aku tidak kesepian sama sekali, walaupun ibu dan ayahku sudah tiada 1thn lalu, tapi aku punya nenek di kampung, jadi aku pulang ke kampung untuk nemuin nenek.
Dirumah nenek.....
karena sampai di rumah nenek sudah sore, aku harus mengangkut air dulu dari sumur baru mandi,
"nenek dimana tempat mengambil airnya?"
"disumur sebelah sana nak" tunjuk nenek, terlihat sebuah sumur tua, berjarak satu meter dari rumah,
"ya sudah nek aku kesana dulu"
"Oya nak jika ada orang bersama mu disumur itu, jangan sampai kau bicara padanya, tetap lah diam dan berpura-pura tidak tahu"
"iya nek aku mengerti" aku tidak terlalu memikirkan maksud nenek walaupun itu tidak masuk akal, aku berlari ke sumur tua itu, sampai di sana aku menimba air, selagi asik menarik katrol nya dengan susah, terdengar suara lelaki muda yang menghampiri ku,
"hey hati-hati" aku terdiam sejenak dan melihat ke arah suara itu, aku mengalihkan pandanganku ke katrol lagi sambil memikirkan omongan nenek, lalu melanjutkan menimba air, tapi laki-laki itu mendekati ku lagi,
"biar aku bantu?" tawarnya
aku hanya diam dan tidak merespon sedikit pun, ya walaupun rasanya aneh apa lagi aku orang baru disini, tapi aku tetap menimba air, karena aku tidak perduli, laki-laki itu pergi,
"ya udah deh, aku permisi ya" katanya sedikit kecewa, aku berhenti menimba dan melihat pria itu pergi, dia seolah menikmati pemandangan dusun disore hari,
"penampilan nya tidak aneh, kakinya juga menyentuh tanah, tidak melayang, apa aku yang berlebihan memikirkan omongan nenek ya?" begitu pikir ku.
setelah selesai menimba aku mengangkat air menggunakan ember sampai dirumah, terlihat nenek duduk di teras asik dengan rajutan syalnya,
"nenek ini airnya, nenek mandi duluan ya, setelah itu baru aku"
"tidak usah nak nenek harus mengikuti ritual desa nanti malam dan akan basah kuyup"
"ritual desa?" tanya ku bingung
"iya ritual desa diadakan setiap jam 20:00, dan kau tidak boleh keluar sama sekali saat malam jadi tetap lah dirumah dan kunci pintu nya"
"tapi nek itu kan malam nanti kalau nenek sakit gimana?" tanya ku khawatir
"kamu tidak usah cemas, nenek sudah terbiasa"
"hm, baiklah nek. lalu nenek bagaimana masuk rumah kalau aku kunci?"
"besok pagi nenek baru pulang"
karena seperti nya nenek tidak ingin cerita banyak, aku mengangguk mengerti
"iya sudah nek kalau begitu" kata ku pasrah
"ya sudah cepatlah mandi dan siapkan makan malam lalu setelah itu tidur"
"iya nek, aku masuk dulu"
"hm" jawab nenek singkat dan kembali dengan rajutannya, aku sudah segar dan selesai menyiapkan makan malam
"nenek makan malamnya sudah siap"
"kau duluan saja nak, nenek mau bersiap keluar"
"tapi ini baru jam 18:45 nek"
"sudah makan saja duluan" ucap nenek keluar dari kamar, baunya seperti disirami minyak melati, aku ingin bertanya tapi ku urungkan,
"tapi nek ini kan masih ada 1jam lebih, nanti kalau nenek sakit gimana?" ucap ku protes
"sudahlah kau makan saja, dengarkan ucapan nenek!" tegasnya di depan pintu rumah, membuat ku bungkam
"jangan sekali-kali keluar rumah, mengerti?"
aku mengangguk nurut.
"ya sudah cepat tutup pintu nya" setelah nenek tidak dalam pandangan ku, aku cepat-cepat menutup pintu, menghabiskan sarapan ku dan langsung saja ke kamar.
malam ini membuat aku merinding, aku mendengar ada suara yang aneh dari luar kamar,
"kletak...kletok... kletak..kletok" suara sepatu.
"nyit...nyit..nyit" suara pintu dimainkan.
