Namaku Silvia umur 22 tahun memiliki kekasih bernama Radi. kami pacaran sejak klas 3 SMA, dan kami saling mencintai satu sama lain. Dan kami sering berantem tapi langsung baikan.
Sejak liburan semester di kampus, Radi pulang ke amerika karena dia belasteran amerika indonesia. Setelah selesai liburan aku sangat senang karena akan bertemu kembali dengan Radi.
Aku menjemput nya ke bandara untuk memberi kejutan, tapi ...... aku yang di beri kejutan ileh Radi. Dia turun dari pesawat aku melihat nya dengan seorang wanita bule, berambut panjang, tinggi, putih, dan cantik.
Aku sangat kaget, melihat mereka dangat mesra.
"Radi?. Dia siapa?." aku bertanya setelah menghampiri mereka.
"Silvia?.!!, kenapa kamu ada di sini?." Radi sangat kaget dengan ke beradaan ku di sana.
"Aku mau kasih kejutan sama kamu." Aku berusaha tersenyum.
"Aaah, ini perkenal kan sepupuku. Dia mau mengunjungi kakek di Bandung."
"Hai, aku Silvia, senag bertemu dengan mu."
"Hallo, aku Jenny, senag juga bertemu dengan mu."
Setelah berkenalan kami pergi ke cafe dekat bandara, kami makan bertiga dan suasana di sana sangat berbeda.
Aku yang menjadi pacar Radi, namun Jenny dan Radi terlihat sangat mesra seolah aku yang menjadi pihak ke tiga di sana.
Setelah hari itu... sikap Radi semakin berubah. Dia semakin cuek, emosian, dan semakin mengabai kan ku.
"Radi, besok kita makan malam ya. Aku tunggu lo." Ajak Silvia.
"Mmm, bisa di ganti dengan hari lain gak?." tanya Radi ragu.
"Gak bisa dong, aku udah siapin semuanya. Jadi kamu harus datang ya."
"Aku gak janji lo Sil." Radi ragu.
"Loh, kok gitu sih?!. Kan kita udah lama gak kencan berdua. Hari malam ini ya.!" Ajak Silvia dengan sedikit memaksa.
"Yaa, memang ada acara apa sih.?" tanya Radi bingung.
"Ada dongg, kalau di bilang kan gak jadi kejutan lagi." Kata Silvia senang.
"Ya udah deh, aku akan datang." Radi akhirnya setuju.
"Ku tunggu ya, sayang. Tempat nya akan aku kirim lewat WA." kata Silvia sambit berlari pergi karena masih ada kelas.
Silvia sudah memboking satu meja di dekat jendela, dengan pemandangan yang cantik menghadap ke taman, di resto bintang lima.
Silvia berdandan dengan sangat canntik, sampai-sampai dia membeli gaun baru di mall.
Sedangkan Radi di rumah nya.
"Radi, apa kamu sudah bilang sama Silvia tentang hubungan kita.?" tanya Jenny saat Radi sampai di rumah.
"Belum, aku ragu mengata kan nya. Aku... takut dia sakit hati dan marah." Jawab Radi dengan wajah yang serius dan nampak sedih.
"Kamu mau menunda sampai kapan, Papi mamy aku sama papi mamay kamu ingin mempercepat pernikahan kita." ujar Jenny sedikit kesal.
"Kamu kasih aku waktu sebentar lagi ya. Aku janji kali ini pasti akan bilang sama Silvia." Mohon Radi.
"Aku bisa kasih waktu, tapi orang tua kita meminta kita makan untuk makan malam di resto bintang lima." Kata Jenny lagi.
"Malam ini ya?. Aku ada janji dengan Silvia buat makan malam." tolak Radi dengan tegas.
"Radi?. Aku ini tunagan mu, sedangkan Silvia hanya pacar kamu. Harus nya kamu tau kan harus memperoritas kan siapa.!!" Jenny teriak karena kesal pada Radi.
Radi dalam dilema, dia harus pergi dengan siapa?, dengan silvia atau ikut Jenny makan malam sama orang tua.
Karena kesal dan pusing Radi membanting HP nya ke Soffa kamar dan pergi tidur di ranjang nya.
Ririririririri, telepo Radi berbunyi.
"Hallo?" Radi menjawab dengan malas.
