Pass, suara perempuan terdengar begitu jelas di area sekitar sekolah, Chelsea seorang gadis cantik sedang bermain basket bersama beberapa laki-laki. Wajarlah hanya ia yang bermain, karena hanya ia yang berani bermain walaupun banyak perempuan di sekolah itu yang masuk tim basket namun karena pada umumnya perempuan tidak ingin berada di bawah terik matahari yang membuat kulit mereka menjadi belang, serta tidak tahan dengan keringat yang harus membasahi baju mereka.
Namun berbeda dengan Chelsea, ia sama sekali tidak peduli dengan kulitnya maupun wajahnya, ia terlihat asik dengan bola yang ia dribel. Sampai waktunya istirahat, ia akan duduk di bawah rindangnya pohon. “Hai, Chelsea!” suara berat laki-laki memanggil nama perempuan dengan rambut sebahu itu.
“Oh, hai Boy! Ada apa?” suara manis Chelsea terdengar begitu lembut di telinga setiap laki-laki, jika ia bersikap manis pasti ia sudah memiliki kekasih. Dan boy adalah sahabatnya yang kadang paling mengerti dirinya.
“Happy birthday!” Boy berkata sambil memberikan sebuah kotak persegi dengan pita di atasnya kepada sahabatnya, Chelsea.
“Wow, kau mengingatnya, ku pikir kau lupa tentang ulang tahunku!” Chelsea berkata sambil mengelap wajahnya yang penuh dengan keringat. Lalu ia mengambil kotak yang diberkan oleh Boy.
“Mana mungkin aku melupakan ulang tahun sahabatku ini! Bukalah” Boy berkata sambil memperlihatkan senyumnya yang khas itu.
“Oke, aku buka” dengan senyum di wajahnya ia membuka adiah yang di berikan oleh Boy. Dan ketika ia melihat isi hadiah itu senyum di wajahnya berubah menjadi kecemberutan. “Boy, boleh aku bertanya?”
“Silahkan” kata Boy dengan enteng.
“Apa maksudmu memberiku kado ini?” Chelsea berkata sambil memperlihatkan alat make up berupa lipstick, bedak, maskara, dan alat-alat lainnya.
“Jadi di ulang tahunmu yang ke 16 tahun ini aku ingin kau memakainya”
“Boy, bukankah ini ulang tahunku?” Chelsea berkata dengan nada suara yang ia buat lembut.
“Ya itu benar”
“Jadi bukankah aku yang seharusnya meminta sesuatu?”
Seakan mengerti maksud Chelsea, Boy berkata dengan lembut, “Oh ayolah, Chel. Cobalah itu, kau akan terlihat sangat cantik”
“Bukankah dari dulu sudah kukatakan, aku tak akan memakai semua benda-benda ini!” Chelsea berkata sambil menunjuk ke arah hadiah tersebut.
“Kalau begitu kau bisa menyimpannya” setelah berkata seperti itu Boy pergi meninggalkan Chelsea yang terdiam di situ dan memegang hadiah darinya.
“Boy!” seruan Chelsea tak dihiraukan oleh Boy. Chelsea menatap kepergian laki-laki itu lalu menatap hadiah yang diberikan oleh Boy. Kenapa ia selalu seperti ini? Chelsea memasukan make up itu ke dalam plastiknya dan membawa pulang hadiah itu.
Rumah Chelsea.....
Chelsea membuka lemari bajunya dan ia melirik ke arah beberapa benda di bagian atas tempat gantungan bajunya. Ada sepasang sepatu hak tinggi, baju dress biru malam, dan sebuah kotak kecil berisi berupa gelang dan kalung, yang diberikan oleh beberapa temannya dan sekotak penuh dengan botol-botol pembersih wajah yang diberi oleh para followersnya di IG. Chelsea menghela nafas panjang ia menaruh sekotak penuh dengan alat-alat make-up.
Aku tak menyangka ia akan memberiku barang-barang itu, gumam Chelsea dalam hatinya
Ia menyalakan handphonenya dan membuka sebuah jejaring sosial yang bernama instagram. Beberapa ucapan selamat ulang tahun terlihat begitu jelas, Chelsea tersenyum dan ketika ia melihat seseorang mengetik tentang pertanyaan tentangnya wajahnya langsung berubah drastis.
