Aku mengenal Karin sejak SMP, aku begitu mengagumi nya bahkan rasa kagum itu berubah menjadi perasaan ingin memiliki.
Kami sudah saling mengenal satu sama lain, aku dan Karin saling mencuri pandang sejak SMP. Entah aku yang tidak berani atau memang aku tidak punya nyali, aku tidak pernah mencoba untuk menyapanya.
Aku hanya mencintai nya dalam diam, Karin termasuk murid teladan, banyak laki-laki yang ingin mendapatkan perhatian darinya. Apalah dayaku yang hanya menahan rasa khawatir saat Karin di dekati oleh kakak kelasku, Saat ini aku duduk di bangku sekolah menengah kejuruan. Aku kelas sebelas, Karin dan aku berbeda jurusan namun kelasnya tepat di sebelah kelasku. Karin semakin hari semakin cantik, keanggunannya Membuat ku melayang.
**
Suatu ketika aku berjalan sendirian menuju kantin, aku berpapasan dengannya. Ia menunduk malu saat melihat ku. Aku hanya menahan gugup , mencoba untuk bersikap santai. Saat kami hendak saling melewati,. tiba-tiba Karin tersandung dan aku dengan cepat menarik tangannya. Tanpa sengaja kami saling berpelukan dengan nafas yang sangat berat, aku melihat Karin terpejam. Wajah cantik nan putih sedang ada di hadapanku sangat dekat dengan pipi merona.
Aku hanya tersenyum dan Karin berjalan dengan terburu-buru meninggalkan ku, aku bersandar di tembok memegang dadaku dengan detak jantung yang tidak beraturan.
Aku tidak pernah menyapanya , sekali menyapa dengan situasi yang membuat sekujur tubuhku menegang.
"Oh tuhan, kapan aku berani mendekatinya dengan terang-terangan ?". Ucapku dalam hati.
Saat sampai di kantin aku duduk di salah satu bangku kosong dengan teman-teman sekelasku.
"Gas, Lo kenapa ? muka loe tegang amat! ucap Rendi teman sebangku ku.
Aku mengusap wajahku cepat dan menggeleng keras.
"Habis ketemu setan loe ya ?". Ucap Karolin wanita paling rese di dalam kelas.
"Apaan sih loe , gue tadi lari ke sini makanya tegang deh muka gue". Tentu saja jawaban Bagas berbohong pada teman-teman nya.
**
Saat pulang sekolah Bagas dan Rendi mengobrol berdua di dalam kelas.
"Gas, tadi loe kenapa ? Pasti ada apa-apa kan ? Rendi bertanya sekali lagi.
Bagas terdiam dan bercerita semuanya, Rendi adalah salah satu teman yang bisa di percaya menjaga rahasia nya. Termasuk Rendi yang selalu cerita dengan Bagas.
"Coba deketin aja gas, sepertinya Karin juga sebenarnya sedang menunggu loe untuk memulai jalan tuh!". Terang Rendi memberi solusi.
"Tapi, gue gak pede ren. Karin terlalu perfeksionis".
"Aaaahhh loe terlalu insecure , loe laki men harus pede! bahkan adik kelas aja banyak yang ngefans sama loe, loe nya aja yang cuek bebek". Rendi menegaskan.
Cukup lama Bagas berfikir, akhirnya ia mengangguk kan kepala nya. Sebuah senyuman lebar tercipta di bibir Rendi.
"Gue bakalan bantu loe, tenang aja!".
**
Di hari berikutnya ada salah satu adik kelas yang sangat dingin dengan Bagas, namun Bagas tidak peduli. Gadis itu sedikit tomboi namun wajah cantiknya lebih menonjolkan dirinya .
Gadis itu bernama Tania. Ia sering menjadi bahan godaan kakak kelas, termasuk gerombolan kelas 12. Saat Tania hendak ke kantin ia selalu di hadang oleh ketua geng kelas 12 bernama Marko. Marko adalah salah satu laki-laki tertampan di kelas 12, banyak juga yang ingin mendapatkan perhatian darinya terkecuali gadis dingin bernama Tania.
"Hallo Dek". Ucap Marko menyapa.
