Semenjak aku hamil dan melahirkan anakku yang ke dua, tiga tahun yang lalu. Entah kenapa berat badanku tetap stay di angka tujuh puluh dua kilo. Padahal tinggi badanku hanya seratus lima puluh delapan sentimeter.
Makan tidak banyak, tapi berat badan tetap begitu-begitu aja. Makanya sejak satu bulan yang lalu aku mengikuti olahraga di pusat kebugaran dan mengikuti senam rutin ditambah mengkonsumsi obat diet.
Aku juga suka ke salon untuk perawatan tubuh, biar nanti Bang Kosim senang setelah pulang dari luar kota.
Baju seksi, tas, sepatu dan perhiasan serba baru sudah aku persiapkan untuk menyambut kedatangan Bang Kosim. aku juga sudah membeli make up supaya nanti Bang Kosim tambah terpesona saat melihat penampilanku nanti.
Bye-bye daster kucel. Karena Bang Kosim selalu mengeluh bila aku memakaimu saat sedang bebersih rumah.
Sebulan sudah Bang Kosim pergi. Dan hari ini adalah hari kepulangannya ke rumah.
"Assalamu'alaikum." ucap Bang Kosim sambil membuka pintu.
"Walaikum salam. Eh, Abang udah pulang." jawabku dengan senyuman paling manis dan segera ku hampiri suamiku untuk mencium punggung tangannya.
Bang Kosim terkejut saat melihat penampilanku sekarang. Mungkin dia tidak menyangka bila aku akan memberikan dia surprise seperti ini.
Aku mengenakan pakaian mini yang memperlihatkan lekuk tubuhku yang sudah jauh berkurang dari sebelumnya. Rambutku juga aku tata sedemikian rupa biar tampak lebih menarik.
Aku juga sudah berdandan yang cantik dan memakai parfum yang wanginya sangat menggoda indera penciuman. Tak lupa aku juga memakai perhiasan emas lengkap dari anting, cincin, gelang dan kalung.
"Kenapa, Bang?" tanyaku pada Bang kosim yang masih melongo keheranan setelah menutup pintu.
"Kamu kok sekarang berubah begini, Dek? Sejak kapan kamu memakai pakaian begini dan melepas jilbab?" tanya Bang Kosim gusar.
"Ce'ileh. Santai aja kali, Bang. Inikan di dalam rumah, bukan di luar." jawabku santai.
"Tetep aja tidak boleh. Nanti kalau ada orang yang bertamu bagaimana?"
"Sekarang kan cuma ada Abang. Kenapa malah jadi sewot begitu sih? Bukannya Abang suka sama perempuan yang seksi, ya?" sindirku.
"Maksud kamu itu apaan sih, Dek?"
"Bukan apa-apa. Jadi, gimana penampilan Adek? Abang suka?"
"Ya, suka. Tapi bukannya Adek tidak suka pakai pakaian begitu, ya?"
"Tapi 'kan Abang suka. Makanya Adek beli. Walaupun harganya tidak sesuai sih. Masa harganya lebih mahal daripada baju gamis yang biasa Adek pakai. Padahal kain yang dipakai buat bajunya tidak sebanyak buat baju gamis Adek. Kok bisa harganya jadi lebih mahal?"
"Begini-gini harganya hampir satu juta lho, Bang. Sedangkan baju gamis Adek harganya yang paling mahal cuma tiga ratus lima puluh ribu, Bang."
"Terus, uangnya darimana, Dek?" tanya Bang Kosim penuh selidik.
"Pakai kartu kredit Abang." jawabku polos.
"Kok bisa Adek pakai kartu kredit Abang tidak bilang-bilang?"
"Abang aja yang susah dihubungin. Adek juga perawatan di salon. Ternyata enak banget ya, Bang? Nyesel deh, kenapa tidak dari dulu aja Adek begitu?" jelasku dengan tampang polos.
"Apa? Perawatan di salon? Itu 'kan mahal banget, Dek. Kamu sendiri 'kan tau, kalau sekarang itu kita harusnya berhemat. Kenapa kamu malah menghambur-hamburkan uang untuk perawatan di salon?" ucap Bang Kosim geram.
Tiba-tiba Bi Minah datang.
"Permisi, bu. Saya pamit pulang dulu." ucap Bi Minah sambil sedikit menganggukkan kepalanya.
"Oh, iya, Bi. Tapi semua sudah beres 'kan?"
"Iya, sudah, Bu."
"Baiklah. Terima kasih ya, Bi." ucapku sambil tersenyum.
"Sama-sama, Bu. Assalamu'alaikum." ucap Bi Minah sambil berlalu pergi.
"Walaikum salam." balasku.
"Itu tadi siapa?" tanya Bang Kosim yang nampak bingung.
"Namanya Bi Minah. Dia asisten rumah tangga kita. Dia bekerja disini sejak Abang ada di luar kota. Tapi dia kerjanya sampai sore aja, Bang."
"Hah? Asisten rumah tangga? Memangnya kamu ada uang buat gajinya?"
"Ya, uang Abanglah. Adek 'kan tidak bekerja." ucapku santai.
"Terus, anak-anak dimana?"
"Mereka nginap di rumah mama Abang sejak dua hari yang lalu. Mama Abang katanya kangen, makanya anak-anak di jemput."
Beberapa saat kemudian ada kurir yang datang. Aku meminta supaya Bang Kosim yang keluar karena sekarang aku tidak memakai daster panjang dan tidak memakai jilbab.
