"Mik, lo dimana?"
Miko mendapatkan sebuah pesan singkat dari teman sekelasnya, Andi.
"Masih dirumah, gue. Belum berani kemana-mana."
Miko membalas pesan singkat tersebut.
"Kampus udah mulai perkuliahan lagi, lusa." ujar Andi lagi.
"Oh ya, kata siapa?" tanya Miko penasaran. Sudah 9 minggu ini kampus di liburkan. Pasca gempa 7,8 skala richter yang mengguncang kota mereka.
"Barusan dapat broadcast dari grup kampus." jawab Andi.
"Oh ya udah, lo masuk kan selasa nanti?" tanya Miko.
"Iya, masuk."
"Ya udah, bareng."
"Ok...!"
Miko tak membalas lagi pesan tersebut. Kini ia beralih menghubungi nomor Ayu, kekasihnya.
"Nomor yang anda tuju sedang tidak aktif, atau berada diluar service area."
"Yu, kamu dimana?. Kenapa pesan aku nggak pernah kamu bales. Telpon aku nggak pernah kamu angkat. Apa kamu masih di Surabaya, sekarang?"
Miko mengirim pesan singkat tersebut. Pasca gempa, kekasihnya itu memang tak memberikan kabar apa-apa. Terakhir bertemu beberapa saat sebelum gempa, ia dan Ayu sempat bertengkar karena suatu hal. Ayu sendiri saat itu berencana pulang ke Surabaya untuk menemui orang tuanya yang dikabarkan sakit.
"Ya tapi, nggak harus di anter Dimas juga."
Miko berteriak pada Ayu hari itu. Karena Ayu mengatakan jika ia akan diantar oleh Dimas, mantan kekasihnya. Kebetulan Dimas itu satu kampung dengan Ayu. Ia juga tengah ada keperluan pulang kampung guna menghadiri pernikahan saudaranya. Jadilah ia mengajak Ayu pulang bersama. Namun itu menyulut kemarahan Miko.
"Ya apa salahnya sih, Mik. Toh aku juga bukan balikan sama Dimas. Sekedar pulang bareng naik mobilnya dia. Daripada aku ngongkos."
"Berapa sih ongkosnya?. Aku bayarin, Yu. Daripada aku harus ngeliat kamu berdua sama mantan kamu itu."
"Mik, nggak usah teriak gitu. Ini dikampus, kamu nggak malu apa?"
"Gimana nggak teriak, kamunya aja kegatelan."
"Plaaaaak...." Sebuah tamparan mendarat begitu saja di pipi Miko sebelah kiri. Ia merasakan sebuah sakit, namun lebih sakit ketika Ayu memberinya tatapan yang penuh kebencian.
"Aku nggak mau bicara lagi sama kamu."
Ayu berlalu.
"Yu, Ayuuu."
"Aku muak sama kamu, Mik. Dari dulu cemburuan nggak jelas."
Ayi berteriak, lalu menghilang dibalik koridor kampus.
Miko yang sudah terlanjur malu karena di tampar di depan umun itupun berjalan. Ia melangkah dengan cepat, mencari dimana mantan kekasih Ayu berada. Kebetulan Dimas tengah berbincang dengan seseorang di muka pintu kelasnya. Tanpa basa-basi lagi Miko pun menghajarnya.
"Buuukkk...!
"Buuukkk..!"
"Ada apa ini, woy?" Mahasiswa lain coba memisahkan mereka. Dengan nafas masih memburu, Miko pun diamankan pihak security kampus.
Di pos keamanan, mereka beradu argumen. Miko mengungkapkan seluruh kekesalannya pada mantan kekasih Ayu tersebut. Sementara mantan kekasih Ayu pun tak mau mengalah.
Sebuah keributan kembali terjadi, hingga dosen mereka pun harus turun tangan mendamaikan. Ayu yang masih berada di kampus mendengar hal tersebut dan langsung menyambangi pos pengamanan.
Tanpa diduga, Ayu malah membela mantan kekasihnya. Ia sama sekali tak mau berbicara pada Miko yang dinilainya sangat tempramen dan memalukan tersebut.
Ayu keluar dari pos pengamanan bersama mantan kekasihnya itu. Tinggalah Miko dengan sakit hatinya yang berlapis.
Hari itu ia kembali ke kelas dengan membawa kekalahan. Ia masuk dan duduk seperti biasa, Sementara puluhan pasang mata memperhatikannya. Karena rata-rata teman sekelasnya tau jika Miko baru saja terlibat perkelahian.
"Wajar aja, Ayunya belain mantan. Modelan Miko tempramen gitu." ujar salah seorang mahasiswi kepada mahasiswi lainnya.
