"Belajarnya udah , Ram ?" tanya ibu Devi melihat Rama telah membereskan buku-bukunya , "Udah Tante , sekalian Rama mau pamit pulang ." Rama mencium tangan ibu Devi , "Iya , silahkan ."
"Dev , kamu nggak ada hubungan dengan Rama kan ?" ibunya duduk disamping Devi yang masih membereskan bukunya . "Nggak , Rama kesini kan mau belajar , lagipula ini memang tugas kelompok dan daripada aku yang kesana kan mending aku ajak Rama kesini."
Sinta akhirnya keluar dari kamarnya , sejak pulang sekolah Sinta tak keluar lagi dari sarangnya. "Telurnya udah menetas ?" sindir ibunya . "Telur apa ?, Sinta nggak bawa telur ke kamar kok ." Sinta masih belum paham juga , "Oh , ibu kira kamu lagi ngeramin telur dari pulang sekolah nggak keluar lagi."
"Udah sini dulu ! ,ibu mau bicara sama kalian ." sinta duduk di samping ibunya sedangkan Devi masih duduk dibawah , "kak , naik sini lho ! , ibu mau meluk kalian." Devi menuruti perintah ibunya .
"Ibu sayang banget sama kalian !" ucapan ibunya itu dibalas serempak oleh keduanya , "aku juga sayang sama ibu."
"karena kalian sekarang udah besar , ibu rasa ibu bisa mengatakan ini." Sinta malah bersikap seperti anak kecil , "Ih , aku kan masih kecil." sambil tidur di pangkuan ibunya , "kalo kecilnya segitu , gedenya seberapa coba ." Devi juga ikut tidur dipangkuan ibunya.
"Dulu ayah kalian ingin kalian berdua hidup bahagia kelak , jadi ayah sama ibu sepakat kalian nggak boleh pacaran." dengan nada polosnya Sinta menanyakan alasannya , "kenapa nggak boleh , kan cuma pacaran ?"
"Pokoknya kalian nggak boleh pacaran !" tegas ibunya lagi . "Kalo cuma deket boleh kan ?" ibunya mengangguk seakan mengizinkan , "Boleh...," wajah Devi nampak senang mendapat izin . "boleh ditanyakan dulu sama ibu..." jawaban ibunya membuat kebahagiaan Devi tak berlangsung lama , "maksudnya..?"
"kalo ibu suka ya ibu beri izin tapi kalo ibu nggak suka , kalian nggak boleh dekat-dekat lagi." Devi pun mengeluarkan protesnya "kalo gitu aturannya mana bisa kenal sama orang , Bu !"
"Bisa ! , tinggal tanya aja namanya..., udah deh jadi kenal sekarang ." adiknya yang membalas itu , dan ibunya juga mendukung jawaban Sinta . "Nha , Sinta aja tau kok !"
"Ih adek , kamu kan masih kecil nggak tau masalahnya ." ujar Devi penuh kekesalan . Beruntung ibunya bisa menjaga agar keduanya tak bertengkar . "Udah nggak udah ribut , ayo makan ibu udah masak !"
Esoknya Devi kembali mendapatkan tugas kelompok , dan kelompoknya juga Rama . "Bu , nanti kakak ada tugas kelompok lagi...," belum selesai kalimatnya telah dipotong ibunya . "Tugasnya sama siapa ?"
"Kelompoknya Audrey sama Rama , Bu ." karena ada ceweknya ibunya mengijinkan . "Iya boleh, emang mau ngerjain dimana ?" sambil melepaskan sepatunya mengatakan jika akan mengerjakan tugas di rumah Rama.
"Ingat pesan ibu , jangan pacaran !" Devi kembali protes karena niatnya memang benar-benar belajar. "Ga usah di ingetin lagi, kakak nggak punya niat pacaran !"
"Ya ibu tau , tapi ibu lihat Rama suka sama kamu." dengan santai Devi mengatakan jika ia tak suka dengan Rama , "Kan aku nggak suka sama dia , jadi ibu nggak usah khawatir ."
"Pokoknya kamu hati-hati dengan dia , meskipun kamu nggak suka dia bisa aja bertindak jauh." karena merasa perdebatan ini tak terlalu penting Devi mengalah dari ibunya . "Iya nanti aku jauhin Rama."
Mendengar kakak dan ibunya berdebat Sinta keluar dari kamarnya , "kakak sama ibu debatin apa sih sampai seru gitu." tapi respon kakaknya adalah sindiran , "Rahasia !, sana kamu eramin telurnya biar cepat menetas."
"Ih kakak , orang lagi serius masih aja dibahas terus." Agar Sinta tak tahu masalah ini ibunya segera menyuruh Devi berangkat . "Udah sana berangkat , tapi ingat pesan ibu."
setelah Devi berangkat ibunya ikut berjalan keluar , "Ibu mau ikut kakak juga ?" tanya Sinta dengan polosnya . "Enggak lah , ibu mau nyiram bunga di depan." Sinta kemudian ikut ibunya menyiram bunga .
****
Sekarang Devi sudah duduk di bangku kelas tiga SMA dan tiga bulan lagi ujian kelulusan makannya tugas juga semakin banyak dan berat . Sedangkan adiknya , Sinta duduk di kelas satu SMA .
Tingkah laku polosnya itu bukan karena bodoh atau kurang pergaulan , tetapi karena itu memang ciri khasnya yang suka bertindak konyol dan polos .
Mereka hanya hidup bertiga karena ayahnya pergi meninggalkan keluarganya , jadi mereka bisa di bilang anak yang keluarganya broken home . Namun dengan ibunya kini mereka seperti tak membutuhkan figur seorang ayah lagi .
Ibunya adalah wanita yang kuat dan cerdas , ia mengasuh dan membesarkan kedua putrinya itu tanpa menanamkan kebencian pada ayahnya . Baginya benci pun tak akan menyelesaikan masalah , ia mengatakan jika ayah mereka pergi tanpa meninggalkan kebencian jadi mereka juga harus ikhlas tanpa rasa benci .
****
"Ud , kamu kok sama Rian ?" tanya Rama pada Audrey karena membawa pacarnya . "Tadi mau janjian tapi harus nugas dulu jadi aku ajak sekalian." Tak lama setelah keduanya datang Sinta juga sampai .
