Perkenalkan namaku Ferdinand. Aku seorang dokter spesialis mata. Wajah oriental ku yang tampan menjadi aset berharga bagiku. Walaupun mempunyai wajah tampan serta penampilan yang menarik tapi aku bukan seorang laki-laki yang suka mempermainkan wanita. Ya,,aku bukan seorang palyboy. Di umurku yang sudah menginjak 33 tahun aku baru menjalin hubungan 2 kali. Aku hanya pernah berpacaran 2 kali. Ngenes banget kan....
Bukannya nggak laku,tapi susah bagiku mencari wanita yang cocok. Bukannya tipikal yang memilih,hanya tidak ada wanita yang benar-benar membuatku tergila-gila mencintai dan merindui siang malam. Jadi aku tidak pernah merasakan seperti apa rasanya di mabuk cinta,karena aku belum pernah merasakannya. Mungkin belum ketemu jodohnya saja.
****
Ku lihat Lia begitu asyik dengan ponselnya sore itu. Lia adalah adik perempuanku yang super duper sangat manja. Dialah perempuan yang selalu aku ajak jika datang ke acara undangan kolegaku. Aneh,tapi mau bagaimana lagi aku nggak punya pacar. Melihat dia tertawa dan senyum-senyum sendiri membuatku ingin mengganggunya. Ah,,pasti lagi chat sama pacarnya. Tapi siapa kali ini pacarnya??? Tumben dia tidak cerita. Adik ku Lia sangat berbeda denganku. Dia sering gonta ganti pacar. Entah sudah berapa kali dia nangis bombay ketika diselingkuhi ataupun di putusin nggak jelas. Tapi ya begitu Lia,dia bukan tipikal yang suka larut dalam masalah. Jadi dia cepat move on dengan cerita cintanya.
"Asyik bener nih".
"Cowo mana lagi yang dipacarin?"tanyaku.
"Hush,,siapa yang lagi pacaran?Sotoy lu ka" jawabnya ketus.
"Nah itu,,lagi asyik chattingan".
"Kalau nggak sama pacar sama siapa lagi. Masa sama setan"ejekku.
" Sama teman lah"jawabnya.
"Teman yang mana. Biasanya juga nggak cekikikan kaya gini".
"Cewe apa cowo?"tanyaku penasaran.
"Sama cewe ka"jawabnya.
"Dia asyik banget ka diajak ngobrol. Padahal dia itu seumuran sama kaka".
"Dia itu lebih memahami gue ga kaya lu ka".
"Yah.Gue sekarang dibandingin sama teman lu yang kaga jelas darimana asal usulnya".
"Awas lu ntar dibohongi lo sama dia".
"Ih kaka. Namanya itu Yunita. Dia itu udah berkeluarga. Anaknya sudah dua lho ka. Imut-imut lagi".
"Kaka kapan punya anak?"tanyanya.
"Oh iya ya lupa. Kaka kan jomblo ngenes. Hahaha"tawanya meledek diriku.
" Boro-boro mau punya anak. Calon istri aja nggak ada"sekali ini dia meledekku sambil menjulurkan lidah.
Dasar bocil,rasanya pengen ku jitak kepalanya yang sembarangan meledek kaka gantengnya.
"Sini coba gue liat gimana sich mukanya"tanyaku penasaran.
"Orangnya cantik lo ka".
"Awas lu kalau jatuh cinta sama dia. Dia udah bersuami".
"Iya gue udah tau. Kan lu udah bilang tadi".
Tidak menunggu waktu lama Lia pun memperlihatkan foto wanita yang bernama Yunita tersebut. Cantik. Aku akui dia memang terlihat sangat manis.
"Cantik kan"ucap Lia.
"Iya"jawabku dengan nada datar.
"Sekarang bergaul sama ibu-ibu tukang gosip ya lu bocil"kataku sambil mengacak-acak rambutnya.
"Mana ada".
"Tuh buktinya. Chattingan sama ibu-ibu".
"Kenal dimana lu sama dia?"selidikku penasaran.
Bisa-bisanya adik gue ini berteman sama ibu-ibu. Aneh aja jadinya. Rasanya bukan dirinya sekarang ini. Mungkin tadi habis salah makan ini anak.
"Dari situs dating"jawabnya.
" Hah. Nggak salah. Bukannya dia sudah punya suami kenapa jadi mainnya di situs dating?".
"Wah nggak bener nih cewe"kataku dengan nada bingung.
"Jangan salah kaprah woy. Dia cuma selidiki suaminya aja. Dia penasaran dengan situs yang tersimpan di hp suaminya. Katanya takut kalau suaminya selingkuh".
" Ah, paling alasan aja tuh".
"Paling dia yang selingkuh"kataku.
"Bener kok ka. Dia juga sudah bilang kalau suaminya sudah ngaku".
"Katanya teman suaminya yang minjam hp suaminya buat ngechat selingkuhannya".
