Entah sudah beberapa kali aku melihat sosok itu berlarian menembus guyuran hujan tanpa menggunakan payung. Aku hanya bisa tersenyum saat menyadari bahwa dia berlari ke arah kedai kopi yang sedang aku kunjungi saat ini.
Seperti biasa, di saat hujan turun seperti ini aku selalu menemukan sosok itu, dan ketika tatapan kami bertemu, dia langsung memilih tempat duduk di sebelahku sembari tersenyum lembut. Semenjak melihatnya berlarian di tengah hujan, entah kenapa sosok itu selalu menarik perhatianku, hingga saat ini.
Dulu, tanpa berkenalan pun aku sudah mengetahui namanya. Aria Heriyawan, salah satu siswa di sekolahku. Sebenarnya bukan karena aku mencari tahu, tapi pemuda yang sedang duduk di sebelahku ini lumayan terkenal di sekolah hingga namanya kerap kali kudengar dan juga selalu menjadi pusat perhatian. Banyak yang menyukai dirinya dan selalu ingin dekat dengannya.
Kami bertemu di tempat ini juga secara tidak sengaja. Saat itu aku tidak membawa payung ketika hujan turun dengan tiba-tiba, dan aku lebih memilih berteduh di pinggiran toko yang sedang tutup. Aku tak mungkin berlarian seperti yang orang lain lakukan di tengah guyuran hujan yang lumayan deras itu. Aku tak mau jika harus mengalami flu yang entah sudah berapa kali kualami setelah beberapa bulan itu. Aku menyukai hujan, tapi kalau membuatku repot seperti itu rasanya menyebalkan.
Seperti biasa, tanpa sadar tanganku langsung menengadah ke arah turunnya hujan, seakan-akan menampungnya meskipun pada akhirnya airnya tetap jatuh ke tanah melalui celah-celah jariku. Hanya melakukan hal sederhana itu membuatku kembali senang, dan rasa sebal karena hujan pun meluap begitu saja.
"Tanganmu tidak merasa dingin?"
"Eh?"
Dengan spontan aku langsung menarik tanganku dan meletakkannya di dadaku ketika dengan tiba-tiba aku mendengar suara seseorang menyambung. Beberapa detik berikutnya aku langsung menoleh ke arah samping dan sedikit terkejut saat melihat sosok yang tak asing bagiku.
Saat itu aku hanya bisa menggeleng pelan untuk menanggapi ucapan dari pemuda itu. Aku bahkan tak menyadari kapan dia datang hingga ia sudah berada di sampingku.
Aku mulai merasa gugup, dan jantungku berdetak kencang saat mengetahui orang yang terkenal di sekolahku berdiri di sampingku bahkan sempat berbicara singkat denganku, padahal yang kutahu dia orang yang cuek dan tidak terlalu peduli dengan sekitarnya.
Sebenarnya, tempat yang kubuat berteduh itu adalah tempat yang biasanya dia gunakan untuk menunggu hujan reda. Biasanya aku selalu memperhatikannya di kedai kopi yang ada di seberang jalan dari tempat teduhnya, hanya saja saat itu sedang tutup sehingga aku mencoba berteduh di tempat itu, dan aku benar-benar tak menyangka ternyata dia juga ikut berteduh di tempat itu.
Jujur saja, aku senang memperhatikannya dari kedai kopi itu. Entah kenapa ketika dia berlarian di tengah hujan dia selalu menunjukkan ekspresi bahagia, seakan-akan dia tidak peduli jika tubuhnya menjadi basah. Bahkan ketika dia berteduh di tempat itu, kedua matanya berbinar melihat ke arah hujan yang turun dari langit. Melalui tatapan matanya, aku langsung tahu bahwa dia menyukai hujan, dan mungkin itulah yang membuatku terpesona dan selalu memerhatikannya ketika melihatnya di saat hujan sedang turun.
