Siapa bilang hantu tidak bernafsu? Rasakan sorot mata itu sekarang. Maka kau akan tahu.
Judul : Ghost Desire
Genre : Horor, Romantis, Supranatural.
Penulis : Sya Yunjie
(12/05/21)
.
Indigo, atau kelainan jiwa yang minta diruqyah. Begitu dunia ini memandangku. Terkadang dikata tukang halu, pencari sensasi bahkan kutukan dukun. Padahal sudah aku bilang berkali-kali bahwa kemampuan ini memang diluar kuasaku.
Namun siapa juga yang percaya ucapan remaja laki usia tujuh belas?
Aku tahu yang aku lihat adalah nyata. Bukan skizofrenia seperti ucapan psikiater. Dua bulan lalu bahkan aku sempat beradu debat dengan cece psikiater suruhan mama. Naas, berakhir pecah wanita cantik itu menangis di pangkuanku. Saat kukatakan, bahwa ibunya yang sudah meninggal minta dimakamkan, bukan dibekukan.
Sekarang, aku telah berdamai dengan kutukan yang berkamuflase sebagai kelebihan ini. Bisa melihat mereka menjadi hal biasa. Tidak lagi menganggu pikiran ketika bertemu hal-hal seram seperti hantu atau arwah gentayangan.
Malah, aku mulai mencintai salah satu makhluk ghaib itu tanpa alasan.
"Val?" Makhluk itu memanggil. Coba menggenggam tanganku yang tengah sibuk menari di atas kanvas. Sepucuk hangat, selebihnya hanya dingin nan tembus.
"Kamu jangan banyak bergerak. Aku masih melukismu disini." Senyumku tipis menatap mata binar biru dihadapan. "Ini untuk yang terakhir kali kan, jadi harus perfect."
Sudah berulang kali mama mengundang psikiater karena memang, aku terlihat mengoceh sendiri. Bagaimana tidak sebal, mama itu sok tahu! Aku sebenarnya sedang mengobrol dengan Dia.
Dia, si hantu menawan yang tidak pernah mau memberitahu namanya. Berperawakan ramping dengan tinggi sepantaran denganku. Auranya bersih, bercahaya seolah suci. Berbeda dengan hantu lain yang terkadang menjijikkan, dia begitu menawan.
Mendengar jawabanku, dia tersenyum memperlihatkan lesung pipi. Perasaan kami seolah terhubung melintasi portal dua dunia yang berlapis. Menghantarkan sengat hangat pada tubuhku, pun aku harap padanya juga.
"Aku senang kamu memutuskan ikut bersamaku Val. Mungkin akan berat bagimu, tapi percayalah, mati tidak semenakutkan itu."
Haha— memang aku sadar bumi adalah dunia paling kejam. Lihatlah Dia, begitu damai walau bergentayangan seperti ini, kan?
"Aku selalu percaya padamu. Hanya kamu temanku di dunia ini, maka kemana lagi aku akan lari kalau tidak bersamamu, Tuan Hantu?"
Ayolah, aku tidak kuat ingin memeluknya erat-erat. Bukan hanya udara kosong seperti ini, aku ingin bersentuhan dengannya.
Maka bisikan lembut di telingaku itu seakan menjadi penolong.
"Aku menyukaimu," katanya. Dan pelukan pada tubuhnya yang tembus semakin kupererat. Walau masih, hanya udara kosong.
Yang mungkin akan membuat kalian sedikit mengernyit, adalah perawakan Dia yang sebenarnya seorang lelaki. Sama sepertiku. Berpakaian putih bersih seperti bidadara.
Tunggu, ini bukan penyimpanan seksual atau apa. Hanya seperti air perasaanku mengalir padanya. Entah hantu memiliki gender atau tidak, yang aku tahu aku mencintainya.
"Selesai." Aku membalikkan kanvas besar ukuran 100×70 cm. Memaparkan dengan gamblang hasil lukisan tentang kita. Ada sosokku yang tengah tenggelam dihisap kegelapan. Sedangkan Dia, ada di sudut yang terang memancar. Lengan saling menjulur, jemari kami bertautan merasai masing-masing. Hingga di titik tangan yang saling berjumpa, terukir Indah galaksi abstrak yang seakan bergejolak. Seperti perasaan kami.
"Woah … amazing Val! Aku sangat yakin lukisanmu ini akan ditawar mahal oleh kolektor seni."
Aku berbangga diri. "Tidak ada harga yang sepadan. Lukisan ini hanya untukmu."
Lihatlah senyum yang mengembang terang ketika lukisan yang aku buat sudah jadi. Dia melontarkan pujian atas betapa kerennya lukisanku, atau juga memuji betapa tampannya aku menggambar Dia dengan kuas.