"Aku Tania kak, bukan dede-dede!". Tania pergi begitu saja.
Seketika gelak tawa dari gerombolan Marko terdengar keseluruh penjuru kelas, Marko hanya menggeleng pasrah. Bahkan adik kelas mereka pun ikut tertawa.
Gadis yang menjadi incarannya selama dua bulan tidak dapat ia luluhkan sama sekali, bahkan gerombolan Marko sempat menebak kalau Tania mungkin tidak menyukai laki-laki.
"Tania!". Sapa ratu teman sekelasnya.
"Kenapa rat ?".
"Mau kemana ?".
"Kantin, mau ikut gak ? Sasa sama sisi sudah disana sedari tadi". Sasa dan sisi adalah saudara kembar.
"Oohh yukkk".
Mereka berdua menuju kantin bersama.
**
"Gila ya, Tania cantik banget, imut, manis, Masha Allah banget cipataan Allah tuh". Ucap Ubay teman sekelas Bagas dan Rendi.
Bagas dan Rendi menoleh dan melihat Tania yang sedang menikmati santapannya.
Saat Tania tersadar ada mata yang memperhatikan nya, ia pun menoleh dan Rendi tersenyum manis. Namun Tania hanya memasang wajah datar dan terus melanjutkan santapannya.
"Cantik sih, tapi sombong". Ucap Rendi kecewa.
"Dia emang gitu kalau sama orang yang dia gak kenal ren, Kalau sudah kenal ya elah bawel kayak cewek kebanyakan. anaknya juga asyik banget, seru, gak jaim, gak kayak....* Ubay menggantungkan ucapannya.
"Gak kayak siapa ?". Ucap Bagas penasaran.
"Hehehee". bukannya menjawab justru Ubay tertawa. Namun Bagas mengerti maksud Ubay.
"Karin mah beda lah jangan samain sama Tania, beda jauh! Karin tuh bukan jaim, tapi dia itu punya sifat yang pemalu, cewek banget dah pokoknya". Ucap Bagas membanggakan.
"Hati-hati juga sama yang pendiam, Justru biasanya yang pendiam itu diam-diam menghanyutkan". Ucap Ubay.
"Juggg kaya Ee dong". gelak tawa menggelegar di ruang kantin.
**
Bagas sedang berusaha mendekati Karin, namun Karin seperti menarik ulur perasaan Bagas. saat Bagas mendekat justru Karin menjauh, saat Bagas menjauh Karin mencoba untuk menarik nya.
"Kar, aku cinta sama kamu. Kamu mau terima aku jadi pacar kamu ?". Bagas memegang kedua tangan Karin.
"aku..aku.. aku gak tahu gas, aku bingung". ucap Karin berbelit.
"Apa yang kamu bingungkan ? selama ini aku selalu membuktikan perasaan agar kamu yakin, sudah lama kita sering jalan bareng apa kamu tidak bisa merasakan perasaan ku terhadap mu?". Bagas sedikit kesal dengan Karin yang selalu memberi harapan palsu padanya.
"Aku butuh waktu lagi gas, maaf". Karin berlari meninggalkan Bagas.
**
Jam pulang sekolah telah tiba , seluruh murid tumpah ruah meninggalkan ruangan kelasnya bersamaan.
"Tania!". Panggil Rendi dengan keras.
Tania menoleh ke sumber suara, di dapati Rendi yang sedang berjalan menuju hadapannya.
"Kenapa kak ?". ucap Tania bingung.
"Mau ikut sama gue gak ?".
"Kemana ?".
"Kumpul sama anak-anak, ada temen sekelas loe juga kok. Kita mau ngadain perkumpulan antar kelas gitu, biar makin erat silaturahmi. Gue denger-denger loe paling seneng kalau ada perkumpulan menjalin silaturahmi". Ucap Rendi panjang lebar.
"Kok loe tahu kak?".
"Banyak info tentang loe, ikut ya ?".
"Kapan ?".
"Sekarang!". Rendi menarik tangan Tania tanpa menunggu jawaban darinya.
Saat Tania dan Rendi sudah sampai di basecamp disana sudah banyak yang berkumpul sedang asyik mengobrol satu sama lain ..
