[Din, lagi dimana?]
Sebuah pesan aplikasi WA masuk dari kakakku
[Lagi di rumah sakit, kak. Jagain Rasyid]
[Emangnya dia sakit apa?]
[Alerginya kumat, kak. Tapi gak tau alerginya karena apa. Makanya mau dirujuk ke rumah sakit di luar kota karena disini belum ada alatnya]
[Oh, gitu?]
[Kenapa kak?]
[Aku mau pinjem uang lagi, dek. Gak banyak kok. Cuma 2 juta saja. Emot senyum]
[Maaf, kak. Aku lagi gak ada uang. Malah sekarang aku mau minta uangku yang kakak pinjam buat tambahan biaya berobat Rasyid]
[Kok, kamu jadi pelit gitu sih, Din. Nanti juga bakal aku bayar kalau suamiku udah ada uangnya.]
[Aku beneran lagi butuh uang juga kak, buat biaya bawa berobat Rasyid. Lagian kakak juga cuma janji-janji terus tapi gak pernah juga kakak bayar.]
[Kamu tuh bilang kayak gitu kayak aku gak pernah bayar saja, Din. Dulu waktu aku pinjam 10 juta, beneran aku bayar lunas pas udah 2 bulan kan?]
[Iya, kak. Tapi sekarang sudah hampir 2 tahun kakak gak pernah bayar lagi pinjaman kakak yang 10 juta begitu yang 10njuta sebelumnya sudah lunas. Sekarang aku juga lagi butuh biaya buat berangkat bawa Rasyid berobat]
[Rasyid itu kan ikut BPJS Din, jadi gak bayarlah berobatnya. Gak usah banyak alasan deh]
[Kok banyak alasan sih kak. Lagian yang ditanggung BPJS itu cuma biaya berobatnya aja. Terus, uang makan dan tempat tinggal selama disana bagaimana? Belum lagi uang tiket buat kesana. Itu pake uang pribadi bukan BPJS.]
[Tolong kakak dululah, Din. Kakak bener-bener perlu ini buat bayar kontrakan rumah. Kalo gak dibayar bulan ini, nanti kakak disuruh keluar, Din. Masa sih kamu tega, Din. Emot sedih]
[Kakak lah yang tega. Udah pinjem bukannya dibayar malah sekarang mau nambah lagi. Rasyid sekarang ini lagi sakit kak]
[Ya sudah. Awas aja kamu nanti kalo lagi susah, gak usah minta tolong sama kakak. Dan semoga saja nanti semua usahamu jadi dipersulit sama Allah gara-gara bikin susah saudara sendiri. Emot marah]
[Gak salah tuh? Kakak tuh yang udah bikin aku susah. Kemarin saja aku lihat status kakak beli perhiasan baru. Nanti dikasih susah betulan baru tau rasa karena gak ada yang mau nolongin lagi.]
Setelah pesan aku kirim, hanya ada centang dua abu-abu, artinya pesanku belum dibaca.
Gak habis fikir juga. Dia yang ngutang, tapi aku yang jadi repot. Hutang gak ada habisnya cuma buat gaya hidup. Ngakunya susah tapi suka pamer beli perhiasan di sosmed. Makanya aku gak mau pinjamin dia lagi.
Awalnya saja dia pinjam baik-baik buat biaya berobat anak sulungnya 10 juta dan dia janji pas sudah 2 bulan dia bakal lunasin. Dan benar saja dalam tempo 2 bulan, uangku yang 10 juta sudah dia bayar.
Tapi, 1 bulan kemudian dia pinjam lagi 10 juta buat tambahan saat dia mau pulang ke kampung halaman suaminya. Janjinya 2 bulan kemudian dia bayar. Tapi dari 2 bulan akhirnya tembus jadi 2 tahun. Bukan karena aku yang tidak menagih, melainkan karena dia selalu saja ada alasan buat gak bayar.
Dibilang gak percayaan lah sama saudara, pelitlah dan lain-lain. Sekarang malah aku pula yang disumpahin. Lama-lama jadi gemes juga punya saudara model begitu.
Sekarang aku benar-benar bingung mikirin biaya buat berangkat nanti bagaimana karena uang yang aku harap-harapkan malah gak ada. Jadi ada rasa bersalah sama suamiku karena aku tak menghiraukan perkataannya dulu untuk tidak meminjamkan seluruh uang tabungan pada kakakku. Sekarang kalau sudah begini, aku sendiri yang susah kan?