"Kok kamu nggak pernah posting pakai baju feminim sih, kan kamu seorang perempuan" Selalu, dan masih dengan akun yang sama. Akun itu terus mengomentari mengenai cara berpakaiannya sejak enam bulan yang lalu.
Kalau dipikir-pikir sih benar juga, Chelsea tak pernah memposting dirinya mengenakan baju maupun dandanan layaknya seorang perempuan, kecuali dirinya menggunakan baju sekolah. Ia selalu berpose dengan kacamata hitam yang ia letakkan di kepalanya dan mengenakan celana serta baju kaos.
Apa maksud orang ini? pikiran di benak Chelsea berkejamuk karena bukan baru ini ia mendapat kata-kata seperti itu. Banyak orang-orang yang juga sama mengomentarinya namun itu tak seperti orang ini, paling-paling mereka hanya berkata. Kak, coba pake baju dress dong, Just that.
Sebuah pernyataan kembali ditulis orang tersebut. Bukannya ngeledek sih, tapi wajarkan kalau seorang gadis cantik apalagi selebgram seperti kamu itu memakai riasan di wajah.
Chelsea termangu akan pernyataan yang dilontarkan padanya. Dihatinya ia menjadi seperti dinasihati dan seperti diperhatikan akan salah satu followernya. Lalu pikirannya mengarah pada sahabatnya Boy yang ingin sekali melihatnya memakai barang-barang perempuan, yang akan membuatnya menjadi lebih manis.
Gadis itu bangkit berdiri dan menuju kamar mandi untuk membersihkan badannya dari berbagai hal yang ia lakukan di sekolah yang pastinya menghasilkan keringat.
Setelah mandi dan mengenakan baju kaos polos dengan celana pendek. Chelsea menuju ruang makan, di sana kakak laki-lakinya sedang menyantap makan siangnya bersama beberapa teman laki-lakinya. “Hei Chelsea!” kakaknya menyapanya sambil memakan telur goreng yang dibuat oleh bunda.
“Hai Kak! Hai Bimo, Rendy, Sandi” sapa Chelsea pada ketiga teman kakaknya. Ia lalu duduk di samping kakaknya.
“Hai Chelsea!” balas ketiga teman kakaknya.
“Kak, bunda mana?” Chelsea berkata setengah berbisik pada kakaknya yang bernama Fino.
“Tadi keluar rumah, kayaknya ada kepentingan di butiknya deh!” kakaknya berkata sambil terus menyantap makanannya.
“Oh gitu” Chelsea segera berlari menaiki tangga yang akan membawa menuju kamarnya.
“Eh, nggak makan bareng?”
“Nggak, kenyang!” seruan Chelsea hampir tidak terdengar karena ia sudah berada di dalam kamarnya.
“Adikmu lucu ya manis pula, Fin” Rendy berkata pada Fino sambil tersenyum.
“Ya gitulah, keturunan kakaknya gitu lho” dengan begitu percaya dirinya Fino berkata sambil tersenyum lebar, mengingat dirinya yang sangat disukai oleh banyak perempuan.
“Ya, percaya aja” ketiga temannya berkata sambil tersenyum kecil.
Di kamarnya, Chelsea sedang berada di depan komputernya. Terlihat ia sedang mencari laman yang menayangkan tentang make up. “Akhirnya kudapatkan!” seru Chelsea dalam kamarnya. Ia segera membuka lemari bajunya, ia mengeluarkan semua isi pakaiannya dan memilih-milih baju. Betapa terkejutnya Chelsea ketika melihat bahwa baju kaos berwarna terang dan celana pendeknya hanya berjumlah 4 pasang. Chelsea mulai menggaruk-garuk kepalanya. Lalu ia tersenyum seolah mendapatkan ide, dan ia berlari keluar kamarnya.
Kakaknya yang sedang berada di halaman belakang rumah bersama ketiga temannya yang sedang bermain alat musik terkejut akan kedatangan adiknya yang tiba-tiba ingin meminjam kunci mobil. “Kak Fino!” seru Chelsea dari dalam rumahnya. “Kak, kunci mobil mana? Gue mau ke butik!” Chelsea berkata sambil membawa sepatu putihnya.