Hari berikutnya, setelah pertemuan singkat di tempat favoritnya berteduh, dia akhirnya menyadari keberadaanku yang sedang memerhatikannya di dalam kedai kopi di seberang jalan dari tempatnya berteduh. Ya Tuhaaan...saat itu benar-benar memalukan, karena harus ketahuan olehnya. Hal itu membuatku jadi salah tingkah, dan jantungku berdetak kencang.
Kukira, dia akan cuek seperti biasanya, karena bisa dikatakan dia tak mengenalku meskipun aku sangat mengenalnya. Intensitas keberadaanku juga sangat minim jika dibandingkan dengan gadis lain yang selalu berusaha mencari perhatiannya. Aku hanya bisa menjadi pengagum rahasianya, selalu diam-diam agar tidak terlihat dan diketahui. Namun ternyata, dia malah tersenyum lembut padaku, dan yang membuatku tak percaya dia menggerakkan tangannya memberi isyarat kepadaku bahwa dia akan menghampiriku.
Aku hanya bisa mengangguk pelan untuk menjawab isyaratnya bahwa aku menyetujuinya. Dan lagi-lagi aku melihatnya berlarian di tengah guyuran hujan menuju kedai kopi dengan ekspresinya yang menunjukkan rasa bahagia, seakan-akan menikmati tetesan-tetesan air yang mulai membasahinya. Dari dia berlari hingga masuk ke kedai kopi dan duduk di sebelahku, aku tak pernah melepaskan arah pandanganku darinya. Ya Tuhaaan...dia benar-benar terlalu indah untuk diabaikan.
"Thanks, sudah mengijinkanku berteduh di sini," ucapnya tiba-tiba saat itu dan membuatku sedikit tersentak karena ucapannya yang menurutku aneh.
"Eh? Ke-kenapa terima kasih? Di sini kan tempat umum, se-semua orang bebas berteduh di sini," jawabku sedikit gugup karena harus berbicara dengannya.
Sungguh! Aku tak menduga bahwa aku akan berinteraksi dengannya secara langsung seperti itu hingga membuatku bingung harus bicara apa. Bahkan telapak tanganku berkeringat dan aku melampiaskannya dengan menggenggam erat cangkir cappucino-ku yang sudah hangat.
Saat itu dia hanya tersenyum dan memesan Vanilla Latte untuk minumannya. Beberapa menit berlalu kami hanya terdiam, memikirkan pikiran masing-masing, dan aku hanya melihat ke arah luar jendela yang ada di depanku dan menampilkan tetesan-tetesan air yang turun dari langit. Aku benar-benar tak bisa mengawali percakapan yang baik itu bagaimana, aku benar-benar bingung.
"Kau juga suka hujan, ya?"
Lagi-lagi suara lembutnya terdengar olehku hingga membuatku menoleh ke arahnya. Aku bersyukur karena dia tak melihatku, dia menatap ke arah luar jendela, sama yang kulakukan tadi, melihat hujan turun.
"Hujan itu menenangkan, membuat nyaman dan...entahlah aku juga tidak tahu apa lagi," jawabku seadanya, aku tak tahu harus menjabarkan apa lagi yang kurasakan saat melihat hujan. Aku tak bisa menemukan alasannya, yang kutahu pasti adalah aku menyukai hujan.
Mendengar jawabanku dia langsung tertawa ringan, tapi tatapannya masih tetap setia melihat hujan. Tiba-tiba hatiku menghangat saat melihatnya tertawa, aku tak tahu bahwa dia bisa menunjukkan berbagai ekspresi di wajahnya, padahal saat di sekolah selalu berwajah datar. Aku tak berani bersikap seakan-akan akrab dengannya, karena pasti akan membuatnya kesal. Karena itu, aku mencoba untuk menjaga sikapku agar tidak merusak semuanya.
