Rintik-rintik air hujan yang jatuh terdengar begitu berirama di sore ini dengan cahaya matahari yang mulai redup. Begitu indah dipandang mata. Dikejauhan tampak seorang lelaki tengah berlari mencari tempat untuk berteduh.
"Hujannya turun yaa!", kata lelaki itu memecah kesunyian.
"A-ah..i-iya..", jawabku
Tak terasa waktu berlalu dan hujan pun mulai reda diiringi dengan datangnya pelangi di langit sore. Ronanya sungguh indah menyejukkan hati.
"Hujannya sudah berhenti"
"I-iya..sudah berhenti"
"Aku harus pulang, semoga kita dipertemukan lagi di hujan berikutnya."
Aku kebingungan dengan apa yg dikatakan orang itu barusan. Sepanjang perjalanan pulang aku terus memikirkan apa maksud dari perkataannya tersebut.
*******
BEBERAPA PEKAN SELANJUTNYA
"Sepertinya hujan akan turun. Aku berharap semoga aku dipertemukan dengannya kembali." Ehh..apa yang aku pikirkan, bukan-bukan aku tidak bermaksud begitu tapi...ahh sudahlah.
Seperti dugaan, gemericik air hujan mulai terdengar nyaring. Setetes demi setetes butiran air pun jatuh membasahi bumi. Aku pun berlari sekuat tenaga mencari tempat berteduh karena aku tak membawa payung.
Namun sesuatu menghentikan langkah kakiku. Sejenak aku terdiam dan membalikkan badan.
"Hujannya turun yaa!!", kata seorang lelaki sembari memayungku dan tersenyum lebar.
Saura itu terdengar tidak begitu asing di telingaku. Aku pernah mendengar suara itu tapi dimana? Aku mencoba mengingat-ingatnya. Tak butuh waktu lama akhirnya aku mengingat suara itu.
"K-kamu lelaki hujan minggu lalu itu kan?", tanyaku penuh dengan keyakinan.
"Hahaha...kamu lucu sekali.", lelaki itu tertawa terbahak-bahak mendengar kata-kataku sontak saja itu membuat wajahku memerah dan akupun malu dibuatnya.
"Yuki..namaku Yuki,bukan lelaki hujan minggu lalu!!", lelaki itu memperkenalkan namanya sembari mengulurkan tangannya.
"A-aku Yuna.", jawabku menerima uluran tangan lelaki itu. Tangannya begitu hangat dan lembut selembut kain sutra.
"Yuki...Yuna, cocok sekali bukan?", celutak yuki
Aku hanya terdiam dan tak menjawab perkataan Yuki. Aku tahu Yuki hanya mencoba menggodaku dengan kata-katanya itu. Setelah hujan reda akhirnya kami berdua pun pulang bersama. Yuki mengantarku sampai di depan rumah. Sebelum aku masuk Yuki menanyakan sesuatu kepadaku.
"Yuna, hari sabtu apakah kamu sibuk?", tanya Yuki yang penasaran.
"Emm...sabtu yaa sepertinya tidak, emang kenapa?"
"Yosh!! Hari sabtu pukul 4 sore kita bertemu di taman kota. Aku akan mengajakmu ke suatu tempat. Ingat jangan lupa."
Belum sempat aku menjawab pertanyaannya dia langsung pergi begitu saja. "Anak aneh!!" hanya itu yang terlintas difikiranku. Tetapi walaupun begitu dia tipe orang yang sangat asik dan menyenangkan.
******
Hari yang telah ku tunggu akhirnya tiba. Hari dimana aku akan bertemu dengannya lagi. Padahal biasanya hari sabtu itu kugunakan untuk berada di alam kehaluanku sedikit lebih lama daripada hari biasanya. Tapi karena hari sabtu kali ini berbeda, maka aku tidak mau berlama-lama menghalukan husbuku. Aku ingin secepatnya berada di dunia nyata dan bertemu dengannya.
Jantungku berdegup cepat, kaki bergetar hebat.
Sudah 2 jam aku duduk di depan meja rias tanpa melakukan apa-apa. Ya Tuhan, ini bukan kencan pertama. Tapi kenapa aku nervous setengah mati? Tenang Yuna tenang, dia cuma mengajakmu jalan saja. Tenangkanlah dirimu.