"Kalian mau pacaran apa nugas ?" sindir Devi karena mereka malah sibuk sendiri bukan ngerjain tugas . "Dua-duanya lah kayak peribahasa sekali mendayung dua tiga pulau terlampaui ,"
"makanya nyari pacar biar bisa nugas sekalian pacaran !" imbuh Rian pacar Audrey . "Tuh Rama juga lagi gak punya pacar bisa kali...," Audrey kembali menggodanya . "Ih apaan sih Ud , sekarang itu kita lagi nugas bukan bahas ginian."
Namun gurauan Audrey dinggap serius oleh Rama , "orang lain aja bilang gitu berarti aku emang cocok dengan Devi ," batin Rama . Sejak dulu Devi tak pernah punya keinginan untuk memadu kasih dengan siapapun .Tetapi kekhawatiran ibunya muncul setelah bertemu Rama .
Seperti yang dipesankan ibunya , Devi berusaha tak merespon beberapa tindakan Rama untuk mencari perhatiannya . Devi tetap fokus pada tugas atas dua hal .
Pertama karena ia ingin segera menyelesaikan tugas itu , kedua karena ia memang tak suka dengan Rama .
Namun setelah mendapat dukungan dari Audrey , Rama menjadi berani mendekati Devi secara terang-terangan . mulai dari memberi coklat , atau makanan tanpa Devi minta terus dilakukan Rama agar bisa diterima olehnya.
Tapi itu malah membuat Devi semakin risih dan menjauh , "Di kasih coklat lagi , Dev ?" tanya Audrey ketika melihat Devi datang membawa sebuah cokelat. "Iya , padahal aku tu nggak suka kalo terus-terusan diginiin !"
"Lah , bukannya baik ada yang mau sama kamu ." ucap Audrey lagi , "Iya ! , tapi kamu sendiri pasti risih tiap hari dikasih barang , padahal aku udah pernah bilang kalo aku nggak suka sama dia !"
"Terus dia gimana reaksinya ? , marah apa sedih ?" Audrey terus mengulik masalah ini karena saat Devi mengatakan itu tak ada yang tau . "Dia masih bisa senyum terus ngomong ' nggak papa yang penting kamu terima aja ' ."
"Mentalnya kuat juga tuh anak , udah ditolak kayak gitu masih aja ngeyel !" batin Audrey menanggapi kalimat Devi . "Yang penting sekarang kita fokus ujian aja , kalo dikasih barang terus ya nggak papa terima aja toh kamu nggak minta ." Saran Audrey .
"Aku tuh takutnya kalo dia akhirnya nyerah terus bilang aku cuma mau morotin hartanya aja gimana ?, kan aku yang malu !" Ternyata Devi telah berfikir sejauh itu yang pastinya tak terlintas dibenak Audrey. "Iya juga Dev , dia bisa aja muter balikan fakta ,"
"Aku mau balik ke kelas aja , tidur ," Devi langsung pergi meninggalkan Audrey yang masih duduk di kantin . "Lho coklatnya ! , hey... Dev !" teriak Audrey karena coklat itu ditinggalkan di meja kantin .
Tanpa menengok dan menghentikan langkahnya Devi sengaja memberikan coklat itu pada Audrey , "Udah buat kamu aja !, aku bosen tiap hari makan coklat ."
****
"Pulang-pulang mukanya masam gitu kenapa , kak ?" tegur adiknya , Sinta . "Ayo ikut kakak , biar kamu nggak nanya Mulu !" Devi menarik adiknya ke kamarnya . Tak lupa ia menutup pintunya agar ibunya tak mendengar.
"kakak itu bingung !" sambil tiduran di kasur kakaknya Sinta menanggapinya dengan candaan , "Kalo bingung banjunya dibalik , Kak !"
"Malah becanda ! , kakak itu bingung karena temen kakak itu suka sama kakak ," tanpa menunggu kakaknya selesai Sinta sudah memotongnya . "Bingung mau diterima apa nggak ?, tanyain aja sama ibu ."
"Ih kamu !, kalo ada orang ngomong jangan disela dulu , jawabannya kakak udah tau cuma yang kakak bingungin itu cara bilangnya ."
"Kan tinggal bilang iya aku terima apa maaf nggak bisa , masa masih bingung !" jelas masalahnya bukan bilang itu , tetapi cara ngomong biar nggak terus-terusan ngejar dia . "Biar kamu nggak ngelantur kakak jelasin dulu masalahnya !"
"Kakak itu udah bilang kakak nggak bisa terima dia tapi dia tetep ngejar-ngejar kakak terus jadi kakak malah risih ," dengan penjelasan itu akhirnya adiknya bisa mengerti . "Oh , kakak mau bilang jangan ngejar-ngejar terus gitu kan ?"
"Iya itu yang kakak bingungin , Dek !" meski dengan cara polosnya Sinta memberikan satu cara agar dia nggak ngejar terus. "Coba kakak judes aja sama dia , Siapa tau dia sadar hadirnya tak diharapkan ," dengan cara itu mungkin berhasil .
"Oke , besok kakak coba ! , kalo dalam seminggu dia mundur aku kasih kamu uang deh ." dengan polos Sinta menanyakan jika gagal bagaimana , "Kalo gagal ?"
"Jangan pesimis dulu lah Dek , tapi kalo emang gagal ya kamu kakak hajar kan kamu yang kasih ide !"
Esoknya Devi benar-benar mencoba saran adiknya itu , ia juga memberitahu Audrey agar Rama tak nyaman bersama keduanya.
Dengan cara itu perlahan tapi pasti Rama mulai menurunkan semangatnya untuk mendapatkan Devi . "Udah tiga hari nih Dev , gimana berhasil ?" tanya Audrey saat istirahat di kantin.
"Dua hari pertama dia masih ngasih aku barang tapi hari ini sampai sekarang masih belum ngasih apa-apa ," Audrey semakin optimis Rama akan mundur . "Kalo baru tiga hari gak dianggap udah kayak gini mungkin gak sampai seminggu !"