"Kamu itu apa-apaan sih, Dek. Kenapa lagi kamu pesan makanan lewat go food? Mana makanannya yang mahal-mahal lagi?" protes Bang Kosim.
"Abang ini aneh banget deh. Baru aja pulang udah marah-marah terus kerjaannya." ucapku sewot.
"Gimana Abang tidak marah, Dek. Kalau kamu aja begitu. Bukannya masak sendiri seperti biasanya buat ngirit pengeluaran, malah pesan makanan dari restoran. Apa kamu sudah tidak waras?"
"Aku 'kan sudah capek, Bang. Makanya aku tidak sempat masak. Lagipula Abang juga suka protes kalau aku masakin menu yang itu-itu aja 'kan, Bang?"
"Capek kata kamu, Dek? Emangnya Adek capek ngapain? Kerjaan rumah di kerjakan sama Bi Minah. Anak-anak juga tidak ada di rumah. Terus kamu capek ngapain, hah?"
"Adek 'kan ikut kelas senam dan olahraga buat program nurunin berat badan Adek, Bang. Dan itu nguras tenaga juga lho. Belum lagi tadi Adek shopping di mall berjam-jam demi beli baju dan yang lainnya. Terus ke salon juga buat perawatan tubuh dan wajah. Makanya sekarang penampilan Adek bisa seperti sekarang."
"Ya ampun, Dek." tiba-tiba Bang Kosim menepuk jidatnya sambil menggelengkan kepalanya.
"Adek ini mau buat Abang seneng atau mau buat Abang mati jantungan gara-gara ulah Adek, hah?"
"Lho, Adek 'kan cuma melakukan sesuatu yang Abang sukai. Terus salahnya Adek dimana? Lagipula Abang itu 'kan suaminya Adek. Sudah seharusnya kalau Abang itu lebih perhatian sama Adek. Bukannya sama perempuan yang lain!" ucapku ketus.
"Abang fikir Adek tidak tau berapa gaji Abang yang sebenarnya? Abang bilang gaji Abang cuma tiga juta padahal sebenarnya empat puluh juta."
"Si-siapa bilang gaji Abang empat puluh juta, Dek?" tanya Bang Kosim sedikit gugup.
"Kenapa? Adek bener 'kan? Abang juga ke luar kota bukan karena ada kerjaan kantor melainkan Abang cuti buat bersenang-senang sama perempuan murahan itu 'kan, Bang? Yang bodynya seksi dan berpakaian serba mini?"
"Abang juga suka memberinya uang buat perawatan di salon dan membelikan apapun yang dia minta. Makannya juga di restoran yang mahal. Terus kenapa Adek yang istri sah Abang tidak boleh?"
"Memangnya Abang nikahin Adek buat jadi pendamping hidup apa pembantu, hah?" ucapku sambil menatap tajam pada Bang Kosim.
"I-itu...."
"Itu apa, hah? Mulai sekarang, ATM dan kartu kredit Adek yang pegang. Dan kalau sampai Adek tau, Abang masih berhubungan dengan perempuan itu, siap-siap aja Abang menanggung akibatnya." ucapku sambil menunjuk wajah Bang Kosim.
"Mulai sekarang Adek tidak mau masak lagi. Adek bakalan pesan makanan di luar. Daripada pusing udah capek-capek ngatur uang belanja yang tidak seberapa setelah dikurangi bayar listrik dan yang lainnya. Lebih baik begini aja. Adek dan anak-anak juga bosan makan ala kadarnya karena berusaha dicukup-cukupkan, tau-tau suami yang main gila sama perempuan lain di luar sana."
"Abang fikir Adek tidak capek? Seharian ngurus rumah supaya selalu terlihat bersih dan nyaman dilihat bila ada tamu yang berkunjung. Mengurus anak-anak yang sangat aktif di rumah sendirian. Baru Abang yang seenaknya bilang Adek gendut dan jelek karena tidak bisa merawat tubuh Adek?"
"Giliran Adek sering perawatan ke salon dan ikut kelas biar penampilan cantik malah di salahkan juga. Mau mu itu apa sih, Bang?"
"I-iya. Abang khilaf, Dek. Tolong maafin Abang, ya. Nanti semua gaji Abang bakal Abang serahkan semua sama Adek dan Abang janji tidak akan berhubungan lagi sama Dewi. Yang penting Adek tidak begini lagi. Bisa habis Abang, Dek kalau tiap hari harus beli makanan di luar. Apalagi Adek juga sudah perawatan di salon dan ikut kelas senam juga biayanya tidak sedikit, Dek. Ya?" ucap Bang Kosim memelas.
"Suka-suka Adek, dong. Lagipula baru kali ini Adek begini setelah kita menikah tujuh tahun. Daripada uang Abang dinikmatin sama perempuan lain, lebih baik buat Adek aja 'kan, Bang. Toh kalau uang Abang sama Adek, Abang dan anak-anak juga bisa ikut menikmati. Iya 'kan, Bang?"
"Lagipula sayang kalau uang tabungan Abang juga nanti di pakai sama si Dewi. Bukannya ngasih istri dan orang tua, malah ngasih orang lain."
"Jadi sebagai hukuman buat Abang, bulan ini Abang yang belanja kebutuhan di rumah dan bayar semua tagihan yang masuk. Adek mau cuti jadi ibu rumah tangga. Emangnya Abang aja yang boleh cuti dari kantor selama sebulan buat selingkuh. Huh."
Aku tinggalkan Bang Kosim yang mendadak lesu di ruang tamu. Emangnya enak?