“Ngapain lo ke butik?” tanya kakaknya sambil menghentikan permainan gitarnya. “Jangan-jangan mau ngambil baju kaos lagi ya? Kalau untuk itu gue nggak bakal ngasih! You know why, because you not a boy! You are girl!” kakaknya berkata sambil memainkan jari telunjuknya dan mengarah pada Chelsea.
“Yah kak Fino, gitu aja pelit amat!” Chelsea berkata sambil mengenakan sepatunya.
“Udah Fin, kasih aja. Kasihan tahu adik sendiri harus dilarang-larang ama kakaknya” Rendy berkata sambil tak henti memainkan gitarnya. Ia seperti menikmati alunan musik tanpa ingin diganggu oleh siapapun.
“Ih Rendy perhatian, suka ya sama aku” Chelsea berkata pada Rendy sambil tersenyum lebar. Dan di balas dengan senyuman oleh Rendy, senyuman khas namun disertakan juga gelengan kecil.
“I say no” Fino tetap pada pendiriannya, ia tetap tidak ingin memberikan kunci itu pada adiknya walaupun sudah temannya berkata, dan ia akan tetap pada pendiriannya walaupun badai menerjang dirinya.
“Kejam amat sih sama gue” Chelsea masuk ke dalam rumahnya sambil menggerutu akan sikap kakak laki-lakinya. “Gimana sih? Sama adik sendiri aja pelit amat, ‘kan bukan lo yang beli tuh mobil” Kata-kata Chelsea yang pasti mengarah pada kakaknya. Tanpa sengaja ia menemukan kunci motor, ia mengambil kunci itu dan terlihat digantungan kuncinya tercantum nama RENDY.
Chelsea tersenyum ia segera mengambil kunci tersebut dan pergi keluar rumahnya, lalu mengendarai motor Rendy yang mirip motor pembalap. Wajarlah kalau Chelsea bisa mengendarainya, karena ia pernah diajari Rendy cara mengendarai motor yang seperti motor pembalap tersebut.
“Eh, dengar nggak” Bimo berkata sambil menghentikan permainan gitarnya.
“Apaan?” ketiga laki-laki itu bertanya pertanyaan yang sama.
“Kayaknya motor lo ada yang makai deh” Bimo berkata sambil memandang wajah Rendy yang masih terlihat tenang-tenang saja. Karena diantara mereka hanya Rendy-lah yang memakai sepeda motor sedangkan yang lain menggunakan mobil, makanya mereka tahu kalau suara itu milik kendaraan Rendy.
Fino dan Rendy saling bertatap dan tiba-tiba, “CHELSEA!!” mereka segera berlari ke dalam rumah dan mereka menemukan sepucuk surat di tempat di mana kunci Rendy diletakkan.
~Ren, gue pinjam motor lo dulu ya. Gue pinjam nggak lama kok, gue cuma ke butik~
“Kenapa sih tuh anak? Bukannya diam di kamar, malah keluyuran ke sana ke sini!” Fino terlihat kesal akan sikap adik perempuannya yang tak pernah berubah dari kelas 4 SD.
“Udah nggak apa-apa, Fin. Lagi pula dia cuma ke butik kok, nanti juga balik” Rendy mencoba menenangkan Fino.
“Nggak apa-apa Ren, motor lo di pakai adik gue” Fino berkata dengan nada suara bersalah.
“Iya, nggak apa-apa, udah yuk kita ke sana lagi gabung sama Bimo dan Sandi” Rendy berkata sambil merangkul sahabatnya itu Dan kembali ke halaman belakang.
Jalanan begitu ramai namun tak membuat takut gadis cantik yang sedang mengendarai sepeda motor tersebut. Dengan cepat ia telah sampai di butik milik bundanya. Ia melepas helm yang terpasang di kepalanya dan segera masuk ke dalam butik tersebut.
Di dalam butik, dapat di jumpai segala macam pakaian mulai dari celana jeans, baju dress, hingga baju kaos yang dibuat sendiri oleh bunda dan para pegawai butik. Beberapa orang tampak sedang melihat-lihat jenis-jenis baju, khususnya para wanita.
Chelsea menuju tempat bundanya berada, ia mengintip dari balik pintu. Bunda terlihat begitu tenang sambil mencoret-coret sebuah kertas HVS. Chelsea membuka pintu tersebut dan masuk ke dalam ruangan tersebut. “Hei Chel, kamu lagi ngapain di sini?"