Besok anakku harus segera dibawa ke rumah sakit di kota besar, tapi sampai sekarang uang masih belum ada di tangan. Ku lihat wajah suamiku yang sedari tadi terpaku pada layar ponselnya. Sepertinya hingga saat ini pun dia belum berhasil mendapatkan pinjaman. Lagi-lagi penyesalan karena sudah terlalu percaya pada kak Winda membuatku gusar.
Dalam hati aku terus-terusan berfikiran buruk tentangnya. Sungguh hati ini tidak ikhlas karena sudah menolongnya dulu. Andai saja, andai saja, hanya itu yang terlintas di benakku. Ingin rasanya aku berteriak sekencang-kencangnya untuk melampiaskan semua beban di dada.
Anakku masih terbaring lemah di sebuah brankar. Sungguh tak tega rasanya melihatnya seperti itu. Entah bagaimana lagi caranya supaya aku bisa segera membawanya pergi ke luar kota untuk berobat disana.
Perlahan suamiku datang mendekat dengan wajah yang sayu. Dia menatap wajah anaknya yang kini sedang terbaring lemah sambil meminta maaf pada anaknya karena belum bisa melakukan yang terbaik buat anaknya hingga air matanya menetes di pipinya.
Betapa terpukulnya diri ini melihatnya sampai seperti itu karena ulahku sendiri. Dia adalah suami yang sangat baik dan bertanggung jawab. Tak pernah dia membentakku sekalipun aku melakukan kesalahan. Dia selalu sabar dan sering mengalah padaku dalam hal apapun supaya tidak terjadi pertengkaran. Apalagi jika di depan anak-anak, tak pernah sekalipun dia membalas ucapanku dengan kata-kata kasar jika aku sedang marah. Dia justru membujuk dengan rayuan supaya aku lebih tenang.
Tapi sekarang usaha suamiku sedang mengalami kesulitan karena ada karyawannya yang kabur membawa uang suamiku. Meskipun pelakunya sudah tertangkap, namun uangnya sudah tidak bisa dikembalikan karena habis di pakai buat bayar hutang karyawannya pada seorang rentenir karena kalah dalam judi.
Suamiku juga sudah mencoba menghubungi saudaranya yang merantau di luar kota, namun nomor ponselnya tak bisa dihubungi.
Mau cari pinjaman di lain juga kami tak tau bisa melunasi dalam waktu berapa lama, mengingat toko yang dikelola suami juga sedang ada masalah.
Hingga akhirnya suamiku memutuskan untuk menjual mobil pick up satu-satunya yang biasa dipakai untuk pergi membeli barang untuk dijual di toko. Daripada harus hutang dan kefikiran gimana caranya membayar pinjaman, lebih baik jual yang ada aja kata suamiku. Sampai ada telpon dari messenger suamiku dan dia keluar ruangan supaya anak kami tidak terganggu istirahatnya.
Tak lama kemudian suamiku kembali dengan wajah yang sumringah. Alhamdulillah tadi itu adik suamiku yang telpon. Katanya ponselnya rusak karena jatuh ke dalam air. Jadi seluruh kontak hilang semua. Alhasil cuma bisa nelpon dari messenger buat ngabarin kalo dia mau pulang kampung pekan depan.
Suamiku juga sudah cerita kalau Rasyid lagi sakit dan butuh uang buat biaya tiket dan uang makan selama di sana. Alhamdulillah adiknya memberikan kami uang 5 juta secara cuma-cuma.
Emang yang namanya rejeki sudah diatur sama Allah, jadi kenapa aku sempat ragu akan hal itu. Astaghfirullah, ampuni aku ya Allah
*****
Alhamdulillah sekarang kondisi anakku juga jadi jauh lebih baik. Makannya juga harus dijaga supaya alerginya gak kambuh lagi. Setidaknya sekarang kami sudah bisa antisipasi buat menghindari apa saja yang bisa menyebabkan alerginya kumat lagi. Kasian kalau liat wajahnya sampai bengkak dan kulitnya kemerahan kayak kepiting rebus kalau sudah ada yang dia salah makan. Mau coba-coba makanan baru tapi tau-tau malah bikin alerginya kumat. Selain makan seafood, ternyata makan terong pun dia bisa alergi.
Hari ini, adik suamiku pulang dan langsung datang ke rumah kami karena memang cuma suamiku saudaranya satu-satunya dan orang tua suamiku sudah lama tiada. Jadi suamiku lah yang bekerja keras demi menyekolahkan adik satu-satunya hingga lulus perguruan tinggi, sementara suamiku hanya lulusan SMA.
Itulah sebabnya adiknya sangat menghormati dan menyayangi suamiku. Apabila kami ada kesulitan dalam keuangan, adiknya yang langsung menawarkan bantuan. Istrinya juga sangat baik dan ramah. Hanya saja mereka belum dikaruniai anak meski mereka sudah menikah selama 3 tahun. Yah, namanya juga belum rejeki. Tapi, alhamdulillah mereka tetap sabar menghadapi omongan tetangga yang julid.
