Aku adalah Rossalina, sang penari cantik dan berbakat yang dapat membuat siapapun terpukau saat melihat aksiku. Semangat menariku muncul seiring dengan hadirnya pianis tampan yang selalu mengiringi gerak tubuhku dengan alunan merdu dari melodi benda hitam putih itu.
"Dave ... bisakah kau mengajariku bermain piano?" tanyaku sembari berjalan mendekat ke arahnya yang sedang duduk nyaman dengan jemarinya yang menempel pada tuts.
"Duduklah Ros, aku akan mengajarimu." Ia mengedipkan sebelah matanya dan tersenyum genit mengundang diriku yang baru saja sampai di studio pribadinya.
Aku duduk di sebelah Dave. Dia meletakkan tanganku di atas tuts piano, kemudian membimbingku dengan posisinya yang seperti sedang setengah memelukku. Jari-jariku mulai bergerak dengan intruksinya. Sesekali suara beratnya terdengar manja di kedua telingaku.
"Ros ... kini giliranmu." Laki-laki dengan postur tubuh yang gagah itu kini beranjak dari tempat duduknya, dan berdiri dengan setengah menundukkan badannya. Tangannya mengulur memintaku untuk menjabatnya. "Bersediakah kau berdansa denganku, Ros?"
Tanpa pikir panjang, aku meraih uluran tangan Dave. Kedua manik matanya yang berwarna biru sungguh membuatku jatuh cinta. Kami menari tanpa iringan musik ataupun suara denting piano seperti saat ia mengiringi tarianku di atas pentas. Cukup dengan irama jantung kami yang tak beraturan, aku dan Dave bisa berdansa dengan sangat menjiwai.
Dave menatap lekat mataku dengan pancaran matanya yang membuatku tergoda. Ia melingkarkan kedua tangannya di pinggangku, hingga membuat jantungku berdegup tak karuan.
"Ros, kau sangat cantik hari ini. Aku mencintaimu."
Satu klimat yang keluar dari mulut Dave mampu membuatku seakan terbang menembus awang-awang. Kesadaranku terhenti pada satu kalimat yang diucapkannya. Hingga tanpa sadar, posisi wajah kami semakin lama semakin dekat dan aku tak bisa menolaknya lagi.
•••
Beberapa hari setelah Dave menyatakan cintanya padaku, aku memergokinya bersama dengan gadis lain yang tak lain adalah rival baruku sebagai sesama penari, dialah Melien penari baru yang sangat dekat denganku. Bahkan dirinya mengklaim cocok jika kami menjadi sahabat. Cih, aku menjadi muak jika mengingat semua kata-kata manisnya yang begitu palsu.
Melien melingkarkan tangannya pada lengan Dave. Sesekali ia berjalan sambil menyandarkan kepalanya pada bahu milik Dave. Mereka mendatangi sebuah toko perhiasan, dan Dave memasangkan sebuah cincin di jari kelingking Melien.
Api amarah terasa panas membakar jiwaku. Dengan kemarahan yang memenuhi setiap sudut hatiku, aku mulai menyusun rencana. Rencana untuk membalaskan sakit hati yang telah mereka ciptakan untukku.
Tiga hari aku habiskan untuk mengintai mereka berdua. Sudah muak rasanya selama itu aku menyaksikan mereka bertemu setiap saat, mendatangi satu tempat ke tempat yang lain. Dan mereka kembali dengan senyum sumringah.
Dert! Dert!
Ponselku berdering dan menampilkan nama Dave sedang memanggilku dalam telepon.
"Halo," ucapku dengan nada datar.
"Ros, aku ingin mengatakan sesuatu padamu. Datanglah ke studioku malam ini pukul 7 malam."
"Baiklah."
Cih, rasanya aku ingin melemparkan umpatan pada kedua manusia jahanam itu. Bisa-bisanya Dave masih mengundangku malam ini, padahal inilah malam dimana mereka berdua berjanji akan bertemu dalam studio miliknya. Mungkin keduanya mengundangku, untuk mengumumkan hubungan mereka. Aku sungguh tak akan mengijinkan itu terjadi.
Aku melaju kencang dengan mobil VW Golf merah, menembus sore menjelang malam yang dingin akibat rintik hujan yang mulai turun membasahi bumi.
