Sejak kasus 27A Courten Hills, pemerintah kota Cranberry menetapakan peraturan baru bahwa setiap orang tua wajib mengantar dan menjemput anak mereka.
"Kasus itu membuat gempar seluruh kota" ujar Jennie sambil menghabiskan hamburgernya.
"Kasus itu dibuka sampai lima belas tahun ke depan" ujar Kimberly membenarkan ucapan Jennie.
"Flaviana Matthew, perempuan konyol itu berani menembaki kepalanya di saat semua orang sibuk mencari pelakunya" Jennie mengumpat kasar.
Perempuan konyol yang dimaksud Jennie adalah salah satu petugas unit Informasi Kriminal. Dua anak di 27A Courten Hills menghilang saat dirinya bertugas. Empat puluh delapan jam kemudian seseorang mengirim kaki-kaki mereka ke kantor polisi.
"Cepat selesaikan makanmu, sepuluh menit lagi pergantian shift" Kimberly mengingatkan Jennie yang tampak melamun.
Selesai makan, Jennie dan Kimberly meninggalkan pantry dan menuju unit informasi kriminal.
"Kalian terlambat dua menit. Ada beberapa berkas yang harus kalian selesaikan sebelum besok pagi. Selamat bertugas"
Jennie memutar matanya bosan.
Tyler Dean, pria yang berdiri di hadapan mereka adalah tipe pria tepat waktu. Dia tidak mentolerir keterlambatan untuk alasan apapun.
"F**k you" umpat Jennie tanpa suara saat Dean melewati mereka.
Sepanjang malam Jennie dan Kimberly menghabiskan waktu untuk menyusun berkas yang dimaksud Dean. Isi berkas itu kasus pembunuhan berantai yang terjadi beberapa tahun lalu.
Pelakunya pasti telah tertangkap dan berkas ini sebagai bukti di pengadilan, batin Jennie.
Jennie melihat foto tempat kejadian perkara dan korban pembunuhan. Mayat yang ditemukan tampak aneh. Lokasi dan tempatnya sangat random, di beberapa daerah yang sangat berjauhan.
Korban-korban pembunuhan itu tidak memiliki identitas. Wajah mereka tidak di kenali, usia mereka diperkirakan antara 15-29 tahun. Tidak ada jejak pembunuhan yang tertinggal di lokasi kejadian.
"Jezzz" Jennie menampakan ekspresi jijik saat foto kelamin korban tercecer di antara bukti lainnya. Objek dalam foto itu tampak hancur tidak berbentuk.
"Bajingan ini pantas mati" Jennie berujar sambil mengumpulkan bukti tersebut.
"Ini pembunuhan tingkat empat. Pelakunya psikopat yang kemungkinan punya dendam atau fetish terhadap korban" Kimberly membantu Jennie merapikan bukti tersebut.
"Perhatikan foto-foto mereka. Wajah mereka hancur kemungkinan pelaku memilih korban yang memiliki wajah cantik atau mirip seseorang"
"Semua label pakaian mereka telah di cabut" Kimberly menunjukan foto kerah baju korban yang terdapat bekas jahitan label.
"Korban berasal dari keluarga kelas menengah ke atas"
"Oh ayolah, semua orang bisa membeli baju berlabel di manapun" ujar Jennie menyanggah penjelasan Kimberly.
"Tidak. Kau lupa ini Cranberry. Semua pakaian yang dijual di tempat pakaian bekas, telah di cabut labelnya dan dijahit ulang dengan rapi"
Jennie terdiam. Penjelasan Kimberly masuk akal. Hanya keluarga kelas menengah ke atas yang mampu membeli baju berlabel.
"Bagaimana dengan lokasi korban?"
"Pelaku kemungkinan orang yang sering mengunjungi daerah korban atau pernah dikunjungi oleh korban"
"Bagaiman mungkin korban mengunjungi pelaku. Tidak ada bukti bahwa mereka memiliki hubungan?"
"Pertanyaan bagus. Pelaku kemungkinan bekerja di bagian layanan masyarakat"
Jennie terbahak mendengar penjelasan Kimberly.
"Apa kau benar seorang polisi? semua analisismu tidak mendasar" Jennie mengejek Kimberly
"Hey! jangan katakan hasil analisismu. Orang-orang bisa tertawa mendengar penjelasanmu." ujar Jennie sambil menyimpan semua berkas yang telah ditata untuk di bawa besok.
"Hoamm" Jennie menguap sambil merentangkan tangannya. Shiftnya telah berakhir namun si brengsek Dean meminta dirinya dan Kimberly membawa berkas tersebut ke pengadilan kota.
"Aku tidak sanggup menyetir" ujar Jennie menyerahkan kunci mobil pada Kimberly.
"Serahkan saja padaku" Kimbetly meraih kunci mobil dan menyetir menuju pengadilan kota.
"Kita sudah sampai. Bantu aku membawa berkasnya"
Mereka membawa berkasnya menuju nomor ruangan yang tertulis pada box berkas itu.