"Klang..Klang...Klang.." suara panci di dapur. aku tidak bisa tidur sama sekali, suasana rumah yang gelap, penerangan dengan pelita dan angin malam yang dingin, sangat melengkapi suasana horor di rumah ini, seluruh tubuh ku keringat dingin dan ku balut diriku dengan selimut, aku berharap semua nya hanya mimpi buruk dimalam hari...
Ke esokan paginya
aku bangun dari tidur ku yang entah hanya berapa jam saja, aku berdoa dan baca renungan, setelah selesai aku ke dapur mengambil ember untuk ke sumur, setelah sampai di sumur aku menguap panjang
"hoammm..." kantuk masih menerpaku, untuk bersemangat, aku menggerak kan badanku dan menggoyangkan kepala ku
"hahaha 😅" suara tawa laki-laki di belakangku, aku menoleh kaget, lalu segera mengambil air menggunakan katrol tua diatas sumur itu, karena malu aku terburu-buru mengambil air dan hampir terjatuh beruntung laki-laki itu menarikku cepat,
"hey hati-hati" ucapnya
"huh...huh..huh..." suara napasku yang takut dalam pelukan nya,
"sudah tidak apa-apa" pria itu menepuk pundak ku, membuat ku lama diam dan merasa aman, sebenarnya aku juga teringat kejadian semalam yang membuat ku gemetar ketakutan,
"sampai kapan kau mau memelukku?" tanyanya senyum menggoda ku, aku sontak melepaskan pelukannya dan melihat wajah nya sekilas lalu melanjutkan menimba air,
"apa ada yang salah dengan ku? kamu sama sekali gak mau merespon ku dari kemarin? bukan kah keterlaluan kalau kau tidak menegur ku juga, sekarang?"
aku berhenti dengan aktivitas ku, berpikir sejenak "sudahlah Wulan, berhenti memikirkan omongan nenek yang tidak masuk akal, cepat tegur dia" pikir ku
"kenapa diam saja? apa aku terlihat seperti hantu?"
ujarnya kesal, aku berhenti dan menghadap ke arahnya yang melihat ku kesal dengan mengangkat Alis kirinya,
"ma... maaf kan aku, tapi nenek ku melarang ku untuk berbicara dengan orang saat mengambil air dari sumur"
kataku menjelaskan, pria itu memasukan kedua tangannya disaku celana, dan sedikit berpikir,
"aku ingin mengajak mu jalan siang ini kau mau ikut? ada yang ingin aku ceritakan"
aku mengerutkan keningku melihat nya aneh
"hahaha tidak usah melihat ku seperti itu, aku hanya ingin berkenalan"
aku mengangguk ragu tanpa berfikir panjang, pria itu tersenyum setelah mendapat persetujuan ku, dia juga membantu ku mengambil air dan mengantarkan nya kerumah,
"hm, rumah mu besar juga yah?" ucapnya kagum, aku membalas dengan senyum
"taruh dimana ni airnya?"
"em, taruh aja di dekat kursi itu" tunjukku dikursi teras rumah,
"ya udah aku pulang dulu ya?"
"gak mau minum dulu?"
"ga usah repot-repot"
"gak repot kok tenang aja"
"maaf ya tapi lain kali aja soalnya aku ada pekerjaan pagi ini" katanya menjelaskan
"ya udah deh lain kali lagi" kata ku sambil tersenyum
"em kalau gitu sampai ketemu nanti siang"
aku mengangguk dan kami saling melambaykan tangan, aku masuk dan membawa air itu ke dapur, sampai di dapur aku kaget melihat nenek dimeja dapur memegang pisau besar sambil memotong daging,
"tak...tak.. tak.."
"ne..nenek? kapan pulang?"
"baru aja" jawab nenek singkat
"o..oh" jawab ku takut
"tadi bicara dengan siapa?"
"itu teman nek"
"siapa namanya?"
"aku.. aku baru kenal nek"
"kenapa gak di ajak masuk?"
"dia buru-buru nek jadi langsung pergi"
"lain kali di ajak masuk"
"Wulan?"
"iy..iya nek"
"kamu tidak bicara dengan orang disumur?"
"ten, tu, tentu saja tidak nek" kata ku sedikit gugup, aku tidak mungkin menceritakan yang terjadi di sumur, pasti nenek akan memarahi ku jika tahu.