"Iya , tapi dia masih cari perhatian terus ! , tapi rencana ku lebih seminggu nggak papa ," Audrey kembali mengingatkan resiko tindakannya ini . "Terus rencana kamu kalo Rama muter balikan fakta gimana ?"
"Aku nggak punya rencana apa-apa sih !, tapi kalo beneran dia muter balikan fakta ya aku terima aja resikonya , yang penting gak diganggu terus ,"
"Kamu emang nekat banget ! , kamu bisa dicap cewek matre Devi !" Ujar Audrey lagi . "Biar aja , biar semua tau kalo deket sama aku harus punya modal besar ," canda Devi.
"Udah , ayo balik ! siapa tau Rama mau ngasih coklat abis istirahat ," goda Audrey lagi . "Kalo berani ngasih coklat apa barang lagi aku tinggal di meja aja biar diambil caraka ."
"Meski baru tiga hari jadi judes aku jadi nyaman deh , Ud." Audrey malah menanggapi dengan candaan , "Jangan !, nanti aku juga kamu diemin kayak Rama ."
"Ya nggak semua orang juga sih , cuma yang aku anggap nggak perlu kenal aku lebih jauh aja ," Karena belum masuk mereka duduk di depan kelas . "Berarti kalo orang udah kenal kamu bisa becanda sampai kayak gini tapi kalo baru kenal kamu kelihatannya judes dong ,"
"Iya bisa dibilang gitu , kayaknya seru kan jadi orang yang misterius gitu ," padahal sejak dulu Devi sangat misterius , moodnya nggak bisa ditebak dan jarang cerita masalah apapun pada temannya meski sudah kenal lama seperti dengan Audrey sekalipun.
Ternyata tebakan Audrey benar , Rama telah meninggalkan coklat dan sepucuk surat . "Semoga kamu suka , maaf tadi pagi aku lupa ngasih ke kamu ," tulis Rama dalam suratnya.
"Tuh liat !, bener kan kataku Rama ngasih coklatnya abis istirahat ."
Namun Devi tak menyentuh coklat itu sama sekali , bahkan saat pelajaran pun Devi sampai ditegur guru karena ada makanan di mejanya. Dan yang dilakukan Devi hanya menaruhnya di loker dan saat pulang ia mengeluarkan coklat itu dari lokernya agar diambil caraka yang membersihkan kelasnya .
"Nggak kamu bawa nih coklat ?" tanya Audrey . "Biar disitu aja !, jangan kamu bawa nanti pasti diambil caraka kalo kita udah pulang ." balas Devi.
"Kok makin hari Devi makin menjauh sih !, Audrey juga ikutan diemin aku ." batin Rama melihat coklat yang ia berikan ditinggal begitu saja . "Tapi pokonya aku nggak mau nyerah ! , seorang Rama harus bisa dapetin apa yang ia mau ."
Rama memutuskan untuk tak mendekati Devi langsung , ia sering membuat skenario agar ia bisa dekat dengan Devi ataupun bisa menjadi pahlawan.
Seperti saat ia mengempeskan ban motor Devi dengan menaruh paku tepat di depan motornya sehingga hanya motor Devi yang kena , Karena dari sekolahnya tambal ban agak jauh Rama lah yang membantunya mendorong motor sampai tambal ban .
Ia mencoba mengajak Devi bicara dan terus menggodanya tapi Devi tetap saja acuh dan meninggalkan Rama setelah motornya selesai. Banyak sekali skenario yang ia buat sendiri malah menjadi bumerang karena seperti dimanfaatkan oleh Devi yang tetap acuh .
Hingga akhirnya tiga bulan perjuangannya , Rama tak menyerah tetapi menunda untuk mendapatkan Devi . Rama memutuskan untuk kuliah di Yogya untuk memperdalam ilmu seninya.
"Dev !, bisa bicara sebentar ?" pinta Rama di akhir acara perpisahan . Devi sendiri berfikir jika Rama akan mundur setelah tak bisa sering bertemu. "Bisa sih...,"
"Ayo ikut aku !" Rama menarik Devi ke tempat yang lebih tenang , "Mungkin sampai saat ini aku belum bisa dekat denganku , tapi aku percaya kita akan bertemu kembali ." ucapnya sambil memegang kedua tangan Devi . "Ih puitis banget belajar dimana ?, emang mau kemana sampai pakai kata bertemu kembali...," balas Devi menyepelekan.
"Aku mau kuliah di Yogya , jadi aku sekalian pamit sama kamu karena lusa langsung berangkat kesana ," Devi malah senang Rama pergi jauh darinya tak perduli ia akan tetap menepati janjinya atau tidak.
"Ya udah berangkat ya berangkat sana !, buat apa pamit sama aku ?, aku bukan siapa-siapa kamu Rama !" Perlu waktu tiga bulan hingga Rama memutuskan menjauh jelas itu sangat membosankan.
"Rama bicara apa sama kamu ?" tanya Audrey setelah Devi kembali . "Sebelum aku ceritakan aku mau bilang kalo aku bahagia banget !"
kata-kata Devi membuat Audrey semakin penasaran . "Udah cepetan bilang apa Rama ?"
"Dia cuma bilang kalo dia mau kuliah di Yogya , berarti dia akan jauh dariku dan semoga dia bisa melupakan aku ," ucap Devi penuh semangat. "aku juga ikut senang Rama mau menjauh dari kamu , Dev ."
Namun setelah lulus SMA , Devi dan Audrey tak bisa bersama terus . karena Devi berhasil masuk universitas yang ia tuju sejak masih kecil , ia mengambil jurusan informatika . Tapi sayangnya Audrey gagal masuk ke universitas itu dan itu membuat mereka jarang bertemu.
****
ucapan ibunya agar tak berpacaran atau dekat dengan cowok tanpa izin ibu telah dilanggar oleh adiknya . Sinta sebenarnya tak sepenuhnya salah , hampir sama seperti kakaknya tetapi ia malah menanggapinya .
Entah darimana ibu tau Sinta sedang dekat dengan seorang cowok tapi tiba-tiba ibu marah saat Sinta baru pulang sekolah. Sinta dihukum karena ulahnya itu , membersihkan rumah selama seminggu bahkan harus membereskan pakaian ibu dan kakaknya juga.
