Di setiap kita saling berbalas diruang chat itu aku selalu bertanya, "Dim kamu ga akan ninggalin aku kan?" dan kamu selalu membalasnya, "Tidak akan Lun percaya deh." Itukan yang selalu kamu ketik sejak satu tahun lalu ketika kita resmi jadian. Dimalam itupun aku sempet tanya dan kamu masih balas dengan hal yang sama.
Tidak terasa sudah dua tahun kamu ingkar janji, dan disini dengan bodohnya aku masih berharap kamu datang dan berkata, "Maafin aku Lun, maaf dua tahun ini cuma prank aja dan aku ga benar benar ninggalin kamu kok."
Aku masih berharap seperti itu, walaupun setelah kamu ngomong gitu aku bakal keluarin semua jurus karate yang biasa diajarin sama sensei kita dan mungkin kamu akan berakhir di rumah sakit.
Maaf, maafkan diri aku yang masih terjebak dengan harapan dan ekspetasi yang terlalu tinggi. Aku masih ingat banget ketika kamu pamitan waktu itu.
"Lun aku bakal pergi dulu sebentar kok, tenang aja aku bakal kembali janji deh nanti kalau aku pulang aku bakal ajak kamu keliling Kota dan jadi fotografer dadakan kamu lalu kita akan pergi kemanapun kamu mau." Katamu sambil tersenyum lembut dengan menatap mataku yang sudah berkaca-kaca, disaat itu aku cuma bisa bales dengan pelukan dan membiarkan wajahku berlabuhkan didadamu.
"Udah dong Lun hoodie aku basah nih cengeng banget sih jangan kaya gini dong aku kan jadi ga tega buat pergi." Seketika kamu protes dengan paksa dan berat hati aku lepasin pelukan kita, dan membiarkanmu pergi sambil membawa koper berwarna abu abu itu.
Untuk melepasmu waktu itu sama seperti biasanya aku akan menangis didadamu lalu kamu akan pergi sambil melambaikan tangan tidak ada yang berbeda. Namun perbedaan tercipta setelahnya satu jam kita berpisah di Bandara itu tiba tiba ada kabar yang membuat duniaku berhenti seketika.
Dan sekarang aku yang tersiksa Dim, aku yang nyesel karena biarin kamu pergi waktu itu. Aku yang terlalu percaya dengan apa yang kamu katakan kalau kamu cuma pergi sebentar dan bakal kembali. Kamu bohong Dim, bahkan kamu ingkar janji sama aku.
Kecelakaan itu menimbulkan banyak korban jiwa, tim SAR dan semuanya sudah dikerahkan untuk membantu mencari para korban namun mereka gagal buat nemuin kamu. Kalaupun kamu udah ga ada setidaknya tubuh tanpa nyawa pun bakal bikin aku sedikit ikhlas walaupun nantinya aku bakal terjebak dalam kesedihan.
Kamu tahu sekarang aku lagi dimana, ya sekarang aku lagi duduk dikursi taman Alun-alun kota didekat gerobak bakso Pak Ahmad bakso langganan kita, menatap lalu lalang kendaraan yang begitu sibuk karena sekarang adalah jam pulang kerja. Ini adalah kebiasaan baru sejak dua tahun lalu sejak kamu ninggalin aku.
Menikmati es boba yang baru saja aku beli, sambil berfantasi bahwa kamu tiba tiba datang dan duduk di sebelahku. Membawakan bunga anggrek ungu kesukaanku yang dibeli di toko bunga milik Anisa.
Setelah itu kita mengelilingi kota menaiki vespa matic kesayanganmu sambil bercerita tentang masa depan dan digenggam erat tangan kananku lalu diletakkan disaku hoodie mu.
Kamu juga akan marah ketika ada banyak cowok yang menatapku tak berkedip kamu pasti ga akan tinggal diam bahkan jika bisa kamu bakal ngomong ke seluruh dunia bahwa aku adalah milikmu.
Aku rindu saat kamu ngambek dengan bibir kamu yang mengerucut bukannya menyeramkan kamu malah lebih mirip seperti anak kecil lucu sekali.
Aku kangen ketika aku ingin meminjam hoodie kamu, kamu pasti akan memberikannya walaupun dengan menampakkan wajah yang tidak ikhlas.
Kamu terlalu istimewa dan spesial di hidupku, ya itu kamu Dimas Adnan Dhanurendra cinta keduaku setelah ayahku, kamu yang aku perjuangin sejak pertama kali aku mengenal arti kata cinta.
