingga berimbas pada tertutupnya mata hatinya.
Tegas kok diriya'kan? Itu namanya bukan tegas, tegas jika dianalogikan pada Hakim (pengadil). Maka harus bersikap sesuai dengan hukum yang berlaku! Menyikapi hal itu; Bahar Khan bergumam bahwa Ayu Chen bukanlah sesosok tegas, tapi lebih pada tidak bisa mengendalikan rasa amarahnya, egois, keras kepala. Mau menang sendiri, dan sebenernya dia adakalanya plin-plan, tidak konsisten dengan sikapnya.
***
Beberapa tahun kemudian, mereka memilih jalan berbeda, Ayu Chen; menjadi sesosok asisten perempuan penguasa dzalim, sombong pada rakyatnya. Hak rakyat dirampas, dan yang melakukan perlawanan disikat, lalu dipenjara bahkan ada yang diasingkan ketempat sulit dijangkau oleh manusia.
Akhirnya si Bahar Khan, juga merupakan tokoh pemuda yang melakukan perlawanan. Ditangkap pula, ia ditangkap saat ngopi bersama teman tamannya ketika melakukan setting aksi.
Info yang didapat dari teliksandi negara; kelompok Bahar Khan paling ditakuti. Bahkan dianggap sebagai pemberontak. Ingin mengkudeta pemerintah. Maka berbagai macam cara dilakukan agar gerakan Bahar Khan bisa dicegah. Termasuk menawarkan kedudukan, setelah gagal mengiming - imingi keluar masuk tempat hiburan secara cuma cuma sepanjang hidupnya. Ada diskotik, bahkan tempat karaoke kelas elit, dengan pemandu lagu yang bening, dan sejumlah uang Miliyaran.
"Kamu ini Goblok, mengambil jalan oposisi dan mencoba merongrong kekuasaan ku! Aku ini orang hebat, di negeri ini tidak ada seorang pun bisa mengalahkan ku! Semuanya tunduk di dedepanku, kecuali kamu! Kamu ini emang kurang ajar, bikin diriku marah! Lalu apa yang bisa kau perbuat sekarang?" Kata Penguasa perempuan dzalim itu, sambil menatap sinis Bahar kan.
"Sudah aku tawarkan beberapa fasilitas kepada mu, kedudukan, tapi kau menolak mentah mentah! Kamu sok idealis, kamu bisa apa dengan idealisme mu itu? Bisa lepas dari krangkeng itu, kamu saya akui hebat, apalagi bisa keluar dari ruangan ini. Maka sepenuhnya dan seluruh hartaku akan diserahkan kepada mu! Jika kau bisa keluar dengan selamat." Kata nya, sambil memegang dagu Bahar Khan yang tidak berdaya.
"Terakhir, sebelum kau ku asingkan, utarakan permintaan mu! Jika kami sanggup, kami akan memenuhinya," tegas dia
Bahar Khan diam, tidak menggubris perkataan perempuan penguasa itu, ia berdoa semoga sang penguasa perempuan sadar, menjadi pemimpin baik, bisa evaluasi diri, bukan membela diri; memanfaatkan kekuasaan dan kekuatan nya. Bukankah kekuasaan itu hanya sebentar, tidak permanen! Kekuasaan amanah dari Allah! Dan sewaktu waktu jika Allah menghendaki kekuasaan itu hancur. Niscaya akan hancur, tidak ada satu kekuatan pun bisa mencegahnya.
Maka jika seseorang rakus/ambisius terhadap kekuasaan, dan Allah memberinya. Maka Allah akan meninggalkannya. Tapi jika seseorang itu, tidak menghendaki kekuasaan. Tapi Allah memberinya, maka Allah akan mengirimkan malaikat agar menjaga kekuasaan yang diberikan Nya itu.
Sejauh ini, pernah kah penguasa mengakui bahwa dirinya mengakui kesalahannya, kedzalimannya, dan kemudian kembali kepada jalan benar, bertaubat kepada Tuhan, sebagaimana yang dicontohkan oleh David kala itu, ia mengakui bahwa dirinya hanya manusia biasa, tidak sempurna, kemduain ia bertaubat. Kembali kepada jalan Allah. Setelah mendapatkan wejangan dari sahabatnya.
"Permintaan saya cuma satu, pertemukan saya dengan Ayu Chen. Biarkan saya bicara empat mata dengannya," mendengar itu, sang penguasa kaget, siapa lelaki ini sebenarnya. Kenapa ia ingin jumpa dengan asistennya? Tanpa banyak bicara maka didatangkanlah Ayu Chen, sang pujaan hati, yang tengah mengambil jalan berbeda; demi harta dan kedudukan agar derajatnya di ranah sosial, dihormati, disegani dan menduduki puncak kasta tertinggi di mata masyarakat.