"Itu jawaban yang klise, sudah sangat sering aku mendengar kalimat-kalimat itu. Hahaha... Eh, tapi aku baru kali ini melihat seseorang yang menengadahkan tangannya ke arah hujan. Sebegitu sukanya kau dengan hujan ya sampai melakukan hal itu? Benar-benar seperti anak kecil. Hahaha...."
Entah kenapa, aku merasa sedikit kesal dengan perkataannya itu, tapi merasa senang di saat bersamaan, karena dia seperti memerhatikanku juga. Seulas senyum pun tercurah di wajahku. Meskipun begitu, aku mencoba membalas perkataannya.
"Kau juga begitu, malah berlarian di tengah guyuran hujan dengan wajah ceria. Bagiku saat melihat hujan tatapanmu malah seperti melihat permen. Bukankah itu juga seperti anak kecil? Hahaha..." Kataku dengan spontan karena merasa tidak terima akibat perkataannya hingga membuatku tertawa kecil karena sempat membayangkan wajahnya yang lucu.
'Eh?' Aku agak tersentak kaget ketika dia langsung menoleh ke arahku hingga tatapan kami akhirnya bertemu. Kedua bola matanya yang berwarana agak kecoklatan itu terlihat indah, sejenak aku terpaku karena terpesona melihatnya.
"Baru kali ini aku mendengar seseorang mengatakan hal itu kepadaku. Kurasa kita benar-benar aneh ya? Hahaha..."
Ya Tuhaaaan...lagi-lagi aku harus terpukau hanya karena ucapannya yang sederhana itu, hanya karena ekspresi tawanya yang ringan, dan saat itu aku sadar bahwa aku sudah jatuh ke dalam pesonanya yang terlihat sederhana itu meskipun aku tahu bahwa menyukainya tak sesederhana itu.
Sejak saat itu kami sering bertemu di kedai kopi ini, dan tentunya ketika hujan turun juga. Kami sama-sama menyukai hujan, dan kopi, karena itulah kami bisa bersama meskipun yang kutahu perasaan kami tidaklah sama. Ya, aku tidaklah terlihat di kedua matanya yang indah itu.
Dia pernah berkata bahwa ada seseorang yang membuatnya tertarik di kedai kopi ini, karena itu dia selalu melihat gadis itu di tempatnya berteduh. Aku juga baru tahu kenapa saat itu dia berterima kasih padaku ketika dia kuijinkan duduk di sebelahku, itu karena agar dia bisa melihat dengan dekat gadis itu, dan saat itu juga aku baru menyadari bahwa di sebelahku ternyata ada gadis yang cantik, kurasa gadis itu yang dimaksud olehnya. Aku hanya bisa tersenyum untuk menutupi rasa sesak di dadaku.
Seperti biasa, dia selalu memesan kopi vanilla latte kepada pelayan kedai kopi ini. Aku hanya bisa tersenyum saat melihat rambutnya yang basah hingga menetes ke wajahnya, melihat kedua matanya yang berbinar saat melihat hujan turun dari jendela, dan juga ekspresinya yang berubah-ubah. Aku benar-benar bersyukur bisa melihatnya sedekat ini, aku merasa ini sudah lebih dari cukup.
"Aneh ya?" Katanya dengan tiba-tiba hingga membuatku sedikit tersentak. Aku tak tahu kenapa, dia selalu bisa membuatku kaget dengan segala ucapannya, dan terkadang tak bisa kumengerti.
"A-apanya?" Tanyaku menanggapi ucapannya. Saat kulihat, dia masih saja setia menatap hujan. Di dalam hati aku ingin menjadi hujan, agar bisa terus terlihat oleh kedua matanya. Ah, keinginanku ini benar-benar konyol dan terdengar bodoh.
"Aku heran, kita selalu ditemukan di saat hujan dan di tempat ini ya? Bahkan di sekolah kita nyaris tidak pernah bertemu. Bahkan kita tak pernah membuat janji untuk bertemu di sini, tapi selalu bertemu. Rasanya ini seperti takdir. Hahaha..."
