Hujan kala itu turun dengan sangat deras membasahi apapun yang ada di bawahnya, banyak anak kecil berlarian kesana kemari namun pengecualian bagi gadis cantik yang kini tengah duduk menatap hujan dari dalam jendela rumahnya dengan tatapan sendu. Ia ingin seperti yang lainnya berlari sambil tertawa lepas di bawah hujan tanpa khawatir dimarahi oleh orang tua mereka, namun ia sadar hal itu hanya dapat membuat keadaannya semakin buruk. Bukan alasan sepele kenapa ia dilarang dan dibatasi oleh kedua orang tuanya sebab gadis itu memiliki penyakit yang sulit untuk disembuhkan meskipun penyakit ini tidak asing didengar orang awam, ada beberapa alternatif pengobatan tetapi itu hanya mengulur waktunya saja bukan menyembuhkan penyakitnya apalagi gadis itu sudah berada ditahap akhir yang kemungkinan kecil ia bisa sembuh dari penyakit itu.
Meskipun begitu gadis cantik bernama Yoona Michelle atau biasa dipanggil Yoona itu seperti tidak putus asa dan berjuang melawan penyakit yang perlahan menyiksanya itu, Yoona pun tidak dapat bersekolah layaknya anak seumurannya karena penyakit itu sehingga ia harus ikut homeschooling dan terpaksa tidak memiliki teman seumuran. Gadis itu sedikit pendiam dan cenderung tertutup namun sangat perhatian dan baik hati kepada orang yang ia sayangi, dia sebenarnya ingin putus asa dan menyerah dengan keadaannya itu namun ketika ia melihat kedua orang tuanya yang bekerja keras membanting tulang dan kerepotan mencari pengobatan untuknya membuat Yoona menjadi sedikit merasa kasihan sekaligus tidak tega karena membuat orang yang ia sayangi disekitarnya selalu khawatir dan kesusahan akibat dirinya.
Sempat suatu saat ia meminta kedua orang tuanya untuk berhenti mencarikannya tempat pengobatan lagi karena saat itu ia berpikir mungkin ini sudah takdirnya, ia lelah berjuang dan hasilnya selalu sama tidak ada kemajuan. Orang tuanya sempat terkejut dengan permintaan anaknya itu tetapi Yoona keras kepala dan lebih memilih untuk membiarkan penyakit itu membunuhnya perlahan bahkan ia tidak mau pergi berobat lagi dan sempat mengurung diri di kamarnya selama hampir 5 hari tanpa makan dan minum tentu itu membuat orang tuanya cemas dan benar saja gadis itu berakhir ditemukan tergeletak pingsan di lantai kamarnya dengan wajah pucat pasi serta tubuh yang mendingin. Semenjak kejadian itu orang tuanya tidak pernah memaksanya untuk berobat lagi dan memilih menuruti kemauan putri tunggalnya itu. Tetapi tidak sampai disitu saja perjuangan orang tuanya karena suatu hari Yoona dipaksa untuk ikut mereka ke sebuah tempat yang mereka yakini dapat memotivasi Yoona untuk tetap berjuang dan tidak putus asa, ya tempat itu adalah panti asuhan bagi penyandang disabilitas.
Disana mereka menjadi salah satu donatur yang sedikit berpengaruh karena keluarga Yoona adalah salah satu keluarga kaya yang kebutuhan sehari-harinya tercukupi, awalnya Yoona heran dengan kedua orang tuanya itu. Tetapi keheranan itu sirna saat disana ia menemukan banyak sekali anak yang seumuran dengannya dan keadaannya tidak kalah memperihatinkan, banyak sekali dari mereka yang mengalami cacat fisik atau difabel dan dengan beragam kecacatannya seperti tuna rungu, tuna wicara, tuna netra, tuna daksa, dan tuna grahita atau bahkan tuna ganda. Tetapi tidak ada satupun dari mereka yang mengeluh dan bersedih bahkan mereka tersenyum seperti tidak pernah terjadi apa-apa pada mereka itu yang membuat Yoona tertohok malu serta sadar akan perjuangan mereka. Ia merasa sudah putus asa menghadapi penyakit kanker darahnya itu sedangkan mereka mengalami cacat fisik namun tetap tersenyum dan berusaha hidup layaknya manusia biasa lainnya.
Tanpa ia sadari air mata sudah mengalir turun dari kedua matanya indahnya itu, ia sangat tersentuh terlebih saat ia datang dan disambut oleh mereka dengan meriah seperti mengadakan panggung kecil yang disana terdapat beberapa anak seumuran dengannya tengah berusaha memainkan alat musik sehingga dapat mengalunkan suara indah yang dapat didengar oleh siapapun. Yoona dibuat kagum dengan pertunjukan kecil mereka sehingga ia tersenyum kecil dan bertepuk tangan ketika mereka selesai memainkan sebuah lagu yang indah, dalam benaknya ia berpikir bahwa tidak seharusnya ia seperti ini dan ia harus bisa seperti mereka.
Setelah acara donasi, kedua orang tuanya tengah berbincang dengan pemilik panti itu sedangkan dia berkeliling di sekitar panti hingga ia disapa oleh salah satu anak gadis seumuran yang sangat cantik dan ramah.
"Hai Yoona, namaku Mutiara kamu bisa panggil aku Ara. Salam kenal ya." ucap gadis itu sambil mengulurkan tangan mungil nya ke sembarang arah yang langsung diraih oleh Yoona sehingga gadis kecil itu menghadap padanya lalu tersenyum lagi.
