Di hina dan di usir begitu saja, di maki sebagai pembawa sial untuk kesalahan yang tidak pernah dilakukannya. semua terjadi saat sang kekasih sedang terbaring koma. Nia hanya bisa melangkah pergi, menangis hancur dengan sebuah perjanjian selamanya akan menghilang dari kehidupan lelaki yang begitu di cintainya. Hatinya terluka parah dan entah apa bisa sembuh lagi untuk sebuah kesucian cinta.
Tetapi Tuhan punya jawaban untuk segala putaran waktu, sosok lelaki bermata biru hadir dan membuat Nia semakin takut menerima cinta baru, dia pembawa sial. Itu kata yang tertanam kuat dalam hatinya dari kisah masa lalu. semakin si lelaki bermata biru melimpahkan Nia cinta tulus, maka Nia semakin menjaga hatinya agar jangan terbuai asmara.
Lantas, mampukah sosok lelaki bermata biru membuat Nia percaya pada cintanya, cinta sebenarnya dari sanubari terdalam. Cinta yang tanpa di sadari telah terpatri kuat selama tiga tahun pencarian. Cinta yang ingin memuja Nia, menjadikan Nia bidadari hidupnya dan hanya milik dirinya. Bukan cinta yang penuh derai air mata, yang hadir untuk menyakiti, untuk melukai. Tetapi lelaki bermata biru itu hanya mau memiliki Nia seutuhnya, selamanya. Menjadi istrinya.
🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹
Ceritaku di mulai.
Namaku Syania Fita Sujoko, tetapi dalam keseharian semua memanggilku Nia.
Aku yatim piatu dan pada masa kisahku di mulai, aku bekerja di bagian administrasi sebuah perusahaan di Kota Jakarta. Pekerjaan yang jauh dari galar ijasahku. Tetapi tidak apa, aku bisa iklhas menerima semuanya.
Hidupku indah, meskipun aku orang biasa, tetapi aku berlimpah cinta dari kekasih hatiku, Yuedo.
Aku dan Edo sudah berpacaran sejak kami masuk bangku kuliah. Kami bukan dari Fakultas yang sama, tetapi cinta kami terjalin manis. Kami saling sayang, saling menjaga.
Hingga suatu hari, Edo mengalami kecelakaan saat melakukan pendakian gunung di daerah Jawa Barat. Mendaki gunung adalah hobi Edo, Edo adalah rajanya yang selalu menaklukan tugas mendakinya. Sayang, untuk kali itu Edo tidak sebaik biasanya. Edo terjatuh dari tebing curam ke dasar jurang. Luka parah hingga koma.
Sahabat Edo yang juga sekaligus sahabatku mengabarkan tentang musibah itu, secepat kilat aku pergi ke Rumah Sakit. Rasanya darah sudah tidak mengalir sempurna ke jantungku. Aku takut, berbagai bayangan burung menghinggapi kepalaku.
Ternyata kenyataan pahit tentang musibah kecelakaan Edo belumlah apa-apa di bandingkan hinaan dari wanita yang biasa ku sapa Tante Sandara, Mamanya Edo. wanita paruh baya yang jelas-jelas membenciku ini dan tidak pernah berharap aku akan berjodoh dengan anaknya, serta merta memakiku habis-habisan.
"Dasar wanita pembawa sial, sudah saya bilang, kamu itu pembawa sial, mana layak kamu masuk dalam keluarga saya ! Ayahmu mati saat Ibumu mengandung kamu, lalu Ibumu mati saat kamu belum tamat SMA. Dan sekarang, sekarang anak lelaki saya satu-satunya sekarat karena kesialan yang kamu bawa dalam hidupnya ". Tante Sandara berteriak marah padaku, mengeluarkan kata yang mengiris hatiku, melimpahkan semua kesalahan atas musibah Edo, bahkan untuk kedua orang tuaku juga.
Ya Tuhan, hancur sudah hidupku, wanita yang aku hormati layaknya Ibu sendiri begitu lancar meneriaki aku sebagai wanita pembawa sial.
Aku bersimpu di kedua kaki tante Sandara, memohon ibanya untuk bisa berjumpa Edo. Tetapi tante Sandara begitu jijik padaku, mendorong tubuhku jauh dan mengusir aku.
Mengusir aku selamanya dari hidup Edo, lelaki yang aku cintai dengan segenap jiwa. Mintaku pergi dan menghilang dari kehidupan Edo, menyuruhku tengelam dalam sialku dan tidak pernah kembali.
Aku pergi, habis sudah asaku. Aku berjanji akan menghilang dari belahan jiwaku. Aku berharap kepergiaanku benar-benar bisa membuat Edo bahagia. Aku melangkah dengan keyakinan bahwa aku adalah wanita pembawa sial.
Aku sudah tidak ada harapan di sini lagi, akupun memilih meninggalkan Kota Jakarta dan pergi ke rumah Bibi Ros, saudara kandung Ibuku yang tinggal di Bengkulu.
Dalam penerbanganku ke Kota Bengkulu, aku hanya habiskan waktu dengan derai air mata. Sampai mataku sudah bengkak sempurna, tetapi tetap saja air mata ini tidak ada habisnya. Sakit ini tetap saja masih berasa.
"Jangan takut, ada aku. Aku akan menjaga kamu ! Aku janji, kamu jangan sedih lagi ya !" Aku merasakan ada genggaman kuat di jemari lelahku, aku mendengar suara bariton khas yang begitu menenangkan masuk ke sela-sela kesakitan hatiku. Memberi kehangatan dalam dan menenangkan bagai obat terbaik untukku. Sepasang mata biru, hanya itu yang tampak.