Ya Tuhaaan...kenapa dia bisa dengan mudahnya mengatakan hal itu? Tanpa dia ketahui, aku selalu melihatnya di sekolah meskipun dia tak menyadari keberadaanku. Mencoba untuk menghindar ketika hampir bertemu, karena aku tak mau menjadi pusat perhatian ketika teman-teman tahu bahwa ternyata kami dekat. Dan di saat hujan turun inilah yang membuatku bisa bersamanya, selalu menunggu di kedai kopi ini karena tempat ini yang menghubungkanku dengannya.
Takdir ya? Aku hanya bisa tersenyum masam mendengarnya, karena akulah yang menciptakan takdir itu. Jika aku tak berada di sini mungkin takdir itu tak akan pernah ada. Tanpa dia sadari, kata-katanya membuat perasaanku semakin bertambah. Jadi, bisakah aku tetap bersamanya ketika hujan turun seperti ini? Bisakah kami tetap menikmati kopi kesukaan kami di tempat ini? Dan...akankah cinta ini tersampaikan padanya?
.
n_n
.
Rasanya...aku benar-benar seperti orang gila. Bagaimana tidak? Mulai dari gerbang sekolah hingga di perjalanan ke tempat favoritku, aku tak bisa menahan senyumanku yang sedari tadi mengembang di wajahku. Aku benar-benar senang saat mengetahui bahwa hari ini hujan turun. Aku sudah tak sabar untuk menikmati cappucino favoritku, tak sabar melihat hujan dari jendela kedai kopi favoritku, dan tak sabar bertemu dengan dia, apalagi melihatnya berlarian di tengah guyuran hujan.
Tidak seperti dirinya, aku lebih senang berjalan santai dengan payung yang melindungiku dari guyuran hujan. Ya, dengan begini aku bisa menikmati hujan lebih lama. Aku benar-benar gila akan hujan. Tuhan itu memang sangat luar biasa, karena sudah menciptakan hujan yang bisa membuat orang bahagia.
Seperti biasanya, aku selalu memilih tempat di pojok yang tentunya dekat dengan jendela, dan juga tempat di mana aku bisa melihatnya berteduh di depan toko yang ada di seberang jalan. Hujan kali ini tidak begitu deras, tetapi cuacanya begitu dingin hingga aku akhirnya memesan cappucino panas untuk minumanku.
Melihat hujan memang tidak membuatku bosan, tapi sesekali aku melihat jam di ponselku yang sekarang ini sudah menunjukkan pukul 4 sore lebih, tidak terasa aku sudah setengah jam berada di sini, dan aku masih belum menemukan sosok yang berlarian di tengah guyuran hujan ataupun berteduh di depan toko seberang jalan. Ini aneh, biasanya dia datang sepuluh menit setelah aku datang, tapi hingga setengah jam berlalu dia belum juga datang.
Entah kenapa aku merasa sedikit kecewa, padahal seharusnya aku tak merasakan perasaan itu, karena kami tidak membuat janji untuk bertemu di kedai kopi ini. Jadi, kenapa aku harus merasa kecewa? Ah, aku benar-benar bodoh dan seenaknya sendiri.
Aku masih saja melihat ponselku, berharap ada pesan ataupun telepon masuk dari orang itu. Lagi-lagi aku harus menyadari kebodohanku, mana mungkin dia menghubungiku? Itu tidak mungkin terjadi, karena kami tak pernah saling meminta nomor ponsel. Aku hanya bisa tersenyum masam.
Hujan sudah benar-benar reda, bahkan aku sudah menghabiskan dua cangkir cappucino panasku. Langit juga sudah mulai gelap, kulihat pengunjung di kedai ini mulai ramai dan aku merasa sedikit terganggu. Aku sudah lelah, lelah menunggunya. Aku juga sudah mulai yakin bahwa dia tak datang di kedai kopi ini. Aku tak menyangka, ternyata akan ada di mana hari hujan turun tapi aku tak bisa melihatnya. Jujur, itu membuatku sedih, dan mungkin saja selanjutnya akan seperti itu terus.