“Bunda boleh minta bantuan gak?” kata Chelsea dengan suara memelas manja pada bundanya itu.
“Bantuan apa?” tanya bundanya balik.
Chelsea membisikkan sesuatu kepada bundanya, yang pasti itu adalah kabar baik, terlihat dari raut wajah bundanya yang tersenyum riang. “Kamu nggak bercanda ’kan Chel?” bundanya berkata dengan rianya.
“Untuk sekarang Chelsea nggak bercanda” Chelsea berkata sambil memainkan ujung jari kakinya di atas lantai.
“Oke, ayo ikut bunda” bunda menarik tangan Chelsea dan menuju ke arah tempat baju-baju feminim. Bunda memilih beberapa baju dengan warna pink, putih, dan hitam. “Cobalah!” bunda menyerahkan baju tersebut untuk di pakai Chelsea.
Chelsea memperhatikan baju itu dan ia menatap ke arah bundanya. “Bun, apakah ini memang harus kupakai?”
“Chelsea!”
“Ok” Chelsea berjalan ke arah ruang untuk mencoba baju dan ketika ia keluar.
Wow... itulah yang harus dikatakan setiap orang ketika melihat seorang gadis dengan paras cantik secantik seorang malaikat.
“Hm, itu bagus tapi bunda rasa baju putih ini sangat bagus jika kau memakainya!” bunda berkata sambil menunjukkan baju dress berwarna putih dengan lengan panjang yang terlihat transparan dengan dihiasi dengan jahitan-jahitan cantik.
Chelsea mengambil baju itu dan ia beranjak ke dalam ruangan tempat berganti baju. Ketika ia keluar dengan rambutnya yang terurai, semua pandangan terlihat mengarah kepadanya. Bagaimana tidak dengan parasnya yang cantik ditambah dengan pakaian feminim ia terlihat begitu sempurna.
“Nah, ini baru bagus! Kamu ambil yang ini ya. Tinggal kita pilih sepatumu” Bunda berkata sambil tersenyum riang.
Chelsea hanya menanggapinya dengan anggukkan kepala dan ia kembali berganti baju dan ia bersama bundanya pergi ke sebuah toko sepatu. Bunda melihat-lihat sepatu sambil sesekali bertanya kepada putrinya tentang tanggapannya dengan sepatu tersebut. Chelsea hanya menanggapinya dengan senyuman. Untuk kali ini ia tak sekalipun membantah atau menolak perkataan bundanya. Ia hanya diam dan menurut pada bunda yang lebih pasti dari pada dirinya.
Bunda mengambil high heel dengan warna biru muda dan menyuruh Chelsea untuk mencobanya. “Sedang bun”
“Kamu mau yang ini”
“Boleh, kayaknya bagus” Chelsea berkata sambil melepas sepatu tersebut dan memberinya pada pegawai toko.
“Ya udah, mba tolong dibungkuskan. Nih!” Bunda berkata sambil memberi uang tunai pada pegawai toko tersebut.
“Ini bu!” kata pegawai itu sambil memberikan bungkusan belanjaan pada bundanya Chelsea.
“Nih, Chel!” bunda memberikan bungkusan tersebut pada Chelsea. “Ya udah sekarang kita membeli alat make up”
“Eh, bun nggak usah. Di rumah ada kok alat make up.”
“Lho kamu kapan beli alat make up”
“Bukan beli bun, dikasih sama Boy sebagai hadiah ulang tahun”
“Oh, gitu. Ya udah sekarang kita pulang ya”
“Tapi bun. Sepeda motor Rendy masih di butik”
“Ya udah kita ke butik, lalu kamu pulang bawa sepeda yang kamu pinjam. Jangan lupa bawa pulang belanjaanmu ya.”
“Baik, bun”
Sekolah....
Di sebuah kantin sekolah, suasana begitu riuh karena seorang perempuan dengan rambut tergerai sedang dikerumuni oleh para siswa. Lantaran perempuan itu sedang membagikan undangan ulang tahunnya kepada teman-temannya. Dan tak lama kemudian perempuan itu menghampiri Boy dan juga Chelsea yang juga berada di kantin itu dan sedang menyantap batagor pesanan mereka. “Udah balik Fi?” kata Boy pada sahabat perempuannya itu.
