Aku hanyalah pria tua yang masih hidup karena orang lain, tanpa ia mungkin aku sudah tiada lagi.
Tapi...
Cerita tentangnya kadang membuatku sedikit ngeri.
*
"Bawakan aku sesuatu!" Queen Agua berteriak.
"Queen menginginkan apa?" tanyaku sembari berjalan ke arahnya.
"Carikan aku sesuatu! Dan bawa ke sini!" ucapnya berteriak.
"Aku harus bawa apa?" tanyaku heran.
"Tidak usah banyak bertanya, pergi dan cari sesuatu untukku!" usirnya.
"Tapi...," aku bingung.
"Silakan pergi! Dan kembali ke sini sambil membawa sesuatu yang pantas untuk kau berikan padaku!" ujarnya.
"Baiklah," aku pun melangkah pergi.
Aku tidak mengerti apa yang diminta oleh Queen Agua, sosok yang selama ini membuatku sebagai pelayan menjadi istimewa. Aku harus mencari apa dan membawa apa, pikiranku berkecamuk.
Aku melihat penanggalan, berharap musim berpihak padaku. Hari ke-125, tidak cukup baik.
Aku lalu berjalan keluar dari kediamannya, melangkah menuju ke hutan.
***
"Mr. Carrot!" seseorang memanggilku.
"Apa yang kau lakukan di tempat ini?" tanyanya.
"Mr. Ginger, aku mencari sesuatu," jawabku enggan.
"Sesuatu apakah itu?" aku tahu dia akan bertanya seperti ini.
"Queen Agua memintaku mencari dan membawakan sesuatu, tapi dia tidak mengatakan aku harus mencari dan membawa apa," jelasku.
Aku melihat raut kebingungan di muka Mr. Ginger.
"Jadi kau pergi dengan tujuan tidak pasti?" ucapnya kemudian.
"Seperti yang kau lihat," kataku lemas.
"Kau membahayakan dirimu di luar sana," Mr. Ginger terlihat bingung.
"Aku harus berkorban," ucapku.
"Aku harap kau kembali dengan selamat," katanya dengan wajah khawatir.
"Terima kasih," kataku.
Aku melangkah pergi. Meninggalkan Mr. Ginger yang terlihat masih bingung dengan apa yang kulakukan.
***
Aku sampai di ujung desa ini. Satu langkah lagi aku akan masuk ke dalam hutan.
"Mr. Carrot!" seseorang memanggilku lagi.
Aku menoleh, melihat siapa yang memanggilku.
"Mr. Potato!" seruku.
"Kau mau masuk ke dalam hutan?" tanyanya penuh keheranan.
"Ya, Queen memintaku mencari dan membawa sesuatu padanya, tapi aku tidak mengerti apa yang diinginkannya. Jadi aku harus terus berjalan hingga aku menemukan sesuatu yang pantas kubawakan padanya," jelasku.
"Kau membahayakan dirimu demi permintaan Queen yang tidak jelas maksudnya itu?" dia tidak percaya.
"Apa yang harus aku lakukan?" aku menjadi semakin bingung.
"Kau bisa menolaknya," ucapnya.
"Tidak mungkin. Queen sudah terlalu baik padaku, aku tidak mungkin menolak permintaannya," sanggahku.
"Tapi ini membahayakanmu. Mungkin Queen sengaja ingin menyingkirkanmu dengan cara ini," ucapnya mengagetkanku.
Aku terkejut. Kemungkinan itu memang ada, tapi apakah Queen benar-benar tega padaku?
"Tidak mungkin. Selama ini Queen selalu baik padaku," aku mencoba berpikir positif.
"Tapi itu mungkin saja!" Mr. Potato meyakinkanku.
"Entahlah. Aku akan mencari dan membawa sesuatu untuknya. Aku akan kembali. Aku akan membuktikannya!" aku bersungut.
"Ijinkan aku menemani perjalananmu, " ucapnya kemudian.