"ya sudah kamu mandi saja, nenek siap kan sarapan nya"
"iya nek" kata ku sambil menuju ke dapur untuk mandi. aku mandi dan bersiap, mengenakan kemeja biru polos dan berjeans,
"Wulan sarapan nya sudah siap"
"iya nek"
aku membuka pintu kamar, betapa kagetnya aku melihat nenek didepan pintu memegang pisau pemotong daging yang seolah pisau itu melihat ku seperti daging,
"ayo sarapan" ucap nenek santay
"iy..iya nek" jawab ku takut
setelah nenek pergi aku menutup pintu kamar rapat dan mengikuti nya ke meja makan, sampai di meja makan aku melihat daging panggang, roti selai, susu serta nasi.
"ini nak makan dagingnya?"
nenek mengambil daging satu lagi dan melahap daging itu dengan rakus, aku yang melihat itu hanya bisa diam dan mengambil roti selai dan susu.
"aku makan roti selai, kalau sarapan nek"
"hm ya sudah kalau tidak mau"
aku hanya tersenyum takut,
"kenapa rapi sekali mau kemana kamu?"
"aku mau jalan sebentar nek, ada teman yang mengajak ku ber keliling desa"
nenek hanya diam melanjutkan makannya
"aku boleh pergi kan nek?"
nenek mengangguk melihat ku
"tapi jangan sampai petang, setelah itu kau harus pulang ingat pesan nenek"
"iya nek aku gak bakal lama"
setelah selesai aku pamit sama nenek di pintu rumah, dan laki-laki itu sudah menunggu ku didepan,
"nenek aku pamit ya?"
aku mencium punggung tangan nenek yang lagi-lagi bau melati
"hm ingatlah pulang petang ini"
"iya nek dah.."
pria itu melihat ke arah ku bingung, begitu juga dengan tetangga sebelah rumah dan depan rumah ku yang asik jemuran baju
"kita mau jalan kemana?" tanya ku bersemangat sekaligus penasaran menghampiri pria itu.
"udah ikut aja, kita main ke rumah ku"
"kerumah mu? orang tua mu?"
"udah ayo jalan"
"baiklah"
"seperti nya kita belum berkenalan, namaku Wulan"
"nama ku Gaet, Gaet petter"
"hm, nama mu bagus"
"terimakasih, namu juga cantik seperti dirimu"
aku tersenyum malu dan memalingkan wajahku, aku berhenti bertanya karena nya.
kami berjalan melewati pohon-pohon besar yang tinggi serta kebun teh para petani, aku melambay kan tangan ku ke para warga yang lagi asik memetik teh dan mereka membalas senyum ramah, pria disampingku tersenyum dan kadang tertawa melihat tingkah ku, tapi aku tidak perduli.
"Oya seberapa jauh rumah mu?"
"kalau dari rumah mu lumayan jauh sekitar 1kilometer"
"tapi sekarang sudah tidak lagi"
pria itu menunjuk ke rumah yang sederhana
"berarti kita sudah sampai"
usai mengucapkan itu aku berlari kerumah sederhana bercat hijau.
"hey pelan-pelan" kata Gaet
kami sampai didepan rumah dan pria itu memberikan kunci rumah pada ku,
"ini penghormatan untuk tamu ku"
aku melihat nya bingung, tapi pria itu tersenyum ramah,
"ayolah nona tangan ku lelah"
"baiklah, baiklah tuan rumah" aku membuka pintu rumah itu dan mempersilahkan Gaet untuk masuk yang seolah seperti rumah ku.
"ayo masuk"
kami masuk kedalam, saat didalam aku melihat banyak tumpukan buku dari macam-macam genre,
"mau minum apa?"
"em, teh pagi kayaqnya enak?" kata ku sambil tersenyum.
"ya sudah kalau gitu kau yang buat"
"hey aku ini tamu" kata ku tidak setuju.
"benarkah, tapi aku merasa kau adalah wanita ku, jadi sebagai wanita ku..."
"baiklah-baiklah hentikan gombalanmu"
aku ke dapur membuat teh, setelah selesai aku meletakkan teh itu dimeja bundar yang unik diruang tengah rumah itu.
"ini tehnya"
"ouh, terimakasih sayang"
"Gaet hentikan, kau membuat ku malu"
"baiklah-baiklah"
"ayo minum"
"Oya Gaet kamu penulis ya"
"iya seperti yang kamu lihat"
"oh... memang gak masuk akal kalau aku nganggap kamu hantu, hahaha"
"hahaha kamu ada-ada aja" kata Gaet tertawa melihat ku
kami berbincang begitu lama dan berbagi cerita, tanpa terasa hari sudah mulai sore,
"em, sebenarnya aku mau ngomong serius sama kamu"
"soal apa?"