Mungkin bagi orang lain tak terlalu berat , tapi bagi Sinta Yang sehari-hari cuma diem dikamar tentu memberatkan . Beruntung ibu tak menyuruhnya memasak karena masakannya pastilah belum seenak ibu.
Ibu memilih hukuman ini bukan tanpa alasan , agar Sinta mengerti apa yang akan hadapi lebih berat dan sulit dibanding hukuman ini . Padahal baru deket tanpa izin ibu tapi hukumannya sudah lumayan .
"Gimana , Rama masih ngejar kamu ?" tanya ibunya di suatu malam. Dengan percaya diri Devi menjawabnya "Aman Bu , pas perpisahan kemarin dia bilang mau kuliah di Yogya dan hari ini berangkatnya ," nampak sekali ibunya mengekspresikan kelegaan.
"Sekarang Rama sudah jauh , tapi kamu harus tetep pegang kata-kata ibu ' jangan pacaran sebelum dapet izin dari ibu ' ." masih dengan kepedean nya ia berjanji tak akan sekonyol adiknya .
"Iya , aku janji nggak akan kayak Sinta !," mendengar namanya dipanggil Sinta yang sedang bersih-bersih ruang tamu keluar . "Hayo !, sebut-sebut nama aku kenapa ?" tingkah lucunya itu tak bisa tertinggal dimana pun.
"Ih apaan !, aku sebut nama kamu mau bilang Sinta itu polos banget gampang dirayu..," ledek kakaknya . "Nggak papa kali , kan aku cantik jadi ada yang ngrayu nggak kayak kakak judes !" balas Sinta.
"Udah sana lanjutin bersih-bersih nya ," meskipun saat itu ibu marah besar tapi setelahnya ibu tetap seperti biasa orang yang tenang .
****
Di satu waktu ia dan beberapa mahasiswi baru dibuat bingung karena tiba-tiba saat lorong itu dilewati seseorang para mahasiswi yang semula asyik sendiri berkumpul. Mereka mengerubungi satu orang , saking banyaknya mereka yang penasaran pun tak bisa melihat siapa orang itu.
Orang itu seperti artis saat sedang berjalan sendirian , karena pasti banyak mahasiswi yang akan mengerubunginya untuk diajak berfoto . Namun sejak beberapa hari ia melihatnya , tak pernah sekalipun dia berhenti dan menuruti permintaan foto itu .
Ia tetap berjalan menyibak riuhnya mahasiswi itu , melihat dari kejadian itu Devi bisa menyimpulkan bahwa orang itu laki-laki tetapi untuk siapa namanya dan apa alasannya belum bisa diketahui.
Ternyata saat mereka menanyakan siapa orang yang selalu dikerumuni itu pada seorang mahasiswi yang pastinya juga seniornya pria itu adalah Arhan.
Dia itu memiliki wajah yang tampan , jadi setiap hari pasti banyak mahasiswi yang menunggu di lorong itu . karena Arhan pasti
akan lewat sana setelah kuliahnya selesai.
Si Arhan dari kejauhan sudah terlihat mulai dikerumuni , seniornya itu juga langsung menuju kerumunan meninggalkan mereka yang masih belum puas.
Devi dan beberapa mahasiswi lainnya naik dan berdiri di atas kursi kayu , meski tak bisa berfoto tetapi mereka hanya ingin membuktikan sendiri seberapa ' tampan ' pria itu .
Secara umum para mahasiswi yang baru melihatnya juga langsung tertarik dengan Arhan. Namun Devi hanya mengakui Arhan memang tampan tapi ia sama sekali tak tertarik .
Di kesempatan lain saat Arhan keluar para cewek-cewek itu berlarian agar bisa melihat dari dekat dengan Arhan , tapi Devi malah melanjutkan membaca bukunya .
Bahkan ia sampai di bilang gak normal karena gak suka dengan Arhan , namun ia hanya merespon santai "Kalo aku suka pun buat apa aku harus ikutan lari-larian cuma buat foto!"
"Ya setidaknya mengeling pun tidak , kau memang aneh , Dev." sindir temannya lagi , "Sudahlah !, masih banyak pria lain , lagipula setelah jadi pacarnya pun mau jalan tetep aja ribet banyak yang ganggu."
karena kegilaan mereka sampai seperti itu pun mereka tak terpikirkan . "Iya sih !, tapi...," langsung dibalas oleh Devi yang judes itu . "Tapi dia itu tampan banget..," menirukan kalimat mereka saat sedang membahas Arhan.
Di toko buku langganannya Devi bertemu dengan Arhan yang sedang mencari buku untuk mendukung tugasnya . Saat di luar universitas Arhan akan memakai pakaian yang menutupi wajahnya .
Saat sudah di depan kasir untuk membayar bukunya , Arhan datang menanyakan buku yang ia cari . "Kamu yang kemarin baca buku waktu aku di kerumunin kan ?" tanya Arhan sambil membuka penutup wajahnya.
"Bukannya kamu lagi di kerumunin ?, kok bisa tau aku baca buku?" balas Devi setelah tau itu Arhan . "Aku nggak sengaja lihat kamu dengan santainya baca buku padahal lainnya histeris ,"
"Buat apa aku ikutan histeris ?" jawab Devi lagi , "Kamu nggak suka sama aku ?, jarang lho ada cewek yang kayak kamu ." dengan nada judes Devi kembali membalas , "Mentang-mentang ganteng kamu kira semua cewek akan suka sama kamu ?"
Setelah menyelesaikan kalimatnya ia langsung pergi , "Hey...,kita belum kenalan !" teriak Arhan setelah Devi melangkah keluar toko buku . "nggak papa mas , dia sering kesini kok !" ujar penjaga toko buku itu.
"maksud bapak ?"
"Tiga atau empat hari sekali dia kesini baca-baca tapi kalo beli buku palingan dua Minggu sekali...," jelas penjaga itu . "Jadi dia emang suka baca buku pak ?"
"Iya , biasanya dia belinya yang novel gitu dan paling sering beli novel horor mas !" mendengar Devi suka novel horor Arhan langsung menuju rak novel dan memilih beberapa judul yang menurutnya seru .
"Menurut bapak mana ya yang paling cocok
dikasih dia pak ?" Arhan meminta pendapat penjaga toko buku itu . "Yang ini aja mas PSIKOPAT CANTIK , dia lebih suka kayak gini ."