"Ah maaf kukira kamu ada disana." ucap gadis itu lagi sambil tersenyum ramah membuat Yoona juga ikut tersenyum.
"Iya, salam kenal juga Ara." ucapnya sambil tersenyum lalu sadar jika hal itu percuma karena yang ia ajak bicara adalah anak tuna netra.
"Ayo main bersama kami, kami ingin menunjukkan sesuatu khusus untukmu." ucap Ara riang lalu menarik tangan Yoona pelan.
Lucu rasanya ketika seorang tuna netra menuntun jalan orang normal namun itulah kenyataan yang dialami Yoona saat ini.
Hingga mereka sampai di salah satu tempat yang disana terdapat beberapa anak tengah duduk berkumpul membentuk lingkaran kecil saling berhadapan dan tersenyum padanya yang membuat Yoona canggung.
"Kamu tidak usah malu atau sungkan dengan kami, anggap saja kami temanmu yang sudah lama kenal." ucap Ara yang membuat Yoona sedikit terkejut karena gadis itu rupanya tahu apa yang ia rasakan.
"Ayo duduk kami ingin menunjukkan sedikit keahlian kami serta ingin berbagi sedikit cerita tentang hidup kami dan apa yang kami alami selama ini. Apa kamu mau mendengarkannya atau setidaknya melihat sedikit pertunjukan dari kami? Kuharap kamu tidak bosan dan kapok ya dengan kami." ucap Ara panjang lebar.
"Hmm jadi kita mulai dari pertunjukkan musik dari band kecil kami serta persembahan puisi dari si kecil Leona." ucap seorang anak laki yang tidak memiliki kedua kaki selaku mc di acara kecil itu.
Lalu tidak lama musik mengalun dengan indah dan beberapa saat diikuti gadis tunawicara bernama Leona yang membacakan puisinya dengan menggunakan bahasa isyarat dari tangan mungil nya itu. Ia tercengang antara tidak tahu maksud puisi Leona dan kagum akan permainan musik dari mereka, mereka seperti menunjukkan bahwa mereka bisa seperti manusia normal lainnya dan seperti memungkinkan apa yang menurut orang lain itu mustahil untuk mereka lakukan. Ada yang ia syukuri saat ia diajak oleh orang tuanya kesana sebab dari sana ia dapat belajar arti kata berjuang yang sebenarnya dan belajar cara menikmati kehidupan yang diberikan tuhan pada makhluknya tanpa mengeluh.
Acara pun berlanjut dengan pertunjukan melukis dari seorang anak laki yang melukis dengan kakinya sebab ia tidak memiliki kedua tangan atau tuna daksa serta anak gadis tuna nerta yang juga melukis di sebuah kanvas dan mencoretkan beberapa kuas yang sudah diberi warna tanpa ragu, meski sedikit terkesan abstrak namun Yoona tahu jika lukisan itu memiliki makna dalam yang ingin mereka sampaikan pada semua orang yang melihatnya bahwa 'ia bisa melakukannya' itulah yang Yoona rasakan.
Lalu dilanjutkan dengan berbagi cerita satu sama lain, saat itu mereka saling terbuka dan menceritakan apa saja yang mereka alami tanpa terkecuali bahkan Yoona pun menceritakan keputus asaan nya dalam menghadapi penyakitnya itu. Disana ia dapat terbuka dan saat tertawa lepas karena ia merasa tidak kesepian lagi, Yoona merasa bahwa mereka tulus mendengarkan keluhannya itu.
Saat ia tengah tertawa bersama anak lainnya tanpa sadar kedua orang tuanya tersenyum melihatnya dapat tertawa lepas lagi setelah lama mereka tidak melihat tawa riang itu, mereka merasa jika Yoona telah kembali menjadi Yoona si gadis riang dan tidak pernah putus asa. Akhirnya perjuangan mereka tidak sia-sia karena sepulang dari panti itu Yoona terlihat lebih semangat dan riang dari biasanya serta sedikit terbuka pada mereka, tanpa mereka duga sebelumnya Yoona justru meminta mereka untuk mengunjungi panti esoknya lagi.
Sekarang gadis itu tengah semangat mengumpulkan beberapa barang yang menurutnya tidak berguna untuk ia masukkan ke sebuah kardus besar bertuliskan 'Untuk Para Temanku' dan kardus kecil lagi khusus bertuliskan 'Untuk Ara Sahabatku' yang kemudian ia rekatkan dengan selotip dan ia simpan rapi di kamarnya yang niatnya akan ia berikan besok ketika ia berkunjung ke panti lagi.
Yoona merasa ia perlu memberikan mereka sesuatu sebab ia berpikir bahwa seumuran mereka yang membutuhkan kasih sayang dan perhatian lebih dari kedua orang tua mereka apalagi mereka penyandang disabilitas tetapi mereka justru tidak mendapatkannya dan bahkan beberapa diantara mereka ada yang merasa tidak dianggap ada atau bahkan dibuang oleh orang tuanya karena alasan malu, untung saja mereka saat ini dirawat oleh ibu pengasuh yang sangat baik hati dan perhatian pada mereka sehingga mereka kini dapat hidup layak disana seperti lainnya.
Sore hari, setelah Yoona selesai dari homeschooling nya, gadis itu bersiap untuk mengunjungi panti asuhan itu tentu saja tidak lupa membawa barang yang ia kemas rapi semalam kemarin untuk dia berikan kepada anak-anak panti asuhan. Dan sesuai dugaan Yoona disambut hangat oleh anak di panti itu bahkan diantara mereka tidak segan berlari dan memeluknya, di belakang sekumpulan anak itu terdapat Ara yang ia anggap sahabatnya mulai sekarang.