15 menit kemudian, aku tiba di depan sebuah rumah minimalis modern ala eropa. Kutekan bel rumah tersebut beberapa kali, lalu muncullah Melien yang masih berbalut jubah mandi dari balik pintu dan menyambutku ramah, seakan tak ada yang dia tutupi.
"Wah, Ros, ternyata kau." Melien memeluk tubuhku seperti kami seolah telah menjadi sahabat baik. "Ayo masuk."
Aku mengikuti langkah Melien, tanganku menutup pintu rumahnya begitu kami sudah berada di dalam.
"Ros, tunggu ak ... Hemb hemb."
Suara Melien tercekat begitu tanganku mencekik lehernya yang masih sedikit basah. Aku mendorong paksa tubuh Melien dengan kedua tanganku yang semakin mengerat pada lehernya.
Melien membulatkan mata seiring dengan nafasnya yang mulai tak beraturan. Sorot matanya terlihat memohon dan memelas, namun amarahku sudah terlanjur mencapai puncak. Aku bukan manusia pemaaf jika harus memaafkan wanita penggoda sepertinya.
Kuseret tubuh dingin Melien dan kuletakkan dalam lemari bajunya.
"Satu pengecut sudah aku lenyapkan, tinggal satu lagi, setelah itu dendamku akan tamat."
Aku melangkah santai dari dalam rumah Melien, karena lokasinya cukup berjauhan dan tak ada orang melintas jika lewat dari pukul 5 sore.
Dan tujuanku selanjutnya adalah Studio pribadi milik Dave.
Aku sengaja memarkirkan mobilku agak jauh dari tempat Dave agar ia tak mengetahui kedatanganku. Kubuka perlahan pintu depan studio milik Dave dan ku kunci untuk menghindari seseorang yang akan menggagalkan rencanaku. Benar saja Dave telah menyiapkan kelopak mawar dengan bentuk love di lantai ruang utama. Namun Dave tak ada disana.
Kulangkahkan kaki menuju salah satu ruang di dekat tangga lantai dua, teenyata Dave memang berada dalam ruangan itu. Bahkan ia telah menghias ruangan tersebut dengan begitu banyak lilin dan bunga mawar yang berdiri kokoh dalam vas.
Aku melangkah mendekati Dave yang duduk dengan posisinya yang membelakangiku saat ini, ia sibuk memfokuskan diri dengan menyaksikan kehebatannya bermain piano lewat proyektor yang ia nyalakan. Ku arahkan sebelah tanganku menutupi kedua matanya, sedangkan sebelah tanganku yang lain telah siap dengan sebilau pisau yang akan menuntaskan dendamku.
"Melien, untung kau cepat datang. Kita harus melakukan persiapan sebelum Ros datang kesini," ucapnya dengan penuh percaya diri.
Aku menyingkirkan telapak tanganku dari matanya, hingga saat ia berbalik dan melihatku aku pun telah bersiap dengan serangan yang ku rencanakan.
Jleb!
Tepat di dadanya, aku menusukkan sebilah pisau yang kusiapkan khusus untuk Dave. Sebagai ucapan selamat karena telah berhasil mengelabuiku.
"Ros ... akh!"
Jleb!
"Hen-tik-kan ... Ros"
"Rasakan Dave, inilah akibatnya jika kau mempermainkanku."
"Ti ... tidak."
Erangan Dave berpadu dengan suara dari vidio yang diputar pada proyektornya. Aku berniat menyeret tubuh Dave yang saat itu masih bernafas kasar ke lantai 3 studionya yang merupakan area pribadi Dave. Disana terdapat lemari besar tempatnya mrnyimpan pakaian, aku bisa menggunakan itu untuk menyembunyikan Dave. Lalu kemudian erangan kesakitannya hilang seiring dengan menggelegarnya tawa seorang wanita dalam vidio itu. Aku pun berhenti menyeret tubuh Dave tepat di ambang pintu ruangan tempatku menghabisinya.
'Hahaha ... Dave, jangan membuatku basah begitu.'
Suara itu, suaraku saat sebelum ia menyatakan cintanya. Suaraku yang saat itu begitu bahagia, ketika Dave mengajakku berlibur ke pantai hanya berdua dengannya.
Aku berdiri termenung menatap vidio tersebut dan mengabaikan jasad Dave yang sudah terbujur di bawah kakiku.
Vidio itu memperlihatkan perjalananku dengan Dave yang ia jadikan sebuah film dokumenter. Tunggu, jika aku hanya berdua dengan Dave, siapa yang mendokumentasikan ini semua?
