Kasus yang menghantui banyak orang. Pembunuhan keji. Namun, sang pembunuh masih berkeliaran bebas. Hal itu membuat semua orang resah dan selalu waspada.
***
Tiga sekawan itu Laura, Selena, dan Renata berjongkok guna melihat jasad yang di temukan oleh salah satu anggotanya kali ini.
"Luka yang sama," Kata Renata, sambil menatap kedua rekannya silih berganti.
"Benar, sepertinya sebelum pembunuh misterius ini ditemukan, kasus kematian seperti ini, akan sering ditemukan," Laura menambahkan.
"Apa kita, akan terus berhadapan dengan kasus seperti ini?" Tanya Selena yang sedari tadi diam.
"Sepertinya iya." jawab Rena, sambil berjalan melangkah jauh dari jasad tadi, diikuti Laura dan Selena.
Mereka bertiga berjalan dengan begitu gagahnya. Bak seorang model, terkadang anggota laki-laki menatap penuh minat ke arah mereka.
***
Mereka saat ini tengah berada dalam mobil. Setelah selesai dari TKP, mereka memutuskan untuk menginap di apartemen Renata. Karena, apartemen dia yang paling dekat.
"Kasus bulan-bulan lalu saja belum terpecahkan, sekarang ada kasus baru. Apa pembunuh itu ingin aku melajang selamanya? Aku sudah capek mengurusi masalah-masalah seperti ini terus," Keluh Selena, pada kedua sahabatnya. Renata yang mengemudi melirik sekilas ke arah Laura yang duduk di jok belakang.
"Bukankah ini sudah menjadi tugas kita?" Tanya Renata, di tunjukkan kepada Selena.
"Iya, jika kamu lelah istirahat saja dulu. Biar kami berdua saja yang memecahkan kasus-kasus seperti ini. Kamu bergabung kembali jika kasusnya sudah ada yang berbeda," Tutur Laura, sedikit memberi saran.
"Hei, kamu ini bagaimana La. Aku tidak mungkin membiarkan diriku yang baik ini memakan gajih buta." Ucap Selena.
Renata terkekeh pelan "Kamu ini, jangan sungkan. Kami berdua tidak akan melaporkanmu ya, 'Kan La?" matanya masih fokus mengemudi.
"Tentu, asal jangan lupa komisinya. Ha ha ha," Tawa Laura pecah, sedangkan Renata hanya terkekeh pelan.
"Yaa, sudah aku duga akhir pembicaraan ini." Ucap Selena, dengan nada kesal.
Hening
***
Laura, Selena, dan Renata adalah seorang detektif swasta yang sangat terkenal akan keberhasilan mereka dalam memecahkan kasus-kasus kematian yang terbilang sangat misterius. Beberapa bulan ini mereka sudah mendapatkan kasus yang benar-benar sulit di pecahan. Kasus pembunuhan yang benar-benar pembunuhnya, melalukan pembunuhan itu dengan sangat apik.
Lebih luar biasanya lagi, pembunuh itu membunuh 1-2 orang setiap bulannya. Bayangkan, sudah ada 6 kasus selama 6 bulan dan di setiap kasus belum terpecahkan sama sekali. Sungguh pekerjaan yang rumit.
***
Hari ini adalah hari kedua investigasi, tiga sekawan itu masih santai di apartemen milik Renata. Mereka bertiga seperti tidak bersemangat. Terutamanya, Selena.
"Malas sekali, aku yakin kasus ini akan terbengkalai seperti yang sebelumnya," Ujar Selena, pesimis.
"Jangan pesimis dulu, mungkin ini kasus terakhir. Jadi kita bisa tenang memecahkan kasus-kasus ini," Ujar Laura.
"Mustahil! Aku yakin sekali bulan depan pasti ada kasus baru," Dengus Selena, Renata hanya diam, dia menjadi pendengar yang baik.
"Re, menurut kamu bagaimana?" Tanya Selena.
"Bagaimana apanya?"
"Ya, kasusnya, menurut kamu akan berhenti atau tidak?"
"Tidak ada hari tanpa kasus, Sel. Setiap hari pasti ada, bedanya kasus itu akan di bebankan pada siapa. Pada kita atau pada orang lain."
Setelah mendengar hal itu, Selena diam. Entah apa yang sedang dia pikirkan. Yang jelas dia ingin segera berkencan, aduh ada-ada saja Selena ini. Sekian lama mereka terdiam, ada notifikasi masuk terdengar dari telepon mereka bertiga. Mereka semua melihat dan membaca pesan itu lalu seulas senyum terbit di wajah mereka terutama, Selena.
"Kalian berdua mendapatkan pesan itu juga?" Tanya Selena, Renata dan Laura mengangguk.
"Bagaimana? Kalian akan pergi ke mana?" Tanya Selena, antusias.
"Sepertinya, aku akan pergi ke Bali." Sahut Laura.
"Kalau aku, akan pergi ke Bandung. Mau bertemu dengan Bibiku. Kamu ke mana, Sel?" Renata juga menjawab, sekaligus dia bertanya.
"Aku akan pergi ke Surabaya. Sudah lama aku tidak menemui Dimas. Rindu aku, sama Dimas." Jawab Selena, wajahnya terlihat sangat bahagia. Mungkin dia sudah sangat rindu.
"Baiklah, jangan lupa jika ada apa-apa kabari kami." Ucap Laura di angguki Selena.
Pesan yang mereka dapat merupakan dari bos mereka yang menyatakan.
