Teringat saat kita bercanda di depan kelas, namun tiba - tiba kau membeku dan mengalihkan pandanganmu ke seseorang yang tengah berjalan melewati koridor sekolah. Aku ikut menatap sosok itu yang merupakan sang primadona sekolah kita, Bella. Kau masih saja menatapnya hingga ia memasuki kelas.
"Agas," aku pun menegurmu mengabaikan rasa nyeri yang hadir di jantungku.
"Eh, iya, Ra." Kau pun kembali menoleh padaku.
"Aku duluan ke kelas ya," ucapku. Tanpa menunggu balasanmu, aku berlari menuju kelas.
Pelajaran berlangsung seperti biasa hingga pulang sekolah tiba - tiba kau menghampiriku.
"Ra, kamu bawa jaketku kan?" tanyamu dengan buru - buru.
"Iya, bawa. Udah kucuci setrika juga." Kukeluarkan jaket dari tasku dan kau langsung mengambil jaketmu lalu berlari meninggalkanku. Aku menyusulmu untuk mengucapkan terima kasih, namun langkahku terhenti di di ujung koridor sekolah.
Aku melihatmu tengah membantu Bella memakai jaket yang sudah kucuci dan setrika. Kau menaikkan resleting jaket itu dan menepuk kepala Bella dengan pelan.
"Ciara?" Kau terlihat kaget melihatku berdiri tak jauh darimu.
Aku pun menghampiri kalian berniat untuk mengucapkan terima kasih padamu dan memberitahu Bella bahwa jaket itu sebelumnya pernah kupakai. Cukup kekanakan memang, tapi jujur aku tidak suka dia memakai jaketmu juga.
"Hai, Ciara," sapa Bella sambil tersenyum lebar.
"Oh, hai Bella," balasku.
"Kamu pulang naik apa?" tanya Bella.
"Dijemput, Bel," jawabku. Lalu sebuah pesan masuk di ponselku. Kakakku memberitahu bahwa dia tidak bisa menjemputku karena ada pelajaran tambahan, dan aku diminta untuk naik angkutan umum. "Ah, sepertinya aku harus naik angkot."
"Rumah kita satu jalur, kamu bareng aku aja," ucap Bella.
"Iya, Ra. Kamu bareng Bella aja," ucapmu.
"Kamu tahu rumahku?" tanyaku heran. Walaupun kami sekelas, aku dan Bella jarang mengobrol.
"Aku tahu dari Agas. Sopirku udah datang. Ayuk, Ra." Bella menggandeng tanganku. "Duluan ya, Gas. Semangat rapat OSIS nya!" Dia melambaikan tangan padamu.
Kau tersenyum dan melambaikan tanganmu padanya. Sedang aku memilih tidak mengatakan apapun.
▪️▪️▪️
Hari - hari sibuk sekolah kembali datang. Aku tengah membaca novel di jam istirahat saat kau datang bersama Bella di sampingmu.
"Ra, aku mau kasih kabar bagus!" ucapmu dengan senyum lebar.
Aku ikut tersenyum. "Kabar bagus apa?" tanyaku penasaran.
Kau merangkul bahu Bella dan mengikis jarakmu dengan gadis itu. "Kami jadian."
Senyumku hilang. Ada nyeri yang tiba - tiba menyerang jantungku. "Selamat," ucapku lalu kembali menampilkan senyumku. Kututup novelku dan beranjak dari kursi. "Aku.. ke toilet ya."
Aku berbohong. Tujuanku bukanlah toilet, namun taman belakang sekolah yang sepi. Di sana kuluapkan rasa sesak yang sejak tadi kutahan.
▪️▪️▪️
Aku tengah melamun di ruang tamu rumahku saat seseorang tiba - tiba memelukku dari belakang.
"Ngelamunin apa nih?" tanya orang itu.
Aku menoleh dan melihat kau menatapku. Rasa nyeri muncul di jantungku. "Bukan apa - apa. Tumben kamu kesini, Agas?"
Kau melepas pelukanmu dan duduk di sampingku. "Pengen main aja. Udah lama kita enggak main bareng."
"Oh."
"Nonton yuk, ambil laptop kamu gih," ucapmu.