Gadis itu terlihat berjalan santai sambil tersenyum lebar ke arahnya, saat sudah dekat sekumpulan anak itu menyingkir memberinya jalan lalu Ara mengulurkan tangannya dan menyentuh pundak Yoona sambil tersenyum cerah. "Aku tahu kamu pasti datang lagi, Yoona" ucap Ara.
"Ya aku datang karena baru pertama kali ini aku merasakan nyaman sehingga aku ingin terus berada disini, kamu jangan bosen ya kalau aku datang kesini terus?" tanya Yoona yang diangguki oleh Ara.
"Ma, Yoona main dulu ya dengan Ara? Yoona janji hanya disekitar sini aja kok." pamit Yoona pada ibunya dan dibalas anggukan oleh ibunya yang membuatnya senang entah kenapa, mungkin baru kali ini ia merasa diizinkan untuk bebas melakukan apapun.
Sehingga mereka sekarang berakhir di sebuah taman di belakang panti itu, disana terdapat banyak sekali bunga yang bermekaran, pohon besar yang rindang, dan tentu saja permainan anak-anak seperti ayunan, jungkat-jungkit, perosotan, dan lain sebagainya. Mereka memilih untuk duduk di atas ayunan yang berada di bawah pohon besar, suasananya sangatlah sejuk ditambah dengan pemandangan bunga yang bermekaran berwarna warni di depan mereka.
"Bunganya bagus ya harum lagi." ucap Yoona tanpa sadar.
"Oh iya? Bagaimana bentuk dan warna mereka? Apa kau bisa mendeskripsikannya untukku agar aku bisa membayangkan bagaimana bentuknya?" ucap Ara membuat Yoona sadar apa yang ia ucapkan tadi sebenarnya sedikit salah karena meminta pendapat kepada seorang tuna netra yang bahkan mereka tidak dapat melihatnya.
"Bentuk mereka sangat indah, kelopak bunganya banyak dan mekar ditambah mereka memiliki berbagai macam warna yang indah seperti merah, merah muda, kuning, jingga, dan ada yang berwarna ungu dan putih. Sangat indah." ucap Yoona semangat.
"Oh seperti itu, aku membayangkannya saja sudah sangat indah apalagi aku bisa melihatnya langsung ya. Wah terima kasih Yoona kamu sudah mau mendeskripsikannya untukku." ucap Ara membuat Yoona terdiam akan kalimatnya yang mungkin sedikit sensitif bagi Ara namun gadis itu seperti tidak peduli akan hal itu.
"Oh iya Yoona sejak kemarin aku ingin sekali mengetahui wajahmu namun aku malu, tapi untuk sekarang apakah aku boleh melihat wajahmu?" ucap Ara membuat Yoona sedikit kebingungan maksudnya bagaimana seorang tuna netra melihat wajahnya.
"Maksudnya bagaimana Ara aku tidak paham dengan kalimatmu." ucap Yoona kebingungan.
"Ahh maaf maksudku bolehkah aku memegang wajahmu agar aku bisa mengetahui bagaimana wajahmu?" ucap Ara lebih jelas.
"Oh iya boleh silahkan." ucapnya sambil memajukan wajahnya pada Ara.
"Maaf sebelumnya, permisi." ucap Ara sambil tangannya meraba wajah Yoona pelan.
"Wah kau sangat cantik ya, aku iri padamu Yoona. Pasti kamu banyak yang suka ya di sekolah kamu?" ucap Ara antusias.
"Haha terima kasih atas pujiannya Ara, tapi kamu juga cantik kok. Dan menyukai? Itu hanya lelucon karena aku tidak pernah pergi ke sekolah. Aku ikut homeschooling Ara, aku tidak boleh terlalu capek. Ya semua ini karena penyakit yang aku derita, sangat menyusahkan sekali ya?" ucap Yoona sedikit murung mengingatnya.
"Ah begitu, maaf ya kalau aku menyinggungmu barusan tapi jujur kamu sangat cantik, andai kamu benar bersekolah pasti kamu punya banyak teman. Kamu beruntung Yoona karena di sekelilingmu masih ada orang yang menyayangimu dengan tulus, ada yang menghiburmu ketika sedih. Sedangkan aku? Pasti semua orang yang ada di dekatku menatapku jijik bahkan ada yang iba, sebenarnya aku kesepian adanya anak pantipun hanya bisa menghilangkan sedikit kesepian ku. Dari dulu aku ingin memiliki teman yang bisa ku ajak bermain dan berbagi cerita tanpa rasa kasihan ataupun iba, dan bukankah kamu masih memiliki orang tua yang selalu sayang dan perhatian padamu?" ucap Ara panjang lebar membuat Yoona yang mendengarnya sedikit berpikir.
"Iya sih." ucap Yoona setuju dengan apa yang diucapkan Ara.
"Kamu sangat beruntung Yoona, asal kamu tau aku dari dulu sangatlah ingin melihat kedua orang tuaku, memeluknya dan memanggil mereka dengan manja, meminta segala sesuatu pada mereka, dan tentunya menginginkan kasih sayang mereka namun sepertinya tuhan tidak mengijinkanku untuk melakukan hal itu. Karena pada kenyataannya aku dibuang bahkan aku tidak diperbolehkan melihat dunia sejak kecil apalagi rupa kedua orang tuaku, aku dulu sempat ingin menyalahkan tuhan yang menciptakanku seperti ini namun aku sadar jika hal itu salah. Aku masih punya ibu pengasuh panti, aku masih punya teman yang senasib denganku, dan sekarang aku punya kamu sebagai teman berbagi ceritaku." ucap Ara sambil tersenyum.
