Seorang pria terburu-buru berjalan menyusuri koridor rumah sakit. Matanya memerah menahan gejolak kesedihan yang mendalam dirasakannya saat ini. Sesekali ia mengadahkan kepalanya agar air matanya tidak terjatuh.
Langkahnya terhenti tepat didepan ruangan yang bertuliskan Unit Gawat Darurat. Seorang dokter tampak berbincang dengan pasangan paruh baya yang ada disana, mendiagnosa bahwa wanita yang terbaring didalam sana hanya kemungkinan 10 persen untuk bertahan hidup.
Pria itu melangkahkan kakinya dengan gontai. Sesaat kemudian, tubuhnya pun luruh ke lantai. Lututnya terasa lemas, tak bisa menopang tubuhnya. Ucapan dokter yang baru saja tertangkap oleh indera pendengarannya, membuat pria itu tak mampu menahan kesedihannya. Ia menumpahkan semua air matanya saat itu juga. Menangis tersedu bak anak kecil yang kehilangan mainannya.
"Bangun nak Riko, jangan seperti ini. Kita do'akan Dinanti supaya cepat melewati masa kritisnya" ucap wanita paruh baya yang merupakan ibu dari wanita yang sedang terbaring disana.
"Ini semua salahku bu. Jika saja aku tidak membiarkannya sendirian disana, tentunya ia akan aman bersamaku" ucap pria yang diketahui namanya Riko itu dengan lirih.
"Ini bukan salahmu nak, ini sudah kehendak Tuhan" ujar wanita yang berusaha keras untuk tetap tegar.
Riko pun mengalihkan pandangannya pada pria paruh baya yang tengah duduk dikursi tunggu. Sesekali ia menyeka air matanya yang tertumpah melihat putrinya terbaring lemah diruangan UGD.
Dengan sekuat tenaga, Riko bangkit dari tempatnya. Ia pun mencoba mendekati ruangan tersebut hingga terhenti tepat didepan pintu, kemudian berbalik menatap kedua pasangan paruh baya tadi.
"Bu.. apakah aku boleh menghampirinya?" tanya Riko.
Wanita itu menimpalinya dengan sebuah anggukan sebagai tanda mempersilahkan. Selangkah demi selangkah Riko memasuki ruangan itu, menghampiri wanita yang telah mengisi relung hatinya selama 3 tahun terakhir.
Hatinya hancur melihat wanitanya terbaring lemah dan beberapa alat medis yang membantu menopang hidupnya, serta perban yang terbalut dibagian tengkorak kepalanya.
Riko mengambil posisi, duduk dikursi yang berada disisi ranjang. Ia pun meraih tangan yang tertancap selang infus dan menggenggamnya perlahan.
"Maafkan aku Dinanti" gumamnya sembari menciumi tangan tersebut disela tangisnya.
.....
Flashback On:
1 Hari sebelum insiden kecelakaan
"Sayang, telepon aku jika kau senggang" ujar Dinanti yang mengirim kotak suara.
Ia pun melajukan mobilnya dan kemudian memutar radio yang ada didalam mobil tersebut.
Dinanti memberhentikan mobilnya tepat didepan sebuah gedung. Ia pun mengecek secara langsung dekorasi yang dibuat oleh WO yang disewanya. Ia ingin hari bahagianya nanti terlihat sempurna.
"Kamu datang sendirian? mana calon suamimu?" tanya Selfie yang menjalankan WO yang dipakai oleh Dinanti, dan tidak lain adalah kakak kelasnya pada masa putih abu-abu.
"Dia sibuk bekerja" bisik Dinanti seraya mengulas senyumnya.
"Setidaknya dia juga harus memperhatikan untuk resepsi kalian kelak, aku perhatikan hanya kamu yang terlalu sibuk untuk segala persiapan. Apalagi acaranya akan diadakan lusa" tutur Selfie.
"Namanya juga seorang pengacara kak, sidang harus tetap berjalan sesuai jadwal" ujar Dinanti.
Selfie pun hanya menganggukkan kepalanya.
Seusai mengecek segala persiapan, Dinanti pun kembali memasuki mobilnya. Dilihatnya ponselnya yang belum menunjukkan pesan ataupun panggilan dari lelaki yang sebentar lagi akan menjadi suaminya.
"Kamu sibuk sekali akhir-akhir ini" gumam Dinanti sembari mengusap layar ponsel dengan walpaper memperlihatkan dirinya dan pria yang dicintainya.
Ia pun melajukan mobilnya menuju ke rumahnya. Setelah dirasa cukup untuk pengecekan hari ini.
....
14 jam sebelum insiden kecelakaan
Drrttt...
