Amanda dan Nina sedang pergi ke toko yang lumayan jauh, Amanda pergi untuk menemani Nina.
Amanda yang membawa mobil.
Eza Nina Falesia ( 20 )
"Maaf ya Nda, jadi ngerepotin nih! masalahnya toko untuk belanja barang yang ku butuhkan hanya ada di toko Indobotak saja deh" kata Nina.
Amanda Dallena ( 19 )
"Ngga apa, kamu bilangnya mau traktir sih.. untung juga buatku, hehe... makasih ya Na" kata Amanda.
"Katanya, Mamamu kakinya sedang sakit ya? kenapa ngga temani mamamu aja? kasihan tante Clara" kata Amanda.
"Ngga ah!"
Tiba-tiba...
CKIIT!!!! Mobil Amanda harus berhenti mendadak.
"WAAA!!!"
"Kenapa Nda?" tanya Nina.
Amanda tidak menjawab, ternyata ada seorang wanita dengan baju terlihat kotor, dan luka dalam di kepala sedang ada di tengah jalan. Amanda langsung turun.
"Ada apa Bu? apakah ada masalah?" tanya Amanda di susul Nina yang turun.
"Tolong Mbak! anak saya terjebak di mobil kami yang tertabrak pohon! akan jatuh jurang! tolong bantu!" kata wanita itu.
"HAH!?!" tanya Amanda dan Nina langsung mengikuti Ibu itu dengan berlari.
Dan benar saja, kondisi mobil yang di maksud seperti kronologi yang di ceritakan si Ibu, hanya lebih parah dari yang di bayangkan.
Amanda dan Nina mendekati mobil yang ada di pinggir jurang tapi tertahan dahan pohon. Si ibu di suruh Amanda untuk memberinya dan Nina ruang.
"Tolong! Bunda, Mana?!" tanya anak si Ibu.
"Rayana!"
"Ukh! gak bisa di buka ni pintu!" kata Nina saat menarik pintu mobil.
"Na! minggir! coba aku coba! Dek! Minggir ya!" kata Amanda sambil mencoba teknik karate untuk menghancurkan kaca.
"Ippon Nukite!!" kata Amanda membentuk telunjuk dan mendorong kaca dan membuat kaca itu retak.
( Baca The Unifying Butterly )
"Seiken!!!" Amanda langsung meninju kaca itu dengan teknik karate.
PRAAANG!!! Kaca itu berhasil pecah.
"Aaaaa!!!" Teriak Raya.
KRRRSK!!! Mobil semakin lama semakin masuk jurang.
"Dek Raya!!! Lompat ke kakak sekarang!! ayo!!!" Teriak Nina.
Raya langsung melompat ke Nina bersamaan dengan mobil yang jatuh ke jurang. Amanda dengan mata melotot dan Nina yang memeluk Raya menghindari itu.
"Alhamdulillah! syukurlah kamu selamat dek" kata Nina.
Amanda menatap jurang tempat mobil itu jatuh dengan syok terpaku.
"Amanda? kamu kenapa?" tanya Nina.
Amanda berdiri dan menghampiri si Ibu yang menangis.
"Bu... jangan sedih, ngga usah menangis, saya akan mengantar Dek Raya ke keluarga, Ibu bisa istirahat dengan tenang sekarang ngga usah khawatir" kata Amanda dengan raut sedih tapi memaksa tersenyum.
"EH?! Amanda! maksudnya apaan!?" tanya Nina kaget mendengar ucapan Amanda.
FLASHBACK...
Saat Mobil itu akan jatuh bersamaan dengan Raya yang melompat ke Nina, Amanda melotot kaget ke arah kemudi mobil dan melihat Si Ibu yang sekarat dengan luka dalam bersamaan dengan jatuhnya mobil tersebut.
FLASHBACK OFF...
SING! Tiba-tiba sang Ibu langsung berubah menjadi bayangan pucat.
