Sekelompok orang masuk, aku tersenyum lebar untuk menyambut mereka setelah merapikan tag di dada ku bertuliskan 'LISA', namaku.
"Selamat datang, silahkan." 2 orang berdiri di hadapan ku, dua yang lain mengatri di belakang. tapi perhatian ku tertuju pada satu orang di baris ke tiga. Laki-laki tinggi ber jaket abu-abu.
"Mbak, mau satu ice americano, satu greentea waffle sama satu rainbow parfait ya." Customer pertama mengalihkan perhatianku dari cowok itu.
"Oh, Baik. silahkan duduk kami akan mengantar pesanan anda nanti".
Antrian kedua juga sudah ku layani dengan baik. Sekarag cowok itu berdiri di hadapanku, dia memperhatikan papan menu cukup lama sebelum memesan, dan memberiku waktu untuk mengamatinya.
Rambutnya lebih panjang dari kebanyakan customer cowok di sisni, diwarnai cokat tua, telinganya tertutup rambut dan poninya yang agak berantakan hampir menutupi matanya. Matanya, yah, matanya membuatku semakin tertarik. Matanya agak sipit dengan sudut yang tajam, irisnya berwarna coklat terang. Oh, cantik seperti kucing. Wajahnya oval dengan dagu yang runcing dan hidung yang mancung sempurna. Kulitnya begitu pucat, entah dia terlahir dengan kulit putih pucat atau dia haya sedang terlalu sakit. Postur tegapnya tidak menunjukan bahwa dia sedang sakit meskipun tubuhnya sangat kurus.
"Satu espresso tanpa gula." Katanya kemudian tanpa menoleh pada ku, masih memperhatikan menu, dan aku masih terpaku pada matanya.
"Ya? Oh, Baik."
"Dan dua porsi roti panggang tanpa topping"
"Tanpa topping? Anda serius? Bagaimana dengan mentega?" Akhirnya dia menatapku.
Oh, aku bisa merasakan tanganku bergetar saat mata kami bertemu. aku tidak yakin, aku gugup atau takut melihat mata coklat tajamnya.
"Tanpa mentega." Dia mengulangi, tapi dengan tersenyum pada ku. Sayang sekali tanganku sudah terlanjur gemetar dan melihat senyumnya, sekarang, bahkan otak ku merasa kedinginan.
"Baik, satu espresso tanpa gula dan satu roti panggang polos."
Jari pucantnya ramping dan lentik saat dia memilih beberapa lembar uang dari dalam dompetnya. jari yang cantik. Bassis? pianis?
Aku menerima uangnya dan mempersilahkannya duduk setelah memberinya struk dan kembalian.
Tidak ada antrian lain setelahnya jadi aku hanya berdiri di tempatku sambil terus memperhatikannya. dia memilih duduk di tengah ruangan, meja yang disiapkan untuk dua orang. aku bisa melihatnya dengan jelas dari sini.
Suara ketukan samar terdengar, saat aku sadar jariku masih gemetar di atas cash drawer.
Dia langsung meminum espressonya dengan sekali teguk setelah pesananya diantar.
Tapi membiarkan dua roti panggang tidak tersentuh sampai beberapa menit.
Dia hanya duduk di sana membaca buku yang dia ambil dari rak di meja kasir sebelum duduk tadi. Sebuah novel misteri 'Big Red Tequilla' karya Rick Riordan yang terbit tahun 1997. Oh, dia suka novel misteri?
10 menit berlalu, dia masih belum menyentuh roti panggangnya. Menyandarkan punggungnya di kursi dan menumpukan kaki kanan nya di atas kaki kirinya. Hm, dia memakai sepatu dari merk terkenal keluaran terbaru. jadi, pasti bukan orang yang selevel dengan ku yang hanya bisa membeli sepatu diskonan buatan lokal di pasar tanah abang.
20 menit setelahnya dia menutup bukunya dan mulai memakan satu porsi rotipaggangnya. Pasti sudah dingin. Aku melihat teman kerjaku sebagai server menghampirinya untuk menawarkan agar rotinya dihangatkan, tapi dia hanya tersenyum menggeleng.
