"𝘛𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘥𝘪𝘴𝘢𝘯𝘨𝘬𝘢 𝘬𝘢𝘮𝘶 𝘵𝘦𝘨𝘢 𝘮𝘦𝘭𝘢𝘬𝘶𝘬𝘢𝘯𝘺𝘢, 𝘬𝘢𝘮𝘶 𝘮𝘦𝘯𝘺𝘪𝘳𝘢𝘮 𝘢𝘪𝘳 𝘱𝘢𝘯𝘢𝘴 𝘬𝘦𝘱𝘢𝘥𝘢 𝘪𝘣𝘶𝘮𝘶 𝘴𝘦𝘯𝘥𝘪𝘳𝘪! "
"Tidak itu bukan aku"
"𝘔𝘢𝘴𝘪𝘩 𝘣𝘦𝘭𝘶𝘮 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘢𝘬𝘶 𝘭𝘪𝘩𝘢𝘵 𝘥𝘪𝘥𝘦𝘱𝘢𝘯𝘮𝘶 𝘪𝘯𝘪! 𝘪𝘣𝘶𝘮𝘶 𝘵𝘦𝘳𝘣𝘶𝘫𝘶𝘳 𝘬𝘢𝘬𝘶 𝘥𝘪 𝘭𝘢𝘯𝘵𝘢𝘪"
"Sudah aku bilang itu bukan aku! "
...
'Bruk' suara terjatuh
"Tidak itu bukan aku, bukan aku"
"Bukan! "
"Hei! segera berikan obat penenang kepadanya" kata perawat disampingku.
"Haiss, kasihan sekali. Masih kecil dia terkena gangguan mental"kata perawat yang lain.
Tiba-tiba pandanganku buram, aku tidak tahu berapa lama waktu berlalu dan masih bingung kenapa aku disini tapi aku yakin alasannya 'itu bukan aku'.
flasback...
AKU POV
Umur 10 tahun adalah terakhir tahun kebahagiaan ku, disaat aku baru menginjak usia 10 tahun ayah meninggal dalam kecelakaan tunggal di saat hujan deras menuju pulang ke rumah. Tanpa seorang ayah keluarga tidaklah lengkap. Ibu menjadi mudah marah ia menyalahkan aku atas kematian suaminya. Aku hanya bisa bersembunyi dibalik lemari kayu yang kokoh. Pukulan dan cacian yang dia berikan rasanya sakit. Tidak ada yang datang karena kami tinggal di pegunungan jarang penduduk.
" Adakah yang bisa membantuku? "batinku menjerit disetiap sakit yang aku rasakan.
Setiap kekerasan yang kuterima urusan pekerjaan rumah telah menjadi tanggungan ku bahkan demi makan aku harus mencari sendiri entah dihutan atau di sungai untuk mencari hewan. Bukan tanpa sebab hasil bercocok tanam sangatlah kurang.
Suatu hari, umur 14 tahun ada seseorang yang datang dalam kehidupan kami. Dia Pak Bagas calon suami ibu saat itu, awalnya dia orang baik. Karenanya aku mendapatkan perlindungan dan perhatian tapi semenjak dia menikah dengan ibu semua berubah. Dia tidak pernah memperdulikan aku yang disakiti ibu lagi. Hidupnya hanya mengandalkan aku yang bekerja apalagi semenjak kelahiran putranya.
Mereka sama-sama Monster.
Aku tidak tahu apa yang salah, aku melawan tapi selalu kalah. Dihari saat aku tidak sengaja menumpahkan air panas ke ibuku, itu memperburuk segalanya. Pak Bagas memprovokasi bahwa aku sengaja melakukannya. Akhirnya polisi datang dan menangkap ku. Dipenjara aku hidup lebih damai namun...
Tiba-tiba mereka datang yah para Monster itu. Dengan alasan mengunjungi ku mereka bersikap sangat lah jahat. Para polisi tidak mengetahui karena kami diberikan ruang pribadi. Tanpa sadar aku ingin mereka tiada. Aku mencekik Pak Bagas hingga ia kesulitan bernapas, namun pada akhirnya polisi datang menolongnya. Para Monster itu memprovokasi diriku lagi.
Aku bingung kenapa aku yang salah?
Kenapa aku?
Kenapa ini terjadi kepadaku?
Tanpa sadar aku tertawa tertawa keras dan bebas
"Hahaha" jeritku
"Kalian lepaskan aku, aku tidak bersalah. Ini bukan aku, ini bukan aku! "
Mereka membawaku ke rumah sakit jiwa.
Gila bukan?
Tapi aku bukan gila?
Mereka yang menjebak ku, tapi tidak ada yang percaya .Disaat akan dibawa ke RSJ aku melihat mereka tersenyum samar dibalik deritaku.
flashback selesai...
Hah aku lelah dengan semua ini, aku ingin mengakhiri hidup tapi aku terlalu takut menghadapi kematian. Tapi , ada seseorang nenek yang mengalami gangguan mental. Dia selalu berkata"Anakku sangat cantik, dia selalu berdandan dirumah. Dia masih kecil itu hal wajar dia ingin cantik."terkadang dia berkata "Teman-teman nya menghinanya tidak cantik tapi dia tetap cantik. "Aku bingung bagaimana bisa orang seperti dia bisa mengalami sakit?
Lama-kelamaan aku menganggap nya sebagai nenekku, tapi setahun kemudian dia meninggal dunia. Dia berkata padaku "Tetaplah hidup". Umur 16 tahun aku keluar dari RSJ kembali ke kantor polisi menyelesaikan masa lama penjara ku. Disana aku belajar hidup dan keterampilan menjahit serta berteman dengan orang disana
Umur 22 tahun aku terbebas dari di penjara. Keluar dan mencari pekerjaan sebagai buruh dalam menjahit. Walaupun bergaji rendah tapi itu cukup menghidupi kebutuhan ku. Lama-kelamaan aku dipromosikan menjadi desainer pakaian tokoh-tokoh penting disaat umurku hampir menginjak 3o tahun. Di perjalanan aku juga bertemu keluarga ku yang dulu, mereka hidup bahagia bersama putra mereka, bisa saja aku membalas dendam tapi tidak perlu semua punya aturan sendiri.
Pernah sekali aku berpikir semua yang aku cintai itu menghilang, pastaskah aku mencari cinta sejatiku? bisakah aku memilikinya? Selama ini aku hidup melajang, entahlah kapan cinta bisa datang dalam hidupku.
Selesai
Komen kalau mau part 2 atau kalau tidak kita berhenti di sini saja.