"Hallo Radi?. Ini papi, ingat ya kamu harus datang untuk makan malam bersama Jenny di resto bintang lima jam 7 malam.". Perintah papi Radi.
"Hallo?. Hallo?. papi.?" Radi memanggil dalam telpon tapi lebih dulu di matukan papi nya.
Radi melihat jam sudah jam 6 sore, dia pun bergegas pergi mandi.
"TING!!" HP Radi berbunyi dan tampak Silvia mengirim pesan.
"Radi, makan malam nya di resto bintang lima, meja no 14, jam 7 malam. Aku menunggu mu di sana.💓💓".
10 menit kemudian Radi selesai mandi dan memberes kan diri, dia menyambar HP nya tanpa melihat nya dan bergehas ke bawah melihat Jenny sudah menunggu dengan gaun putih, sepatu putih, dan rambaut di sanggul. Dia terlihat sangat menawan dan cantik.
"Wah, kamu cantik sekali." Puji Radi dengab wajah terpana.
"Kamu juga keren malam ini." Puji Jenny lagi.
Merek berangkat menuju resto tempat makan malam. Tak lama kemudian Radi dan Jenny sampai di sana.
Silvia melihat Radi masuk, dan Silvia sangat senang. Saat dia ingin melambaikan tangan nya, dia berhenti karena melihat Jenny ikut masuo dari belakang dan mereka terlihat sangat cantik.
Radi dan Jenny pergi ke meja no 10, selisih 4 meja dengan Radi. Menuju meja yang sidah di duduki oleh 4 orang.
"Malam pi, malam mi." Radi menyapa orang tuanya.
"Malam sayang, ayo duduk." ajak mereka.
Silvia penasaran dengan pembicaraan mereka namun karena terlalu jauh jadi tidak dapat iya dengar.
Mereka berbincang dengan tawa bahagi dan senag di sana.
"Radi, kenapa kamu tidak bilang ada acara makan malam hari ini?. Sebenar nya apa hubungan mu dengan Jenny?, apa betul kalian hanya sepupu?, kuharap kamu tidak berbohong pada ku." gumam Silvia dalam hati.
Tiba-tiba seorang yang duduk semeja dengan radi berdiri.
"Maaf menganggu semuanya, saya ingin memberitakan kabar bahagia pada semuanya. Malam ini putraku dangan putri sahabat ku akan mengadakan pernikahan 2 minggu lagi." Kata Papi Radi sangat bahagia.
Semua orang bertepuk tangan memberi selamta atas pernikahan mereka.
Silvia kaget mendengar kabar itu, dan tanpa sadar air mata nya mengalir dan hatinya sangat hancur, seakan dunia nya hancur dan langit menimpa kepalanya.
Silvia berdiri dan pergi ke arah panggung ban di resto itu.
"Tess, tes." Silvia mencoba mik itu.
Melihat iti Radi sangat kaget karena melihat Silvia di sana, bahkan Jenny pun ikut kaget.
"Untuk memberi selamat pada pasangan baru yang baha gia, saya ingin memberi kan kata selamat pada mereka. Itu pun bila mereka mengijin kan." Kata Silvia dengan mengepal gaun nya kuat-kuat menahan tangis.
Papi Radi mengangguk memberi ijin untuk Silvia, sedangkan Radi dan Jenny menunduk merasa bersalah pada Silvia.
"Untuk pasangan baru yang bahagia, karena saya juga ikut bahagia dengan kalian, maka saya ingin mengatakan sepatah dua patah kata. Untuk pengantin peria, jaga lah wanita yang sedang kamu gengam tangan nya dengan kuat, jangan sampai di lepas atau tersakiti hati nya, jangan beri dia kebahagiaan dengan kebohongan yang indah. Wanita memang ingin bahagia tapi bukan dengan kebohongan." setelah Silvia berbicara dia berlalri keluar dari resto, dengan suara tepuk tangan dari pelanggan.
Radi berlariengejar Silvia dengam di susul Oleh Jenny, dan di ikuti orang tua mereka.
"Silvia tunggu!."
Silvia terus berlari tanpa menoleh.
"Silvia aku bisa jelasin semuanya." teriak Radi lagi.
Namun Silvia tidak berhenti, Radi mempercepat lari nya dan berhasil menagkap Silvia dan menarik nya. Radi sangat kaget melihat Silvia menagis.
"Sil, aku bisa jelasin semuanya sama kamu." Radi melembut.
