Bib
Bib
Bib
Dering ponsel Elang memecah hening, Gadis yang kala itu tengah memberi makan ikan-ikan koi miliknya pun ikut melirik ke arah ponsel tersebut. Nama Amanda terbit di layar benda pipih seharga motor itu.
"siapa?" tanya Gadis.
"ini, CS Bank BCA". jawab Elang.
"oh". Gadis tampak tak perduli, dia kembali menabur makanan ikan ke kolam di depannya.
"ehm, gimana kerjaan hari ini?" Elang beringsut, ikut mengambil segenggam pakan ikan dari toples yang di pegang Gadis.
"Capek, ada pasien rewel banget". profesinya sebagai dokter di salah satu rumah sakit swasta di Bandung membuatnya bertemu dengan berbagai macam tipe orang.
"uhh, kasian". Elang mengusap lembut puncak kepala Gadis. "sabar ya, nanti kalau kita udah nikah, aku usahain buat bukain klinik sendiri buat kamu". lanjutnya.
"kamu sendiri gimana? jadi lihat mobil VW yang di Instagram kemarin?" tanya balik Gadis.
"wah iya, jadi inget. Sebel aku tuh yank, masa ternyata mobil yang kemarin aku tanyain itu ternyata udah kejual dong dua hari lalu, padahal semalem aku chat sama admin akun showroom itu". keluh Elang.
"maksudnya?" Gadis belum mengerti.
"jadi, dia nawarin barang yang udah kejual gitu loh". terang Elang. Gadis tersenyum getir.
"kok kamu malah senyum?" protes Elang.
"lucu aja". singkat Gadis.
"Apanya yang lucu yank? aku sedih nih". rengek Elang.
"kamu tau ngga, apa persamaan kamu sama admin akun Instagram showroom itu?"
"apa?" tanya elang penasaran.
"kalian sama-sama nawarin barang yang udah ada pemiliknya". Ucap Gadis.
"maksudnya apa?" Elang terkejut, masih belum mengerti sepenuhnya perkataan Gadis.
"kamu membuat aku jatuh cinta dengan hati yang sudah dimiliki oleh Amanda". lirih Gadis.
Hening.
"aku tau, sejak dua hari yang lalu". lanjut Gadis.
"aku nggak ngerti". Elang pura-pura bodoh.
"kembalilah pada Amanda, sudah cukup bermain-main denganku". Gadis beranjak, Elang masih duduk di tepi kolam ikan.
"maaf, tapi aku nggak pernah bermaksud buat nyakitin kamu, aku sayang banget sama kamu Gadis". kata Elang dengan nada serendah mungkin.
"pada dasarnya manusia tidak akan pernah bisa mencintai dua orang sekaligus Lang". Gadis menatap dalam-dalam manik mata Elang yang kecoklatan.
"tapi aku sayang sama kamu, aku udah ngga ada rasa sama Amanda".
"3 tahun kebersamaan kalian bukan main-main Lang, mungkin saat ini kamu sedang jenuh dengan hubunganmu dengan Amanda, tapi itu tidak berarti bahwa kamu mencintaiku". Elang mencoba menarik Gadis kedalam pelukannya, namun Gadis justru mundur selangkah untuk menjauh.
"tapi aku nyaman sama kamu Gadis, cuma kamu yang bisa bikin aku senyaman ini". Elang mulai berkaca-kaca.
"pasti itu kalimat yang sama yang pernah kamu ucapkan kepada Amanda ketika kalian baru saja memulai hubungan". Tebak Gadis. Elang menunduk.
"kembalilah pada Amanda, sudahi sampai disini kisah kita, terima kasih atas kenangan indah belakangan ini". lanjut Gadis dengan menahan isak tangis.
"aku akan meninggalkan Amanda, aku ingin bersama kamu untuk selamanya".
"jika kamu memang ingin mengakhiri hubunganmu dengan Amanda, kenapa harus menunggu aku tau semuanya dari orang lain? kenapa ngga jujur sejak awal?" Suara Gadis mulai terbata-bata.
"Aku tidak siap, aku takut kamu pergi". Elang merah tangan Gadis, meremasnya dengan lembut.
"sekarang, kembalilah pada Amanda, dia jauh lebih baik dari pada aku, dia seorang profesor muda dengan segala prestasinya, sedangkan aku? seorang dokter umum yang takut terhadap jarum, tidak ada yang bisa dibanggakan". Gadis melepas genggaman tangan Elang, berjalan menuju kursi taman belakang.
"Gadis, aku sayang banget sama kamu".
"aku juga sayang sama kamu, tapi waktu udah abis, aku udah terlalu lama mencuri waktumu dari Amanda".
"Aku sayang kamu Gadis". Elang mulai menangis.
"pergilah, aku ingin kamu bahagia bersama Amanda". Kata Gadis, air matanya mengalir begitu deras hingga membasahi kemeja hitam miliknya.
Setelah beberapa saat, Elang putus asa, dia pergi dengan perasaan yang sama kecewanya dengan Gadis, sungguh, sebuah perselingkuhan adalah awal dari penderitaan tanpa akhir.