Tidak sadar aku ikut menarik senyuman ketika ku lihat matanya yang sipit tertutup sepenuhnya saat tersenyum. Tapi tiba-tiba aku merasa nafasku agak berat. Mungkin aku terlalu lelah berdiri.
Kuputuskan untuk duduk dan minum beberapa teguk air, menarik nafas panjang beberapa kali sampai aku merasa nafasku sudah ringan kembali.
Aku tidak tahu kenapa aku tiba-tiba sesak nafas atau kenapa aku tiba-tiba gemetar. Aku selama ini sangat sehat dan tidak pernah memiliki penyakit bawaan atau turunan apapun.
Saat aku berdiri lagi, cowok itu sudah tidak ada di tempatnya tadi. Di mejanya gelas espresso yg sudah kosong dan masih tersisa satu porsi roti panggang yang belum tersentuh.
"Kenapa dia pesan dua porsi kalau akhirnya nggak dimakan satu kan sayang." Ucap temanku yang membereskan mejanya.
"Kamu mau?" Sambil menawarkan satu porsi yang masih utuh pada ku. Aku menerimanya dengan senang hati,
atau mungkin dia tidak suka rasa roti panggang di sini? Tentubsaja, dia tidak memberikan topping apapun, pasti rasanya agak pahit.
Oh, tapi setelah aku menghabiskan satu porsi sisanya, aku tidak merasa ada masalah. Bahkan meskipun tanpa topping, roti panggang buatan koki kami rasanya masih sangat enak.
Keesokan harinya dia datang lagi. Aku melihat jam tangan ku sebelum dia membuka pintu. Jam 2 tepat. Kemarin dia juga datang di jam yang sama.
kali ini dia terlihat jauh lebih tampan dengan setelan jas hitam dan sepatu pantofel hitam. Samar, terlintas di benak ku aku pernah melihatnya dengan penampilan yang persis sama di suatu tempat, tapi aku tidak bisa mengingat nya dengan jelas.
Begitu sampai di depanku, dia tidak lagi melihat papan menu, tapi melihatku.
Tuhan, tanganku mulai gemetar lagi, aku berusaha mengembunyikanya di balik komputer, semoga dia tidak melihat.
Dia melihatku dengan seksama. Bibirnya tidak menarik sebuah senyuman, mata coklat kucingnya menatap lurus pada mataku seolah mencoba menerobos masuk dan dia berhasil. Jantungku berdebar hebat karenanya. Aku yakin aku bukan gugup karena jatuh cinta padanya. Perlahan-lahan aku sadar kalau tatapanya membuatku tertekan. Udara seperti pelan-pelan meninggalkan paru-paruku. Sampai dia berkata,
"Satu espresso tanpa gula dan dua porsi roti panggang tanpa topping."
Butuh beberapa detik bagiku untuk bisa mengeluarkan suara menjawabnya.
"Ba..baik, mohon tunggu sebentar."
Dia tersenyum sebelum meraih buku yang sama seperti yang dibacanya kemarin dan duduk di tempat yang sama. Saat dia duduk, barulah aku menemukan kembali udara yang tadi meninggalkanku.
ada apa denganku?
Tidak,
Ada apa denganya? kenapa aku merasa ketakutan saat dia melihatku seperti tadi, dan merasa ingin menangis saat dia tersenyum? Aku tidak mungkin pernah mengenalnya sebelum nya bukan? Aku yakin tidak.
Tapi aku tidak bisa menghentikan keinginan ku untuk mengamatinya. Sama seperti sebelumnya, dia meneguk habis espressonya dan membiarkan rotinya terabaikan. Tepat 10 menit kemudian bersandar di kursi dan menumpukan satu kakinya di atas yang lain. Aku bahkan melihat jam tanganku untuk memastikanya. Benar-benar 10 menit.
20 menit kemudian dia pasti menghabiskan satu porsi roti panggangnya lalu pergi.
Dan tepat dugaanku. Saat dia memasukan potongan terakhir roti panggang ke dalam mulutnya, lagi-lagi aku merasa sesak nafas.