Tanpa kuinginkan, dadaku terasa sesak karena memikirkan hal itu akan terjadi. Namun, aku mencoba untuk mengabaikannya, dan mulai memasukkan barang-barangku yang ada di dalam meja ke dalam tasku. Lebih baik aku pulang, karena tak ada yang bisa kulakukan di sini ketika hujan tidak turun. Ya, tanpa hujan, tanpa kopi dan tanpa dirinya semua menjadi tak berarti.
.
n_n
.
Tidak seperti biasanya, ketika hari libur aku lebih memilih di rumah untuk tidur daripada keluar rumah apalagi di pagi hari, tapi mungkin karena hujan turun akhirnya aku memilih pergi ke kedai kopi untuk meminum cappucino favoritku. Mungkin menikmati hujan di pagi hari terbilang cukup langka untukku.
Aku bersyukur hujan tidak terlalu deras, sehingga membuatku mudah untuk berjalan dan juga tidak membuat pakaianku basah. Selama perjalanan aku selalu membayangkan pasti begitu nikmat meminum cappucino panas di cuaca dingin seperti ini. Aku sudah benar-benar tak sabar lagi hingga akhirnya aku mempercepat langkahku menuju kedai favoritku yang jaraknya mulai dekat.
Kulihat kedai kopi favoritku begitu ramai, aku tak tahu jika di hari libur dan di saat hujan seperti ini bisa membuat tempat ini menjadi ramai. Aku mencoba untuk tidak memedulikannya dan langsung berjalan menuju tempat favoritku.
Aku sangat bersyukur tempat itu belum ditempati oleh orang lain, tapi jika sudah ditempati oleh orang lain aku tak masalah, karena aku tahu bahwa di hari libur aku pasti tak akan menemukan sosoknya yang berlarian di tengah guyuran hujan maupun berteduh di depan toko seberang jalan.
Tanpa menunggu lama setelah aku duduk, pelayan dari kedai kopi datang menghampiriku dengan senyumannya yang lembut. Sebenarnya, pelayan itu sudah hapal dengan pesananku, karena aku sudah sangat sering datang ke sini dan memesan minuman yang sama, tapi tetap saja memastikanku bahwa aku memesan minuman yang sama seperti biasanya, dan kujawab dengan anggukan pelan.
Setelah pelayan itu pergi, aku mengeluarkan ponsel dan earphone dari dalam tasku. Suasana di kedai ini sangat ramai bahkan suara hujan di luar kedai ini terkalahkan, karena itulah aku lebih memilih mendengarkan musik dari ponselku dengan menggunakan earphone, sehingga bisa memblokir suara orang-orang yang ada di dalam kedai ini.
Sekarang yang terdengar adalah suara lagu dari earphone-ku, tanpa tahu apa yang orang-orang katakan di kedai kopi ini. Seperti biasa, tatapanku mengarah ke luar jendela yang ada di depanku ini yang sedang menampilkan rintikan air yang turun dari langit. Melihatnya saja sudah membuatku senang meskipun aku tak tahu kenapa. Seperti kata dirinya bahwa kami ini sama-sama aneh. Aku tertawa kecil saat mengingatnya secara tiba-tiba. Selalu seperti ini, aku pasti langsung mengingatnya ketika hujan turun.
"Eh?"
Aku langsung tersentak kaget ketika tanpa sengaja aku melihat sosok itu dari kejauhan. Ya Tuhaaaaan...aku benar-benar tak percaya ini. Bagaimana mungkin aku bisa melihatnya berlarian di tengah guyuran hujan di hari libur dan di pagi hari seperti ini? Aku sungguh tak percaya, tapi melihatnya berteduh di tempat favoritnya yang ada di seberang jalan langsung menyadarkanku bahwa itu benar-benar Aria.