"Guys, gue bawa pentolan nih". ucap Rendi membuat seluruh Yang ada di tempat menoleh.
"Ehhh Tania, sini sini!! duduk disini!!". ucap Ubay bersemangat.
"Giliran yang cakep ngiler loe". celetuk Karolin, mereka tertawa terkekeh.
Tania hanya tersenyum menggeleng kan kepalanya, Tania duduk di dekat Karolin dan tidak butuh waktu lama mereka begitu dekat.
Tania tipe anak yang mudah bergaul, wajahnya juteknya Membuat semua orang yang pertama kali melihat nya past mengira ia anak yang sombong, tapi justru sebaliknya jika ingin mencoba mengenal Tania lebih dalam, Tania sangat ramah.
Wajah cantik dan mulusnya seringkali membuat para lelaki salah fokus, dan akan jatuh cinta padanya dalam sekejap.
"Gas, tadi gue lihat Karin di antar pulang sama Marko". Bisik Rendi.
Bagas terdiam, dan berfikir ternyata Marko yang membuat dirinya ragu menerima cinta nya. "Udahlah gak usah di bahas! males gue". Ucap Bagas sedikit kesal. Rendi hanya mengacungkan satu jempol nya kearah Bagas.
**
Keesokan harinya, Bagas melihat dengan mata kepala nya sendiri Karin di bonceng oleh Marko menuju parkiran sekolah.
Bagas terdiam segera ikut memarkirkan motor nya .
"Eh gas, baru sampai loe". Sapa Marko.
"Ehh iya kak, asyik nih yang jadi supir pribadi". Sindir Bagas pada Karin yang sedari tadi hanya menunduk.
"Hahaha bisa aja loe, duluan ya!".
Bagas mengangguk pelan namun matanya menyoroti Karin yang di gandeng oleh Marko.
Ia tidak menyangka Karin akan melakukan hal itu terhadap nya. Benar kata Ubay, hati-hati dengan gadis pendiam.
Bagas berjalan menuju gerbang sekolah, saat melangkah ia melihat Tania baru saja memasuki gerbang. Bagas segera menghampiri nya.
"Tania!".
Tania mencari sumber suara.
"Tan".
Saat menoleh ke belakang ia dapati Bagas yang sedang menuju kearahnya, Tania mengerutkan dahinya.
"Hey!". sapa Bagas.
"Kenapa kak ?". tanya Tania heran.
"Gak apa-apa mau bareng aja".
Tania bingung sendiri dan hanya ber "Oh" ria.
Mereka memasuki sekolah bersamaan, seketika mereka menjadi pusat perhatian. Jelas saja, Tania anak kelas 10 yang populer berjalan sejajar dengan Bagas anak kelas 11 yang juga populer. Tania dan Bagas tidak peduli semua mata tertuju padanya, sudah biasa bagi mereka.
Tania gadis yang dapat menarik perhatian ku selama kita berkumpul di basecamp, ia sosok gadis yang ceria. Bahkan wajah cantik dan tubuhnya mungil nya selalu membuat para lelaki ingin merebut perhatian darinya, namun sikap cuek dan dingin itu benar adanya. Ku beri ia julukan si cantik yang dingin.
**
Karin dan Marko sudah berpacaran semenjak aku mendekati nya, entah apa yang ada di dalam otak Karin. Sifat pendiam nya yang selama ini aku anggap emas ternyata sebuah petaka untukku, ia mempermainkan perasaan ku. Aku kecewa padanya namun tidak guna di matanya, aku menahan rasa pedih di hatiku. Biarkan sajalah, anggap saja Tuhan memberi bonus untukku yaitu mengetahui sifat asli Karin selama ini ku anggap emas.
**
Tamat
Semakin hari aku semakin dekat dengan Tania, sepertinya aku menyukainya namun aku tidak mau terburu-buru. Biarkan saja waktu yang menjawabnya, Tania juga gadis yang tidak begitu merespon ku bahkan dia terkadang bersikap dingin padaku.
Ahhh adik kelas ku yang mungil ini, hatinya sangat kokoh.