"Iya, gue mah ogah sama cowok kayak begitu. Ntar, gue diajak ngobrol sama tetangga dikit, dikira selingkuh."
"Ho'oh."
Merasa tak nyaman, salah satu teman Miko yang laki-laki yakni Andi pun berujar.
"Belakang aja, yuk Mik."
Miko mengangguk. Belakang yang dimaksud bukanlah bangku paling belakang. Melainkan halaman belakang kampus, tempat dimana mereka sering nongkrong dan melarikan diri dari kelas.
Miko dan Andi pun pergi kesana. Meninggalkan kelas yang saat itu belum di mulai. Disana Andi mengeluarkan sebungkus rokok dan juga sebotol beer yang ia beli kemarin sore. Mereka merokok dan meminum beer tersebut secara bergantian.
perlahan Miko mulai bercerita tentang Ayu.
"Deeeerrrt.."
Tampak botol beer yang bergetar dimata Andi.
"Bro, lo liat ini botol goyang nggak barusan?" tanya Andi. Miko yang tak melihat sama sekali itupun hanya bengong lalu tertawa.
"Masa iya lu mabok karena beer doang. Sampe botol diem lu kira goyang." ujar Miko masih diiringi tawa.
"Kagak, Mik beneran."
"Deeerrrt...!" Kali ini keduanya melihat. Bukan hanya itu saja. Sekarang tubuh mereka tampak gamang.
"Mik, gempa ya Mik?"
"Eh iya anjir, gempa."
Makin lama gempa tersebut makin kuat. Hingga menyebabkan banyak bagian yang runtuh secara serta merta.
"Lari, Ndi. Ke arah sana."
"Buuuukkk..." Sebuah bagin tembok hampir mengenai mereka. Susah payah mereka bergerak ditengah guncangan. Sampai akhirnya, ada sesuatu yang menimpa dan keduanya jatuh tak sadarkan diri.
Miko bangun ketika dirinya sudah dirumah sakit. Ia mengalami luka ringan sedangkan Andi patah kaki. Keduanya dirawat dirumah sakit yang sama.
Kini setelah beberapa minggu berlalu, Miko mendengar kabar dari Andi jika kampus telah dibuka kembali.
Dua hari kemudian.
"Bro, gimana?. Lo masuk nggak?" Kali ini Mikho yang bertanya pada Andi. Namun entah mengapa pesan yang ia kirim hanya centang satu.
Miko meletakkan handphone nya. Bisa jadi itu gangguan sinyal atau Andi memang belum mengisi paket data. Miko sendiri berncana masuk ke kampus hari ini. Kebetulan jadwalnya sore.
"Biiiiip." Terdengar sebuah suara notifikasi. Ternyata dari Andi.
"Bro, kelas kita dimundurin jam 7 malem katanya."
"Ya udah, bagus deh. Bisa tidur dulu gue seharian." balas Miko. Tak lama setelahnya, Miko pun memutuskan untuk kembali tidur.
Pukul 6:00 sore ia terbangun. Miko buru-buru mandi dan berpakaian. Ia bahkan tak sempat makan dulu karen waktu mepet. Kalau tidak salah hari ini, ia ada jadwal mata kuliah dengan pak Toni. Dosen yang terkenal cukup killer di kampusnya.
Miko tiba dikelas tepat waktu. Hari itu lumayan ramai mahasiswa yang memulai perkuliahan. Meskipun itu hari pertama paaca kampus diliburkan secara masal.
Dikelasnya sendiri, hampir seluruh mahasiswanya masuk. Namun Miko tak melihat kehadiran Andi. Ia pun lalu mengirim pesan singkat ke nomor sahabatnya tersebut. Namun hanya centang satu.
"Hmmm, ngerjain nih pasti nih anak. Nyuruh orang masuk, padahal dia kagak." ujar Miko kemudian.
Tak lama berselang, dosen mereka pun datang. Para mahasiswa langsung mengambil posisi siap. Karena pak Toni terkenal dengan sifatnya yang tak mau melihat mahasiswa yang terlihat lunglai.
Dua jam berlalu begitu saja. Pak Toni menjelaskan beberapa bab. Namun sampai di bab berikutnya, ia mengulanginya lagi. Mengulang penjelasan di bab yang sama berkali-kali.
Miko sendiri bingung. Kenapa tak satupun dari teman sekelasnya memberitahu. Atau mungkin mereka takut, pikir Miko. Miko pun melirik arloji. Ini sudah waktunya pulang.
"Pak, kenapa dari tadi ngulang terus ya. Apa nggak ada pembahasan lain?" Miko mencoba memberanikan diri. Meski resikonya bisa saja ia mendapatkan masalah. Karena dosen ini terkenal tak mau dikritik.