"Oke , saya beli yang ini pak , tapi tolong kalo dia kesini lagi kasih aja sama dia !" penjaga toko itu paham maksud Arhan . "Siap mas ,tapi nanti saya bilangnya dari siapa ?"
"Dari Arhan !, dia pasti kenal siapa saya ," Baru Arhan menanyakan buku yang ia cari . Alasannya menitipkan di toko itu karena ia tak tau Devi di fakultas apa dan juga pasti sulit mencarinya jika terus dikerumuni banyak orang.
****
Hari itu Devi tak ingin membeli buku , ia hanya ingin membaca materi yang ia butuhkan. penjaga toko itu mendatangi Devi di mejanya , "Ini mbak ada titipan !" kalimat penjaga toko buku memecah konsentrasinya .
"Dari siapa pak ?, dimana orangnya ?" tanya Devi mengira orang yang menitipkannya masih disana . "Orangnya nggak disini mbak !, titipan mas Arhan ,"
Hatinya penuh tanya , "kenapa tiba-tiba dia ngasih buku ?, namaku saja pasti dia belum tau ." belum terjawab pertanyaan lainnya muncul dihatinya , "Tapi dia bisa tau aku suka novel horor !"
Setiap hari Devi ke toko buku itu , bukan hanya membaca tapi menunggu Arhan. entah ia suka baca atau tidak tapi yang pasti dia akan kembali untuk memastikan novel yang dia berikan sampai padanya.
Dan pemikiran Devi benar , hari ketiga setelah novel itu sampai padanya Arhan kembali . Devi yang telah menunggunya langsung menghampiri Arhan yang sedang menanyakan novelnya.
"Bukunya udah sama aku !" ucap Devi yang sudah disebelahnya . Arhan membuka penutup wajahnya , "Kamu suka novelnya ?, aku yakin kamu suka !" tentu normal bagi pria setampan Arhan untuk berlagak seperti itu.
"Udah sini !, disitu ngalangin orang jalan...," tanpa sengaja Devi langsung menarik tangan Arhan. Arhan juga pasrah saja dibawa ke tempat Devi membaca tadi.
"Kamu kenal aku ?," tanya Devi sambil membereskan buku yang ia baca. "Belum !, waktu itu belum kenalan kamu udah pergi aja jadi belum tau...," Benar tebakan Devi , Arhan memberinya buku agar bisa kenalan .
"Terus kenapa ngasih novel kalo nggak kenal ?, novel horor lagi ." tanya Devi untuk kesekian Kalinya , "Kata orang di sana itu (menunjuk penjaga toko buku ) kamu sering kesini jadi biar bisa kenalan aku beliin kamu buku ." pertanyaannya terjawab sebagian.
"Tapi kenapa novel horor ?, kan ada banyak jenis buku ," Devi seperti jadi wartawan dadakan dihadapan Arhan. "Kata bapaknya kamu suka yang ginian jadi aku pilih yang ini , PSIKOPAT CANTIK bagus kan ?"
Devi mengeluarkan novel horor itu dari tasnya masih dalam kondisi yang belum dibuka . "Nggak tau !, aku belum baca , tapi kalo cuma mau kenalan aku balikin...,namaku Devi." kemudian Devi beranjak berdiri .
Arhan langsung memegang tangannya dan menariknya agar duduk kembali , "Bukan !, bukan cuma buat kenalan , aku kasih buat kamu iklhas sebagai tanda pertemanan kita."
Devi kembali duduk dan Arhan juga mengembalikan novelnya , "Kamu tahukan aku sulit cari teman !, temen laki-laki aja susah takut pacarnya suka sama aku, apalagi cewek..," kalimat Arhan masuk akal juga.
"Ya udah kalo gitu alasannya aku terima novelnya.., tapi aku harus pergi sekarang ." Beberapa langkah berlalu Arhan kembali memanggilnya . "Dev , semoga kamu suka !"
Meski dia bisa kenal dan duduk bersama dengan damai , Devi tak pernah memberitahu teman-temannya . Alasannya karena Devi tak ingin Arhan terganggu dan kecewa .
Setelah perkenalan itu Arhan lebih sering ke toko buku itu , awalnya hanya menemani Devi membaca hingga akhirnya dia ikutan membaca karena bosan.
"Cewek yang kemarin kesini nggak pak ?" tanya Arhan pada penjaga toko buku , "Hari ini dia nggak kesini mas , tapi lain kali kalo saya lagi sibuk masnya bisa langsung liat aja di meja baca paling ujung dia selalu bacanya disana."
"Pasti disana ?, sayang banget sama mejanya !" ujar Arhan heran Devi punya tempat baca favorit. "Kalo disana udah ada orangnya dia nggak jadi baca , dia pulang!" ungkap penjaga toko itu lagi.
Arhan kemudian setiap hari pasti mampir ke toko buku itu , kalau Devi disana dia ikut baca tapi kalo tidak ya pulang . Saking seringnya hingga Arhan punya teman baru yaitu penjaga toko buku itu sendiri .
Namanya pak Adhi , tinggal di belakang toko buku ini dan anaknya tiga kecil-kecil semua . Arhan dan pak Adhi berteman tanpa takut istrinya terpikat karena sedang kerja di luar negeri.
"Kamu nggak ada kerjaan kok tiap hari nemenin aku baca ?" tanya Devi karena Arhan selalu menemaninya membaca . "Nggak ada !, aku disini hidup sendiri jadi bebas ," Arhan menghentikan kalimatnya untuk membalik halaman buku yang ia baca "Aku cuma punya temen dua orang aja , dua-duanya disini ! kamu sama pak Adhi yang jaga toko ini."
"Tapi semua mahasiswa beli bukunya disini , kalo kamu ketahuan kan jadi repot !" ujar Devi lagi , "Nggak papa , berarti aku bisa nambahin rezeki orang lain dan kelebihan ku ada manfaatnya."
"Emmm...,aku sebenarnya juga nggak punya banyak temen cowok !, karena tiap ada temen harus bilang sama ibu , ibuku itu posesif banget !" dengan yakin Arhan mengatakan mau menemui ibunya.