Dia belum menyadari keberadaanku, karena dia masih sibuk mengusap kemejanya yang basah karena air hujan dengan handuk kecilnya yang diambilnya dari tasnya. Rambutnya juga basah, hingga tetesan-tetesan air dari poninya jatuh membasahi wajahnya. Sungguh! Aku tak bisa mengalihkan perhatianku darinya, seakan-akan ada magnet yang terus menarikku untuk terus memerhatikannya.
Ya Tuhaaan...pada akhirnya, kedua mata indahnya kini menatapku, menyadari keberadaanku yang selalu mengamatinya, dan pastinya langsung membuatku membeku seketika. Tanpa terencana, jantungku langsung berdebar kencang, wajahku memanas bahkan kedua telapak tanganku langsung berkeringat. Suatu reaksi yang biasa kualami jika berhadapan dengannya, dan aku berharap bisa mengatasinya.
Aku semakin gugup ketika melihatnya kembali berlari kecil mendekati kedai kopi ini. Ya Tuhaaan...bahkan sekarang aku tak bisa mendengarkan dengan jelas lagu yang kudengarkan melalui earphone-ku, karena suara debaran jantungku lebih keras dari suara laguku. Aku takut jika dia akan mendengarnya.
Tanpa meminta persetujuan dariku, dia langsung duduk di sebelahku kiriku. Aku terpesona oleh penampilannya yang begitu sederhana itu, biasanya aku sering melihatnya memakai seragam sekolah meskipun tidak rapi padahal dia itu murid teladan, tapi melihatnya berpakaian biasa seperti ini membuatku tak bisa berkata-kata.
Ketika pelayan kedai kopi ini mengantarkan pesananku, aku bisa mendengarkan suara lembutnya memesan kopi Vanilla Latte untuk minumannya. Bahkan ketika pelayan itu pergi aku tak bisa berkata apa-apa, apalagi menatapnya. Aku menyibukkan diri dengan melepaskan earphone-ku dan mematikan lagu di ponselku.
"Kita dipertemukan lagi di saat hujan turun, ya? Hahaha..."
Tiba-tiba aku mendengar suaranya yang lembut untuk memulai percakapan kami. Aku yang sedikit tersentak langsung menatap ke arahnya, hingga tatapan kami bertemu. Tuhaaan...kedua matanya benar-benar meneduhkan.
Aku tak menyangka bisa melihatnya sedekat ini lagi. Rambut poninya sedikit panjang dari terakhir kulihat, aku bahkan tidak ingat kapan terakhir aku bertemu dengannya. Aku mencoba mengabaikannya, karena rasanya menyesakkan jika selalu mengingat terakhir pertemuan kami. Aku merasa waktu akan lebih terasa lebih lama jika mengingatnya, dan itu menyebalkan.
"Iya...benar-benar sebuah kebetulan. Aku tak tahu jika di hari libur kita bisa bertemu," kataku sekuat tenaga terdengar santai, padahal aku sangat gugup jika berada di dekatnya bahkan kucoba untuk menampilkan senyuman ramahku padanya.
"Itu bukan sebuah kebetulan," jawabnya tiba-tiba hingga membuatku sedikit bingung dengan ucapannya.
"Eh?"
Bukannya memperjelas jawabannya, dia malah menatap ke arah luar jendela, melihat hujan turun. Lagi-lagi dia mengeluarkan kalimat yang tak kumengerti, aku hanya bisa menghembuskan napas dengan pelan. Aku mulai mengambil cangkir cappucino-ku dan meminumnya sedikit untuk menghangatkan tubuhku yang mulai terasa dingin.