Seisi kelas diam serentak. Dari yang tadinya menulis, kini serentak mengangkat pulpen dari atas kertas.
Dosen tersebut pun berhenti membahas. Ia diam terpaku di depan sambil menghadap papan board. Tak lama kemudian, ia pun mengulang hal yang sama. Lagi-lagi Miko merasa bingung. Seisi kelas pun kembali menulis. Ia melihat ke sekitar, disebelahya ada seorang gadis yang tengah membenarkan ikatan cepol dirambutnya.
Ada pula yang menukar pulpen, diam-diam melihat handphone dan lain-lain.
"Pak, ini kita ngulang bab ini sampe berapa lama lagi?" Miko lebih berani bertanya. Karena pada saat pertanyaan pertama, ia tak melihat tanda-tanda dosennya itu akan murka.
Namun lagi-lagi, kali ini sang dosen berhenti. Sama seperti tadi, berdiri mematung menghadap papan board. Seisi kelas kembali mengangkat pulpen. Lalu pelajaran yang sama kembali dimulai.
Miko mulai kesal, namun tanpa sengaja ia menoleh ke arah kanan. Ketempat dimana tadi seorang teman membenarkan cepol rambutnya. Gadis itu kembali membenarkan cepol rambutnya. Sama persis dengan yang tadi sebelumnya telah ia lakukan.
Mungkin cepol rambutnya memang lepas lagu, pikir Mario. Namun ia pun melihat apa-apa yang dilakukan temannya kembali terulang. Yang menukar pulpen, kembali menukar pulpennya. Yang diam-diam melihat handphone pun kembali melakukan hal yang sama.
"Degghh." Bathin Miko mulai tak karuan. Ada hal ganjil yang mulai memunculkan kecurigaan di hatinya.
"Pak, kita sudah membahas bab ini." Miko kembali memberanikan diri. Lalu pola nya terjadi lagi. Dosen tersebut berhenti, mematung didepan papan board. Teman-teman seisi kelasnya menghentikan aktifitas menulis. Ada yang membenarkan cepolan rambut, melihat handphone dan lain-lain. Namun semua sama seperti tadi.
"Deeegghh." Bathin Miko pun makin resah.
Perlahan angin bertiup semilir, tak jelas entah dari mana asalnya. Miko masih bingung dengan semua hal yang terjadi.
"Biiiiiip." tiba-tiba ada notifikasi pesan singkat dari Andi.
Banyak sekali pesan yang masuk. Agaknya handphone Miko telah hilang sinyal untuk waktu yang cukup lama. Pesan itu berisi pertanyaan,
"Lo dimana?"
"Lo dimana?"
Miko pun lalu menjawab,
"Di kampus gue, lagi dikelas."
"Hah?. Lo nggak liat chat gue yang atas ya?"
Miko pun menscroll pesan Andi. Dan ia pun terkejut ketika menemukan sebuah pesan berisi,
"Kita nggak jadi masuk, ternyata mingu depan. lokasinya di gedung kampus C, soalnya gedung kita masih direnovasi. Gedung kita ancur banget ternyata."
"Ancur gimana?. Ini udah bener, gue lagi sama anak-anak dan pak Toni sekarang." Miko menjawab.
"Serius lo?. Jangan bercanda. Pak Toni meninggal dalam peristiwa itu, Mik."
Keringat dingin mengucur deras dari sekujur tubuh Miko. Ia kini berusaha menarik nafas. Ia mencari berita di google, mengenai korban gempa yang terjadi di kotanya. Dalam satu artikel dibahas jika beberapa dosen dari kampusnya telah menjadi korban. Termasuk pak Toni.
Penuh gemetar Miko membereskan bukunya. Suara pak Toni masih mejelaskan bab terkhir. Perlahan dengan penuh ketakutan, Miko mengirimkan pesan broadcast ke teman sekelasnya.
"Kita semua keluar pelan-pelan. Pak Toni sudah meninggal."
Miko menunduk, menungu reaksi teman-temannya. Ia telah siap berjalan ke arah pintu. Namun teman-temannya tak bereaksi apa-apa. Perlahan Miko pun mengangkat wajah.
"Haaaaaaaaaaa." Miko menjerit ketika teman-temannya tak lagi dalam keadaan normal. Mereka semua kini terlihat menyeramkan. Ada yang kepalanya berdarah-darah, tangan terkulai dan kaki patah. Mereka semua kini menatap Miko dengan wajah pucat. Miko buru-buru hendak mencapai pintu. Namun dosennya keburu menoleh.
"Mau kemana, Miko?"
