“Orang tua kamu belum pulang juga?” tanya Keenan sembari tersenyum wajar menatap Ashleen yang berjalan menghampirinya.
“Gak usah ngurusin keluarga aku deh, udah kerja aja sana” ucap Ashleen merasa tidak nyaman dengan pertanyaan Keenan.
“Lagian masih pagi, ngapain sih kesini” tambahnya setelah duduk di ujung sofa.
Moodnya sedang tidak baik hari ini. Biasanya Keenan akan mampir sehabis pulang kerja.
Keenan tersenyum hangat menatap seseorang dengan wajah masam yang duduk di hadapannya.
“Yaudah kalo kamu mau aku cepet kerja, kamu mandi dulu terus berangkat ke sekolah. Nanti keburu macet” ucapnya cukup tenang.
“Udahlah kamu ke kantor aja sana. Gak enak tahu kalo diliat tetangga setiap hari kesini terus” jawab Ashleen mulai memalingkan wajahnya dan berbaring di sofa.
"Ash..."
"Aku gak sekolah!" jawab Ashleen cepat.
Sesaat Keenan menghembuskan napas berat. Akhir-akhir ini sikap Ashleen mulai berubah.
"Ash, kamu udah kelas 3" balas Keenan menatap Ashleen yang masih berbaring di sofa.
“Cepet mandi. Apa mau aku yang mandiin?” celotehnya mencoba tegas sembari memberikan guyonan.
“Ck! susah nih kalo ngomong sama orang tua” ujar Ashleen sedikit meninggikan ucapannya.
Perlahan dia mulai bergerak menuju tangga dan berjalan menuju kamarnya. Sementara Keenan hanya tersenyum simpul melihat tingkah Ashleen yang kini sudah mulai takut dengan guyonan kecil yang sering dia ucapkan.
Ashleen kembali dengan selembar kertas di tangannya. Dengan kasar dia menyodorkan kertas itu, lalu duduk di samping Keenan.
Keenan melebarkan matanya seraya membaca isi surat tersebut.
“kamu diskors? Kok bisa?” ujarnya dengan raut sedikit kecewa.
“Gak tahu” jawabnya acuh sembari mengangkat bahu.
“Merokok?"
"Ash?" Keenan menatap Ashleen yang tengah duduk bersila di sampingnya. Tangannya memainkan ujung baju sembari menunduk.
"Kalo kayak gini kamu bisa ketinggalan materi buat Ujian Nasional.” ujarnya merasa kecewa terhadap Ashleen.
"Kamu percaya kalo aku ngerokok?" ujar Ashleen membalikkan pertanyaan untuk Keenan dengan suara pelan.
Mendengar perkataannya, Keenan hanya diam sembari memperhatikan tingkah Ashleen.
"Orang tua kamu sudah tahu?"
Ashleen menggeleng.
Sekali lagi Keenan menghembuskan napas beratnya.
"Lalu?" - Keenan
"Itu cuma salah paham. Aku cuma kebetulan aja kena razia pas megang rokoknya Sesa.” Ujar Ashleen merasa terpojok dengan tuduhannya.
"Aku udah jelasin tapi tetep aja aku ikut kena skors." gumamnya di sudut sofa.
"Ken..." Ujarnya memelas.
"Kamu kecewa ya aku kena skors. padahal kamu sering banget ajarin aku banyak hal."
Keenan menggeleng.
"Aku gak kecewa karena itu"
“Aku bingung kenapa kamu gak pernah cerita hal kayak gini sama orang tua kamu. Mereka pasti khawatir" ujarnya sembari melipat kertas.
"Udah pernah."
"Dulu, waktu kamu belum ada dihidup aku"
"Terus?" - Keenan
"Gak ada respon." singkat Ashleen menggeleng dengan nada pelan.
Andai saja Keenan tahu jika orang tuanya selalu saling menyalahkan setiap kali Ashleen memberi tahu mereka banyak hal.
Hal itu hanya membuat Ashleen kesal dan menyalahkan diri sendiri.
Harusnya dia tidak perlu bercerita dan bersikap baik-baik saja.
Mendengar suaranya yang pelan, Keenan hanya menatap Ashleen sembari mengelus surainya lembut.
“Udahlah kamu ke kantor aja sana, ngapain sih masih disini, kan aku juga gak sekolah” Ujar Ashleen sembari mendorong lengan Keenan di atas kepalanya, berharap dia cepat pergi karena sebentar lagi hujan di matanya akan turun.
Kalau saja Keenan tahu seperti apa hubungan keluarganya.
“Kamu belum sarapan kan, sarapan dulu yuk” ajak Keenan.
“Gak usah, Arni bentar lagi datang kok.” jawabnya menolak dengan dalih bahwa sebentar lagi pekerja di rumahnya datang.
“Bener?” bujuknya sembari melemparkan senyum.
Mereka pergi ke suatu tempat dan mulai memesan makanan. Ashleen mulai mengeluarkan ponselnya dan memotret menu sarapan yang baru saja datang.
Suasana yang nyaman dan tenang membuat waktu berjalan sangat cepat. Mereka sudah menyelesaikan sarapannya, tentu saja tiga porsi makanan sudah ada di perut mereka. satu porsi di perut Keenan dan sisanya di perut Ashleen.
Dia meninggalkan makan malamnya.
Keenan sudah bersiap untuk beranjak dari sana, sementara Ashleen masih asik memotret pemandangan yang menurutnya keren.
“Pulang yuk, aku udah telat nih ke kantor” ujarnya sembari melihat layar ponsel.
“Nggak bisa bolos aja apa?” ucap Ashleen dengan nada sedikit memohon sementara Keenan meresponnya dengan menggeleng sembari tersenyum.
