Namaku salsa wulandari, biasanya keluargaku memanggilku sasa.
Aku anak dari keluarga yg berkecukupan, keluarga ku sudah tidak utuh lagi.
Ayahku sudah meninggal dunia sejak lama, kini hanya aku ibu, dan abang ku luis.
Hubunganku dengan keluarga ku bisa dibilang kurang dekat, karna ibuku selalu sibuk dengan teman temannya, sedangkan bang luis, dia hanya fokus pada kerjaannya,
Seolah-olah aku ini tidak ada di rumah ini.
Kini aku berada di kamar ku, aku sedang duduk di depan jendela kamarku, aku sedang melihat pemandangan luar rumah dari jendela.
Tiba-tiba langit menggelap.
Mataku sontak saja berbinar melihat itu.
"Kumohon,, hujan skrng" ucapku sambil memohon pada langit yg mulai menggelap itu.
Beberapa menit kemudian gerimis sudah mulai turun,
Aku pun langsung berteriak girang, aku segera berdiri dan lari keluar kamar.
Setelah itu aku berlari secepat mungkin ke halaman rumahku.
Sampai disana aku mendiamkan diriku sejenak di bawah hujan yg sudah deras itu.
Sampai seluruh tubuhku basah kuyup aku pun mulai berlompat-lompat girang.
Ya aku adalah pecinta hujan sejak kecil.
Aku merentangkan kedua tanganku lalu memutar-mutar tubuhku layaknya anak kecil yg sedang mandi hujan.
Namun seketika aku berhenti saat mataku menangkap sesosok pria yg sedang memperhatikan ku dari jauh.
Aku berusaha melihat wajahnya dengan jelas karena skrng aku dan pria itu sedang di bawah hujan jadi aku tak bisa melihatnya dengan jelas.
"Siapa disana?" Ucapku sambil berteriak.
Tanpa menjawabku pria itu pergi dari sana dengan langkah yg santai, dia tak berlari sama sekali.
"Hei! Jangan pergi jawab dulu kau siapa?" Aku kembali berteriak dan berusaha mengejarnya namun sia sia saja dia sudah menghilang.
"Bagaimana dia bisa berjalan secepat itu? Perasaan dia tadi gk lari kok bisa hilang secepat ini?" Tanya ku heran.
Tanpa peduli lagi aku kembali bermain-main di bawah hujan.
Tanpa terasa sudah satu jam berlalu, hujan sudah mulai berhenti.
Dengan segera aku berjalan masuk ke rumah dengan kondisi tubuhku yg sudah basah kuyub
Sampai di depan pintu sudah ada bibi yang menungguku dengan membawa handuk untuku.
"Non, sini bibi lap, nanti non sakit kalau mandi hujan gini" ucap bibi saat melihat aku sudah berada di depannya.
Aku menyengir saat mendengar ucapan bibi.
"Gk usah bi, sasa bisa sendiri" jawabku sambil tersenyum lalu mengambil handuk yg ada di tangan bibi.
"Yasudah non kekamar dulu ya bibi buatkan teh hangat" ucap bibi.
Aku mengangguk lalu pergi ke kamar ku,bibi pun pergi ke dapur.
Dikamar aku mengganti pakaian ku dengan pakaian yg kering.
Setelah selesai aku mengeringkan rambutku dengan handuk.
Tok... tok.. tok... (suara ketukan pintu)
"Masuk aja bi, pintunya gk di kunci" teriakku karna aku tau itu pasti bibi.
Dan benar saja bibi datang dengan membawakan segelas teh hangat.
"Ini non minum dulu, biar bibi yg mengeringkan rambut non" ucap bibi memberiku teh hangat itu lalu mengambil handuk di tanganku.
Aku pun duduk di kursi depan meja rias ku.
Sementara bibi, dia mengelap rambutku.
"Bi, tadi sasa ada liat laki laki yg merhatiin sasa dari jauh,, apa bibi kenal?" Tanya ku pada bibi sambil menatap wajah bibi dari cermin di depanku ini.
"Laki laki? Apa orangnya tinggi Non?" Tanya bibi padaku.
Aku mengerutkan keningku heran.
"Iya, kok bibi bisa tau?" Tanya ku.
"Oh.. itu mah temennya tuan luis non,skrng mereka ada di kamar abang non" jelas bibi sambil tersenyum.
"WHAT?!" Aku berteriak sambil langsung berdiri.
"Kenapa non?" Tanya bibi heran.
"Gk papa bi, sasa mau kekamar bang luis dulu ya bye bi" ucapku lalu berlari keluar kamarku menuju kamar bang luis.