"Huft..." Aku menghela nafas panjang. Satu persatu tanganku mulai bergerak memoles wajahku dengan make up. Jujur saja aku sebenarnya bukan tipe wanita yang suka berdandan. Tapi untuk kali ini aku mencoba untuk tampil modis dihadapannya.
"Sepertinya sudah sempurna." Cukup lama aku memandangi diriku di depan cermin. Aku terus berfikir apakah aku sudah sempurna? Tidak bukan begitu, tetapi setidaknya aku sudah berusah memantaskan diri untuk bersanding dengannya dengan mencoba berdandan modis hanya untuknya.
Karena sangat bersemangat aku pun datang lebih awal dari waktu yang dijanjikan. Aku duduk di taman kursi dibawah kilauan sang bulan. Aku menunggu Yuki dengan antusias. Lihatlah bahkan semesta pun merestui pertemuan kita. Untuk pertama kali aku bertemu denganmu di cuaca yang sangat cerah.
"Yuki jadi datang apa tidak yaa? Sudah jam segini tapi aku tak melihatnya dimana-mana", gumamku dalam hati.
"Yuna...!!"
"Ahh...Yuki akhirnya datang juga."
"Hari ini kamu cantik sekali, Yuna!!"
"Ahh kamu bisa aja" Jawabku tersipu malu.
"Malam ini aku akan mengajakmu pergi berkencan menikmati suasana kota berdua."
"K-kencan?"
"Iya."
Lalu Yuki pun menggenggam erat tanganku dan mengajakku ke tempat yang penuh cinta dan kebahagiaan. Sebuah tempat yang penuh dengan canda dan tawa kebahagiaan. Ia mengajakku ke suatu taman hiburan yang letaknya tak begitu jauh dari kota.
Di taman hiburan itu kami melalui banyak hal menyenangkan. Mulai dari menikmati es krim di bawah sebuah pohon yang rindang, membeli permen kapas, memancing ikan dan beranjak membeli berbagai hal dari satu toko ke toko yang lainnya.
"Yuna, mau naik gondala itu bersama tidak?"
"Emm..boleh, aku juga ingin menaikinya."
Sebenarnya aku mendengar sebuah rumor mengatakan bahwa ketika sepasang perempuan dan lelaki menaiki gondala itu tepat pada saat gondala berada di puncak diiringi dengan terbenamnya sang pusat dari tata surya, maka setelah itu mereka akan menjadi sepasang kekasih yang takkan pernah terputus ikatan tali benang merahnya. Hah..yang benar saja mana ada hal seperti itu, itu semua hanyalah rumor belaka. Aku tak percaya dengan itu semua.
Menurutku itu terlalu fiksi. Bahkan terlalu fana untuk jadi sebuah kenyataan.
Setelah menunggu antrian yang lumayan panjang, akhirnya tibalah giliran kami menaikinya. Aku pun memilih duduk di depan yuki daripada duduk di sebelahnya. Sesekali aku memandangi wajahnya yang disertai senyuman yang membuatku candu. Bahkan senyumannya lebih memabukkanku dari pada alkohol (yah..walaupun sebenarnya aku tak pernah memunum alkohol sih).
"Yuna lihat pemandangan diatas sini sangat indah!!"
"Wah...benar sekali. Tapi ngomong-ngomong tinggi juga yaa."
"Hahaha..apakah kamu takut ketinggian?"
"E-eh..t-tidak kok a-aku tidak takut ketinggian." karena gerogi aku asal menjawab saja, sebenernya aku sangat takut akan ketinggian.
"Yuna aku ingin membicarakan sesuatu denganmu." ucap Yuki terlihat begitu serius
"A-ah.. Iya bicara saja aku akan mendengarnya" jawabku penasaran
"Sebenarnya sejak pertama kali bertemu denganmu aku...aku su-"
Belum sempat aku mendengarkan Yuki menyelesaikan kalimatnya, kepalaku serasa pusing, mataku sudah berkunang-kunang dan pandangan mataku pun muali kabur.
"Yuna.. Yuna oi.. Apa kamu baik-baik saja? Yuna apa kamu bisa melihatku? Bertahanlah ini akan segera berakhir."
Yuki sepertinya sangat panik melihat keadaanku. Dia terus memelukku sembari mencoba membuatku tersadar kembali. Tetapi semua itu sia-sia karena tak beberapa lama kemudian aku pun pingsan. Dan ntah bagaimana begitu bangun aku sudah berada di rumah.