Semua orang pasti memerlukan kehangatan cinta, meski dia seorang penjahat sekalipun.
=•=•=
[WARNING : AKAN ADA KONTEN DEWASA DIKIT AWOKAWOK. YA MESKI ITU BIASA SIH KALO DI DUNIA DRAKOR. TAPI YA TETEP AJA]
=•=•=
Rey masih bermain boneka bersama Miku. Tapi, sepertinya dia bermain dengan cara yang agak sedikit berbeda.
"Lihat ini, Miku! Jurus naga api ciyaatt!" Rey menggerakan kedua tangan boneka beruang yang biasa kugunakan untuk bermain. Ia kemudian mengangkat boneka beruang coklat itu dan menggerakan kakinya. Seolah-olah boneka ini sedang melakukan jurus tendangan.
Dia mengarahkan tendangan boneka beruang itu ke arah wajahnya sendiri. "Aarghhh ...." Laki-laki pemilik nama lengkap Rey Tachibana ini langsung terjungkal ke belakang sambil merintih kesakitan. Kurasa, itu hanya dibuat-buat, ya kutahu itu dari gayanya.
"Hahaha ... Kak Rey ... hahaha ...." Miku tertawa terpingkal-pingkal, tatkala melihat Rey memasang gaya orang yang sedang kesakitan. Hee ... aku tak tau ternyata cara 'anti mainstream' ini berhasil membuat Miku tertawa.
Aku memgambil boneka harimau yang terletak tidak jauh dari tempat Miku duduk. Tanpa basa-basi, aku pun ikut serta. Kami bermain boneka bersama hingga menghabiskan waktu yang cukup lama.
Tak terasa malam semakin larut, aku sedang memangku Miku yang kini tengah tertidur. Sedaritadi, dia memang sudah mengeluh mengantuk. Pada akhirnya, dia tertidur.
"Jadi, Ai. Mau kau apakan Miku? Mau ditidurkan di kasurnya atau di sini saja?" tanya Rey sambil memasukan kembali ponsel hitamnya.
Setelah mendengar pertanyaan Rey, aku menatap wajah Miku. Aku kemudian menatap wajah Rey lagi. "Eem ... sebenarnya, aku ingin membawanya masuk. Tapi kau tahu, aku tidak bisa ...," ucapku seraya menundukan kepalaku.
"Oi oi, jangan khawatirkan hal itu. Apa kau lupa, aku ada di sini. Biar aku saja yang menidurkannya," sahut Rey bersemangat.
"Memang kau bisa, Rey?" tanyaku sedikit ragu.
"Hah ... percayakan itu padaku. Aku akan berhati-hati, tenang saja!" tanggapnya penuh keyakinan. Ya, mungkin aku harus percaya kepadanya.
"Baiklah." Aku menganggukan kepalaku dua kali.
Setelah mendapat persetujuan dariku, Rey pun berjalan dan mengangkat tubuh Miku. "Ai, dimana kamar Miku?" tanya Rey sambil membopong tubuh Miku.
"I-itu di-di sana!" Aku menunjuk kamar tempat dimana ibu tengah tertidur saat ini. "Rey, hati-hati! Karena ibuku sedang tidur ...," ujarku memperingatkan dia. Aku tidak mau ibu bangun. Maksudku, aku tidak mau membuat ibu bangun pada situasi ini.
Rey tersenyum kepadaku. "Baiklah hi ...." Dia lalu berjalan perlahan menuju kamar ibu. Rey menjalankan sesuai ucapanku. Dia meletakkan Miku di ranjang dengan hati-hati tanpa mengeluarkan suara sedikitpun.
Setelah selesai, Rey berjalan menghampiriku lagi. "Hah ... ternyata Miku berat juga, ya? Dia lebih berat dari bayanganku ... hah ... hah ...." Dia menghela napas karena kelelahan. Ya, memang kuakui, Miku ini memang berat. Tapi bukan berarti dia gemuk. Dia hanya memiliki berat badan yang sedikit melebihi anak-anak seusianya.
Rey duduk di alas karpet tempat kami dan Miku bermain tadi. Aku yang awalnya berdiri pun ikut duduk kembali. Kami hanya duduk berdua sekarang ini. Kurasa, ini adalah waktu yang tepat untuk menanyakan hal itu kepada Rey. Ya, menanyakan tentang Hikari.
"Emm ... anu, Rey ...." Aku memanggil Rey dengan suara separuh berbisik.
Rey menoleh ke arahku. "Hm? Ada apa, Ai?" tanya Rey.
"Hee? Aa-a-ah ... i-itu ... ada satu hal yang ingin kutanyakan kepadamu. Kau ... kau jangan marah, ya?" ucapku dengan kedua jari telunjuk kusatukan. Aku juga menampakan wajah memelas dengan tatapan penuh harap. Aku tak tau apa ini akan berhasil membuat Rey tidak marah jika aku menanyakan tentang gadis bernama Hikari ini, tetapi setidaknya, aku dapat menguranginya.