Aku pun tersenyum puas. Setelah sedetik kemudian ia memanduku agar bersiap diri. Baiklah, aku selalu siap untuknya.
Beranjak dari kamar meninggalkan lukisan dimakan sunyi. Benar, gambarku pasti akan ditawar mahal. "Pelukisnya dikabarkan bunuh diri setelah menyelesaikan lukisan tersebut", begitu kira-kira rumor yang akan melejit.
Namun ketika hendak mengikuti langkah Dia sampai depan pintu. Aku mendapati aura gelap makhluk lain yang memanggil. Saat ku tengok, ia adalah "penjaga" rumah ini. Yang terlihat tak pernah bergeming bahkan ketika bencana datang. Sekarang, kenapa dia rela-rela berjalan ke arahku?
"Ya?" aku coba berinteraksi. Dengan berbisik karena takut mama bangun.
"Nak, salah. Kau kembalilah." Makhluk tinggi berkulit gosong itu memasang mimik paling khawatir. Tali yang melingkar di lehernya membuat tubuhku merasakan getaran takut. Ia masih memaksa. "Pulang! Yang kau cari tidak ada di sana! Kau tidak akan menemukan keinginanmu di sana!"
Setengah takut, aku tersenyum dengan perasaan paling tulus. Berpaling menatap Dia, yang juga tengah menatapku di bawah gumpalan malam.
"Maaf tapi memang tidak ada hal lain yang aku cari Tuan Penjaga. Hanya Dia."
Langkah kembali berpijak. Aku benar-benar keluar rumah mengikuti arahan Dia. Membuka pagar besi diam-diam, keluar lalu menutupnya kembali.
Mama? Kuharap dia baik-baik saja setelah aku mati. Setidaknya ia tidak lagi susah-susah memarahi anaknya yang suka bicara sendiri. Atau mahal-mahal membelikan obat sakit jiwa.
Aku merasa bebas di bawah gemerlap bintang. Berlari merasakan hembus angin malam yang menusuk. Entah kemana arahnya terserah, aku hanya mengikuti langkah Dia, hantu yang sangat terang seperti lentera.
"Vale, kamu kuat berlari?" senyumnya menggapai mata. Menengok arahku tajam.
"Manusia tidak selemah itu ya." Aku tertawa jenaka. "Kalau aku tidak sanggup lari pun, kamu tidak mungkin bisa menggendongku."
"Sebentar lagi bisa."
"Jauh?"
Ia menggeleng kepala. "Tidak, hanya diujung perempatan itu. Menurutku di sana yang paling singkat rasa sakitnya."
Ah sebuah rel kereta api ternyata. Ini gila … aku begitu bersemangat untuk mati. Melihat binar matanya benar-benar membuatku yakin. Kebebasan ada di ujung perempatan itu. Sedikit lagi.
"Kereta mungkin masih lama Val. Kamu ingin aku melakukan apa, untukmu?"
Aku berdiri tepat di tengah rel kereta. Menengadah untuk melihat Bintang yang seperti ditabur.
Langit memang cantik, namun dirinya, lebih indah. Santai aku berpaling untuk bisa menatapnya. "Jangan lakukan apa-apa. Aku hanya ingin melihat netramu seperti ini." Walau lama-lama aku sendiri yang salah tingkah. Haha.
"Em … aku juga ingin bertanya beberapa hal." Pintaku akhirnya memutus kontak mata.
Dia mengangguk. Masih dengan lesung pipi menghias. "Tanya apapun Val."
"Tuan Hantu, apa kamu bahagia?"
"Ah … apa maksudmu bertanya begitu?" Dia merebahkan diri di atas besi lintasan kereta. "Jadi Val, tidak tahu ini bahagia atau tidak, yang pasti rasanya sangat bebas. Hidupku dahulu serupa denganmu. Keluarga pecah, terbully sosial, bahkan pertamanan tak ada yang berhasil, semuanya kacau kan Val? Aku paham bagaimana rasanya menahan tangis di kamar mandi. Just fucking hurt."
Dia menyentuh pipiku yang tiba-tiba basah. Entah karena air mata atau hujan yang tiba-tiba turun. Padahal Bintang tengah gencar bersinar.
Aku bergerak meringkuk di atas rel dingin. Coba merasakan bagaimana tangan tembus itu menyentuhku. Per*setan kalau sekarang rupaku aneh dimata orang. Hanya terlihat bernafsu seolah ingin mencabuli tanah.
"Setelah ayah membunuhku, aku mati dan bebas. Senang tiada tara. Namun ketika melihat punggung anak seusiaku ini juga bergetar setiap malam, aku kembali sesak Val. Aku ingin kamu juga bebas."