“Ya makanya gue kesini”
“So, mana undangan untuk dua sahabatmu ini?” kata Chelsea sambil menatap dengan raut wajah tersenyum pada sahabatnya itu.
“Ada dong, nih. Jangan lupa datang ya” kata Fiona sambil menyerahkan undangan pada dua sahabatnya itu.
“Oke ”
Mereka kembali menyantap makanan itu sambil sesekali diselingi beberapa canda gurau.
Rumah....
Siang itu Chelsea sedang bersiap-siap untuk memenuhi undangan pesta ulang tahun Fiona sahabatnya dalam rangka ulang tahun ke-17 tahun. Chelsea sedang memakai baju yang ia dan bundanya beli tempo hari, ia juga memakai dandanan persis seperti video yang ia download. Hanya riasan tipis sudah membuatnya cantik.
Ketika ia turun tangga dan menuju ruang keluarga. Betapa kagetnya kakaknya Fino, ketika melihat si tomboy Chelsea telah menjelma menjadi gadis feminim. “Bun, itu siapa?” Fino berkata dengan penuh keheranan melihat gadis cantik yang menuruni tangga.
“Ih, gimana sih sama adik sendiri aja nggak kenal” Chelsea berkata sambil berjalan menuju tempat bunda dan kakaknya bersantai, ya tentunya dengan high heel berwarna biru.
“Yaelah gitu aja ngambek, lagian tumben aja lo pake baju gituan? Emangnya lo mau kemana?” kakaknya Chelsea memang sering ngatain orang-orang tapi ia memiliki sifat yang mengasikkan sehingga ia memiliki banyak teman.
“Pesta ulang tahun Fiona! Tapi lo anterin gue ya” Chelsea berkata sambil memperbaiki letak bando putihnya.
“Kenapa nggak ikut Boy aja? Kan dia sahabat lo” seakan menolak secara halus Fino berkata dengan mengandalkan nama Boy.
“Soalnya Boy udah sama pacarnya”
“Makanya dari dulu lo harus berpenampilan gini”
“Lah emangnya kenapa?” dengan tatapan yang menunjukkan ketidakmengertian ia bertanya pada kakaknya tersebut.
“Supaya lo punya pacar trus nggak usah ngerepotin gue” lalu tawa terbahak-bahak keluar dari mulut kakaknya itu.
“Oh jadi lo merasa repot, yaudah gue sendiri aja"
“Eh iya-iya, gue anterin. Dari pada lo pergi sendiri lagi”
“Gitu dong coba dari tadi. Kan gue nggak nunggu lama. Ok lets go brother” Chelsea berkata sambil berjalan mendahului kakaknya tersebut. Bunda hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala melihat kelakukan kedua anaknya itu.
. . .
Rumah Fiona terlihat begitu ramai, karena banyak orang telah datang dan sedang menikmati alunan musik melo. Karpet merah sudah terlihat di halaman rumahnya dan diinjaki oleh para undangan. Chelsea menuruni mobilnya, “Makasih ya ka”
“Iya, jaga diri terus jangan menggigit kepala orang” setelah kakaknya berkata seperti itu ia langsung tancap gas meninggalkan adik peremuannya itu sambil tertawa terbahak-bahak.
Chelsea terlihat tak terima ia dikatai seperti itu, lo pikir gue zombie? Gumam Chelsea dalam hati.
Lalu ia melangkahkan kakinya untuk menuju tempat pesta itu di adalah, sejumlah pasang mata melihatnya. Namun Chelsea terlihat santai dan melangkah ke arah Fiona yang juga memandang Chelsea dengan penuh keheranan. “Hai Fi, happy birthday” kata Chelsea sambil memberikan sebuah bungkusan hadiah.
“Lo Chelsea?” dengan penuh keheranan Fiona berkata pada gadis cantik di hadapannya.
“Yaelah masa lo nggak kenal sama sahabat sendiri” kata Chelsea sambil tersenyum dengan senyum khasnya.