"Oke." Kuambil laptop di kamar dan kembali ke ruang tamu. "Mau nonton apa?"
"Bentar, aku pilih."
"Aku ambilin minum sama jajan dulu ya."
"Sip. Yang banyak ya, Ra."
Kita menonton film horor. Namun tidak ada teriakan dari kita berdua. Kau menatap kosong layar laptop dan aku tahu pikiranmu tidak di sini. Sedang aku sejak awal mengamatimu dari samping tanpa menghiraukan filmnya.
"Kamu ada masalah?" tanyaku pada akhirnya.
Kau tersentak. "Eh, maaf ya Ra. Aku yang ngajak malah enggak fokus nonton."
"Enggak papa. Mau cerita?"
Kau mengangguk dan menceritakan masalah yag mengganggu pikiranmu. Ternyata kau tengah bertengkar dengan Bella. Aku pun berusaha memberikan masukan agar kalian bisa berbaikan. Dan hal itu terjadi. Keesokan harinya kalian telah tertawa bersama seperti biasa.
Rasa nyeri saat melihat kalian berdua bahagia sangat menggangguku. Apa yang harus kulakukan?
▪️▪️▪️
Sudah kuputuskan untuk berusaha mengikhlaskan. Namun hal tidak terduga terjadi. Saat hujan turun dengan deras, kau berdiri di depan pintu rumahku dengan basah kuyup. Kau langsung memeluk tubuhku dengan erat begitu aku membukakan pintu. Aku balas memeluk dan menepuk punggungmu. Cukup lama kita dalam posisi ini dan aku mulai menggigil.
"Maaf," ucapmu lalu melepas pelukannya.
"Ayo, masuk." Kutarik tanganmu untuk mengikutiku masuk ke rumah. Kuminta kau untuk mandi dan mengganti bajumu dengan baju kakakku. Aku juga mengganti bajuku yang basah olehmu.
Setelah selesai berganti baju, kita duduk di ruang tamu. Dan kau hanya diam. Setelah satu jam duduk tanpa kata, kau pun pamit pulang.
▪️▪️▪️
Hal aneh terjadi ketika masuk sekolah. Aku merasa kau menjauhiku. Sempat aku berfikir bahwa Bella yang menyuruhmu. Tapi hal itu tidak mungkin. Bella merupakan gadis baik hati. Bahkan dia mempunyai julukan ibu peri dari teman - teman satu sekolah kita. Dia juga sering menawariku untuk pulang bersama.
Berminggu - minggu berlalu dan kau benar - benar menghilang dari duniaku. Bahkan di kelas pun kau sama sekali tidak mengajakku berbicara dan menghindar ketika tahu aku akan menghampirimu.
Aku yang tak tahan akhirnya menarik tanganmu dengan paksa setelah pulang sekolah. "Kamu kenapa?" tanyaku ketika kita tiba di taman belakang sekolah. Kau hanya diam. "Jawab, kenapa?"
Kau akhirnya menatap kedua mataku. "Maaf, aku tidak bisa berteman denganmu lagi, Ra."
Rasa nyeri itu muncul dua kali lipat di jantungku. "Ke.. napa? Katakan padaku alasannya?"
Tidak ada suara. Kita hanya saling beradu pandang.
"Apa karena Bella?"
Kedua matamu melebar. "Bukan," jawabnya tegas. "Aku hanya tak ingin Bella salah paham lagi tentang kita."
"Salah paham apa?"
"Dia berpikir bahwa kamu menyukaiku, Ra. Padahal itu tidak mungkin karena kita sudah berteman sejak SD. Tapi aku tak ingin membuatnya memikirkan hal ini terus - menerus. Jadi sebaiknya, kita tidak berteman lagi." Kau mengambil jarak dariku.
"Konyol. Kau serius pertemanan kita berakhir begitu saja?" tanyaku tak percaya. Walaupun dalam hati aku sangat penasaran darimana Bella tahu aku menyukaimu.
"Maaf, Bella penting untukku," jawabmu dengan tegas.
"Lalu aku?" tanyaku putus asa.
"Maaf." Kau pun berbalik pergi meninggalkanku yang terduduk di tanah yang keras.
Kutatap punggungmu yang semakin menjauh dengan pandanganku yang semakin buram oleh air mata.