"Aku paham maksud ibumu dan juga maksud mu , jadi aku mau menemui ibumu ," Devi tak menyangka Arhan akan menyanggupinya . "Benarkah ?, tapi sudah beberapa yang berani dan semuanya gagal !" Devi memperingatkan.
"Tak apa itu tak membuatku takut , demi pertemanan kita !" Arhan malah semakin semangat . "Dulu aku itu punya banyak teman tapi saat SMA ibu menyuruhku menjauhi beberapa dan sisanya tak tahan dengan sikapku yang berubah." Tanpa sadar Devi mencurahkan isi hatinya.
"Jadi alasan kamu bersikap acuh karena perintah ibu mu ?" tanya Arhan untuk kesekian kalinya , "Tak sepenuhnya !, aku melakukannya agar hanya orang yang benar-benar tulus berteman dengan ku yang lolos !"
Dengan yakin Arhan kembali menyahuti kalimatnya , "Berarti aku lolos ?, kau bahkan sudah menceritakan dirimu ." Devi mengangguk tapi dengan sebuah kalimat "Iya bagiku tapi belum bagi ibuku !"
"Berapa yang bisa menerima mu dengan sikap acuh seperti ini ?" Devi menutup buku yang ia baca . "Lumayan ada beberapa orang , tapi semuanya cewek !" Devi kemudian berdiri untuk mengembalikan buku itu ke tempatnya.
"Berarti aku laki-laki yang pertama kali lolos dari sikapmu ini ?" Devi kembali dan mengambil tasnya , "Bisa dibilang begitu , tapi maaf aku mau pulang ."
"Mengajakku menemui ibunya tapi masih bersikap acuh seperti ini ?" batin Arhan menyusul langkah Devi keluar dari toko buku ini . "Selamat sore pak !, besok aku kembali ," ucapnya kepada pak Adhi.
****
"Bu !, kalo aku punya temen cowok harus izin sama ibu-kan ?, tadi aku udah bilang sama dia kalo harus ketemu ibu dulu , gimana ?" ujar Devi membuka pembicaraan ini di depan ibu dan adiknya.
"Ya udah suruh sini aja besok !" jawab ibunya tanpa menunjukkan ekspresi apapun , "Coba aku lihat fotonya dulu kak !" pinta Sinta mengharap dia tampan.
"Ih kamu dek !, mana bisa nilai orang dari fotonya aja dan kata ibu harus izin sama ibu bukan kamu ." balas Devi mengejek , "Udah sana kasih liat sama adik kamu !"
Terpaksa ia harus mencarikan foto Arhan , Arhan yang membatasi media sosialnya tak membuat Devi sulit karena banyak temen-temennya yang memposting wajah Arhan.
"Ini nih fotonya !, dua menit hp kakak harus udah balik !" Sinta tak menyangka orang yang dimaksud kakaknya setampan itu . "Duh aku juga suka kalo ini kak !, nggak papa besok suruh ketemu ibu ." Respon Sinta membangkitkan rasa penasaran ibunya,
"Mana sini ibu liat !" ibu menanyakan tentang sikapnya , "Sejak kapan kamu kenal dia ?, dan apa dia baik padamu ?" cecar ibunya dengan pertanyaan seperti itu.
"Dia senior aku di kampus , baru dua mingguan kakak kenalnya !" Sinta langsung mengulang pertanyaan ibunya yang kedua . "Hati-hati lho kak !, biasanya yang ganteng-ganteng gitu banyak ceweknya,"
"Bentar kakak ceritain , Arhan memang banyak cewek-cewek yang suka dia , tiap keluar masuk kampus pasti dikejar-kejar cewek ," Sinta juga masih sempat memotong kakaknya .
"Dan cewek-cewek itu lebih cantik daripada kakak !" Devi menutup mulut adiknya dengan tangannya , "Ya jelaslah dek !, kan mereka kuliah buat foto sama Arhan sementara kakak emang niat kuliah." Sinta yang mulai dilepas oleh Devi hendak memotong lagi tapi dilarang ibunya .
"Dek !, diem biarin kakak cerita ." Devi melanjutkan ceritanya, "Tapi dia liat kakak nggak ikutan ngerumunin tapi cuma baca buku , eh pas di toko buku dia masih ingat sama kakak dan dia beliin kakak novel horor."
"Dia minta kakak jadi temennya , karena Arhan nggak punya banyak temen cowok ataupun cewek !" Devi menyelesaikan cerita itu . "Terus kakak mau ?" Sinta sangat penasaran dengan Arhan.
"Awalnya nggak , takut temen-temen kakak tau ! , tapi kakak kasian sama dia selalu di ganggu ' penggemarnya ' tapi nggak punya temen cerita , jadi kakak minta dia ketemu ibu dulu ."
"Ya udah kak telepon aja besok suruh kesini !" kembali Sinta penuh semangat , "Nggak bisa dek !, kakak nggak punya nomernya," tapi kali ini Sinta tau alasannya . "Takut temen kakak tau yah ?" Devi menjawabnya dengan anggukan.
"Terus kamu ketemu dimana kalo nggak punya nomernya dan nggak mungkin ketemu di kampus ?" tanya ibunya serius . "Di toko buku !, Arhan cuma punya dua temen aku sama penjaga toko bukunya jadi tiap pulang kuliah dia kesana nyari temen ngobrol ."
"Yah besok kakak kan nggak ada kuliah !" keluh Sinta , "Kakak emang nggak ada , tapi siapa tau Arhan ada kuliah atau sengaja main kesana ?" dengan semangat yang sama Sinta juga ingin ikut , tapi ibu sudah mendahuluinya. "Sinta !, kamu nggak usah ikut ."
****
Benar Arhan ada kuliah hari itu , Devi yang telah menunggunya di toko buku langsung mengajaknya ke rumah , ketemu ibu. "Jadi ketemu ibu ?"
"Jadi !, kapan aku bisa...," Devi langsung menariknya keluar . "Sekarang !, cepet kamu cari taksi ikutin motor aku !" Arhan tak akan pernah berfikir jika Devi bisa se-semangat ini. "Tumben semangat banget !" gumamnya sendiri.
