INSECURE
Seoul, May 18, 2018.
Menjadi seseorang yang tidak percaya diri itu tidak enak. Seperti menjadi semak belukar diantara rerumputan yang hijau. Selalu merasa berbeda dan tidak pernah lebih baik diantara yang lain. Sama halnya yang dirasakan Adelia saat ini. Adelia kini melanjutkan studinya di Korea National University of Arts (K’ARTS). Adelia mendapatkan beasiswa seni melalui Art Major Asian (AMA) Schoolarship Program, beasiswa ini mencari mahasiswa-mahasiswa berbakat di bidang seni. Adelia pun mengambil program musik vokal, karena sejak kecil Adelia suka bernyanyi. Namun siapa sangka didalam hidupnya yang terlihat memiliki banyak keberhasilan itu justru menjadi cambuk baginya dan selalu dicemooh oleh orang lain.
“Adelia, kamu mau jadi apa mengambil jurusan seperti itu di luar negeri? Paling ujung-ujungnya jadi pengangguran.”
“Kamu ke Korea hanya karena ingin bertemu idolamu itu ya? Ngaca dong kamu ini siapa.”
Kalimat dan pertanyaan orang-orang di sekitar tempat tinggal Adelia selalu terngiang-ngiang di kepalanya. Padahal ini hanya perihal jiwa Adelia yang memang terpanggil untuk menjadi penyanyi ternama, selain itu Adelia memang ingin bertemu sosok Lee Dong Min. Penyanyi sekaligus visual terbaik di K-Pop. Tetapi lagi-lagi kalimat orang membuat kegigihan Adelia untuk mencapai semua itu menjadi semakin surut.
Hari ini Adelia masuk ke kampus untuk mengikuti mata kuliah tentang dasar-dasar penerapan teknik vokal yang baik dan benar. Adelia kebetulan duduk di dekat Suzzy, teman satu asrama.
“Adelia,” panggil Suzzy.
Adelia pun menoleh dan menjawab panggilan Suzzy. “Iya?”
Suzzy tertawa kecil melihat ekspresi Adelia yang tampak sedikit terkejut. Suzzy pun menjulurkan tangannya tanda mengajak berjabat tangan. “Aku Suzzy, benar kan kamu Adelia? Dengar-dengar kamu kuliah di sini karena tau ada Oppa Lee Dong min dan menyukainya ya?” tanya Suzzy memastikan.
“Iya aku Adelia. Kamu ini bertanya apa sih?” balas Adelia dengan memalingkan wajah.
“Aku kan cuma tanya, tetapi kenapa kamu langsung begitu kalau memang itu tidak benar?”
“Bukan apa-apa,” ucap Adelia dan langsung meminta Suzzy untuk tidak membahas itu lagi.
Adelia memang menyukai Lee Dong Min, tetapi itu hanya sebatas fans dengan idola. Adelia pun belum pernah sekalipun bertemu dengan idolanya tersebut.
“Adelia, coba jelaskan mengenai vokalisi intonasi, artikulasi, dan pernapasan itu seperti apa dan praktekkan!” pinta dosen muda, Professor Minho.
Adelia mengangguk dan mencoba menjawab serta mempraktekkan.
“Kamu ini gimana? Kalau power kamu begitu orang nggak akan bisa menikmati lagumu. Harus percaya diri dong!” tegas Proffesor Minho.
“Baik, prof.” Adelia kembali duduk dengan wajahnya yang tertunduk.
Seusai kuliah, Proffesor Minho memberi tugas tambahan kepada Adelia dan meminta untuk menyelesaikannya segera dengan batas waktu nanti malam.
“Bisa-bisanya Proffesor Minho sekejam itu memberimu deadline nanti malam? Padahal sekarang saja sudah sore. Mana tugasnya banyak begini,” celetuk Suzzy sembari menepuk bahuku.
Adelia hanya tersenyum tipis dan segera mempercepat langkahnya untuk segera sampai di asrama dan mengerjakan tugas yang diberikan.
“Adelia, maaf ya aku tidak bisa membantumu. Soalnya ini ada janji sama temen.” Suzzy berbalik arah dan pergi ke arah halte bus dekat asrama.
Adelia pun mengangguk dan melambaikan tangan. “Hati-hati ya!”
Adelia selalu menyalahkan dirinya karena tidak bisa menampilkan performanya dengan baik karena tidak percaya diri. “Ya sudah deh, mau gimana lagi. Aku harus menyelesaikan tugas ini dan mengumpulkan ke kampus nanti malam.”