"Ya udah kau jelasin sama aku." kata Silvia.
"Sebenra nya akau sama Jenny sudah di jodohin sejak dulu sama papi mami aku, dan aku tidak di kasih untuk memilih." Jelas Radi memelas.
" Terua kamu ngapain macarin aku.?" tanya Silvia dengan berlinag air mata.
"Karena aku suka kamu."
"Kamu menyukai ku saat kamu punya tunagan, dan pacaran dengan ku saat kamu punya calon istri?." Tanya Silvia mengis.
Radi diam dan tidak busa membalas perkataan Silvia.
"Trus kenapa kamu tidak jujur padaku saat di bandara?, kenpa kamu membuat ku tau tanpa sengaja dan itu pada hari jadi kita?." kata Silvia lagi dengan terisak-isak.
"Itu karena papi, mami, aku udah jodohin aku dari dulu." Jawab Radi merasa bersalah.
"Apa selama kita pacaran selama bertahun-tahun kamu sekali saja mengatakan bahwa kamu punya pacar pada orang tuamu.?" Tanya Silvia lagi.
Radi diam, karena dia tiadak pernah mengatakan nya.
"Tidak kan, Jadi untuk apa kita pacaran?. Sebagai pelarian karena bosan, atau sebagai wanita simpanan mu?." tanya Silvia lagi.
"Tiadak, Silvia. Aku benar-benar mencintai mu, aku tidak pernah berpikir memperlakukan mu seperti itu." Jawab Radi lagi.
"Tidak berfikir melaku kan itu?, tapi kamu sudah memper laku kan aku seperti itu Radi." Kata Silvia lagi dengan dingin dan menusuk.
Radi diam dan tak bisa berkata apa-apa lagi dengan perkataan Silvia.
Dan Silvia beranjak pergi dari sana dengan berlinang air mata dan dia merasa sangat hancur.
"Tunggi Silvia. Walau aku sudah punya tuangan atau calon istri, apa aku benar-benar mencintai mu. Jadi kamu tetap menjadi pacar ku ya." Kata Radi pada Silvia.
Silvia membalik tubuh nya dan menghadap Radi, kali ini bukan sedih tapi sangat marah besar pada Radi.
"RADI?. APA.KAMU BERPIKIR BAHWA AKU INI WANITA MURAHAN?. KAMU MENGAJAK KU PACARAN DENGAN MU SAAT KAMU SUDAH PUNYA ISTRI." Silvia menekan suaranya karena marah.
"Bukan, bukan begitu maksud ku. aku benar-benar serius, aku bisa menghidupi mu sebagai pacar ku." Kata Radi tanp rasa bersalah.
"TUAN RADI SIAHWAL, AKU TAU KAMU KAYA RAYA, BISA MENGHIDUPI BANYAK WANITA, TAPI AKU SILVIA PERASETIO BUAN WANTIA MURAHAN, YANG MAU JADI WANITA SIMPANAN MU!!!." teriak Silvana.
"Bukan begitu maksu...." Belum suap Radi bicara sudah di potong oleh Silvia.
"Aku di lahirkan ke dunia ini sebagai wanita bukan untuk jadi wanita murahan, aku memang mencintai mu. Bukan berarti aku mau menyerah kan masa mudakau menjadi wanita simpanan, aku butuh kejelasan dalam berhubungan. AKU MENCINTAI MU BUKAN UNTUK JADI PELACUR MU." jawab Silvia sedih, marah, hancur, kecewa.
Radi, Jenny, dan orang tua mereka terdiam seribu kata dengan perkatan Silvia.
"Kau doa kan semoga kalian hidup bahagia, dan selamat atas pernikahan kalian, aku Silvia memberi kalian restu, dan merelakan Radi padamu." kata Silvia den berbali meningal kan mereka.
Di mengis tanpa sura karena hati nya sangat sedih, dan hati nya hancur.
"Kalau di beri kesempatan memilih antara kebohongan yang indah, dan kenyataan yang pahit. maka aku kan memilih kenyataan yang pahit karena walau pahit akan memberi kebahagaian secara perlahan, sedang kan kebohongan yang indah, walau indah dan bahagia tapi akan memberi kehancuran tanpa prringatan dan akan membuat kita sehancur-hancur nya.' Gumam Silvia dan kembali menta hati nya dan berusaha hidup kembali.