Sampai di depan pintu kamar bang luis aku langsung menendang pintu kamar bang luis sehingga menimbulkan suara yg sangat keras.
Setelah pintu terbuka aku langsung masuk alangkah terkejutnya aku melihat ada dua orang pria dan abang ku yg sedang minum minuman keras di kamarnya.
Bukan hanya minuman keras di samping bng luis ada seorang perempuan, yg sepertinya perempuan sewaan.
Dua orang pria tadi ternyata salah satu nya ada yg memperhatikan ku tadi.
Emosi ku naik saat melihat di depan bang luis botol botol minuman keras yg menumpuk kosong.
Bang luis melihatku dengan tatapan terkejut begitupun juga teman temannya.
Aku mendekati bang luis.
"Apa ini?" Tanya ku dengan nada dingin.
Bang luis tak menjawab pertanyaan ku dia hanya menunduk seperti menyesal dengan perbuatan nya.
Aku langsung menatap tajam perempuan yg duduk di samping luis.
"Pergi!" Teriakku dengan nada dingin.
Perempuan itu sepertinya takut sehingga langsung pergi dengan berlari dari kamar itu.
Kini hanya ada aku bang luis dan dua orang pria itu.
"Abang main perempuan?" Tanya ku kembali.
Bang luis mendongak menatapku dengan tatapan menyesal.
"Maaf" Hanya kata itu yg keluar dari mulut bang luis.
Aku menutup mata ku sejenak.
Lalu membuka mataku dan melihat sebotol minuman keras di sampingku yg masih utuh.
Aku mengambilnya lalu membuka tutupan botol itu dan meneguknya.
Sementara bang luis terkejut dia berdiri dan mengambil botol itu lalu membuangnya ke sembarang arah sehingga botol itu pecah di lantai.
"Apa yg kau lakukan sasa! Kau gk boleh minum ini!!"
Bentak bang luis.
"Kenapa? Kenapa gk boleh? Seharusnya bukan hanya itu yg kuminum, seharusnya aku juga menjual tubuhku seperti perempuan tadi!,,,sasa hanya ingin bang luis yg dulu, yang selalu ada disamping sasa, yg selalu menghormati perempuan dan.... haisss sudahlah percuma saja, bang luis yg kukenal dulu sudah mati, dan yg di depanku ini hanyalah orang asing,,
Orang asing yg gila harta, orang asing yg gila perempuan tUNGGU apa lagi ayo jual sasa skrng! Jual tubuh sasa seperti perempuan tadj bang! "Ucapku sambil menangis dan memukul mukul lengan bang luis.
Bang luis pun langsung menarik ku ke pelukannya.
Sementara aku sudah menangis sejadi-jadinya di pelukan bang luis.
"Maaf, abang minta maaf sa, abang lakuin ini karna sejak kematian ayah abang stress, sampai-sampai abang menyibukan diri sendiri dan lupa sama sasa,, maaf" ucap bang luis.
Aku yg mendengar ucapan bang luis pun langsung melepas pelukan nya.
"Janji, jangan gini lagi" ucapku sambil mengangkat jari kelingking ku.
Bang luis terkekeh melihatku.
Dia mengaitkan kelingking nya dengan jari kelingking ku.
"Janji" jawab bang luis sambil tersenyum.
Aku pun langsung melepas kelingking kami.
Lalu mataku beralih melihat dua orang pria yg sedang duduk di atas sofa sambil memperhatikan kami.
"Kau? Kau yg di depan tadi saat hujan kan?" Tanya ku pada seorang pria.
Dia mengangguk sambil tersenyum.
"Dia Rey dan yg di sampinya itu kevin mereka temen abang" jelas bang luis padaku.
Aku mengangguk.
"Namaku salsa panggil sasa aja" ucapku memperkenalkan diri.
"Kamu suka hujan?" Tanya rey
"Suka, bahkan hujan sudah seperti...... ah entahlah intinya hujan itu seperti membawa kebahagiaan untuku, lalu kau, kenapa memperhatikan ku saat itu?apa aku terlihat aneh?" Tanya ku.
"Tidak, hanya saja sudah jarang orang yg menyukai hujan, banyak orang skrng menganggap hujan adalah kesialan bagi mereka, tapi tidak dengan mu"jelas rey.
Aku mengangguk.
"Jadi kalian sama sama pecinta hujan?" Tanya bang luis dan kevin bersamaan.
Aku dan rey pun menengok ke mereka berdua.
Lalu kami sama sama mengangguk.
Sementara bang luis dan kevin tertawa setelah melihat jawaban kami.
"Apa yg lucu?" Tanya ku heran dan kesal.
"Hahaha kenapa kalian tidak bersama saja,, maksud abang kalian jadian saja"
Ucap bang luis.