Dua tahun kamu pergi dan tak kunjung kembali, kamu jahat Dim jahat banget. Banyak temen kita yang ngomong sama aku,
"Udah Lun lupain Dimas, ini juga udah lama cari yang baru Lun jangan hanya terpuruk kaya gini terus. Aku tau kok apa yang kamu rasain."
Bohong mereka ga akan bisa ngerti apa yang aku rasain, apa kata mereka lupain kamu? ini sulit bahkan mendekati kata mustahil. Jika aja kamu pergi karena kamu selingkuh atau kamu khianatin aku mungkin ini semua bakal mudah tapi ini beda Dim.
Lama aku disini dengan bayangan fantasi liarku lalu aku memutuskan untuk pulang. Sore ini ada kejutan spesial rupanya ibumu tiba tiba datang bertamu dan sedang asik mengobrol dengan ibuku.
"Eh nak Luna udah pulang ya?" Sapa ibumu ramah dia masih sama sangat perhatian kepadaku.
"Iya tan." Balasku sambil mencium tangannya tak lupa aku juga mencium tangan ibuku sendiri.
"Kamu mandi dulu Lun, ini dari tadi sudah ditunggu sama tante Ayu katanya mau ngobrol berdua sama kamu." Ucap Ibuku lalu aku pun bergegas mandi karena seharian aku sibuk kuliah.
Setelah beberapa menit akhirnya aku langsung menemui ibumu.
"Nah ini dia anaknya yaudah Yu aku tinggal dulu ya kalian ngobrol saja." Ujar ibuku lalu menghilang dari balik korden hijau itu.
"Ada apa tan?"
"Ini Lun sebelumnya kedatangan tante kali ini cuma ingin menanyakan kabarmu saja, karena tante takut kamu belum bisa ikhlas dengan apa yang terjadi dua tahun lalu." Jawab Ibumu, tidak terasa air mataku meluncur begitu saja.
"Luna baik tante." Balasku dengan terbata bata rasa sesak ini yang paling aku benci, mengikhlaskan seharusnya bisa mudah namun kenapa ini sulit sekali.
"Tante tahu Lun kamu masih terjebak kesedihan selama ini, kamu tidak boleh kaya gini terus Lun tante juga kehilangan Dimas sangat sangat kehilangan tapi Tante sekarang sudah ikhlas ini semua takdir dan tidak ada yang tau Lun." Aku masih tertunduk rapuh dengan mendengarkan secara seksama apa yang Ibumu katakan.
"Tante juga masih berharap semoga Dimas bisa kembali entah masih bernyawa atau tidak, menunggunya dan itu juga sulit. Kamu masih muda Lun kamu sudah tante anggap anak tante sendiri kamu berhak hidup bahagia jangan hanya terjebak dalam duka ikhlaskan Dimas dan do'akan dia. Tante tahu dimanapun Dimas berada sekarang dia pasti akan sedih jika melihatmu seperti ini. Kamu ga mau kan Dimas sedih?"
"Tante juga sedih Lun anak laki laki tante yang sangat tante sayangi tiba tiba menghilang. Waktu itu tante sangat shock hingga tante mengalami depresi, om Andri mengajak tante dan Dika pindah ke Bandung agar tante bisa sembuh. Akhirnya setelah satu tahun berlalu tante bisa kembali dan sembuh dari depresi, satu minggu lalu Om Andri ada meeting penting dikota ini dan tante memaksa untuk ikut agar tante bisa ketemu kamu dan tahu kabar kamu." Ucap Ibumu yang juga sudah beruraian air mata.
Hati ibu mana yang tidak hancur ketika mengalami ini semua. Aku terlalu egois yang hanya memikirkan diriku sendiri, aku yang terlalu merasa paling tersakiti dan paling hancur saat itu ternyata masih ada orang yang hatinya lebih hancur dari aku.
"Ibu kamu tadi juga sudah banyak cerita, Lun jika bisa tante minta kamu harus ikhlas tante mohon kamu harus bangkit dan teruskan hidup kamu dan carilah kebahagiaan. Tante tahu Dimas akan bahagia ketika melihat kamu disini bahagia tante mohon Lun." Ujar Ibumu lalu berdiri dari kursi dan ingin berlutut dibawahku.
"Jangan tante jangan begini aku mohon tan." Aku langsung meraih tubuhnya dan mendekapnya memeluknya dan ingin menghanyutkan perasaan sesal, sedih, dan hancur ini.
Walau kamu pergi Dim percayalah kenanganmu tidak akan pernah meninggalkanku....
Dan sekarang aku sadar nyatanya semua akan berujung dengan kata mengikhlaskan entah itu mudah atau mustahil...
Luka ini akhirnya menemukan obatnya, obat yang hanya bisa diberikan oleh orang yang merasakan penderitaan yang sama....