“Astaga Chel, gue nggak nyangka lo bakal pake baju gini, seingat gue terakhir kali lo pake baju kaos putih dengan rok hitam waktu ke ultah gue”
“Ya gini deh, ngomong-ngomong gue ngerasa nggak enak banget pake baju ginian” Chelsea berkata sambil menunjukkan ketidak nyamanannya itu sambil memasang raut tak nyamannya.
“Tapi gue ngerasa lo cantik Chel, malahan kayak lo yang jadi bintang utama malam ini” Fi berkata sambil tersenyum kecil.
“Apaan sih nggaklah! ‘kan yang ulang tahun lo” Chelsea berkata sambil merangkul sahabatnya itu berjalan menuju pesta digelar. Sama seperti Fi, orang-orang yang ada disitu terpukau akan perubahan yang dilakukan Chelsea, sejumlah pasang mata terus memperhatikannya yang berjalan bagai model. Pada saat itulah Chelsea mulai merubah sikap serta penampilannya agar terlihat semakin baik.
Perubahan yang dilakukan Chelsea mencakup dandanannya, pakaiannya, serta sikapnya. Hal itu juga berpengaruh pada followersnya di instagram, samakin ia memposting fotonya yang feminin semakin banyak pengikut yang ia dapat di sosial media.
Boy juga ikut senang akan perubahan yang dilakukan oleh Chelsea. Sifatnya yang tomboy mulai menyusut sedikit demi sedikit, namun hanya satu yang tak bisa dihilangkan dari diri Chelsea yaitu permainan bola basket kecintaannya pada basket tak bisa diganggu gugat oleh siapapun termasuk keluarganya.
Kebiasaannya mengendarai sepeda motor yang mirip motor pembalap ia hentikan ia lebih memilih diantar oleh kakaknya atau bundanya, ia masih belum boleh mengendarai mobil sendiri tanpa sepengetahuan kedua orang itu karena belum memiliki SIM.
Dan teman-teman kakaknya masih sering datang mengunjungi Fino dan dirinya hanya untuk sekedar ngobrol dan bercanda gurau.
Sekolah, lapangan basket....
Tim basket putri terlihat sedang berlatih bermain basket, Chelsea yang menjadi gadis feminim terlihat sedang mengoper bola kepada temannya. walaupun ia telah menjadi feminim namun hobinya bermain basket tetap tak bisa dihilangkan.
“Chel!” seruan seorang laki-laki membuat Chelsea menghentikan permainannya, dan berjalan dengan santai menuju laki-laki itu, Boy.
“Nih” Boy memberi sebuah handuk kecil berwarna putih pada Chelsea.
Lalu tangan Chelsea mengambil handuk itu, “ada apa?” tanya Chelsea sambil menyeka keringat di wajahnya menggunakan handuk yang diberikan Boy.
“Em, aku cuma mau tanya, sore ini kamu ada waktu luang gak?”
“Sore ini? Kayaknya aku nganggur deh di rumah, emangnya kenapa?” kedua orang itu sudah berbicara dengan pertanyaan dengan pertanyaan hingga itu tak terjawab oleh masing-masing pihak.
“Oke itu bagus, aku mau ngenalin kamu sama seseorang dan kamu harus tahu siapa dia”
“Emangnya penting ya, itu kan urusanmu kok jadi ngundang aku sih” Chelsea berkata dengan judes yang memang sifat yang susah untuk ia hilangkan.
“Yaelah judes amat sama aku. Bisa ya Please” Boy berkata sambil memasang wajah memelas pada gadis manis itu.
“Oke, its okey i’m fine” Chelsea mengalah pada laki-laki yang memohon dengan segitunya hanya untuk hal sepele.
“Thank you Chelsea your are the best” Boy berkata sambil mendekap Chelsea dengan senang, hingga membuat sejumlah pasang mata melihat mereka dengan heran, namun bagi yang mengenal mereka itu sudah biasa karena meraka adalah sahabat dari kecil.
“Hei dont to embrace me” Chelsea melepas pelukkan hangat dari laki-laki keren itu.
“Bye, see you” Boy berseru sambil membuat kedua kakinya berlari meninggalkan Chelsea dengan kedua tangan yang melambai-lambai.
“Ya, see you” Kata Chelsea sambil melambai pelan.
Restoran....