Tanpa disadari Yoona sangatlah tersentuh sekaligus tersindir dengan ucapan Ara, dan saat ia berpikir kembali merenungkan apa yang barusan di ucapkan Ara yang ada benarnya itu. Akankah ia harus berubah sekarang? Akankah ia harus kembali berusaha untuk melawan penyakitnya itu setelah beberapa bulan ia menyerah dan membiarkan penyakitnya mengambil alih tubuhnya secara perlahan.
"Terima kasih Ara, berkat kamu aku menjadi termotivasi untuk lebih berjuang demi orang yang aku sayangi yang sudah berusaha keras untuk menyembuhkanku dan tentu saja sekarang kamu pun termasuk orang yang membuatku semangat untuk melawan penyakitnya ini. Semoga tuhan masih memberikan ku kesempatan kedua kali untuk aku bisa bersama orang yang selalu ada untukku." ucap Yoona semangat membuat Ara tersenyum tulus.
"Syukurlah kamu ingin berjuang lagi, kamu harus semangat Yoona aku yakin kamu bisa. Aku selalu disini bersama anak panti lainnya ikut mendo'akanmu agar kamu cepat sembuh dari penyakitmu itu." ucap Ara tulus membuat Yoona menitikkan air mata, baru kali ini ia merasakan kembali semangat berjuang karena dorongan semangat dari orang yang berarti baginya. Tanpa pikir panjang Yoona berdiri dan memeluk Ara erat sambil menangis bahagia membuat Ara sedikit terkejut.
"Terima kasih banyak sekali lagi Ara, aku janji aku bakal berjuang sampai titik darah penghabisanku untuk melawan penyakit ini. Terima kasih aku sayang padamu." ucap Yoona berkali-kali membuat Ara tersentuh.
"Kalau begitu bisakah kita selalu seperti ini? Kamu menjadi mataku dan aku akan menjadi tempatmu bersandar ketika kamu lelah dan kamu bisa mengeluarkan keluh kesahmu padaku. Bisakah kita selalu melengkapi hingga akhir? Karena aku merasa kamulah orang yang aku cari selama ini." ucap Ara yang juga ikut menangis diam-diam saat mengucapkannya.
"Ya bisa, aku mau kita seperti ini Ara. Terima kasih sudah menyemangatiku." ucap Yoona masih sambil menangis sedikit.
Langit pun semakin menggelap menandakan malam hari akan tiba sehingga mereka memutuskan untuk kembali ke dalam panti dan makan malam disana bersama sampai Yoona memutuskan pulang karena sudah malam hari.
"Sampai jumpa besok Ara, aku akan selalu mengunjungimu kalau aku sempat." ucap Yoona pamit.
"Iya akan kutunggu kedatangan mu Yoona." ucap Ara.
Lalu Yoona pulang dengan menceritakan banyak hal diperjalanan bersama ibunya itu, sang ibu bahkan terkejut ketika Yoona tiba-tiba memintanya untuk kembali mencarikan tempat pengobatan karena Yoona ingin berjuang kembali melawan penyakitnya itu. Itulah yang membuat ibunya terharu dan tanpa sadar menitikkan setetes air mata saat Yoona bercerita, ia harus berterima kasih kepada Ara karena membuat Yoona kembali termotivasi.
Hari demi hari Yoona lalui bersama Ara bahkan mereka semakin dekat satu sama lain, Yoona pun sudah kembali berobat lagi seperti sekarang ia sedang menjalani kemoterapi di sebuah rumah sakit ditemani oleh Ara dan orang tuanya, ya dia yang mau hal itu. Ia sudah bertekad kuat melawan penyakit ini meskipun mencoba berbagai macam pengobatan yang membuatnya sedikit lelah demi Ara dan orang yang ia cintai.
Kali ini Yoona tengah menemani Ara yang tengah memainkan piano di rumahnya, saat ia menikmati alunan musik piano yang dimainkan Ara tiba-tiba kepalanya pusing dan keluar darah dari hidungnya membuat Yoona sedikit panik bahkan membuat Ara berhenti memainkan pianonya karena merasa jika Yoona tidak berada di sampingnya.
"Yoona? Kamu baik-baik saja kan?" ucap Ara yang tidak dibalas karena Yoona tengah berlari menuju kamar mandi berusaha menghentikan mimisan nya itu.
Ara akhirnya berdiri mencari Yoona hingga sampai di kamar mandi Yoona sedikit terkejut karena Ara bisa sampai disana,
"Ara kenapa kamu sampai disini?" ucap Yoona sedikit panik takut Ara tahu.
"Kamu baik-baik saja kan Yoona?" tanya balik Ara tidak menghiraukan pertanyaan Yoona dengan tidak kalah panik.
"Hei tenang saja, aku hanya tiba-tiba kebelet tadi. Ayo kita mulai lagi permainanmu katanya kamu ingin menunjukkan sesuatu sambil menyanyi, ayo aku sudah tidak sabar." ucap Yoona bohong sambil menarik Ara menuju piano tadi.