Aku bernafas berat. Terisak menatap sosok yang memelukku erat. Akhirnya seseorang dapat menerima. Akhirnya ada yang mengerti. Maka jangan salahkan aku jika mencintainya. Karena hanya dia satu-satunya.
Walau tidak mendengar detak jantung, aku merasakan ketenangan luar biasa dari Dia. Sentuhan dingin yang anehnya menyengat panas. Aku terpejam erat.
"Kenapa kamu begitu terang? Hantu lain menakutkan, tapi kamu—"
Dia terkekeh menawan. "Karena aku golongan makhluk yang turun ke dunia lantaran ingin. Aku kemari hanya untuk bertemu denganmu."
"Kenapa begitu?"
"Vale, kamu bisa melakukan apapun setelah mati. Kebahagiaan ini seolah menjadi bayaran karena takdir dunia sudah begitu kejam."
Suaraku parau terdengar sayup ditimpa hujan. "Jujur aku takut."
Besi berderit sengau ketika aku bergerak menyamankan diri. Meringkuk lebih dalam menuju dekapan paling hangat. Yang lucunya— adalah milik seorang hantu.
Kekehan darinya masih terdengar ringan. "Wajar. Takut masih manusiawi selama kamu menjadi manusia. Haha … sakitnya hanya sebentar kok."
Setelah itu, hanya ada suara isakanku dan rintik-rintik hujan. Hening.
Dia terdiam cukup lama. Pun karena tetap terpejam, aku tidak tahu apa yang Dia lakukan. Hingga bibirku tiba-tiba terasa sangat panas. Berdesir aneh sampai ujung kaki. Ah gawat … tubuhku mungkin dianggap sakit karena gerah dibawah hujan.
"Aku mencintaimu Val."
Membuka mata, aku menatap Netra itu yang hanya berjarak sejengkal. Walau semu, bisa terlihat jelas kobaran menyala di matanya. Sadar, hantu juga memiliki gairah yang sama seperti manusia.
Aku meringkuk semakin kuat. Merasai besi di bawahku sudah mulai bergetar. Dari pelan berangsur hebat. Lampu sorot begitu terang menusuk kedua mataku hingga putih.
Senyap, teriakanku dahsyat dalam hati. Aku takut. Saat detik terakhir, aku benar-benar merasa kacau. Sungguh takut jika besi kokoh itu menggilas tubuhku hingga remuk.
Namun mata itu, biru jernih. Kembali lagi membuat yakin.
Aku menggenggam rel besi berkarat hingga kuku terlepas, mendengar klakson kereta yang memekik panjang. Suara itu, sangat dekat. Aku menggigil ketakutan.
Namun sekali lagi, makhluk di sampingku berbisik. Membuat semuanya seolah senyap. "Tenang Val. Aku tidak akan melepaskan pelukan hingga kita benar-benar bisa bersentuhan."
Dia gila. Tidak ada satu detik setelah ucapan itu selesai. Tubuhku merasakan sakit luar biasa. Remuk hingga tulang rusuk paling pangkal. Aku menjerit sekuat tenaga, tidak ada suara yang keluar. Hanya kental anyir yang terus membuncah.
Tubuh bisu, berangsur tuli, kemudian mati rasa. Rasa sakit paling dahsyat berhenti dalam sekejap.
Sudah berakhir urusanku di dunia ini. Aku sendiri yang mengakhirinya. Hingga di akhir sisa tenaga untuk otak bekerja, aku baru ingat tentang dosa besar jika mengakhiri hidup.
Gelap gulita. Maka lambat laun sentuhan sosok lelaki di sampingku terasa. Hangat. Atau panas tepatnya. Panas. Sesuatu membakar jiwaku yang tengah melayang.
Gawat. Dia, tidak ada disini. Ini bukan sentuhan darinya. Aku menjerit kesakitan saat sesuatu benar-benar membakar tubuhku.
Aroma terbakar. Iya aku ingat bau itu sama persis ketika mama lupa mematikan kompor.
Juga warna kulitku yang berangsur gelap. Persis seperti Hantu penunggu rumah yang terlihat mati gantung diri. Menjijikkan, dia masih terikat di dunia.
Lalu Tuan Hantu tampan? Kemana Dia?
Ini bukan cahaya terang tempat dia berlabuh seperti di lukisan. Namun ini merah, bodoh aku lupa melukis warna itu di kanvas.
Ah ya jelas … itu juga karena aku lupa bertanya satu hal padanya.
Tuan Hantu, apakah surga dan neraka itu nyata?
.
.
Catatan Penulis :
Yaaa satu kata aja buat kalian berdua, GObloK!