Kemarin, dia pergi saat aku sedang duduk dan minum untuk meringankan perasaanku. Sekarang aku akan minum sambil berdiri agar aku bisa melihat dia keluar dari cafe ini. Aku membungkuk sebentar untuk mengambil botol minumanku di dalam tas. Saat aku berdiri dia sudah menghilang.
Serius? bahkan aku belum minum dan sesak nafasku menghlang.
Sudah satu bulan lebih sejak pertama kali dia datang dan akhirnya menjadi pelanggan tetep cafe tempat ku bekerja. Dia seperti sebuah mesin yang terus mengulang2 hal yang sama. pesanan yang sama, kebiasaan yang sama dan memberikan kesan yang sama padaku. Aku tidak tahu kenapa aku merasa takut atau kadang sedih setiap kali dia datang, tapi aku tidak bisa berhenti memperhatikanya.
Masalah tremor dan sesak nafas, sudah ku periksakan ke dokter beberapa kali. Dokter bilang aku tidak memiliki masalah fisik yang serius. Katanya paru-paruku sangat sehat. Mungkin aku hanya stress karena kelelahan dan dokter itu merekomendasikan psikiater padaku. Yah masuk akal, mungkin aku terlalu stres bekerja belakangan ini.
Tapi aku lebih baik menggunakan gajiku untuk makan kenyang dari pada memberikanya pada psikiater.
Hari ini, begitu sepi. Belum ada satupun pengunjung yang masuk dan dia lah yang pertama kali masuk. Di jam 2 siang seperti biasanya. Kali ini ia memakai kaos putih dan kemeja putih yang tidak dikancingkan, di bagian dada kiri kemejanya ada bordir gambar ranting pohon dengan sehelai daun kecil di ujungnya. Kepalaku pusing setelah melihatnya, tapi aku berhasil menahanya.
Kali ini wajahnya bahkan kurasa lebih pucat dari sebelumnya, tapi bibirnya tertarik ke saping membentuk sebuah senyuman yang manis. Matanya hampir tertutup sempurna ketika dia tersenyum.
"Eum, espresso tanpa gula dan dua porsi roti panggang polos?" senyumnya semakin lebar saat mendengar aku sudah hafal betul apa yang diinginkannya.
Tapi jangtungku yang berdebar sampai dadaku rasanya sakit dan kepalaku yang tiba-tiba sakit ini sudah hampir tidak tertahankan. Aku cepat-cepat menyuruhnya menunggu di tempatnya.
"Kamu baik-baik saja?" Tanya nya.
Ini pertama kalinya dia berbicara padaku diluar pesanan nya. Kami sama sekali tidak bernah bicara lebih dari kalimat memesan dan menerima pesanan selama ini.
Aku memandangnya heran. Ada guratan di dahinya. Mata sipitnya memandang khawatir kepadaku dan bibir bawahnya sedikit bergetar atau hanya perasaanku saja?
"Oh, baik-baik saja, mohon menunggu pesanan anda."
Dia mengulurkan tangan kanan nya untuk menyentuh dahiku. Aku terkejut ketika kulit tanganya dan dahiku bersentuhan. "Kamu yakin?" Tanya dia lagi.
Rasanya dingin sekali seolah-olah dia baru saja masuk ke lemari es. Aku yakin cuaca sedang panas di luar. Atau kondisiku saat ini yang membuat tanganya terasa dingin?
"Y..ya. baik-baik saja."
Meskipun wajahnya masih menunjukan keprihatinan, dia mengambil sebuah buku dan duduk di tempatnya.
Aku harus menyisakan beberapa menit untuk menenangkan diri.
Jadi, dokter itu dokter bodoh. menurut kondisiku sekarang, apa benar aku tidak memiliki penyakit apapun?
Lalu perlahan semua sakit yang ku rasakan menghilang.
Saat aku melihat temanku siap mengantarkan pesanan pria itu, aku memanggilnya.
"Dim, tolong gantiin aku di kasir yah, biar aku yang antar itu." dia meletakkan tray di meja kasir dan memutar melewati meja untuk bertukar tempat denganku.
"Oh, akhirnya dapet keberanian buat pdkt?"