"Apa? Kau bilang di luar sana berbahaya. Untuk apa kau membahayakan dirimu demi menemaniku?" aku heran.
"Aku hanya ingin memastikanmu kembali dengan selamat," alasan yang tidak dapat aku pikirkan lagi.
"Aku pasti akan kembali, percaya padaku. Kau pulanglah!" bujukku.
"Tidak, aku akan ikut denganmu," dengan mantap dia berkata.
Entah apa yang ada di pikiran Mr. Potato. Dia sangat ingin menemaniku, padahal dia tahu perjalanan ini akan berbahaya.
"Baiklah jika kau memaksa, terima kasih," ucapku.
"Ayo!" dia bersemangat.
Aku dan Mr. Potato melangkah masuk ke dalam hutan. Aku merasakan ada sesuatu di dalam sana yang menunggu kami. Sebuah bahaya.
***
"Hai, kalian! Mau ke mana?" seseorang berseru.
Aku menoleh, begitu pun Mr. Potato.
"Berry?" aku terbelalak.
"Kalian sedang apa di dalam hutan seperti ini?" tanyanya.
Aku menceritakan maksudku. Bagaimana Queen memintaku, dan aku bertemu Mr. Potato.
"Queen sangat aneh!" ucapnya kemudian.
"Bawa aku saja!" aku terkejut mendengar kalimat yang keluar dari Berry.
Aku terbujuk. Ingin rasanya aku membawa Berry kepada Queen. Mengingat aku sudah lelah bergeliat di dalam hutan ini.
"Tunggu dulu!" batinku.
Aku tersadar. Dia Berry. Dan aku tahu Berry yang berada di dalam hutan adalah Berry beracun.
"Aku tidak ingin meracuni Queen," batinku kemudian.
Aku harus melanjutkan berjalan.
"Bagaimana?" tanya Mr. Potato.
"Tidak. Dia beracun," ujarku.
"Bagaimana kau tahu aku beracun?" Berry terkesima.
"Kau lihat aku? Aku sudah tua. Bagaimana mungkin selama hidupku aku tidak tahu, bahwa berry sepertimu mengandung racun," jelasku.
"Kau sangat pintar Mr. Carrot. Kalau begitu aku akan mengantarkanmu ke kampung Berry di ujung hutan ini. Aku harap kau akan menemukan sesuatu itu," Berry mulai berjalan.
"Terima kasih," ucapku kemudian.
Aku dan Mr. Potato mengikutinya, semoga dia benar.
***
Kami berjalan menyusuri hutan ini. Berharap aku segera menemukan sesuatu itu.
"Itu Berry!" seseorang berteriak.
Aku melihat sekeliling. Hanya ada sekumpulan sayuran yang berdiam diri di depan rumah.
"Kau membawakannya, Berry! Kau hebat!" seseorang keluar.
"Pisau?" aku terbelalak.
Sejak kapan ada pisau di negeri ini? Aku merasakan getaran yang hebat. Berry menipuku. Aku merinding.
"Hai Mr. Carrot! Mari bergabung!" ajak Pisau berbasa-basi.
Aku harus menanyakan maksud semua ini.
"Untuk apa aku disini?" tanyaku.
"Aku akan membuat kalian semua di sini bergabung. Dan berubah menjadi sesuatu yang besar," jawab Pisau.
Aku menatap mata pisau itu. Bias cahaya membuat mataku silau, kilatannya menunjukkan bahwa dia sangat tajam. Terbayang bagaimana dia akan mencincang semua yang ada di depan matanya.
"Menjadi apa?" aku tidak mengerti.
"Semangkuk sup," jawabnya.
Apa? Sup? Membayangkannya saja aku tidak ingin. Karena tandanya aku harus mati.
Tidak. Aku harus pergi dari sini. Queen membutuhkanku.
"Mr. Potato, lari!" aku menyeretnya.