Pintu resto dibuka oleh seorang gadis cantik yang memakai baku kaos berlengan panjang dengan rok merah muda yang memberi kesan feminim dan penampilannya telah membuat orang-orang yang mungkin mengenalnya mendatanginya untuk meminta foto bersama secara langsung.
Chelsea, itulah gadis cantik yang menjadi selebgram yang dikenal sebagai perempuan cantik bak malaikat dari surga.
Setelah 10 menit berfoto bersama orang-orang tersebut, Chelsea meneruskan melangkahkan kakinya menuju meja yang terdapat lelaki keren yang menjadi sahabatnya, Boy. “Hai Boy” sapa Chelsea dengan senyum yang terukir di bibir yang dwarnai lipstik pink ia duduk tepat di samping kiri Boy.
“Hai, kau tepat waktu”
“Ya tapi kau terlalu cepat” Kata Chelsea sambil mengeluarkan handphonenya.
“Aku tak suka orang lain menungguku”
“Jadi kau lebih suka menunggu, hahaha” tawa lepas Chelsea terdengar begitu merdu ditelinga pelanggan di situ.
Chelsea memanggil pelayan yang bertugas mengambil pesanan orang-orang. Sama seperti orang-orang tadi pelayan itu juga meminta foto dengan Chelsea. Pesanannya dibawakan oleh pelayan tadi. Chelsea menikmati makanan tersebut dengan sikap elegannya. “Oh ya, di mana orang yang ingin kau kenalkan padaku?”
“Em, dia sedang ada di toliet mungkin sebentar lagi datang”
“Oh oke”
Tak lama kemudian seorang gadis cantik dengan kacamata yang menggantung diwajahnya dan baju putih dengan rok coklat muda memberi kesan elegannya. Dia duduk tepat di samping kanan Boy, “Hai kamu Chelsea kan?”
“Iya, kamu tahu namaku darimana?”
“Em, yang pasti dari Boy dan em, itu aku followersmu yang sering hate komen postinganmu” Gadis itu terlihat malu untuk memperkenalkan dirinya pada Chelsea.
“Oh ya, masa sih?” Dengan tatapan tak percaya Chelsea berkata sambil tersenyum.
“Ja-jangan marah ya, aku nggak bermaksud menyinggung kamu. Aku terpaksa ngelakuinnya gara-gara aku disuruh sama Boy” Dengan nada suara yang gugup gadis itu berkata sambil menunjuk ke arah Boy yang duduk dengan santai di sampingnya.
“Oh, jadi Boy maksa kamu buat ngomen postinganku ya” dengan nada suara yang dibuat Chelsea seperti ia kelihatan kelihatan kesal pada Boy.
“lho kok jadi aku sih yang salah” Boy terlihat tak terima ia dijadikan bahan omongan, ia berusaha menyangkal fakta itu.
“Ya iyalah kamu salah kamu sudah membuat cewek cantik ini ketakutan kalau ketemu aku” Chelsea lalu tersenyum memandang wajah cantik gadis itu.
“Kamu nggak marah sama aku ya?” gadis itu balas menanya pertanyaan dibenaknya.
“Ya nggaklah, malah aku berterima kasih sama kamu karna udah ngomen postinganku ini”
“Iya sama-sama”
“lho kok cuma Brita aja sih, aku gimana?” Boy tak terima ia tak diberi ucapan selamat dari sahabat yang tak kalah cantik dengan gadis berkacamata itu.
“lha, ‘kan kamu cuma nyuruh. Jadi yang berjasa ‘kan dia. That true right?” Chelsea berkata sambil tersenyum kearah sahabat laki-lakinya itu.
“Oke ” Boy mengalah pada sikap Chelsea yang terlihat begitu manis dari dirinya yang dulu.
“Oh ya aku belum ngenalin diriku ya, kenalin Britania Karim panggil aja Brita aku adalah pacarnya Boy” Gadis itu akhirnya memperkenalkan dirinya pada Chelsea.
“Chelsea Brilia, kalian kelihatan cocok” Chelsea berkata sambil tersenyum lebar arah mereka berdua.
“Makasih ” mereka berdua berkata sambil tersenyum lebar.
Akhirnya terungkaplah orang yang mengomentari postingan Chelsea yang telah membuatnya menjadi sosok yang mengomentari postingannya dengan komentar yang membuat Chelsea menjadi feminim seperti sekarang.
TAMAT