Pernah mereka menawarkan pada kami agar mengasuh anakku yang ke tiga. Biar gak sunyi katanya. Tapi, tetap saja aku gak bisa kalau harus berpisah sama anakku. Apalagi tempat tinggal mereka yang jauh di luar kota. Hanya dipinjam sekedar dibawa jalan-jalan saja rasanya sudah gak enak. Tapi syukurlah mereka mau mengerti.
Sore ini adik suamiku mau mengajak liburan ke taman wisata buah yang baru saja buka di daerahku. Katanya sih ada wahana permainan dan kolam renangnya juga. Sebenarnya aku lagi malas banget mau pergi karena liat status kak Winda mau pergi kesana juga buat liburan, jadi illfeel saja kalau tiba-tiba nanti ketemu di sana gimana coba? Tapi suamiku membujukku terus agar aku mau ikut. Lagipula gak enak sama adik suamiku karena sudah jauh-jauh datang supaya bisa main bareng sama anak-anak juga. Jadi aku terpaksa ikut.
Dan bener saja pas di taman aku ada ketemu sama kak Winda. Dia langsung gelagapan kayak maling yang terciduk sama warga. Entah apa yang tiba-tiba dia sembunyikan. Setelah kami turun dari kereta wisata yang mengantar kami berkeliling taman, ternyata kak Winda juga sedang menunggu giliran buat naik kereta wisata.
Pas berpapasan denganku, dia langsung buang muka. Ampun dah. Boro-boro ngarep dia mau bayar hutang, ketemu saja berasa gak kenal gitu. Suamiku dan adik iparku yang lagi asyik ngantri beli jajanan buat dimakan rame-rame jadi manggil aku buat ngambil anakku yang bungsu. Kasian kalau ikut berdesakan di sana.
Tapi gak lama kemudian, aku melihat tas hitam kecil tergeletak di bawah pohon kecil. Jadi segera saja ku ambil dan melihat isi dompetnya berharap ada kartu identitas pemiliknya.
Begitu isi tas aku buka, ternyata isinya perhiasan emas satu paket. Dari cincin, gelang, kalung dan anting. Dari modelnya sih kayaknya gak asing jadi aku putuskan buat nyari kartu identitas pemiliknya. Setelah ketemu, aku memutuskan untuk mengirimkan tas itu ke alamat pemiliknya.
*****
Hari ini status galau dari kak Winda berseliweran di berandaku. Katanya dia dapat musibah. Suaminya di PHK dari kantor dan perhiasannya juga hilang. Dalam hati aku cuma bisa bersyukur, akhirnya dia kena batunya juga.
Banyak juga yang komen menanyakan uang yang dipinjam sama kak Winda bagaimana. Bukan cuma satu atau dua orang saja, tapi ada 7 orang. Gila gak tuh orang. Dengan nominal yang gak sedikit pula mereka yang menagih. Dari 5 juta hingga 10 juta. Aku jadi mikir, jangan-jangan uang yang dia pinjam dulu sama aku terus dia bisa ganti dalam waktu 2 bulan itu, dia dapat dari hasil minjam juga dari teman-temannya. Setelah dirasa orang percaya sama dia karena bisa bayar hutang tepat pada waktunya, barulah kelihatan aslinya. Salut deh kak. Bisa juga aku kena prank sama saudara sendiri ya.
Sekarang banyak chat dari kak Winda. Tapi cuma aku baca tanpa aku balas satupun. Emangnya enak dicuekin. Telpon juga gak aku angkat. Pokoknya malas banget dah.
Setelah vakum beberapa waktu tiada kabar dan berita bak ditelan bumi, sekarang malah nongol kayak jailangkung. Datang tak di undang tapi pulang ngarep dapet pinjaman. Hadeeeeh
Katanya dulu kalau aku susah gak usah datang sama dia, bahkan sampai nyumpahin usahaku dipersulit juga, terus kenapa sekarang malah dia yang nongol di rumahku. Asli halu nih orang.
Jadi saudara kok gitu-gitu amat ye hidupnya. Kerjanya nyusahin hidup orang terus. Giliran senang saja gak ingat saudara yang lagi susah. Pas sudah susah baru deh ingat kalo dia masih punya saudara. Jadi heran kan?
Padahal saudaranya bukan cuma aku saja tapi yang paling sering didatangin pas susah kok cuma aku aja.