Ponsel Dinanti bergetar, rasa kantuk yang menyerangnya seketika menghilang saat melihat siapa yang meneleponnya.
"Halo sayang.." ucap suara bass milik pria yang dicintainya.
"Iya halo" sahut Dinanti.
"Kamu belum tidur?" tanya Riko.
"Belum" ujar Dinanti berbohong.
"Maaf karena aku melimpahkan semua persiapannya ke kamu. Besok kalau urusanku cepat selesai, aku akan segera menemuimu" ucap Riko.
"Baiklah, aku menunggumu" sahut Dinanti dengan antusiasnya.
"Ya sudah, kalau begitu sampai jumpa besok sayang. Aku sangat mengantuk, kamu juga tidur ya" ucap Riko yang sedikit serak.
"Iya" sahut Dinanti singkat.
"Sayang tunggu.." ucap Dinanti tiba-tiba
"Iya ada apa?"
"Aku sangat mencintaimu" ujar Dinanti.
Ditempat lain Riko mengerutkan keningnya mendengar ucapan cinta dari Dinanti. Biasanya wanita itu enggan dengan pengucapan setidaknya dibuktikan dengan sebuah tindakan. Namun malam ini, kalimat tersebut lolos dari bibir wanita itu.
"Aku juga mencintaimu sayang, kemarin, sekarang dan selamanya.." sahut Riko.
....
1 jam sebelum insiden kecelakaan
Pagi ini Dinanti sangat kesal karena mobilnya tiba-tiba saja mogok di tengah perjalanan. Beberapa kali Dinanti mencoba menelepon Riko, namun tak ada jawaban dari pria itu.
Setelah beberapa lama kemudian, ia merogoh ponselnya didalam tas dan kembali menghubungi calon suaminya itu. Dipanggilan ke 17, baru pria itu mengangkat teleponnya.
"Ada apa sayang, aku sedang ada meeting dengan klien" ucap Riko dengan nada tergesa-gesa.
"Sayang, mobilku mogok. Aku udah berapa kali telepon dibengkel langgananku tapi nggak ada respon. Kamu bisa nggak kesini sebentar?" tanya Dinanti.
"Sepertinya tidak bisa sayang. Jadwalku hari ini benar-benar padat, karena besok aku libur dan semua jadwal untuk besok langsung ku kerjakan hari ini" ucap Riko dari seberang telepon.
"Nanti aku kirim nomor bengkel langananku. Mereka standby 24 jam" ujar Riko yang kemudian memutuskan sambungan teleponnya.
Dinanti menghembuskan nafasnya dengan kasar sembari menunggu nomor yang dikirimkan oleh Riko melalui pesan singkat.
Belum lama kemudian notifikasi pesan berbunyi, pengirim pesan tersebut yang tidak lain adalah Riko. Dinanti pun langsung menyalin nomor tersebut dan menekan tombol dial. Baru saja ia menempelkan ponselnya ke telinganya, tiba-tiba saja sebuah truk mendekat melenceng dari jalurnya menghantam sisi mobilnya dan..
BRAKKK..
Kecelakaan pun tak terelakkan. ponsel Dinanti langsung terlepas dari genggamannya. Darah segar pun mengucur dari kepala dan hidungnya.
Flashback Off
.......
Pagi ini semua orang didalam ruangan UGD menangis tersedu saat mengikhlaskan kepergian Dinanti. Sudah satu bulan lamanya Dinanti mengalami koma, dan hari ini dokter melepas alat medis yang membantu menopang hidup Dinanti.
Dan kedua orang tuanya telah ikhlas melepas Dinanti pergi, dibandingkan melihatnya menderita dengan terbaring lemah seperti itu.
Riko yang kini terlihat sedikit acak-acakan, dengan jambang yang mulai tumbuh tak dicukur, serta rambut yang mulai memanjang. Hanya melihat kepergian Dinanti dengan tangis. Bibirnya bergetar diiringi air mata yang jatuh dari pelupuk matanya.
.....
Setelah prosesi pemakaman selesai, satu persatu dari mereka meninggalkan tempat tersebut. Yang tersisa hanya Riko dan kedua orang tua Dinanti yang berada disana.
Riko mengusap makam yang bertuliskan nama Dinanti Putri dengan perasaan hancur. Penyesalan akan sebuah waktu yang ia sia-siakan bersama Dinanti, wanita yang luar biasa sabar.
Andai jika waktu itu ia tetap berada disisi Dinanti, Andai waktu itu ia ada saat Dinanti membutuhkannya. Mungkin ia tidak akan terjebak dalam sebuah penyesalan yang begitu dalam. Penyesalan untuk waktu yang terbuang percuma, bersama dengan wanita yang luar biasa, namun kini hanya tinggal sebuah nama.
-TAMAT-