'Hai ... guys, kali ini aku tidak akan menghabiskan waktu liburanku sendiri. Aku akan menjadi penguntit kakakku dan calon kakak iparku.'
Melien?
Apa? Dia mengatakan akan menguntit kakaknya? dan kakak iparnya?
'Ros ... aku memang bukan lelaki sempurna di dunia ini. Bahkan banyak laki-laki yang lebih pantas mendampingimu jika kau mau. Tapi ijinkan aku mengungkap kemauanku sendiri ... Will You Marry Me, Rossalina?'
Aku terjatuh seketika, saat melihat wajah Dave dengan sungguh-sungguh melamarku lewat vidio yang telah ia siapkan.
"Dave ... Dave ... bangun. Bangun Dave!"
Aku menangis, meraung dan menggoncang-goncangkan tubuh dave yang mulai dingin. Aku berharap Dave akan kembali sadar dan memaafkanku. Kutekan dada Dave dengan kuat, namun bukan kesadaran yang ia peroleh justru darah semakin mengalir deras dari lubang bekas pisau yang ku tancapkan.
"DAVEEEEE!"
•••
Tiga hari berlalu, aku tak pernah meninggalkan studio milik Dave sejak hari itu. Aku lebih memilih menemani jasad Dave yang kini mulai menghitam. Namun aku tak peduli, aku hanya ingin bersamanya, aku mencintainya.
Dalam kekalutan dan kerinduanku akan sosok Dave, aku mendekati piano peninggalan Dave yang mulai berdebu. Kuletakkan jari-jemariku diatas tuts piano, dan menekannya dengan sembarang.
Do!
Re!
Mi!
Lalu samar-samar, aku mendengar suara lirih Dave menggema di kedua tlingaku.
"Ros ... aku mencintaimu. Datanglah Ros, datanglah!"
Aku melihat sosok Dave berdiri di belakangku, ia merentangkan kedua tangannya dan memintaku untuk datang. Aku beranjak dari kursi piano dan berjalan mengejar Dave. Namun Dave menghilang.
"Dave! Dimana kau?" Aku kebingungan melihat Dave tiba-tiba menghilang dari pandanganku.
"Ros aku disini, dibelakangmu!"
Aku segera berbalik dan mengejar Dave, namun lagi-lagi ia kembali menghilang.
"Ros ... kemarilah sayang. Aku menunggumu."
Aku kembali berbalik melihat sumber suara itu. Dave berdiri di anak tangga dan berjalan menjauhiku.
"Dave tunggu aku,"
Aku mengikuti kemana Dave pergi, namun setelah berada di lantai 2 Dave tak ada disana. Aku mencari-cari Dave dengan raut wajah yang begitu berharap.
"Ros, kemarilah sayang."
Dave telah berdiri di lantai 3 studio miliknya yang ia gunakan sebagai area pribadi. Aku berlari secepat mungkin untuk bisa menggapai tubuh Dave.
"Dave ... maafkan aku!"
Aku berjalan di lantai 3 dimana Dave berada sekarang. Ia tersenyum dengan merentangkan kedua tangannya.
"Aku mencintaimu Ros, menikahlah denganku!"
"Dave, aku juga mencintaimu!"
Aku berlari ke arah Dave, menyambut kedua tangannnya yang siap memelukku, namun ...
BUKKK !
Perutku membentur pembatas dengan kerasnya, hingga aku hilang keseimbangan dan ...
BRUUKKK!
Dalam hitungan persekian detik, aku terjatuh dari lantai tiga, dan kini tubuhku yang tak berdaya terkapar tepat disamping jasad Dave.
Aku merasakan seluruh tubuhku basah dan dingin, ternyata cairan merah telah mengalir deras membasahi tubuhku dan jasad tubuh Dave.
Dengan sisa-sisa energi yang kumiliki, aku berusaha meraih tangan Dave dan menyatukannya dengan tanganku.
"Da-ve ... a-ku da-tang!"
Bisakah kita bertemu sekali lagi, Dave?
•••
Kemarahan tak akan menyelesaikan masalahmu. Justru saat kau memaksa menyelesaikan masalah dalam keadaan marah, semua itu hanya akan memperparah keadaan.
Jalan terbaik saat kau marah adalah, TIDUR!
OKE SEKIAN DAN TERIMAKASIH.
WKWK. OTOR GABUT.😂😂😂