"Suaminya bilang dia nggak pernah selingkuh. Katanya takut karma ke anaknya".
"Terus dia percaya sama omongan suaminya?".
Lia mengangguk mengiyakan.
"Mana ada maling ngaku"kataku dengan nada sebel. Sambil berjalan menuju kamarku.
Entah kenapa ada rasa kasian dan penasaran dengan kehidupan Yunita serta sosok dirinya yang begitu mudahnya menghipnotis Lia. Padahak Lia bukanlah orang yang mudah bergaul dan diajak berteman. Temannya aja bisa di hitung dengan jari. Semua itu karena pengalaman dia bully waktu sekolah dulu. Sehingga dia menjadi sosok yang menutup diri untuk berteman. Tapi anehnya dia selalu menerima cowo yang bilang suka sama dia. Walaupun dia nggak memiliki perasaan apapun sama mereka. Katanya lebih baik dicintai daripada mencintai. Tapi prinsip itu selalu gagal di praktekkannya.
****
Siang itu aku coba memberitahukan kepada Yunita kalau Lia sedang sakit. Sekaligus ingin mengenalnya lebih dekat. Ya, aku penasaran dengan sosoknya yang selalu dibanggakan Lia.
"Siang.Saya cuma ingin mengatakan kalau Lia sedang dirawat di rumah sakit kare dia kena demam berdarah. Ferdinand"tulisku.
" Kondisinya bagaimana?"balas Yunita setelah menunggu sekitar 10 menit menanti
balasan darinya.
"Sudah lebih baik".
" Syukurlah"jawabnya.
Berawal dari iseng mengirim pesan ke Yunita dengan mengatas namakan Lia. Aku seperti ketagihan berbalas pesan dengannya. Benar yang dikatakan Lia kalau Yunita memang asyik diajak ngobrol. Entah mulai kapan aku dan Yunita sering berbalas pesan. Tanpa kusadari aku menjadi akrab dengannya. Dengan alasan Lia masih sakit, aku tidak memberikan izin dia untuk menggunakan hp nya. Padahal aku hanya ingin bisa chatting dengan Yunita. Rasanya hari-hariku terasa lesu jika tidak ngobrol dengan Yunita. Ah, dia telah menghipnotisku tanpa aku sadari.
Semenjak Lia mendapatkan hp nya kembali aku tidak bisa lagi chatting dengan Yunita. Hal ini membuatku merasa frustasi. Aku tidak ingin menghubungi dia menggunakan nomer pribadiku. Aku takut dikira suaminya aku selingkuhan Yunita. Selama chatting dengan dia aku memahami kepribadiannya. Dia polos dan juga jujur. Dia apa adanya. Tidak melakukan hal yang dibuat-buat. Perihal suaminya, dia kerja di luar kota. Hanya seminggu selama sebulan dia ada di rumah. Wajar bagi dirinya memiliki kecemasan jika suaminya nanti berselingkuh. Dia hanya bisa mendoakan semoga suaminya selalu dilindungi dari hal-hal yang buruk. Termasuk berpikir untuk selingkuh. Kamu memang benar-benar polos sekali Yunita.
****
Perasaan rindu chatting dengan Yunita mengusik hari-hariku. Dia benar-benar telah membuat ku menjadi gila. Seakan aku telah kecanduan chatting dengannya. Kulihat Lia sudah tertidur di kamarnya dan hp nya di letakkan tepat disamping bantalnya. Dengan secepat kilat hp itu kini sudah berada ditanganku. Ku coba cek hp Lia, ternyata mereka tadi saling berbalas pesan. Ah, kenapa kamu begitu menggemaskan Yunita? Membaca satu persatu pesan mereka membuatku tersenyum dan tertawa kecil. Namun tiba-tiba kulihat dia sedang online. Yunita masih terbangun jam segini.
"Yunita, kamu belum tidur?"tanyaku.
"Sudah. Ini baru bangun".
"Baru pulang kerja ya?"tanyanya.
"Iya".
"Kok kamu tau kalau ini saya?"tanyaku penasaran. Seperti ahli terawang dia bisa tau kalau yang mengirim pesan bukan Lia.
"Ya tau lah. Cuma kamu yang biasa manggil aku dengan nama Yunita".
"Oh gitu ya. Memangnya kamu biasa di panggil apa?".
"Kalau nggak Yun, ya Tha kaya Lia manggil aku".
"Kenapa jadi bangun?"tanyaku.
"Nggak tau"jawabnya singkat.
"Kok nggak tau".
"Paling sebentar lagi kamu pingsan"kataku meledeknya.
"Kok tau sich. Aku kan memang nggak usah ditanya lagi. Kalau masalah tidur aku memang nomer satu. hehehe"balasnya.
"Mirip ya".
"Dengan koala"balasku meledeknya.
"Bisa jadi"jawabnya dengan memberikan emotikon tertawa.
"Kamu bahagia disamakan dengan koala? " tanyaku dengan memberikan emotikon tonjokan.