Kevin pun mengangguk setuju.
Sementara aku, langsung mengubah wajahku menjadi datar.
"Bang, kau tau masa lalu ku" ucapku dengan nada dingin.
Membuat rey dan kevin heran dengan perubahan sikap ku.
"Tapi itu sudah sangat lama sasa, mulailah hidup baru, buka hatimu untuk yg lainnya, semua yg kamu lakuin ini akan percuma saja, karna dia gk akan datang"
"Stop! Sasa gk akan nyerah,kalaupun dia gk akan datang sasa pun gk akan menikah seumur hidup dan kalau dia sudah meninggal.....sasa akan menyusulnya" jelas ku dengan nada sendu dan air mata yg sudah menetes.
Lalu pergi keluar kamar bang luis menuju kamar ku.
Sementara bang luis melihat kepergianku dengan tatapan sedih.
"Apa maksudnya? Dia? Dia siapa luis?" Tanya rey dan kevin bersamaan.
"Dia lelaki yg dulu selalu bersama sasa saat aku dan ibu gk ada dirumah, aku gk terlalu mengenalnya tapi seperti mereka sangat dekat, hingga suatu hari dia pergi entah kemana, setelah kepergian laki laki itu sasa mengurung dirinya di kamar selama seminggu,,,
Karna itu aku mencoba mencari tau keberadaan lelaki itu dan ternyata,,, dia sudah meninggal dunia karna kecelakaan saat ingin pergi menjemput sasa pergi ke taman bermain, dia mati di tempat "jelas bang luis.
Sementara rey dan kevin terpaku mendengarnya.
Di lain tempat ada seseorang yg sedang menguping pembicaraan mereka.
Dan itu adalah sasa.
Setelah mendengar itu sasa pergi ke kamar nya.
Menutup pintunya dan bersandar di pintu itu.
Kali ini dia menangis lagi, menangis seperti saat itu.
"Hiks.. kenapa lo pergi bram!,,, kenapa? 😭" tangis sasa pecah.
Matanya menangkap sebuah pisau lipat di atas meja nya dengan segera dia mengambilnya.
Saat hendak memotong nadi nya ada sesosok tangan yg menahan tangan sasa.
Sasa melihat ke arah sosok itu alangkah terkejutnya dia melihat sosok yg dia rindukan selama ini.
"Bram...." ucap sasa dengan bibir bergetar.
Bram tersenyum dia mengambil pisau yg berada di tangan sasa.
Lalu membuangnya.
"Jangan lakuin ini sasa" ucap bram lembut.
Sasa tidak peduli dia ingin memeluk tubuh bram namun alangkah terkejutnya dia tidak bisa memeluk bram seolah-olah yg dihadapan nya itu adalah bayangan.
"Bram,, ap,, apa ini kenapa aku tidak bisa memelukmu?" 'Tanya sasa
"Sa aku sudah gk ada, aku sudah meninggal dunia, maaf kalau aku pergi gk pamit dulu padamu, jangan lakuin ini sa, tolong ikhlaskan aku pergi, aku gk bisa tenang kalau kamu seperti ini terus" jelas bram.
"Aku harus apa bram? Dulu kita main hujan bersama, pergi ke taman bersama, dan kau selalu ada di samping ku, kini....." sasa tidak bisa meneruskan kata kata nya hatinya sangat sakit kali ini dia gk bisa menerima kematian bram.
Bram tersenyum.
"Jalani kehidupan ini seperti biasa sasa, cari pengganti ku, cari lah yg bisa menjaga mu seperti ku, cari seseorang yg bisa mengelap rambutmu setelah kau mandi hujan" ucap bram sambil tertawa kecil.
Sasa tersenyum tapi air mata ku tak kunjung berhenti.
"Apa aku benar-benar gk bisa bersamamu lagi?" Tanya sasa sambil menatap mata yg dia rindukan itu.
Bram menggeleng.
"Bisa, tentu saja bisa sasa, hanya ini belum saatnya, nanti saat tiba waktunya, kita akan bersama seperti dulu lagi" jelas bram.
Sasa menunduk.
"Waktuku sudah habis sasa, aku pergi ingat kata kata ku mulailah hidup baru, kita akan bertemu lagi nanti jangan anggap ini yg terakhir,, aku mencintaimu" ucap bram dan perlahan-lahan sosoknya menghilang begitu saja.
Sasa terduduk di lantai.
"Aku juga mencintaimu bram sangat mencintaimu baiklah Sesuai permintaan mu aku akan memulai hidup baru,aku akan menunggu waktu itu bram waktu dimana aku dan kau bertemu kembali ...." jawab sasa sambil menangis.
Tamat.