"Kenapa nggak bareng kamu aja ?, aku yang di depan !" tapi keinginan Arhan ditolak oleh Devi. "Kamu itu bodoh ya !, rumahku lewat depan kampus kalo ada yang liat kamu gimana ?"
"Iya udah , aku cari taksi...," Taksi itu berjalan mengikuti motor Devi , Jaraknya tak jauh tapi kondisi jalannya rusak dan banyak belokan. "Masih jauh nggak mas ?" tanya sopir taksinya.
"Saya juga nggak tau pak !, emangnya kenapa ?" balas Arhan . "Takutnya nanti bapak nggak tau jalan pulangnya mas !" ujar sopir taksi itu. "Kan ada GPS pak !" sayangnya saat itu GPS-nya lagi rusak . "Masalahnya , GPS saya lagi rusak mas." sambil melihat ke arah belakang.
"Kamu yang namanya Arhan ?" tanya ibu , "Iya benar , saya Arhan." Meski baru bertemu sekali saja ibu sudah agak luluh , dari beberapa orang yang ingin berteman dengan Devi kebanyakan gugup menghadapi ibu. Sementara Arhan nampak lebih tenang .
"Rumah kamu dimana ?" sejak dulu ibu hanya mengeluarkan pertanyaan-pertanyaaan dasar seperti itu . Dan pertanyaan pamungkasnya adalah , "Kamu beneran mau temenan sama anak Tante ?, ngga lebih ?"
Dan semua yang pernah menghadap ibu menjawabnya lebih , namun Arhan tidak . Dia hanya ingin menjadi temannya saja. "Temenan aja Tan , kasian tiap pulang kuliah baca buku sendirian."
"Iya Tante kasih ijin kamu temenan sama Devi !" akhirnya ada juga yang bisa mendapatkan ijin dari ibu . Filing seorang ibu tak pernah salah di hati Arhan hanya ingin berteman.
Sinta yang duduk disamping ibunya tersenyum tipis dan memeluk kakaknya . "Akhirnya ada juga yang bisa meluluhkan hati ibu !" Devi juga membalas pelukan adiknya.
"Maaf Tante !, bukan mau buru-buru tapi Arhan ada janji , jadi Arhan mau pamit !" ibu bisa memahami Arhan . Hingga pulang pun dia tak nampak terlalu senang atau apapun .
"Lihat !, dari semua yang kakakmu bawa hanya Arhan yang tulus ." ucap ibu pada Sinta , "Iya bahkan dia santai banget ngadepin ibu ," balas Sinta yang masih tak menyangka ibunya mengijinkan.
Tak lama Audrey datang kesana , "Eh Ud !, tumben main kesini." tegur Devi duluan . "Kangen aja sama kamu !, kamu baik-baik aja kan ?"
"Alhamdulillah baik !, kamu gimana ?" jawab Devi sambil mengajaknya masuk . "Baik !, eh tadi siapa , Dev ?" memang Arhan harus menunggu taksi pesanannya di gang depan jadi Audrey pasti ketemu Arhan .
"Biasa temen aku !, nyari tanda tangan ." tentu Audrey sudah paham maksud Devi , "Di kasih tanda tangan nggak ?" Devi menjawabnya dengan anggukan ditambah senyumnya . "Dikasih !, makanya aku nggak nyangka ."
"Dibanding yang lain aku akui dia ganteng banget !, kamu nemu dimana ?" entah mengapa Devi merasa sahabatnya ini menyukai Arhan. "Nemu !, kamu kira barang bekas apa nemu . dia itu senior ku di kampus ,"
"Kamu kok bisa temenan sama dia sih ? , punya pelet apa ?" ejek Audrey . "Kan aku cantik dari dalam jadi nggak perlu pelet ." balas Devi centil . "Kamu suka ya ! , tenang aku cuma temenan kok ."
"Beneran Dev ?, kalo gitu bantu aku kenalan sama dia dong !" pinta Audrey penuh semangat , tak dipungkiri lagi semua yang ketemu Arhan pastilah akan suka . Bahkan Sinta adiknya pun juga suka , tapi dia tahu bukan bagiannya.
****
Sebelum Arhan datang ke sana Devi dan Audrey sudah sampai . Devi juga memberitahu Audrey agar tak meminta foto atau terlalu banyak tanya , itu akan membuat Arhan menjauh karena terganggu. Tidaklah berat permintaan Devi , demi dekat dengan cowok setampan Arhan.
"Iya-iya ! , aku gak macem-macem , emang kapan sih kamu janjiannya ?" Audrey mengira mereka janjian . "Sejak dulu aku tuh nggak pernah janjian sama dia , dia yang kesini nemenin aku baca ." penjelasan dari Devi.
"Ya udah sekarang hubungi dia biar cepetan kesini !" Audrey terlalu semangat dan bisa membuat Arhan terganggu. "Ud !, kalo kamu gini terus Arhan bisa keganggu , lagian aku nggak punya kontaknya ."
"Masa kamu temennya nggak punya kontaknya sih ?, kayaknya dia introvet banget deh !" Devi hanya bisa menggeleng . "Introvet nggak nya aku juga nggak tau , tapi yang pasti dia nggak mau diganggu cewek-cewek...,ya gitulah !"
"Terus kapan dia kesini ?, kita udah satu jam disini ." melihat jam tangannya dan mengatakan Arhan segera datang. Ternyata betul suara Arhan menyapa pak Adhi terdengar Devi , "Tuh , dia Dateng !" Audrey melihat sekelilingnya namun tak melihat Arhan.
Langkah Arhan perlahan mendekat , melirik apakah Devi disana . Tapi kali ini Arhan bingung Devi melihat bersama Audrey , "Ah !, Devi sama temennya lagi ." akhirnya ia memilih ngobrol dengan pak Adhi di depan.
"Dev , mana Arhan katanya udah dateng ?" Devi tau Arhan pasti sudah melihatnya dengan Audrey jadi dia pasti urung kesini . "Kamu tunggu sini aku liat dulu ," Devi melihat apakah Arhan pulang atau bersama pak Adhi.
"Eh !, kamu nggak jadi ya ?, tenang aja dia nggak kayak cewek-cewek itu ." ujar Devi langsung pada intinya , "Beneran ?, tapi aku gak yakin dia bisa kayak kamu ," insting Arhan benar-benar tajam menebak keadaan.