"Hahahaha." terdengar suara tawa yang menyeramkan. Miko berlari sekuat tenaga, ia menerobos pintu masuk dan berlarian di sepanjang koridor. Namun disetiap titik ia menemukan penampakan menyeramkan.
"Haaaaaaa."
"Haaaaaaa."
Miko terus berlari. Setiap kali ia menuju ke suatu arah, disitu pula ia kembali melihat sosok menyeramkan penuh darah. Ia pun memutar arah larinya menuju pagar belakang kampus. Namun dosennya telah berdiri disana membelakanginya.
Miko siap-siap berteriak, namun seseorang menutup mulutnya dan membawanya bersembunyi.
"Ayu?" Miko menyadari siapa orang tersebut.
"Ssstt." ujar Ayu menempelkan jari telunjuk di bibir Miko. Miko yang masih ketakutan itu pun, akhirnya diam dan mencoba mengatur nafas.
"Kamu kemana aja, Yu. Kenapa nggak pernah bales pesan aku."
" Kemana aja, Yu. Kenapa nggak pernah bales pesan aku." Sebuah suara menyeramkan terdengar, tampak mengcopy ucapan Miko barusan. Miko pun makin ketakutan, begitupula dengan Ayu. Tak lama Ayu menyeret Miko untuk kembali berlari menuju pintu pagar kampus.
"Kemana aja, Yu."
"Haaaaaaaaaaa." Miko dan Ayu berteriak, ketika pak Toni berada di hadapan mereka. Miko dan Ayu berlari kencang hingga kemudian,
"Braaak..!"
Mereka menabrak seseorang.
"Dimas?"
Miko ingat terakhir kali cekcok dengan anak itu. Kini ia menemukan anak itu berada dihadapannya.
"Mau kemana kalian?" Pak Toni kembali muncul.
"Haaaaaa."
"Ikut gue." teriak Dimas. Miko dan Ayu pun berlari kencang, mengikuti langkah Dimas.
"Haaaaah." Miko terjatuh. Dimas dan Ayu menghentikan langkah dan menoleh. Miko jatuh tepat didepan sesosok tubuh yang tengkurap. Nafas Miko terdengar memburu. Ia sangat ketakutan ketika menyadari tubuh itu kini bergerak.
"Mau kemana?"
"Haaaaaaaa..." Miko kembali beteriak, wajah orang didepannya itu hancur. Ayu dan Dimas menarik Miko. Mereka kembali berlari, banyak sekali makhluk yang tampak didepan mata mereka. Mereka bersusah payah dan akhirnya bisa sampai ke pintu pagar.
Dimas membuka pintu pagar itu, lalu Ayu mendorong Miko. Namun secara serta serta pintu pagar itu kembali tertutup dan terkunci.
"Braaak...!"
"Ayuuuu, Dimaaaas." Miko berteriak, ia berushaa membuak kembali pintu pagar itu.
"Lompat, Yu, Dim. Lompat...!" ujarnya panik. Namun Ayu dan Dimas malah diam.
"Yu, Dim?" Hati Miko merasakan ada yang aneh. Perlahan meereka berbalik arah membelakangi Miko.
"Yu, Dim?" ujar Miko lagi.
Keduanya menoleh perlahan, dan betapa terkejutnya Miko, melihat kepala keduanya pecah. Darah dimana-mana. Air mata Miko pun mengalir deras di sela ketakutan dan tenaganya yang habis.
Ia tak percaya dengan apa yang ia lihat.
"Nggak." Miko menggelengkan kepalanya seraya menangis penuh kemarahan.
"Ngaaaaaaak..."
"Buuukk."
Perlahan ia pun jatuh. Tak lama setelah itu, Andi tiba dengan polisi dan ambulance. Andi memiliki firasat terhadap Miko yang tiba-tiba sudah tidak bisa dihubungi pasca chat didalam kelas tadi.
Miko mendapat pertolongan. Ia mengalami syok dan trauma berat. Ia juga baru menyadari jika kampusnya masih direnovasi. Ia juga baru mengetahui jika seisi kelasnya meninggal. Kecuali dirinya dan Andi saja yang selamat.
Ayu dan Dimas pun tewas pada saat kejadian. Miko menangis tersedu-sedu. Bahkan sampai ia mendatangi makam kekasihnya itu dikampung halamannya, Miko tetap tak bisa membendung air matanya. Miko menyesal hari terakhirnya bertengkar dengan Ayu. Perlahan semua kenangan manis mereka seakan terputar ulang dalam ingatan Miko. Ia pun menangis sejadi-jadinya.
Hari demi hari berlalu, Miko didampingi oleh psikiater. Cukup lama ia mengalami trauma. Sampai kemudian, Miko memutuskan pindah kota dan pindah kuliah pula. Sama halnya dengan Andi.