Semakin hari Yoona menjalani pengobatan ditemani Ara tentunya tetapi Yoona merasa jika keadaannya semakin memburuk bukan semakin membaik lantasnya seperti sekarang setelah menjalani kemoterapi Yoona bercermin dan menyisir rambutnya namun yang ia dapati sangat mengejutkan yaitu beberapa helai rambutnya rontok lalu ia sering merasa lemas bahkan sampai mimisan yang selanjutnya disusul pingsan, lalu berat badannyapun kini menurun drastis bahkan ia sering merasa nyeri ditubuhnya hingga sesak nafas.
Awalnya Yoona berpikir itu adalah efek samping dari pengobatan namun setelah dipikir lagi tidak mungkin seperti ini, sedangkan setiap ia bertanya pada orang tuanya merasa seperti tidak ingin menjelaskan apa penyebabnya.
Dia pun sekarang jarang ke panti karena fokus pada pengobatannya jadi dia jarang bertemu Ara, ia pikir baguslah karena ia tidak akan malu saat Ara tahu Yoona sekarang botak meskipun kemungkinan Ara tahu kecil tetapi Yoona malu. Setiap hari ia lalui seperti itu terkadang Ara menjenguknya sambil membawa beberapa makanan kesukaannya terkadang juga ia sendirian menuliskan keseharian yang ia lewati di sebuah buku diary yang sudah ia miliki dulu namun jarang ia gunakan. Disana ia menuliskan semuanya yang ia rasakan tanpa terkecuali, Yoona sekarang tidak mudah mengeluh seperti dulu meski keadaannya membuat Yoona ingin mengeluh.
Suatu hari, orang tuanya meminta persetujuannya untuk menjalani operasi pencakokan sumsum tulang di luar negeri, awalnya ia merasa berat hati dan heran kenapa ia harus operasi jika kata mereka penyakitnya tidak terlalu parah. Namun ia terkejut saat akhirnya orang tuanya jujur akan apa yang ia alami saat ini yaitu penyakit Leukimia atau kanker darahnya telah sangat parah yaitu ditahap stadium akhir atau stadium 4 yang artinya sudah tidak memiliki harapan lagi namun masih ada cara untuk memperpanjang masa bertahan hidup Yoona salah satunya dengan operasi itu.
Kala itu, ia setuju namun ia sudah pasrah lagi meski ia terlihat selalu tersenyum tetapi saat ia sendirian ia selalu menangis diam-diam. Sekejam itukah tuhan padanya sehingga sudah tidak memberinya kesempatan untuk hidup bersama orang yang ia sayangi lebih lama? Setega itukah tuhan menghukumnya karena ia pernah putus asa dan sekarang tuhan sendirilah yang mematahkan semangat Yoona karena mendengar kesempatan ia sembuh sangatlah kecil yang artinya hidup nya pun hanya sebentar.
Terakhir sebelum ia pergi keluar negeri ia menemui panti untuk terakhir kalinya dan berpamitan pada Ara, Ara sangat sedih saat tahu Yoona akan pergi berobat ke luar negeri karena ia tahu sebelumnya jika penyakit Yoona saat ini sudah sangat parah karena ia tidak sengaja mendengar percakapan kedua orang tua Yoona yang terlihat sedih dan putus asa. Dari sana ia merasa menyesali akan hal itu, kenapa ketika Yoona semangat berjuang takdir seperti mematahkan semangat nya dengan memberinya kesempatan sembuh yang sangat mustahil.
Arapun selama ini juga mengetahui jika Yoona menangis secara diam-diam, kalian salah jika beranggapan Ara jarang menemui Yoona karena ia datang setiap hari namun Yoona tidak pernah sadar dan sudah beberapa kali Ara memergoki Yoona menangis putus asa di kamar inapnya. Arapun juga ikutan sedih melihat keadaan sahabatnya itu namun ia juga tidak bisa membantu apa-apa ketika ia tahu penyakit Yoona bukanlah penyakit yang sepele.
Singkat cerita, sudah hampir satu bulan ia dirawat dan menjalani pengobatan di luar negeri kini Yoona kembali ke tanah kelahirannya dengan keadaan yang tidak jauh buruk dari sebelumnya bahkan wajah nya pun pucat pasi, tubuhnya sangat kurus sehingga membuat ia kadang kesusahan untuk berjalan saking tidak kuatnya ia menompang tubuhnya hingga ia diharuskan memakai kursi roda, rambutnya habis sampai ia harus menutupinya dengan topi dn tudung jaket agar tidak malu. Saat di bandara ia disambut oleh Ara yang tersenyum riang lalu memeluknya pelan di kursi roda.
"Aku kangen sama kamu Yoona, kenapa kamu lama sekali aku disini kesepian tahu." ucap Ara dibuat bernada marah pada Yoona.
"Heheh maaf ya, soalnya aku sekalian refreshing mumpung di luar negeri." ucap Yoona bohong karena disana ia fokus pada pengobatannya setiap hari tanpa henti, tetapi Ara pun tahu jika ia berbohong dan memilih diam sambil tersenyum.
"Enak ya, liburan tidak ajak-ajak tahu gitu aku ikut aja kali kemarin sama kamu." ucap Ara pura-pura mendukung sandiwaranya Yoona.
Lalu mereka pulang ke rumah Yoona bersama menaiki mobil, di perjalanan Yoona tidak berhenti tertawa karena Ara selalu membuat lelucon yang lucu. Orang tuanya pun yang mengendarai duduk di depan melihat putri mereka miris bercampur sedih, disaat anak seumuran mereka bersenang-senang menikmati masa kecil tetapi mereka berbeda dan mereka harus merasakan pahitnya dunia dan kejamnya takdir itu.