Selamat pagi, saya di sini selaku bos kalian ingin menyampaikan, bahwa kalian di bebas tugaskan selama 5 bulan ke depan. Semua kasus akan di tangani oleh orang-orang kami yang lainnya. Ini bukan pemecatan, tapi sebuah apresiasi dari pihak kami karena, selama ini kalian telah begitu berhasil memecahkan kasus-kasus sebelum kasus rumit ini muncul. Sekian dari saya. Semoga liburannya menyenangkan.
______________________________________________
Dimas adalah pacar Selena. Selama ini Dimas dan Selena LDR-an. Pernah mereka dua kali bertemu, sisanya mereka melakukan komunikasi jarak jauh, semua ini tak lepas karena pekerjaan yang sangat menumpuk.
______________________________________________
3 bulan kemudian
Selama itu tak ada kabar sama sekali dari Selena. Dia hilang, bak ditelan bumi. Rena, yang selama ini mengira, mungkin Selena sibuk dengan kekasihnya, seketika sirna saat dia mengetahui bahwa Selena tidak diketahui keberadaannya. Mereka berdua memutuskan untuk pergi ke Surabaya dan berusaha mencari alamat Dimas.
"Bagaimana La? Apa sudah berhasil?" Tanya Rena, yang ditanya begitu fokus mengerjakan sesuatu di komputernya.
"Dapat!" Ujar Laura, sambil menunjukkan hasil perkerjaannya. Seketika Renata menggertakkan giginya.
"Sepertinya ada yang ingin bermain dengan kita." Rena berkata dengan sinis. Laura hanya mengangguk , kilat amarah terlihat dari sorot matanya.
"Mari beraksi!" Ajak Laura. Renata tersenyum devil.
***
Di satu sisi, Selena meringkuk dengan lemah di gudang yang sangat kumuh. Dia tak menyangka takdir akan sekejam ini padanya. Niat menemui kekasihnya, malah dijadikan bahan taruhan oleh kekasihnya, dia tidak terlalu ingat karena, dirinya di bius.
Dimas, lelaki itu dengan teganya menjadikan Selena sebagai barang taruhan. Selena, harus kehilangan kehormatan yang selama ini dia jaga. Semua gara-gara Dimas! Belum sampai di situ, Dimas mengurungnya dan akan ditemui hanya untuk memenuhi nafsu dari para kolega bisnisnya Dimas.
"Bangun! Cepat mandi! Nanti malam kau harus ikut denganku ke sebuah jamuan!" Sentak Dimas, Selena hanya menurut dia sangat lemah. Dia butuh kedua sahabatnya.
Dimas pergi meninggalkan Selena dengan sebuah gaun, tak lama ada pembantu yang datang untuk mengantar Selena ke kamar mandi. Sesampainya di kamar mandi, Selena terisak pelan. Tubuhnya penuh memar.
"Rena-Laura, kapan kalian akan datang? Aku membutuhkan kalian."
***
Malam ini Rena dan Laura tengah mengadakan sebuah jamuan. Mereka tersenyum ramah, tapi aneh jamuan itu hanya di datangi oleh beberapa orang yang di beri undangan khusus.
"Selamat malam semuanya," Jamu Renata dengan lembut, matanya tertuju pada seseorang, orang itu pun sama. Tatapan penuh kerinduan, kasihan, dan Amarah ke orang di sebelahnya.
"Seperti yang saya tuliskan di surat undangan. Yang datang kemari hanya orang-orang khusus saja. Boleh tolong di pisahkan antara perempuan dan laki-laki. Perempuan ruangannya di sebelah sana(sambil menunjuk ruangan di sebelah kiri), Laura kamu bisa membantuku? (Laura mengangguk)." Laura menuntun para wanita ke ruang sebelah. Lalu ditutupnya ruangan itu dengan Laura masuk ke dalam, tak lama Laura keluar.
"Sebe-" Tiba-tiba mati lampu. Dan sesuatu yang besar terjadi.
***
Pagi ini seluruh media di gemparkan dengan matinya puluhan orang di sebuah rumah yang berada di Surabaya. Jasad mereka berserakan di satu ruangan. Ada satu mayat yang kondisinya benar-benar mengenaskan. Bagian pergelangan tangan yang terpotong. Namun, tak tahu di mana potongan tangannya berada, leher hampir putus, dan jari-jari kakinya terpotong.
Sedangkan, pelaku dari semua kekacauan ini dengan santai, meminum teh hangatnya di sebuah rumah.
"Bagaimana? Dia sudah sadar?" Tanya si pelaku, pada rekannya.
"Belum, mungkin dia masih syok." Jawab rekannya.
"Aku harus pergi ke TKP, jika dia sudah sadar hubungi aku, Laura." Titahnya, sambil melenggang pergi.
"Tentu Renata."
****
'Malang sekali nasib mereka, harus mati walau tidak punya salah. Mati ditangan kami yang terkenal dengan nama pembunuh misterius. Kami adalah yang paling di takuti oleh banyak orang. Itu bukan salah kami, tapi salah satu di antara mereka yang berani mengusik ketenangan kami dan membuat kami marah dengan melukai sahabat kami. Kami ingin berhenti demi sahabat kami, tapi semua meleset dari niat awal kami. Sepertinya, kami tidak akan berhenti malah akan semakin menjadi. Jangan salahkan kami Pak Polisi dan ya, maaf, kami membawa salah satu bagian tubuh dari sang korban. Untuk koleksi.
Hormat kami!
Mysterious Killer
Itu secarik kertas yang di temukan di TKP. Polisi tidak bisa melacaknya karena, tulisan itu di tulis menggunakan tulisan komputer atau semacamnya. Polisi yang menemukan surat itu hanya menghela nafas kasar.
End-