Aku juga tidak ingin membahayakan Mr. Potato.
"Kejar!" Pisau berteriak.
Aku terus berlari. Mr. Potato mengikuti setiap langkahku. Entah arah mana yang kutuju, aku hanya ingin lepas dari mata Pisau itu.
***
Aku mulai terseok. Sudah berapa jauh aku berlari? Nafas tuaku memaksaku untuk berhenti.
Aku membiarkan mataku berkeliling. Berharap tidak lagi melihat Pisau dan yang lainnya.
"Aku rasa mereka tidak lagi mengejar kita," ucapku pada Mr. Potato yang tidak kalah lelah.
"Aku tahu. Kita sudah di ujung hutan, tidak mungkin mereka akan mengejar hingga ke lepas hutan. Atau semua penghuni di sini akan tahu bahwa ada Pisau di negeri ini," sahutnya.
Aku mengambil nafas lega. Akhirnya aku terbebas dari mereka.
"Lihat!" Mr. Potato mengejutkanku.
Jangan lagi berkata bahwa mereka masih mengejar!
"Itu kampung Berry!" katanya kemudian.
Aku melihat keluar hutan. Benar saja, kampung Berry ada di depan mata.
"Ayo!" ajakku.
Aku berjalan menuju kampung itu, berharap aku menemukan sesuatu yang pantas untuk Queen.
***
"Selamat datang di kampung Berry!" ucap seseorang, yang jelas berbentuk berry.
Aku tersenyum padanya dan melanjutkan langkahku.
"Aku lihat kalian sangat letih. Sepertinya kalian datang dari tempat yang jauh," orang itu mengikutiku.
Aku menceritakan perjalanan ini. Semoga aku dapat menemukan hasil di sini.
"Aku akan membawamu pada Princess," kemudian dia berjalan mendahuluiku.
Aku mengikutinya. Menuju ke sebuah rumah paling mewah di tempat itu.
"Silakan masuk!" ucapnya.
"Terima kasih."
Aku melihat sekeliling.
"Indah sekali!" batinku.
Aku tidak berhenti mengaguminya. Rumah ini sama mewahnya dengan rumah Queen.
"Mr. Carrot!" seseorang memanggil namaku.
Aku terkejut. Aku belum menyebutkan namaku selama masuk ke tempat ini. Bagaimana dia tahu? Rasa takut kembali mengusikku.
"Princess?" aku seperti bermimpi.
Berdiri di depanku sang Princess Strawberry. Aku sudah mengenalnya. Bagaimana tidak? Dia adalah putri kesayangan Queen.
"Aku dengar Queen memintamu mencari dan membawakan sesuatu untuknya," ucapnya kemudian.
"Iya benar," jawabku.
"Bawa saja aku!" ucapnya, aku tidak mengerti maksudnya.
"Queen memintaku, bawalah aku!" katanya kemudian.
"Tapi Princess," aku bingung.
"Sudah. Bawa saja aku kepadanya!" dia memaksaku.
Aku terdiam. Membayangkan aku membunuh Princess Strawberry dan meletakkannya di atas piring. Lalu menyerahkannya pada Queen Agua.
Aku tidak mengerti permainan ini. Aku seperti bermimpi. Ini semua tidak masuk akal.
***
"Mr. Carrot!"
"Hei!"
"Bangun!"
"Mr. Carrot!"
Semua orang memanggilku. Aku membuka mata. Aku terbangun. Lalu melihat Queen Agua dan Princess Strawberry ada di sampingku. Sepertinya mereka sangat khawatir, apa yang sudah terjadi padaku?
"Mr. Carrot, kami merindukanmu!" mereka memelukku.
"Apa yang terjadi?" tanyaku.
Mereka lalu bercerita, bahwa sudah sepuluh hari aku tertidur. Sejak hari ke-120. Dan mereka tiada henti membangunkanku setiap harinya.
Tunggu! Sepuluh hari? Sejak hari ke-120?