Aku tidak memperdulikan senyum mengejaknya. Ku antarkan pesanan orang itu, lalu aku duduk di depannya.
Dia memandang ku bingung. Tapi aku sudah bertekad.
"Silahkan pesanan nya. Maaf, boleh aku bertanya siapa nama mu?"
Jantungku berdetak terlalu keras dan terlalu cepat saat ini. sampai susah sekali bernafas rasanya.
Dia memiringkan kepalanya.
"Butuh lebih dari 1 bulan akhirnya kamu duduk di depanku?" Aku tidak sempat menyembunyikan keterkejutanku mendengar kata-katanya. Dia mengenalku? Sungguhan?
Dia menghela nafas sekali, lalu mendorong sepiring roti panggang utuh kepadaku.
"Regan."
Begitu mendengar namanya, semua rasanya berputar-putar, gambaran-gambaran adegan sangat cepat di depan mata ku dan aku mendengar teriakan-teriakan, suara jeritan piluh yang membuat kepalaku semakin sakit dan dadaku semakin sesak.
Seseorang memegang pergelangan tanganku dengan kuat. Ketika aku menoleh, Regan menatapku dari bawah. wajahnya berlumuran darah, tangan nya yang memegang tanganku berlumuran darah. Airmataku deras menetes jatuh di wajahnya. Sambil mencengkeram tanganku kuat-kuat, dia tersenyum dan bergumam "Terimakasih".
Aku berteriak keras. Menagis, memanggil namanya. Kuperhatikan sekitarku aku berada di atas tebing. Regan di bawahku, bergelantungan tangan kirinya memegang ranting pohon, tangan kanannya mengenggam pergelangan tanganku yang terulur padanya.
Susah payah aku mengumpulkan tenaga untuk menariknya ke atas. Dalam teriakan putus asa ku dia hanya tersenyum pada ku.
"Selamat tinggal." Lalu peganganya terlepas. Regan jatuh.
Aku terus berteriak sampai suaraku tidak bisa terdengar. Sampai aku merasa seseorang menghentak tubuhku dengan keras.
"Lisa!"
Aku terbangun di tempat yang asing. Di ruangan luas dengan jendela kaca yang besar. Aku melihat wajah seseorang di depanku.
Ah, aku ingat. Aku sedang berada di rumah psikiater. Temanku, Nara membawaku ke mari.
"Kamu terus-terusan merhatiin semua pelanggan yang duduk di tengah ruangan. terus-terusan berkata bahwa dia datang setiap hari, memesan menu yang sama dan kamu merasa takut sekaligus sedih. Mereka semua orang yang berbeda dan tidak pernah memesan menu yang sama. Parahnya, tadi kamu duduk didepan customer dan mulai panik."
"Regan?"
"Semua sudah berlalu, sudah 8 tahun. tolong ikhlaskan Regan". Aku memandang nara heran.
"Tidak apa-apa. Tidak mudah melupakan trauma. Tapi biarkan dia beristirahat beberapa waktu di sini. Dia akan lebih nyaman berada di rumah". Ucap dokter itu.
Oh, aku mungkin melakukan hal yang konyol, menurut percakapan mereka.
"Apa aku berhalusinasi lagi?" Aku tahu jawabanya. Nara mengangguk, aku tersenyum, tapi bahkan aku bisa merasakan senyum ku rasanya pahit di tenggorokanku.
"Aku ngerti. Aku akan tinggal di sini sama dokter Mia sementara. Aku nggak mau jadi gila lebih lama juga, kan?"
Terakhir Nara memeluk ku dan menangis di bahuku.
Yah. aku memang sudah merepotkanmu 8 tahun ini. Kurasa ini saatnya aku berhenti.
Maaf, Regan. ameskipun aku bersalah padamu. Aku juga tidak ingin bersalah kepada Nara saat ini. Terimakasih untuk hidup yang sudah kamu hadiahkan 8 tahun lalu.
Boleh aku mengenangmu dengan senyuman sekarang?
Ah, aku melihat regan di sudut ruangan, tersenyum, lalu dia menghilang.
end