Karena emang, Ayu Chen pada masa itu, mencari ilmu, ketika kelar hanya ingin mencari kedudukan, pekerjaan, mencari ijazah, dengan IPK diatas angka tiga, menjadi orang pintar, dan kehidupan strata sosialnya berada di puncak kasta tertinggi di masyarakat. Jika tujuan mencari ilmu hanya untuk cerdas, pintar dan yang selaras dengan itu! Banyak orang orang berkedudukan tinggi menjadi tersangka korupsi. Apakah mereka tidak cerdas? Sudah tentu mereka cerdas dan berada di kasta tertinggi strata sosialnya.
Sudah berapa orang cerdas, berkedudukan tinggi di negeri ini, telah terjaring korupsi? Kita tinggal menghitungnya saja! Bahkan ada yang jadi buron sampai ke luar negeri dan tak terlacak keberadaan nya.
***
Ayu Chen, melangkah lunglai menuju ruangan, hatinya terasa tercabik cabik, air mata bercucuran tak sanggup ia bendung. Sesampainya di ruangan, ia tidak bisa melangkahkan kakinya. Kakinya tidak kuat, ia jatuh bersimpuh, menahan tangisan - ratapan. Ia tidak bisa berbuat apa apa. Tidak berdaya, apalagi menatap Bahar Khan, kekasihnya yang selama ini dimusuhi, lantaran harta, kedudukan dan atas nama kebutuhan semata.
Kenangan indah bersama Bahar Khan, masih bergelayut di hati Ayu Chen. Setiap saat, setiap waktu; hatinya selalu menjerit, mengingatnya, merindukannya. Namun semuanya itu percuma. Rasa cintanya telah kalah, jatuh tak berguna karena ia telah menjadikan dunia sebagai berhala di hati nya.
"Untuk apa kau menangis? Bukankah jalan ini, yang kau cari, sekarang kau sudah dapatkan segalanya, dan ternyata sanggup melenakanmu! Mata hatimu makin buta, tak bisa berfikir jernih. Sebelum aku diasingkan, aku berharap suatu saat kau akan berubah! Menjadi sesosok yang bijak, kalaupun kau tidak bisa bijak, maka sikapilah segala sesuatu dengan sederhana (mengerti). Selama ini kau terlalu arogan, tak bisa mengendalikan diri, hingga di matamu aku selalu berada disudut pandang yang salah!" beber Bahar Khan
"Maafkan Aku!" Kata Ayu Chen lirih. Tangisnya makin menjadi, sampai air matanya pun kering. Fikirannya membayangkan, bila Bahar Khan benar benar diasingkan, ia tidak sanggup dengan kenyataan itu! Karena bagaimanapun, ia sebenarnya begitu mencintai Bahar Khan, merindunya setiap saat. Kendati sekarang dia dimusuhi, lantaran harta tahta dan masalah kebutuhan hidup.
"Jika engkau diasingkan, maka aku akan ikut dengan mu!" Kata Ayu Chen, sambil meraih tangan Bahar Khan.
"Untuk apa? Biar saya yang menanggung semuanya! Mungkin ini nasibku yang harus ku terima. Dulu, saya pernah berkata kepadamu, 'Jangan kau gunakan kekuatan amarahmu, untuk memusuhi dan apatis kepadaku, aku tidak butuh itu! Yang saya butuhkan adalah rasa cinta dan kasih sayang di hatimu'. Nyatanya, permintaan ku; kau anggap sampah dan tiada berguna, malah kau semakin lena dengan gemerlapnya dunia yang kau dapat. Ingat! Dulu seorang 'penyelamat' pernah berkata kepada umatnya; wahai umatku, janganlah engkau senang berkumpul dengan orang yang mati. Pasalnya bisa menyebabkan buta mata hati mu.
"Lantas ada salah satu umatnya bertanya. Siapakah gerangan orang mati itu? Kemudian sang penyelamat menjawab, ia merupakan orang yang senang mengumpulkan harta dunia, dan lupa akan akhiratnya!"
***
Ketika menjelang malam (petang), datanglah Ayu Chen, menemui Bahar Khan, di Warkop nya. Ia mengendarai Pajero keluaran terbaru. Bahar Khan, yang sedang bersiap siap berangkat ke Musholla terdekat, tersenyum menyambut ke kasihnya. Kemudian, terjadilah perbincangan keduanya. Penuh canda tawa, seolah pertikaian kemarin, tiada lagi ada di benak mereka. Ternyata, dari beberapa sumber menyebutkan, bahwa Bahar Khan tidak jadi di asingkan.
Pasalnya; perempuan penguasa itu tergugah hatinya, ketika tahu bahwa Ayu Chen - Bahar Khan, mempunyai hubungan khusus. Maka saat itu pula, keputusan sang penguasa dzalim itu berubah.
Sang perempuan penguasa, bahkan menangis mendengar perbincangan keduanya. Karena ada kata kata dari Bahar Khan yang direnungkan, dan seketika itu mampu mengubah kesombongannya.
Saat itu pula, ia menengadahkan tangannya dan meminta ampun kepada Sang Pencipta, bahwa selama ini perbuatannya salah, dzalim, banyak kebijakan menyengsarakan rakyat. Dan pada saat itu pula, ia berjanji tidak akan lagi mengulangi lagi perbuatan bejatnya yang tidak berprikemanusiaan, dan merampas hak rakyat.