Ya iyalah, secara yang paling lemah sama rayuan cuma aku aja. Sedangkan yang lain mana ada yang mau bantuin karena udah hafal sama wataknya kak Winda. Apalagi hidup mereka juga pas-pasan.
Sekarang dia datang mohon-mohon buat dikasih pinjaman dengan berbagai cerita sedih. Tapi gak ngaruh kali. Toh aku pas lagi susah juga dia gak mau tau.
Akhirnya dia pulang juga, tapi tetep sama sumpah serapah yang gak ada faedahnya. Begitu deh kalau maunya gak diturutin. Lama-lama jadi kebal juga.
Suamiku juga membujukku supaya aku mau akur sama kakakku. Kasian juga anaknya kalau sampai kelaparan gara-gara mereka gak ada uang.
Suamiku memang gak tegaan kalo sudah menyangkut masalah anak. Bagaimanapun juga kak Winda adalah saudaraku. Jadi aku nurut sama suamiku buat datang ke rumah kak Winda.
*****
Aku dan suamiku akhirnya sampai di rumah kontrakan kak Winda. Rumah yang cukup besar makanya biayanya juga besar. Sebelumnya rumah ini dibayar per tahun 22 juta tapi karena sudah 2 tahun ngontrak akhirnya boleh dibayar per bulan mengingat kondisi keuangan suaminya kak winda yang lagi gak bagus tapi dengan catatan uang sewa jadi 2 juta per bulannya.
Aku sudah pernah bilang sama kak Winda, lebih baik cari rumah yang sederhana saja tapi dia gak mau. Katanya mau ditaruh dimana mukanya kalo nanti keluarga suaminya datang bertamu ke rumahnya. Ya sudahlah, terserah aja. Toh yang bayar dia juga.
Saat aku datang, wajah yang tadinya bagaikan benang kusut tiba-tiba berubah kayak rambut yang habis di rebonding. Senyum pun langsung menghiasi wajahnya. Padahal belum lama tadi di rumahku dia nyumpahin aku macam-macam. Jadi berasa gimana gitu kan liatnya.
Aku pun segera menyerahkan makanan yang aku bawa buat dia, suami dan anaknya.
Suaminya sih dari dulu memang ramah dan gak mau ribut sama kak Winda. Apapun mau istrinya selalu saja diturutin. Sebelas dua belas sama suamiku, tapi kalau suamiku masih ada batasan. Ketika yang aku minta diluar kemampuannya, maka dengan tegas dia bilang gak bisa.
Sekarang suaminya juga di PHK karena pengurangan tenaga kerja di perusahaan tempat dia bekerja. Jadi ikut merasa sedih karena kelakuan kak Winda, suaminya juga turut di caci oleh teman-teman yang uangnya dipinjam sama kak Winda. Padahal dia sendiri gak tau kalo kak Winda suka pinjam uang kesana kemari termasuk sama aku karena uang gaji semua sudah diserahkan sama kak Winda.
Padahal gaji suaminya lumayan besar tapi apa boleh buat karena gaya hidup kak Winda jauh lebih besar daripada gaji suaminya. Ibarat kata pepatah lebih besar pasak daripada tiang.
Aku juga memberikan uang pada kak Winda sebelum pergi dan aku bilang padanya bahwa hutangnya juga sudah lunas padaku. Seketika itu dia langsung memelukku dan mengucapkan terima kasih. Suamiku pun seakan tak percaya pada ucapanku barusan. Tapi gak lama kemudian, suamiku pun tersenyum padaku.
Bagaimanapun itu adalah uang tabungan yang ku simpan dari pemberian suamiku untuk nafkahku sebagai istrinya. Jadi itu murni hakku sepenuhnya. Tapi jarang ku pergunakan untuk keperluan pribadiku karena uang bulanan yang diberikan suamiku selalu cukup.
Tidak lama kemudian, ada kurir yang datang ke rumah kak Winda sesaat sebelum aku keluar rumah kak Winda untuk pulang ke rumahku.
Kak Winda dan suaminya kebingungan karena merasa tidak ada memesan barang apapun, namun alamat yang tercantum di paket memang benar alamat rumah kak Winda.
Akupun segera pamit untuk pulang.
Di perjalanan suamiku memuji diriku karena sudah bisa mengikhlaskan hutang kakakku yang 10 juta. Tapi dia gak tau, bahwa paket yang barusan dikirim oleh kurir itu adalah paket dariku. Sengaja aku samarkan nama pengirimnya, namun aku ada menulis pesan di dalamnya, bahwa aku sudah menjual seluruh perhiasannya yang ada di dalam tas untuk membayar hutangnya padaku. Dan sisanya tadi sudah ku serahkan padanya saat berkunjung ke rumahnya.
End