"sebenarnya.. sebenarnya"
"apa sih Gaet?"
"sebenarnya rumah kamu itu, dulu pernah ada wanita paruh baya yang tinggal dan meninggal sebulan lalu"
"maksud kamu sebelum nenek aku? atau gimana sih?"
"sebenarnya aku berpikir kalau nenek yang kamu bilang itu, sudah.. sudah"
"gak mungkin et, kamu bohong kan?"
"aku tidak tahu harus ngomong apa Lan, kalau kamu gak percaya kamu bisa tanya warga"
aku berlari keluar bingung dengan menetes kan air mata, setelah ku pikir lagi tingkah nenek memang sedikit berbeda dari biasanya, dia terlihat sangat aneh, aku berhenti sejenak melihat ke arah warga yang pulang dari memetik teh, aku menghapus air mata ku lalu aku pergi ke salah satu warga,
"pak saya mau tanya apa benar rumah besar di desa itu ada seorang ibu paruh baya yang meninggal sebulan lalu?"
"iya neng, ada apa ya?"
aku terdiam sejenak tanpa bisa berkata-kata, dan menarik napas ku,
"bapak nggak salah kan?"
"nggak mungkin neng, saya juga ikut dalam pemakaman"
"pemakaman? kalau gitu bapak bisa bawa saya kesana?"
"iya neng boleh"
"hey Wulan tunggu" suara Gaet
aku dan Gaet beserta warga itu pergi ke makam Desa,
"ini neng makamnya"
"tunggu, itu gak mungkin"
kaki ku lemas dan mau jatuh
"eh Wulan"
Gaet panik dan menopang ku
"kita harus pulang sekarang" pinta ku
"iya" jawab Gaet singkat dan cemas melihat ku.
"pak tolong panggil pak RT dan warga lainnya menyusul kerumah saya"
"baik... baik neng" jawab warga itu bingung
"Gaet ayo kita pergi?"
Gaet mengangguk
kami sampai didepan rumahku
"kamu yakin" tanya Gaet khawatir
aku mengangguk yakin tapi hatiku terasa pahit, takut namun juga sedih, air mataku menetes dari tadi dan tak bisa ku tahan, aku ingin masuk tapi Gaet melarang ku sebelum warga datang,
"kita tunggu saja ya? aku takut terjadi apa-apa sama kamu, apa lagi ini sudah sore dan hampir malam"
aku mengangguk mengerti, tak beberapa lama kemudian para warga datang,
pak RT memegang tangan ku,
"ayo nak para warga dan tetangga sudah menceritakan semua nya pada ku"
aku mengangguk, sebelum masuk aku berdoa,
"ya Tuhan ampuni lah kesalahan ku dan dosa-dosa ku, jika memang tidak ada aku melepaskan, Amin"
aku membuka pintu rumah, semuanya mengikuti ku dari belakang, terlihat didalam rumah sangat berantakan daging yang dipotong nenek terlihat berulat dan bau busuk, aku ketakutan dan memegang tangan Gaet, Gaet merangkul ku untuk bejalan, semua warga melihat rumah ku seperti sarang yang sudah lama tidak di bersihkan, aku mencari nenek kemana-mana tapi tidak menemukan nya,
"Gaet ini gak mungkin" kata ku menangis tersedu-sedu
"Gaet memelukku erat tanpa habis pikir dan tidak mengatakan apa pun.
aku dan Gaet ke kamarku, setelah masuk hanya kamar ku yang rapi dan bersih, aku mengambil barang-barang ku dan kami semua pun keluar dari tempat menyeramkan itu, aku menangis menjadi-jadi malam itu, Gaet memeluk ku dengan erat, dan mendekap ku dalam,
"tenanglah sayang, semuanya sudah berlalu"
ucap nya menenangkan ku
"aku... aku takut, ahag...ahag...huhuhu"
"sudahlah ada aku disini, tidak apa-apa, hm?"
setelah aku tenang Gaet melepaskan pelukannya perlahan,
"nak sebaiknya tinggal lah di rumah ku dulu, dan tenang kan pikiran mu" tawar pak RT
aku melihat ke Gaet, Gaet mengangguk dan menghapus air mata ku,
"sudah jangan menangis lagi istirahat lah malam ini dengan baik, besok pikirkan apa yang akan kamu lakukan hm?"
aku menuruti Gaet dan ikut pak RT ke rumah nya untuk istirahat malam itu, rumah pak RT berada dekat dengan rumah Gaet, jadi aku merasa sedikit tenang,
Ke esokan paginya aku bangun dan berdoa lalu mandi, setelah mandi aku sarapan dengan keluarga pak RT dirumahnya
"terimakasih banyak pak karena sudah membantu"
"ini sudah tugas saya nak, Oya apa rencana mu selanjutnya?"