Rey mengernyitkan keningnya. "Hm ... memang apa yang ingin kau tanyakan?" tanya Rey sekali lagi.
"Tapi kau janji tidak akan marah, kan?" Sebelum aku mendengar kata 'iya' atau sejenisnya, aku tak akan menanyakan hal ini. Aku tak ingin membuat Rey marah hanya gara-gara masalah sepele.
Rey menatapku sekejap. "Hmm ... baiklah," jawabnya.
"I-itu ... aku ingin bertanya tentang hal itu. Re-Rey, tadi kan kau pernah mengatakan bahwa kau harus segera pulang karena Hikari sudah menunggu di rumah. Ja-jadi, aku ingin menanyakan ...." Aku belum menyelesaikan pertanyaanku, tetapi aku ingin menatap wajah Rey terlebih dahulu.
"Hm?" Wajahnya masih tampak menyimak kata demi kata yang kuucapkan.
"Ja-jadi ... aku ingin bertanya ... A-apa Hikari adalah pacarmu? Ti-tidak perlu dijawab jika kau tidak mau! Ee-eh lebih baik tidak usah dijawab saja. Lu-lupakan saja!" Ee ... kenapa aku malah menjadi seperti ini? Aarghhh ....
Rey mengedipkan kedua matanya dua kali. "Pfttt ... HAHAHAHAAHA ...." Bukannya memberi jawaban, dia malah tertawa terbahak-bahak.
Jelas saja, hal itu membuatku bingung. "Hm? Kenapa kau malah tertawa, Rey?" tanyaku bingung.
"Hahahahaha ... ha? Ooh, itu ... hahaha ... aku tertawa karena merasa bahwa pertanyaanmu itu lucu hahaha ...." Rey tertawa sekali lagi. Sedangkan aku masih bingung dengan penjelasan Rey. Memang apa yang salah? Aku hanya bertanya seperti biasa.
"Ah baiklah baiklah. Aku akan menjelaskan siapa itu Hikari. Ya, dia bukan pacarku dia adalah adik perempuanku. Hikari Tachibana nama lengkapnya. Hah ... hari ini dia sedang menginap bersama paman di rumah nenek. Jadi, aku memutuskan untuk kemari. Lagipula, aku juga bisa berkenalan dengan ibumu dan juga Miku," jawab Rey. Dia juga menjelaskan pertanyaan yang tadinya ingin kutanyakan. Ah sekarang semua sudah jelas. Hikari bukanlah pacar Rey. Ya, aku jadi merasa lega sekarang.
"Ah ternyata begitu. Maaf, aku tidak tahu hehe ...." Aku menggaruk-garuk bagian belakang kepalaku.
Rey mendekatkan wajahnya kepada wajahku. "Hm? Memang kenapa kau tiba-tiba bertanya seperti ini? Ah aku tau, kau cemburu ya?" bisik Rey dengan suara sedikit berubah.
Tanpa kusadari, pipiku kembali memerah. "Ti-tidak kok. A-a-ku hanya ingin bertanya, itu saja," tanggapku mengarang cerita. Padahal sebenarnya, yang diucapkan oleh Rey itu adalah benar. Eh, maksudku bukan begitu. Aarhh kenapa aku merasa bahwa aku ini seperti orang kebingungan?
Tiba-tiba, Rey memegang kedua tanganku dan semakin mendekatkan wajahnya. "Benarkah, aku tidak percaya itu. Ai, mulutmu memang bisa berbohong. Tetapi wajahmu tidak. Lihat, pipimu berubah menjadi merah padam," ucap Rey mematahkan tanggapan karanganku.
"Emm ...." Aku sudah tidak bisa menjawab lagi. Yang hanya bisa kulakukan sekarang ini hanyalah memalingkan wajah dari tatapannya.
Namun, tanpa kusangka, sebuah tangan menarik daguku dan lalu menempatkan bibirku dalam ciuman hangatnya. Mataku membola tatkala melihat bahwa Rey dan aku sedang ... emm .... Awalnya aku sempat melawan dan berusaha melepaskan diri, akan tetapi, lama kelamaan, aku mulai menikmati kehangatannya. Mataku mulai memejam, menandakan bahwa aku telah menerima sepenuh hati, kehangatan ciuman Rey. Malam yang melelahkan saat itu, berubah menjadi sebuah malam penuh kehangatan.
'Ya, kau benar, Rey, aku memang cemburu jika kamu menyebut nama gadis lain. Tapi, aku tak akan pernah bisa mengucapkannya, karena aku tahu, aku hanyalah gadis biasa.'
=•=•=
Maaf kalau jelek, Miku laper banget asli tapi Miku masih tetep usahain buat nulis. Soalnya, Miku pengen menghibur semua orang. Meskipun karya Miku belum tentu menghibur sih. Tapi, Miku bakal usahain yang terbaik!
Btw, Miku buat novel Teen Romance Jepang, mampir aja dulu. Siapa tau suka ye kan?😂