"Udah kenalan aja dulu !, percaya deh sama aku ." Devi langsung menariknya ke meja favoritnya itu , "Namanya Audrey temen aku sejak kecil , tapi dia nggak satu kampus sama aku." Devi lakukan agar Audrey tau cara menghadapi Arhan.
Karena tak terlalu yakin dengan Audrey dia hanya mengucapkan sedikit kalimat selama dua jam mereka disana . Arhan kembali tertutup seperti saat menghadapi cewek-cewek penggemarnya . "Arhan kok bisa tau yah kalo Audrey suka sama dia ." batin Devi.
Meskipun Arhan sangat tertutup saat bertemu dia , Audrey tetap senang bisa memandang Arhan. Dia sering mengajak Devi ke toko buku itu meski Devi tak ingin baca dan sedang libur kuliah . Sayangnya sejak kenal Audrey Arhan tak seperti dulu , ia tak mau membuang tenaganya .
"Kalo kamu mau nanti malam aku ajak main !" bisik Arhan pada Devi saat hendak pulang . Jelas tujuan Arhan agar ia bisa menikmati waktu bersama teman tanpa rasa canggung seperti saat ini , dan Arhan tak ingin diketahui Audrey .
Kalimat Arhan sebenarnya masih sangat ambigu , tapi Devi sudah paham maksudnya jadi ia memutuskan untuk menelan kalimat itu tanpa menanyakan apapun. "Entah kemana maksudnya tapi hanya toko buku itu tempat kita bisa bertemu."
Tanpa sepengetahuan Audrey , Devi pergi menemui Arhan di depan toko buku . Disana Arhan sudah menantinya , tapi disaat Devi datang dia malah masuk ke toko buku itu lalu tak lama keluar lagi . "Motor kamu tinggal disini aja , kita pergi naik taksi !"
Entah kemana ia akan diajak pergi tapi yang jelas Arhan masuk untuk menitipkan motornya pada pak Adhi . Arhan langsung menghentikan sebuah taksi dan mengajak Devi pergi.
Disaat yang sama Audrey main kerumahnya , tapi ibu bilang pergi sama Arhan . Meski ibu tak tau kemana akan pergi tapi Audrey ingat saat Devi mengatakan hanya toko buku tempat mereka bertemu.
Audrey langsung menuju toko buku , namun ia hanya menemukan motor Devi . selain itu tidak ada jejak yang tertinggal , maka Audrey memutuskan untuk menyusul mereka ke tempat yang ramai anak muda .
Beberapa tempat sudah diperiksa oleh Audrey hingga akhirnya ketemu di alun-alun kota , disana Arhan menikmati waktu yang hilang . Merasa itu adalah salahnya jadi Audrey membiarkan mereka berdua , "Nggak papa emang salah ku mereka nggak bisa lepas. "
****
Malam itu Rama juga pulang dari Yogya , disana sedang libur kuliah dan tujuan pertamanya adalah bertemu Devi . Dia bertamu tapi kali ini Sinta yang memberitahu kakaknya sedang keluar , Sinta juga mengatakan Audrey juga mencarinya .
Rama menghubungi Audrey menanyakan apakah sudah ketemu Devi . "Udah !, dia sama temennya di alun-alun kamu kesini aja," tanpa membuang waktu Rama meluncur ke alun-alun.
Ternyata tujuan Arhan yang sebenarnya adalah ingin menyatakan perasaannya pada Devi , tapi Audrey masih bisa percaya pada Devi . "Ayolah Dev , jawab tidak ! kamu tau jika akulah yang mengincarnya." batin Audrey .
Devi agak lama memutuskannya , "Aku tak punya banyak waktu menunggumu !" paksa Arhan tak sabar menunggu jawabannya . "Iya aku mau , tapi hubungan ini tak boleh orang lain tau ."
Mendengar jawaban itu Audrey menjadi sangat marah ! , sahabat yang ia anggap setia malah mengkhianatinya . "Maaf aku tak bisa memaafkan mu !" dengan penuh amarah Audrey mengambil pisau pedagang di dekatnya .
Audrey menyerang Devi dari belakang dan menyasar titik paling lemah yang bisa diserang dari belakang yaitu leher . Namun Arhan menyadari kedatangan pisau itu , dan berhasil menarik Devi ke pelukannya.
"Sial !, tapi sudah terlambat !" Audrey kembali menghujamkan pisaunya ke pinggang sebelah kiri Devi . Posisi yang sudah tak mungkin menghindar lagi , pisau itu mudah saja menembus kulitnya.
Arhan kemudian berdiri dan mengahadapi Audrey satu lawan satu , beruntungnya pemilik pisau dan beberapa orang disana segera melerai perkelahian yang lebih parah.
Arhan menggendong Devi menuju pinggir jalan untuk dibawa ke rumah sakit , tapi... Audrey lepas dari orang yang melerainya . Meski tak bersenjata tapi serangannya masih mematikan , Audrey memberikan sebuah pukulan di tengkuk Arhan sehingga Devi terjatuh .
Audrey menghajar ulu hati Devi yang sudah tak sadarkan diri itu hingga kembali di tangkap masa. Dan ternyata salah yang ikut menangkapnya adalah Rama.
"Loh !, kenapa kamu jadi seperti ini , Ud ?" Rama tak menyangka bila teman baik Devi sendiri yang menghajarnya . Setelah Devi ditangkap dan Arhan kembali berdiri Rama menemani keduanya ke rumah sakit .
Rama pulang mengabari ibu dan Sinta , sedangkan Arhan setelah mendapat perawatan malah kabur entah kemana. Di samping Devi kini hanyalah para perawat yang terus mengusahakan yang terbaik untuk Devi .
Sayangnya nyawa Devi tak bisa diselamatkan , tusukan di pinggangnya melukai ginjal kirinya ditambah beberapa pukulan di ulu hati yang membuatnya meninggal .
_BERSAMBUNG_
Dimana Arhan dan kenapa ia kabur dari rumah sakit ?, nantikan kelanjutannya di cerita selanjutnya yang akan segera aku tulis dengan judul "Legenda Kampus"