"saya kurang tahu pak mungkin akan kembali ke kota pak"
"baiklah nak hati-hati disana"
aku tersenyum dan mengangguk
"oh ya pak, bukan nya Gaet juga dari kota?"
"apa kau bilang nak? Gaet?"
"iya pak? ada apa pak? kenapa bingung?"
"dua bulan lalu ada seorang penulis dari kota, dia bermarga luar negeri namanya Gaet Petter, tapi ..."
"tapi kenapa pak?"
"dia meninggal di pohon dekat sumur tua daerah rumah mu"
aku kaget mendengar perkataan pak RT
"gak mungkin pak sepanjang hari kemarin dia menemani ku, bahkan dia bersama kita di rumah itu"
"nak itu tidak mungkin, penulis bernama Gaet sudah meninggal" aku terdiam kaku dan menangis ke luar rumah dan mendapati Gaet yang sudah menunggu ku di depan pintu rumah, aku berlari memeluk nya, kami saling memeluk erat,
"katakan padaku ini tidak benar Gaet"
"maaf kan aku Wulan"
"aku ingin katakan sesuatu"
Gaet melepaskan pelukannya
"aku di bunuh oleh nenek mu, dia menumbalkan ku ke persembahan sesajennya"
"sesajen?"
"iya Wulan demi berbicara dengan ayahmu yaitu anaknya Ibu Sri melakukan hal yang tidak seharusnya"
"tapi sebenarnya apa yang terjadi?, kenapa kamu bisa seperti ini Gaet? huhuhu.." tanya ku bingung dan menangis
aku melihat Gaet penuh kasih dan memegang pipinya, dia memegang tangan ku dan air matanya terus menetes,
"aku mencoba menghentikan Ibu Sri, nenek mu melakukan perbuatan keji itu, tapi karena aku mengetahui rencana nya, dia menjadi kan ku tumbal dalam sesajen nya"
"maafkan aku Gaet" kata ku sambil memegang kedua tangannya.
"ternyata kamu selama ini juga ketakutan?"
"apa yang kamu katakan Wulan ini bukan salah mu" kata Gaet penuh kasih melihat ku.
"maaf kan aku Wulan"
"jangan minta maaf, kamu sudah menjaga ku selama ini, bagaimana mungkin kamu meminta maaf?" kata ku
"jadi apa yang akan terjadi padamu selanjutnya?"
"saatnya aku pergi"
Gaet melepaskan tangan ku perlahan,
"bisa tidak jangan tinggalkan aku Gaet?"
aku memeluk nya dari belakang, sambil menangis tanpa henti menahan rasa dada ku yang sakit dan sesak "ahag...ahag... ahag... hu..hu..hu.."
"jangan katakan itu Wulan, kau membuat ku semakin tak rela meninggalkan mu"
Gaet membalikkan badannya dan mencium dahi ku, dan memegang kedua pipiku
"jangan seperti ini Wulan aku mohon"
"ahag..ahag baik lah" ucapku miris.
"aku, aku mengerti maafkan aku pergilah Gaet aku tidak akan menahan mu" kata ku sambil mencium dahi Gaet dan Gaet memelukku erat, untuk terakhir kalinya pelukan itu terasa hangat lagi dan lagi, aku merasa aman dan kenyamanan yang tidak ingin aku lepaskan selamanya.
perlahan tangan pria ku sudah tidak terasa lagi di pipiku, dirinya perlahan menghilang dihadapan ku tidak menyisakan bekas sedikit pun hanya kenangan yang aku punya dari diri nya, dada ini sangat sesak mengingat mu, aku memegang mu yang nyata tapi kau hanyalah sebuah kenangan yang diam di diriku semua hati ku sudah pasti merindukan mu "aku mencintaimu Gaet".