•••
4 jam berlalu, akhirnya tugas dari Proffesor Minho telah diselesaikan oleh Adelia dengan sangat baik. Adelia segera bergegas menyiapkan diri untuk pergi ke kampus. Saat Adelia melihat jam di tangannya, jarum menunjukkan pukul 21.30. Sepanjang jalan menuju ruang Proffesor Minho, Adelia harus berjalan sendirian diengan kondisi gelap dan hanya menggunakan senter HP.
Tiba-tiba ... “Adelia,” panggil Proffesor Minho dari arah belakang.
Adelia sentak jongkok dengan tubuh gemetaran. “Proff ...”
Proffesor Mihno ikut jongkok dan menenangkan Adelia. “Tenang, kamu tidak perlu takut.”
Adelia mengangguk dan memberikan tugas kepada Proffesor Minho.
“Ayo saya antar pulang,” ucap Proffesor Minho.
Tak lama datang sesosok pria tinggi dan tampan datang menghampiri.
“Biar saya saja yang antar dia, Proff,”
Proffesor melarangnya dan menahan tangan Adelia. Tetapi pria tersebut tetap bersikeras yang akan mengantarkan Adelia pulang. “Saya kenal dekat dengan Adelia, Prof,” pungkasnya.
Akhirnya pria tersebut menggenggam tangan Adelia dan mengajak Adelia keluar dari gedung kampus. Adelia hanya terheran dan pandangannya masih kabur karena ketakutan. Saat mereka sudah sampai di luar gedung kampus, pandangan Adelia berangsur membaik karena pencahayaan sudah memadai. Adelia langsung terkejut, seakan tidak percaya. Pria yang menggandengnya sedari tadi adalah Lee Dong Min. Idolanya selama ini.
“Kamu tidak apa-apa?” tanya Lee Dong Min.
“Iya, a ... aku.” Suara Adelia menjadi terbata-bata dan tak mengerti akan berbicara apalagi di hadapan Lee Dong Min.
Lee Dong Min melepaskan genggamannya. “Maaf ya, tadi aku hanya melihat kamu takut saja. Kebetulan aku lewat dan sudah tau persis bagaimana Proffesor Minho memperlakukan mahasiswinya. Lain kali hati-hati!”
Lee Dong Min melangkah menjauhi Adelia. Tetapi Adelia akhirnya mengejar karena masih merasa takut untuk pulang ke asrama sendirian.
“Mau aku antar pulang?” tanya Lee Dong Min dengan penuh perhatian.
Adelia mengiyakan meskipun sebenarnya Adelia takut membuat Lee Dong Min kerepotan untuk mengantarnya.
“Kamu mengenalku, Adelia?” tanya Lee Dong Min memecahkan keheningan diantara mereka.
Rasa bahagia bercampur haru Lee Dong Min menyebutkan nama Adelia. Wajah Adelia memerah dan tersipu malu. Adelia merasa ingin sekali menghentikan waktu dan terus bersama Lee Dong Min.
“Bagaimana aku tidak mengenalmu, Oppa. Justru yang membuatku heran mengapa Oppa tau namaku. Apa diam-diam Oppa memperhatikanku?” ucap Adelia dalam hati.
Lee Dong Min memanggil Adelia berulang kali karena Adelia terdiam dan melamun.
“Iya, Oppa. Eh ... Iya itu.” Adelia menjadi salah tingkah karena benar-benar bertemu dengan Lee Dong Min.
“Kamu lucu ya. Kamu boleh kok memanggilku Oppa,” balas Lee Dong Min dengan tersenyum.
“Udah sampai ini, aku pulang dulu ya,” kata Lee Dong Min sembari melambaikan tangan.
Adelia pun membalas lambaikan tangan Lee Dong Min. “Hati-hati, Oppa.”
Saat masuk ke asrama Adelia bertemu dengan Suzzy yang baru saja pulang. Adelia tersenyum-senyum membuat Suzzy penasaran untuk bertanya apa yang terjadi. Tanpa berpikir panjang Adelia menceritakan semuanya kepada Suzzy. Adelia hampir saja teriak karena perasaan bahagianya begitu besar.
Mendengar cerita Adelia, Suzzy hanya menggelengkan kepala dan tidak mempercayai apa yang diceritakan oleh Adelia. “Jangan halu, Adelia ini udah malam loh,” sahut Suzzy dengan tatapan yang tak menyenangkan.
Adelia lantas masuk ke kamar dan berkaca. “Suzzy benar. I don't deserve him. Aku hanyalah fans. Tak sepantasnya aku berharap lebih.”