"Terimakasih banyak ya Mbak, karena sudah menolong saya ngga tahu siapa lagi yang bisa di mintai tolong tapi terimakasih banyak Mbak, maaf karena ngga bisa beri apa-apa sebagai ucapan terimakasih, saya akan selalu mengingat hal ini. Untuk Raya, maafkan Bunda ya... karena ngga bisa menemani Raya sampai besar, tapi Bunda selalu menyayangi Raya dari sana" kata Si Ibu sambil menjadi partikel yang perlahan menghilang.
Raya kaget sekali melihat Ibunya, langsung lari dari pangkuan Nina ke arah Bundanya.
"Bunda!!! Bunda mau kemana!??! jangan tinggalin Raya!! Bundaa!!!" Raya berteriak karena kepergian Bundanya.
30 Menit kemudian...
Akhirnya Polisi, ambulans, tim Forensik, dan Tim SAR datang untuk memeriksa TKP. Raya yang masih menangis syok tertidur di mobil polisi, Amanda sedang bicara dengan seorang Polisi.
"Mbak, sebelum pergi saya minta keterangannya dulu tidak apa kan?" tanya seorang Polisi.
"Ya Pak, silahkan tanya semua yang Anda perlukan" kata Amanda.
Nina sedang memeriksa Ponselnya, ternyata Mamanya SMS padanya.
"Na, kamu pulang duluan aja... aku tahu kamu ada yang perlu di urus kan? biar ku saja yang urus disini, juga soal barang yang tadi mau di beli di toko, Dasar... " kata Amanda.
"Makasih Nda, kamu hati-hati ya, Jemputan ku sudah datang juga tuh" kata Nina.
Amanda mengangguk.
Akhirnya dengan kejadian ini tersadarlah kalau cinta kasih seorang Ibu itu benar-benar besar, sangat jarang ada yang memiliki keberanian akan cinta, kasih sayang, hingga pengorbanan yang lebih besar dari seorang Ibu.
Nina akhirnya pulang dan bertemu Mamanya.
"Ma"
"Eh?! Nina?"
"Kenapa tiba-tiba udah sampai rumah aja? padahal... Aduh!"
"Pelan-pelan aja Ma, makasih ya.. karena udah cemasin Nina, maaf kalau Nina durhaka" kata Nina sambil membawakan sebotol obat kaki.
"Ngga apa Na, makasih ya"
Di TKP...
"Baik Mbak, karena keterangan sudah lengkap semua, Mbak di perbolehkan pulang, Hati-hati di jalan ya" kata Polisi itu.
"Iya Pak, Makasih banyak... saya titip dek Raya ya, antar sampai selamat ke keluarganya" kata Amanda sambil mendekati jendela mobil polisi.
Polisi itu mengangguk, Amanda pergi menaiki mobilnya dan pergi ke toko bunga.
"Kata kak Andra, logo kupu-kupu biru Liontin-ku ini karena Ibu dan Ayah suka dengan Bunga Zinnia Biru, ku bawain aja pasti mereka senang, hehe" gumam Amanda sambil cengar-cengir.
Amanda melaju menaiki mobilnya sambil membawa dua ikat bunga.
Tap! Tap! Amanda berjalan.
"Assalamu'alaikum, Ibu... Ayah, Ana datang, hehe" kata Amanda sambil tersenyum dan meneteskan air matanya.
Sambil menatap dua makam berjejer.
( Untuk bagi yang ingin tahu kenapa Orang tua Amanda bisa tiada, baca di Novel The Unifying Butterfly, Season 3 Chapter 109 sampai season 4 Chapter 4 )
"Kalian tiada karena terbunuh untuk melindungi aku dan Kak Andra, kalian benar-benar punya keberanian demi mengorbankan nyawa kalian untuk membuatku dan kakak tetap hidup di sini.
Aku benar-benar sangat berterimakasih dan berjanji ingin mempunyai keberanian seperti kalian" gumam Amanda sambil meletakkan Bunga Zinnia biru di masing-masing makam dan mendoakan mereka lalu pergi.
-Sayonara... Mom, Dad-
( Cerpen ini di tulis Author untuk memperingati hari Ibu sedunia 10 Mei lalu )