Ketika sampai di rumah Ara disuruh menginap disana menemani Yoona untuk sekali saja, Arapun tidak menolak karena jujur diapun rindu dengan sahabatnya itu setelah sebulan tidak bertemu. Kini mereka berdua tengah duduk di kursi yang ada di balkon kamar Yoona menikmati angin malam yang sejuk sambil berbagi cerita yang mereka lalui selama tidak bertemu satu sama lain ini.
"Ara bagaimana kabar panti? Baik kan? Oh iya kalau kamu kembali sampaikan perminta maafaanku ya pada Vio karena sudah sering memakan coklatnya di kulkas secara diam-diam." ucap Yoona pada Ara.
"Baik kok, ya nanti akan aku sampaikan kalau bertemu Vio." ucap Ara lalu kondisi hening karena tidak ada yang buka suara dan saling bungkam menikmati suasana malam.
Lalu tiba-tiba Yoona buka suara, "Ara aku lelah melakukan ini semua, dan aku merasa jika memang ini sudah takdirnya karena aku merasa semakin hari bukannya membaik malah aku merasa semakin memburuk. Aku boleh menyerah untuk kedua kalinya tidak menurutmu?" tanya Yoona.
"Tidak boleh! Kamu tidak boleh menyerah kamu harus berjuang demi aku karena aku selalu disini bersamamu, kamu harus berjuang lebih kuat sedikit lagi Yoona kamu pasti bisa sembuh." ucap Ara yng sebenarnya hanya menghibur Yoona.
"Tetapi itu sudah mustahil Ara, penyakitku ini sudah berada di tahap akhir aku sendiripun tahu betul akan hal itu. Aku ingin menyerah karena aku lelah terus berjuang tanpa ada hasilnya dan kini keadaanku semakin memburuk bahkan sekarang aku sulit untuk berjalan, kenapa tuhan suka menyiksaku seperti ini?" ucap Yoona putus asa.
"Yoona dengarkan aku, tuhan tidak akan memberikan umatnya cobaan terlalu berat yang tidak dapat umatnya hadapi. Kenapa kamu seperti ini? Karena tuhan tahu kamu bisa menghadapi cobaan ini, tuhan tahu kamu adalah manusia kuat dan selalu bersabar makanya tuhan memberikan cobaan yang amat susah yang bahkan aku sendiripun tidak yakin bisa melewatinya sepertimu. Kamu istimewa Yoona karena kamu tidak pernah marah pada tuhan karena cobaan ini meskipun terkadang kamu sedih dan menangis secara diam-diam, itu hal yang wajar Yoona mungkin setelah seperti ini tuhan sudah menyiapkan sesuatu yang indah khusus untukmu entah kapan." ucap Ara panjang lebar dengan lembut membuat Yoona menangis dalam diam.
"Tuhan sudah mengatur semuanya sebelum kita diciptakan jadi kamu jangan patah semangat sebab sesuatu yang indah sudah menanti mu disana, tetaplah semangat aku selalu ada di samping mu untuk mendukungmu." Ucap Ara lagi membuat Yoona sekali lagi merasa termotivasi untuk kedua kalinya.
"Terima kasih Ara kamulah salah satunya alasanku untuk tetap bertahan melawan penyakit ini, semoga apa yang kamu katakan barusan benar terjadi maka aku tidak akan menyesal seumur hidup telah menghabiskan setengah umurku untuk berjuang melawan penyakit ini." ucap Yoona sambil menangis memeluk Ara yang berada disampingnya.
"Iya semoga saja, tenang Yoona kamu selalu dilindungi tuhan karena kamu adalah gadis yang kuat, sabar, selalu tabah, cantik, dermawan, dan baik hati. Tuhan lebih sayang padamu lebih dari siapapun." ucap Ara sekali lagi membuat Yoona tersenyum lebar masih sambil menangis.
Lalu karena semakin lama udara semakin dingin mereka memutuskan untuk kembali masuk ke dalam kamar dan bersiap tidur.
Sudah hampir 2 minggu semenjak Yoona kembali ke Indonesia, kini ia menjalani pengobatan semperti biasanya yaitu mengikuti beberapa terapi kemo, dan lain-lain. Ara sama sekali tidak pernah absen selalu menemani dengan setia Yoona saat berobat bahkan hingga saat Yoona dirawat inap lagi di rumah sakit Ara tetap sering menemuinya rutin.
Ia terharu pada semangat sahabatnya itu yang selalu setia mendukung dan ada di sisinya yang semakin lama semakin melemah ini. Dan kini hobi menulisnya semakin berkembang sehingga ia sering menulis di buku diarynya meski kadang ia merasa tidak kuat menulis akibat tubuhnya terlalu lemas, iapun kini hanya bisa berbaring di ranjang rumah sakit tanpa bisa berjalan seperti dahulu. Tubuhnya semakin kurus kering seperti hanya tersisa tulang saja memperihatinkan sekali mengingat Yoona yang dulu sangat cantik sebelum penyakit ini menggerogoti tubuhnya perlahan hingga kini dia seperti mayat tengkorak yang hidup sangat pucat di kulitnya yang putih itu.
Suatu hari, entah dorongan darimana ia menuliskan sebuah surat dihalaman paling belakang buku diarynya sebagai penutup yang menandai bahwa ia tidak akan mengeluh lagi pada buku itu, isinya tidak lebih dari ucapan terima kasih pada orang yang selalu ia sayangi yang ada selalu di sisinya dan ucapan maaf karena sering membuat mereka kesusahan dan khawatir karenanya.