Maka seluruh tahanan politik, segera ia bebaskan dan diberi uang pesangon, dan ada sebagian dijadikan pembantunya. Termasuk Bahar Khan, tapi Bahar Khan menolak, bahkan ia ogah diberi uang pesangon.
Ia hanya meminta uang pinjaman, dan berjanji tiap bulan akan mencicilnya. Bahar Khan, hanya ingin buka Warkop nonstop, dengan fasilitas WiFi, berikut tv berukuran besar, memanjakan pelanggannya saat ada siaran langsung sepakbola Eropa atau tanah air.
Ia tidak tertarik sama sekali, menjadi penasehat penguasa perempuan itu. Bagi dia menjadi penasehatnya, banyak menyita waktu dan tenaga. Tidak bebas dalam berpakaian dan menghindari cara cara kotor di kemudian hari.
Akhirnya sang perempuan penguasa, memenuhi keinginannya, segala keperluan perangkat wirausaha Bahar Khan dipenuhi oleh perempuan penguasa. Setelah segala siap, maka diserahkan kepada Bahar Khan, tinggal tiap bulannya berurusan dengan Bank yang bersangkutan.
Semua berkas besar biaya dan jumlah cicilan perbulannya telah diserahkan kepada Bahar Khan.
Bahar Khan sujud syukur, berterima kasih kepada Allah, atas segala keinginan nya yang sangat mudah di dapat. Kini, ia hanya mencari para pekerjanya, yang dibagi dalam tiga shift selama 24 jam.
II
Sore itu, tampak Bahar Khan bersama koleganya sedang mengadakan pertemuan di warung daun, tempat ini biasanya dijadikan pertemuan khusus para pejabat penting negara. Begitu pula dengan para pengusaha dan para makelar politik juga sering mengadakan deal-dealan dengan para kliennya.
Kali ini, Bahar Khan diajak rembuk sejumlah koleganya yang dulu pernah melakukan perlawanan kepada penguasa. Dia diundang untuk membahas program jangka panjang terkait ekonomi masyarakat. Di antaranya dana bantuan sosial Covid-19 dll, kedatangannya rupanya diketahui oleh Ayu Chen, ia diam diam memerhatikannya, ia curiga pertemuan mereka akan membikin gerakan seperti dulu, yakni ingin menggulingkan pemerintahan saat ini.
Hatinya geram, ia berjanji bakalan melabrak Bahar Khan ketika sudah balik dari pertemuan itu.
Tanpa berpikir panjang lagi, Ayu Chen segera me ngegas mobilnya, melaju di jalanan yang penuh sesak oleh bunyi raungan kendaraan lain yang halu lalang. Ia memutuskan menunggu Bahar Khan di rumahnya. Sebab dia juga memegang kunci cadangan. Sesampainya disana, langsung saja dia melangkah ke dalam rumah itu. Sambil merebahkan badannya di ruang tamu.
Hatinya masih diselimuti oleh rasa geram, curiga dan amarah. Rasa emosinya membuncah dan siap meluapkan ketika Bahar Khan ada di depannya. Selang beberapa lama, orang yang ditunggu akhirnya datang.
Bahar Khan mengucapkan salam, lalu menyapa Ayu Chen, "Eh Ayu, udah lama disini?" sapa nya.
Namun, Ayu Chen tidak menjawab, ia langsung berdiri dan melangkah ke arah Bahar Khan, raut wajahnya tidak bersahabat, matanya melotot memandang sekujur tubuh dia. Bahar Khan yang melihat gelagat kekasihnya jadi bingung, ia tidak mengerti dengan sikapnya yang tidak bersahabat. ia mencoba memegang pundak Ayu Chen, namun di tepisnya.
"Kamu ini apa-apaan, belum cukup fasilitas yang kau dapatkan?" semprot Ayu Chen. Bahar Khan semakin tidak mengerti dengan perkataan Ayu Chen, ia hanya menunduk, sambil bertanya apa maksud dengan semua ini.
"Ayo jawab, jangan bersikap belagu seperti itu! " semprot Ayu Chen,
"Maksud kamu itu apa, sungguh aku tidak mengerti!" Duduklah, kita bicara baik baik, biar jelas semua." ajak dia.
"Kamu jangan sok pura pura tak tahu, kamu ttadi bahas apa di warung daun bersama teman temanmu di warung daun," sergah Ayu Chen.
Mendengar itu, Bahar Khan jadi mengerti. Bahkan dia memahami kecurigaan Ayu Chen, lalu secara gamblang ia membeberkan diadakannya petemuan tersebut. Namun Ayu Chen tidak percaya, ia tetap curiga bahwa pertemuan tadi merupakan agenda untuk melakukan penggulingan tampuk kekuasaan saat ini.
Ayu Chen masih muring-muring, bahkan ia mengancam akan menyingkirkan mereka dari lingkaran kekuasaan, dan menarik fasilitas yang telah didapat Bahar Khan, tidak hanya itu, Ayu Chen juga mengancam akan memenjarakan mereka kembali, termasuk tidak segan segan mengasingkan kekasih yang ia cintai tersebut.