Secangkir kopi Vanilla Latte miliknya telah datang dan diletakkan di meja oleh pelayan kedai kopi ini, tapi sang pemesan tak meresponnya. Malah dia asyik memandangi hujan. Tuh kaan...dia memang terlihat seperti anak kecil, tapi dia malah mengataiku seperti anak kecil. Rasanya benar-benar menyebalkan jika mengingat hal itu.
"Aku memang berada di sini ketika hari libur dan tentunya saat hujan juga. Karena aku ingin bertemu dengan gadis itu, tapi dia tak pernah datang."
Seketika aku langsung terdiam untuk mencerna apa yang dikatakannya barusan. Aku mengerti. Ya, sangat mengerti apa maksudnya. Dia sedang berbicara tentang gadis yang disukainya. Ternyata, dia datang kemari untuk menemui gadis itu. Tanpa kuinginkan, dadaku terasa sesak. Meskipun begitu aku mencoba untuk menanggapinya.
"Oh, begitu...tapi...sepertinya hari ini dia tidak datang juga," kataku yang terdengar parau. Aku tak tahu kenapa suaraku jadi berubah seperti itu. Aku meminum cappucino untuk menetralkan rasa sesak yang menyerang dadaku, tapi kurasa itu tak berefek apa-apa.
Aku melihat dia menatapku sebentar dengan tatapan yang tak kumengerti artinya hingga membuatku bertanya-tanya dalam hati, lalu arah pandangannya mengarah ke cangkir kopi vanilla latte miliknya dan memainkan cangkirnya dengan tangannya.
"Kau salah, Rin. Dia datang," katanya tanpa melihatku .
Eh? Aku agak terkejut mendengar perkataannya. Aku pun langsung mengalihkan arah pandanganku ke arah penjuru kedai kopi ini, tapi aku tak menemukan sosok gadis itu, gadis yang biasanya duduk di sebelah kananku. Aku pun langsung menatapnya untuk mencari tahu kebenarannya, tanpa kuduga ternyata tatapan kami bertemu.
"Kau tidak sadar jika gadis yang kumaksud itu adalah dirimu, Rin?"
'Hah?'
Aku terkejut mendengar kalimat yang bernada meyakinkan itu ditunjukkan untukku. Ya Tuhaaaan...aku tak percaya ini. Bagaimana mungkin? Aku bahkan tak bisa berkata-kata, hanya bisa menatapnya dengan pandangan tak percaya.
'Tuk!'
"Auw!" pekikku pelan karena kesakitan ketika dia tiba-tiba menyentil keningku dengan sedikit keras. Apa maksudnya itu? Aku memegang keningku yang terasa sakit karena ulahnya. Bukannya meminta maaf, dia malah tertawa ringan.
"Kau pikir ini salah siapa, hah? Melihat hujan di kedai ini dengan enaknya meminum kopi, dengan tiba-tiba muncul di tempatku berteduh sambil mengadahkan tanganmu seperti anak kecil yang bermain air hujan , bahkan mengataiku anak kecil juga, di sekolah pura-pura tak menyapaku ketika bertemu, dan yang membuatku paling sebal ketika hari libur di pagi hari dan di saat hujan turun pun aku tak bisa menemuimu."
Ya Tuhaaaan...sudah berapa kali aku dibuatnya terkejut dengan segala apa yang diucapkannya itu? Aku benar-benar tak menyangka, ternyata dia secerewet itu mengatakan keluh kesahnya dan dia seakan-akan menyalahkanku atas semua itu
Sungguh! Aku tak percaya ini! Tapi rasa sakit yang terasa di keningku ini nyata. Jadi, ini bukanlah mimpi di pagi hari. Rasa bahagia langsung merasuk ke dalam hatiku. Aku tak menyangka, ternyata perasaan kami sama. Bisakah aku menyebutkan bahwa pertemuan ini adalah takdir dari Tuhan?
Kami memiliki perasaan yang sama, kami sama-sama menyukai hujan, kami sama-sama menyukai kopi, dan karena semua itulah kami bisa dipertemukan.