"Lagian pulang juga gak ada siapa-siapa". tambahnya dengan raut masam.
"Kamu bilang Arni bentar lagi datang" balas Keenan sembari memasukkan ponselnya.
Sudah hampir satu tahun Ashleen mengenal Keenan, dan selama itulah Keenan mengisi waktunya. Mengambil banyak peran dihidup Ashleen.
Keenan mulai melajukan mobilnya. Mengantar Ashleen kembali ke rumahnya. Sementara sang empu hanya duduk di sampingnya sembari terdiam merenungkan banyak hal.
Sesekali dia menatap Keenan dari balik pudarnya kaca jendela mobil.
Hal yang bisa dia lakukan saat ini adalah menjaga hubungannya dengan Keenan. Manusia bodoh yang dengan senang hati bersedia dimanfaatkan olehnya setiap saat. Bahkan bibirnya selalu tersenyum setiap kali Ashleen meminta bantuannya.
Beberapa saat dering telepon di ponsel Ashleen memecah keheningan itu.
“Halo Ar, udah di rumah?” ucap Ashleen menjawab telpon dari Arni.
“Enggak mbak, saya ada perlu di luar. Saya nelpon karena mau ngasih tahu kalo hari ini saya ada kepentingan. Mbak lagi di sekolah kan?” – Arni
“Enggak, saya gak ke sekolah hari ini. Tapi saya juga lagi nggak di rumah” jawab Ashleen.
“Ohh, mbak lagi dimana? Sama siapa mbak?” tanya Arni.
“Sama Si Bodoh, udah yah saya lagi di jalan mau balik ke rumah sekarang.” pangkas Ashleen.
Keenan hanya menatapnya tanpa suara.
“Ohh gitu ya mbak. Yaudah kalo ada apa-apa kabarin saya ya mbak” ujar Arni di ujung pembicaraan mereka.
"Arni?" tanya Keenan yang sesekali menatap jalanan.
Dia hanya mengangguk atas pertanyaan Keenan.
"Dia gak bisa ke rumah. Ada keperluan katanya." balas Ashleen.
Keenan terdiam sejenak mencerna ucapan Ashleen. Hingga akhirnya dia memberanikan diri untuk bertanya.
"Ash..."
Ashleen menoleh.
"Sebenernya orang tua kamu kapan pulang"
"Maaf bukannya aku mau ikut campur tapi udah seminggu aku gak ketemu siapapun selain kamu di rumah."
Hening.
Tak ada satu katapun yang keluar dari mulut Ashleen. Dia hanya memalingkan wajahnya menatap pemandangan luar dibalik jendela.
"Kenapa sih tanya mereka mulu..." bibirnya mulai terbuka mengeluarkan suara pelan.
Keenan sesekali menatap Ashleen yang menghadap jendela.
"Ada kamu di sini udah cukup buat aku" lanjutnya.
"Aku gak bisa selalu ada di samping kamu Ash." balas Keenan.
Suasana kembali hening. Ashleen memilih tidak melanjutkan percakapan mereka.
Sementara Keenan hanya mengangguk paham. Gadisnya belum siap bercerita apapun padanya meski dia berusaha untuk mencoba meringankan beban pikirannya.
Keenan mengulurkan satu tangannya dan mengelus surai Ashleen lembut.
"Kelak, ketika kamu udah siap buat cerita dan butuh pendengar yang baik. Aku akan ada disaat-saat itu."
Ashleen tidak berucap apa-apa selain menggenggam ponselnya erat. Sangat erat hingga membuat sisi telapak tangannya memutih.
Tubuhnya sedikit bergetar dan matanya mulai memanas. Sepertinya cairan panas akan jatuh dari matanya.
Sampai detik inipun Ashleen sendiri tidak tahu kapan orang tuanya pulang. Mereka hanya sibuk dengan urusan mereka masing-masing. Ashleen sendiri tidak pernah bertanya.
Bagi mereka, rumah hanyalah tempat singgah sementara. Mereka akan pulang jika ingat. Lalu, akan selalu ada pertengkaran diantara mereka setiap kali pulang. Entah itu hal kecil ataupun besar. Terlebih jika pertengkaran itu ada hubungannya dengan Ashleen.
Bagi Ashleen melihat kedua orang tuanya selalu bertengkar sudah menjadi hal biasa. Bahkan mereka sudah akan berpisah jika saja Ashleen tidak memohon. Ashleen sudah melewati itu hampir separuh usianya. Ashleen hampir gila dengan hidupnya.
Beruntungnya, kini ada 'si bodoh' di sampingnya meskipun berawal dari pertemuan yang kurang baik.
Selama ini, sudah banyak peran yang Keenan mainkan dihidup Ashleen. Keenan mampu menjadi pendengar yang baik layaknya teman, memberinya nasehat layaknya seorang ayah, menghiburnya dan menyayanginya. Keenan adalah sosok yang menyenangkan.
Tetapi, sebaik apapun perlakuan yang Ashleen dapatkan dari Keenan. Tidak akan bisa menandingi rasa kasih sayang yang dia dapatkan dari kedua orang tuanya.
"Ken..."
"Hm..."
Keenan menoleh. Menatap Ashleen yang masih menatap jendela.
"Makasih ya buat semuanya." ucap Ashleen yang perlahan menatap Keenan.
Keenan mengangguk.
"Kamu gak sendiri Ash. Kamu masih punya aku." balasnya sembari mengelus kepalanya lembut.
Ashleen kembali menatap layar ponsel dan membalas chat dari beberapa temannya. Mereka tahu jika hari ini Ashleen diskors dan hendak mengajaknya untuk bertemu di tempat latihan basket sementara mereka membolos. Ashleen meminta Keenan mengantarnya kesana.
END
Have you ever??