Diapun menulisnya sambil menangis entah kenapa ia merasa inilah tulisan terakhir baginya, ia merasa bahwa hidupnya kini bisa dihitung dengan jari yang artinya ia sudah benar-benar menyerah perlahan dan selalu siap jika tiba-tiba tuhan mengambilnya pergi. Lalu pernah suatu saat Yoona berbicara berdua bersama Ara ketika ia diperbolehkan keluar kamar sebentar, ia meminta persetujuan Ara jika ia nanti semisal sudah benar-benar menyerah apakah ia mau menerima sesuatu darinya sebagai hadiah untuk selama ini selalu setia menemaninya.
"Ara, bolehkah aku berbicara sesuatu padamu?" ucap Yoona.
"Ya silahkan Yoona, aku selalu siap mendengarkan mu." ucap Ara sambil tersenyum yang posisinya kini mereka tengah duduk di bangku taman rumah sakit saat sore hari bertabur senja.
"Baiklah, semisal aku suatu saat benar-benar menyerah untuk bertahan, apakah kamu mau menerima hadiah spesial khusus dariku? Aku jamin hadiah ku sangat berguna untukmu karena aku merasa aku tidak membutuhkannya lagi kelak saat itu." ucap Yoona membuat Ara sedikit bingung dengan maksud ucapannya.
"Maksud kamu? Kamu ingin menyerah dan menyerahkan semuanya pada takdir? Lalu hadiah itu apa?" tanya Ara.
"Iya aku ingin menyerah, dan disaat itu pula aku berpikir bahwa aku mendonorkan salah satu organ tubuhku padamu agar dapat berguna. Aku ingin setidaknya aku dapat berguna bagi orang lain untuk terakhir kalinya sebelum aku benar-benar menyerah, apakah kamu mau? Aku tahu kamu pasti paham maksudku Ara, aku hanya meminta pendapat jika kamu menolak juga tidak apa hanya saja ku ingin berbuat kebaikan sebagai penebus dosaku selama ini. Bukankah hal itu sangat sederhana namun sangat bermakna bagimu?" ucap Yoona membuat Ara tiba-tiba menangis, ya gadis itu tahu betul apa maksud ucapan sahabatnya itu namun ia tidak ingin paham dengan ucapan sahabatnya itu.
"Jadi sampai disini saja perjuanganmu untuk kami? Apa ini adalah akhir dari kisah kita Yoona? Apa harapan kita selama ini hanyalah sia-sia?" tanya Ara pada Yoona yang kini sama-sama menangis.
"Jikalau aku boleh memutuskan maka aku memilih jawaban iya karena aku sudah lelah dengan semuanya, aku lelah tersakiti seperti ini Ara. Meski kamu dan semua orang selalu mendukungmu tetapi itu tidak cukup menutupi apa yang aku rasakan setiap harinya karena ini." ucap Yoona final membuat Ara bungkam dengan air mata yang selalu mengalir deras.
"Seputusasa ini kamu selama ini Yoona, Yoona yang selama ini aku kenal pantang menyerah pada akhirnya mengucapkan kata putus asa, Yoona yang biasanya ku kenal pandai menyembunyikan perasaannya kini berkata jujur padaku dan mengeluh merasakan rasa sakit, apakah juga pada akhirnya Yoona yang selalu ku semangati akan pergi selamanya dariku? Jika iya maka siapa yang akan ku semangati lagi nanti?" ucap Ara sambil terus menangis.
"Masih banyak orang yang lebih pantas berada disampingmu Ara, masih banyak orang yang pantas kau perjuangkan Ara, masih banyak orang yang menerima mu dan berbagi cerita indah seperti ini Ara," ucap Yoona yang kemudian dipotong oleh Ara yang mulai emosi karena kecewa dengan sahabatnya itu.
"Tapi tidak ada yang bisa menggantikan posisi mu selamanya di sisiku Yoona ingat itu, tidak akan ada orang sebaik kamu yang mau berteman setulus ini denganku, tidak ada gadis paling kuat yang ku kenal sepertimu, tidak akan ada yang bisa menjadi gadis yang pandai menyembunyikan rasa sakitnya pada orang lain sepertimu Yoona, dan tidak akan ada yang akan menggantikan posisi mu sebagai sumber pengelihatanku Yoona." ucap Ara menangis.
"Aku tahu itu, tapi kamu harus rela Ara. Aku anggap kamu setuju dengan keputusanku dan terima ini, bacalah ketika kamu sudah bisa melihat." ucap Yoona sambil memberikan sebuah buku berukuran sedang, ya itulah buku diarynya.
"Aku harap kamu mengerti dan menyimpan itu baik-baik untukku agar kamu selalu mengingat aku, jangan lupakan aku ya ketika posisiku kelak digantikan orang lain maka aku juga tidak akan melupakanmu Ara." ucap Yoona seakan tahu bahwa ini adalah ucapan terakhirnya bersama Ara.
"Oh iya besok pagi aku menjalani operasi lagi kuharap kamu selalu siap untuk juga menjalani operasi ya. Jangan bersedih aku selalu ada di sisimu Ara, aku akan selalu menjagamu disana." ucap Yoona sambil menunjuk langit yang menggelap itu membuat Ara diam sejak tadi.
"Untuk terakhir kali saja aku minta ini Ara, tolong kabulkanlah keinginanku anggap saja ini permintaan terakhirku sebelum aku benar-benar pergi ya?" ucap Yoona sambil memeluk Ara yang diam menatap lurus sambil menangis.