Aku tidak tahu berapa lama putaran waktu telah berjalan. Yang jelas, suara itu berhasil membuat aku tenang, membuat aku nyaman, aku tertidur selama penerbangan.
Pesawat mendarat, aku tidak pernah berjumpa lagi dengan sosok lelaki yang telah memberiku ketenangan itu. Kami berpisah.
Hingga 3 tahun berlalu. Setelah kejadian memilukan itu, aku butuh waktu 3 bulan penuh terpuruk dalam duka sebagai wanita pembawa sial. Tante Sandar hebat, berhasil membuat aku percaya segala hinaannya.
Dan sekarang, inilah aku. Aku bekerja di sebuah anak perusahaan yang bergerak di bagian penelitian pertanian. Pekerjaan yang sangat sesuai dengan basic ilmuku. Aku menikmati pekerjaan ini, aku mulai belajar bahagia lagi. Aku punya sahabat yang selalu ada dalam hari-hariku, tetapi aku tidak mau membuka hatiku untuk cinta. Aku tidak mau membawa kesialanku pada lelaki manapun. Setidaknya itulah janjiku pada diri ini.
Itu keinginanku, tetapi Tuhan penentu. Apa yang tidak bisa jadi iya, dan apa yang iya bisa jadi tidak, Tuhan Maha Segalanya.
Siapa yang menyangka, si pemilik suara bariton 3 tahun lalu di dalam pesawat Jakarta-Bengkulu adalah lelaki gagah bermata biru, yang tidak lain Presdir tempat aku bekerja saat ini. Dan siapa yang menyangka lagi, selama 3 tahun setelah kami berpisah di bandara Fatmawati dulu, Asiakha bagai orang hilang akal mencari aku ke sana ke mari.
Aisakha Elang Britana, pengusaha sukses di Indonesia, Raja bisnis segala bidang, milyader muda yang super tampan.
Aisakha begitu terkejut mendapati aku sebagai peneliti di perusahaannya. Dan Aisakha lebih terkejut lagi saat tahu aku tidak mengenal siapakah dirinya. Tiga tahun pencariannya, siapa yang menyangka Aisakha telah jatuh cinta pada aku, wanita bisa ini. Aku serasa dejavu, sangat akrab dengan suara khasnya. Pernah merasa sangat nyaman dengan genggaman jarinya, tetapi aku ragu untuk semua itu.
Aisakha begitu baik, dia lelaki yang begitu perhatian. Aisakha selalu memperlakukan aku begitu lembut, begitu tulus. Hingga akhirnya aku tersadar, Aisakha mencintaiku.
Aku berusaha menolak cinta tulus lelaki bermata biru itu, aku menjauh dari kasih sayangnya. Aku tidak mau kesialanku menghancurkan masa depan milyader suoer duper kaya itu.
Tetapi Aisakha begitu sabar, semakin aku menghindar, dirinya semakin melimpahkan aku kasihnya. Dia begitu tenang menghadapi aku yang ketakutan akan cinta.
"Dengar Nia, kamu adalah berlian, bukan kesialan ! Siallah bagi mereka yang tidak bisa melihat kebaikan hatiku, kelembutan jiwamu. Kamu sosok bidadari cantik yang di kirim Tuhan buatku. Nia berilah aku kesempatan untuk melimpahkan kamu cinta, menjadikan kamu wanitaku selamanya. Aku berjanji, aku akan membuat kamu bahagia selama nafasku masih berhembus ".
Untaian kata yang indah bukan ? Kata-kata yang tersusun rapi dan tidak menyakiti. Aku tertegu, mata biru itu terlihat jujur padaku.
Butuh waktu lama bagi Aisakha memulihkan trauma dalam hatiku, tetapi hebarnya dia tidak pernah lelah apa lagi menyerah. Setelah sekian lama waktu berlalu, Aisakha berhasil membuat aku keluar dari masa lalu kelamku. Aisakha berhasil membuat aku percaya kalau aku adalah berlian bukan kesialan. Bersamanya aku serasa terlahir kembali, cintanya membuat aku percaya, kalau aku layak dicintai. Aku adalah wanita yang berhak hidup bahagia, bersama dirinya.
Aisakha benar-benar mencintaiku sepenuh jiwa, bahkan terkadang aku bisa merasakan cintanya lebih besar dari pada cintaku padanya.
Tiada satu haripun di lalu tanpa memujaku, bahkan saat ini, kami telah menikahpun, Aisakha tetap memperlakukan aku begitu manis. Hingga tidak jarang membuat pipiku merona malu.
Tuhan Maha Segalanya.
Inilah aku sekarang, hidup bahagia bersama suamiku Aisakha. Aisakha yang bagai bias jingga di langit senja. Hadir di saat tepat untuk mengantarkan matahari pulang dan menjemput bulan datang. Dan senja itu adalah milikku. Senja baru untukku dan hanya punyaku.
🌹TAMAT🌹
Bagi kamu yang masih mencari cinta sejatimu, belahan jiwamu. Maka bersabarlah ! Cinta tulus anugerah Sang Maha Kuasa pasti akan datang padamu di saat yang tepat. Bahkan saat kamu menolakpun, jika itulah dia yang kamu tunggu, dia akan selalu kembali padamu, pada hatimu🤗
Saya Di, dan saya pernah merasakan itu💝