"Selesai. Aku akan mengantarmu pulang"
Sesampainya di rumah Jennie langsung tidur tanpa mengganti seragam dinasnya.
"Kringggg" bunyi berisik itu membangunkan Jennie dari tidurnya.
"What the hell is going on! who are you?" Jennie sontak berteriak saat seseorang yang mengenakan topeng menatap wajahnya. Jarak mereka sangat dekat.
"Kau tau aku seorang Polisi! Rekan sekantorku akan datang mencariku!"
Orang itu hanya diam menatap Jennie yang mulai kehilangan kendali.
"Tolong, seseorang tolong aku!!"
Jennie menyadari tidak ada gunanya dirinya berteriak. Ruangan tempat dirinya di sekap kedap suara, dan kemungkinan berada di ruang bawah tanah.
Jennie mengguncang-guncangkan tubuhnya. Tangan dan kakinya terikat erat.
Orang itu kembali mendekat sambil mengeluarkan sebilah belati. Dia mulai merobek ujung celana yang dipakai Jennie.
"Hentikan brengsek!!! kau tidak akan lolos. Pasal berlapis untukmu. Memasuki rumah orang tanpa izin, menculik dan menyembunyikan orang, penyekapan, sexual harassment, kau akan dipenjara seumur hidup"
Jennie terus mengoceh.
Orang itu terus merobek celananya dan kemudian melucuti celana tersebut.
"Hentikan, apa yang kau lakukan!!" Jennie terus berteriak.
Kali ini orang itu merobek bajunya. Yang tersisa hanya pakaian dalamnya dan kaus kaki yang dikenakannya. Sepatunya entah kemana.
Orang itu membawa sebotol cairan dan perlahan lahan menumpahkan cairan itu di atas kepalanya.
Jennie berteriak kesakitan. Kulit kepalanya melepuh. Dia kembali menuangkan cairan tersebut ke arah lengan Jennie.
Jennie berteriak pilu. Lengannya meleleh seolah dipanggang. Orang itu kembali menuangkan cairan. Kali ini dia menuangkan air dingin diatas luka tersebut.
Rasa nyeri menjalari sepanjang lengan Jennie. Jennie kembali berteriak.
Orang itu membiarkan Jennie mengatur nafasnya sebentar kemudian melanjutkan aksinya. Dia menarik salah satu tangan Jennie kasar dan mulai menggoreskan belatinya di telapak tanggan Jennie.
Jennie kembali menggerang saat belati itu menyayat kulit telapak tangannya yang tipis. Semakin dalam belati itu ditekan, semakin banyak darah yang keluar.
Orang itu menikmati pemandangan yang ada di hadapannya. Dia menendang Jennie hingga tersungkur. Dia melepaskan ikat pinggangnya dan mulai mencambuki Jennie dengan ikat pinggang itu di bagian punggung, paha dan betisnya.
Nafas Jennie tersenggal-senggal. Suaranya mulai melemah. Kepalanya semakin pusing karena darah yang terus mengucur.
Detik berikutnya orang itu menginjak kepalamya dengan keras. Krekk, hidungnya patah. Jennie bahkan tidak sanggup mencium bau darah bercampur debu yang keluar dari hidungnnya.
Sebelum pandangannya menggelap, sesuatu menimpa kepalanya keras.
"Hey Kim, apa kau melihat Jennie?" Wiona menghampiri Kimberly yang baru saja menyelesaikan shift paginya.
"Tidak. Jennie tidak datang setelah shift malam pertama kami" Ujar Kimberly.
"Nomornya tidak bisa dihubungi. Kami mengeledah rumahnya. Tidak ada petunjuk apapun di sana. Apa dia punya masalah pribadi atau masalah di kantor?"
"Tidak. Dia tidak pernah cerita apapun"
"Baiklah. Hubungi aku kalau kau mendapat kabar dari Jennie".
Wiona meninggalkan Kimberly yang bersiap untuk pulang.
Kimberly sedang bersantai di rumahnya saat sekilas info mengabarkan berita yang mengejutkan
"Selamat sore pemirsa jumpa lagi dengan saya Artemis, dalam sekilas info siang.
Warga Cranberry baru saja digegerkan dengan penemuan mayat di danau Courten Hills.
Mayat tersebut ditemukan warga, sekitar pukul satu siang tadi dan telah dibawah ke rumah sakit setempat untuk dilakukan pemeriksaan lebih lanjut.
Mayat yang tidak diketahui identitasnya itu, ditemukan dalam keadaan membusuk dan rusak parah. Hasil pemeriksaan sementara, korban telah meninggal lebih dari dua puluh empat jam, sidik jarinya telah rusak sehingga meyulitkan proses identifikasi.
Demikian sekilas info siang selamat beraktivitas".
"Apa kau lihat mayatnya?" Dean memeluk Kimberly.
"Ya, mayat itu tampak menyedihkan"
"Tidak ada yang akan menyadari itu"
"Jennie Yoon pergilah ke neraka!".
Kimberly dan Dean saling berpelukan, merayakan keberhasilan mereka.