"Baiklah aku akan melakukan yang terbaik untukmu sebagai terakhir kalinya Yoona, semoga pilihanmu ini tidak membuatmu menyesal. Aku sayang padamu Yoona, kamu sudah kuanggap sebagai kakakku selama ini." ucap Ara sambil memeluk Yoona balik.
Lalu waktu itu telah tiba, Yoona menjalani operasi yang kemungkinan dapat membuatnya pergi selamanya jika terjadi sedikit kesalahan. Seakan ia tahu takdirnya sebelum dia menjalani operasi ia mengatakan sesuatu pada kedua orang tuanya.
"Mama, Papa terima kasih untuk semuanya, terima kasih sudah mau memperjuangkan Yoona, terima kasih sudah mau direpoti oleh Yoona. Maaf kalau Yoona belum jadi anak yang baik bagi Mama Papa, maaf jika Yoona belum bisa membalas kebaikan Mama Papa, maaf jika Yoona sering membuat Mama Papa sedih dan khawatir. Dan terakhir maaf jika Yoona menyerah dan harus pergi meninggalkan kalian berdua sendirian disini, tetapi Yoona tidak sepenuhnya pergi kok Yoona akan selalu melindungi Mama Papa disana." ucap Yoona membuat orang tuanya menangis sedih.
"Dan Yoona ingin Papa dan Mama mengadopsi Ara, anggap saja Ara sebagai pengganti Yoona. Dan semoga keinginan Yoona mendonorkan mata Yoona untuk Ara adalah hal yang tepat Ma, Pa. Selamat tinggal semoga kalian selalu menjaga kesehatan selama Yoona tidak ada, baik-baik disini." ucap terakhir Yoona sebelum obat bius bekerja padanya mengambil alih kesadaran tubuhnya.
Dan terakhir apa yang mereka khawatirkan selama ini terjadi, Yoona sudah sepenuhnya menyerah dan membiarkan tuhan mengambilnya pergi dari sini. Ya tepat setelah operasi transplantasi mata ia menjalani operasi pencakokan sumsum tulang belakang yang kini dilakukan di Indonesia, tapi sayang sepertinya perjuangan mereka sia-sia selama ini sebab setelahnya kondisi Yoona semakin memburuk dan sudah waktunya ia beristirahat dengan tenang melepaskan semua rasa sakitnya selama ini.
Sudah waktunya ia bebas dan berbahagia tanpa merasakan sakit ini lagi, semua nya pun bersedih mendengar kabar itu terutama kedua orang tuanya. Ara tidak tahu sebab ia sekarang menjalani operasi transplantasi mata dari Yoona, tetapi saat sebelum operasi ia merasa jika ia tidak enak hati seperti akan terjadi sesuatu pada Yoona.
Sementara Ara dioperasi Yoona telah dimakamkan segera sehingga ketika selesai operasi Ara mengetahuinya dan sangat terpukul, ia menyesal menerima operasi ini karena ia tidak menyadari jika dia akan menjalani operasi yang tandanya Yoona sudah tidak ada di dunia ini. Ia terlalu bodoh namun dia juga tidak ingin membuat Yoona kecewa dan menyesal dengan keputusannya, seusai operasi dan ia sudah bisa melihat kini ia membaca buku yang Yoona beri padanya, ia baca hingga akhir lembar buku itu dan membaca surat itu. Ara menangis membacanya, dalam hati perasaannya campur aduk setelah lama tidak merasa kehilangan kini ia kembali dapat merasakan rasanya kehilangan lagi bahkan kali ini jauh lebih menyakitkan dari dulu. Ia senang saat melihat dunia yang penuh wara warni bukan gelap gulita lagi namun ia sedih saat ia tahu jika ia dapat seperti ini berkat Yoona, dia sudah banyak mengorbankan segalanya bagi orang yang ia sayangi seperti waktu berharganya yang harusnya ia gunakan untuk bercanda namun ia gunakan untuk berobat, lalu kebahagiaan nya karena ia tidak bisa bebas bermain seperti anak lainnya, dan sekarang ia mengorbankan matanya untuk Ara agar sahabatnya dapat melihat. Namun Ara selalu berdo'a agar sahabatnya itu dapat tenang dan bahagia disana dan semoga ia tidak lagi merasakan rasa sakit seperti saat ia berada di dunia, semoga ia selalu bahagia disana bersama tuhan. Ya semoga saja.
Kini Ara harus hidup kesepian lagi ya meskipun ia telah diadopsi oleh kedua orang tua Yoona dengan alasan Ara mengingatkan mereka pada Yoona karena memiliki mata yang sama ternyata Ara tidak tahu jika itu jugalah keinginan Yoona pada orang tuanya untuk terakhir kalinya sebelum ia benar-benar pergi. Ara merasa harus mengunjungi tempat peristirahatan terakhir temannya itu dan menyampaikan semuanya pada sahabatnya itu, ya itu harus.
Akhirnya setelah berziarah Ara pulang ke rumah Yoona karena mulai sekarang ia akan tinggal disana dan mencoba hidup bahagia tanpa Yoona.
~~~~~Tamat~~~~~
Author note's: Maaf ya jika ada salah ketik, penggunaan bahasa tidak sesuai EYD, ataupun ceritanya membosankan. Terimakasih sudah meluangkan waktu untuk membaca ceritaku terlebih memberikan like dan comment. Don't forget to leave traces after reading! ^_^