Ini cewe emang susah ditebak. Bukannya marah atau protes disamakan dengan koala dia malah seperti senang. Kamu itu adalah cewe teraneh yang pernah aku temui. Hal magic apa yang telah kamu lakukan kepadaku sehingga aku selalu merindukan candamu. Setelah itu aku mengirim emotikon terkejut.
"Yah kagum dia"balas tentang emotikon tadi.
What? Aku ngirim emotikon terkejut malah di bilangnya aku kagum. Aduh Yunita, seperti apa sih pola pikir kamu ini? Seperti bukan pikiran orang waras gumamku dalam hati
"Kagum bagaimana?" tanyaku.
"Hahaha.... Memang lucu dan imut kaya koala kan aku" jawabnya dengan menyertakan emotikon super keren.
Hah.... Ya ampun. Otakmu itu tergeser atau tercipta dari apa sih Yunita. Bukannya marah atau apa. Aku malah jadi tersenyum sendiri membaca balasannya. Aku jadi tidak habis pikir dengan tanggapannya yang aku samakan dengan koala. Dia malah merasa senang disamakan dengan koala. Aku jadi bingung mau membalasnya bagaimana.
"Semacam salah ya saya bilang begitu" kataku.
"Sudah tidur sana. Sudah larut malam ini" kataku.
"Nanti aja" balasnya.
"Kapan?" tanyaku.
"Orang lagi makan disuruh tidur mana bisa. Dasar dokter aneh" ledeknya.
Aku jadi terheran dibuatnya. Dia makan jam 2 dini hari. Apa gara-gara kelaparan jadi dia terbangun?
"Malam-malam begini makan. Apa nggak takut gendut?" tanyaku. Hal ini adalah momen yang paling dibenci cewe kalau sudah berhubungan dengan berat badan. Pasti dia nggak bakal jawab yang aneh lagi.
"Namanya juga lapar ya makan lah. Masa mandi sih".
" Aku kan montok nggak gendut. wkwkwkwk"balasnya.
"Bilang aja kamu itu gendut" ledekku dengan memberikan emotikon meledek.
"Nggak kok. Mereka yang bilang aku gendut cuma ngiri. Soalnya badan mereka kekurangan daging. Jadi kaya orang kurang gizi. hehehe".
"Menolak untuk menerima kenyataan ya".
Sebenarnya aku tidak mempermasalahkan bentuk tubuhmu Yunita. Hal terpenting adalah aku selalu merasa bahagia jika bersamamu. Seandainya kamu bukan milik orang aku ingin memilikimu Yunita. Ya, aku telah jatuh cinta denganmu Yunita. Perempuan yang hanya aku kenal lewat chatting.
"Nggak kok. Emang nyatanya aku nggak gendut. Ukuran baju aku aja masih standar M. Bukan yang xxxxxxxx alias big size".
" Terserahlah yang penting kamu bahagia aku pun juga bahagia"balasku.
Mataku terasa berat dan tanpa kusadari, aku sudah berada di alam mimpi. Bermimpi berjumpa dengan Yunita, sang pemikat hati ini. Aku berharap mimpi ini akan segera jadi nyata. Berjumpa denganmu adalah impianku Yunita.
Paginya ku coba cek, ternyata pesanku tidak di balas. Ah, tidak apa. Mungkin dia juga ketiduran tadi malam.
"Kak, hp gue lu yang nyolong ya?" tanya Lia saat aku keluar kamar.
"Baru juga bangun udah di bilang maling. Dasar bocil" kataku sambil berjalan ke kamar mandi.
"Sini balikin hp gue" tanyanya lagi pas aku keluar dari kamar mandi.
Dasar ini bocah, rewel amat kayak nggak di kasih jajan sebulan.
"Ntar gue balikin" jawabku seenaknya.
"Pasti lu nge chat Yunita ya. Ngaku lu".
"Tuh kan, jangan-jangan lu udah jatuh cinta sama dia ya ka? ".
"Sadar woy itu bini orang".
"Bawel lu, berisik tau"jawabku.
Aku tau Lia dengan batasan tersebut, aku hanya bisa memendam semua rasa ini di dalam hati. Sakit memang mencintai orang yang tidak bisa di miliki.
"Kalau gue suka sama Yunita juga bukan masalah buat lu. Sekalian ntar gue doain biar dia cerai sama suaminya biar nikah sama gue" celetukku sambil berlalu melewatinya menuju kamarku.
"Udah ga waras lu ka?" tanya Lia.
"Bukannya lu gay. Hehehe" Lia cekikikan.
"Jadj pengen juga ya lu punya bini. Udah bosan ya lu nusuk lubang pantat" ledeknya sambil tertawa kecil.
"Dasar adik nggak ada akhlak ya lu. Gue normal gini lu bilang gue penyuka buah pisang. Emang lu pikir gue monyet" kataku dengan geram.
Memang Lia kalau sudah bercanda kadang kelewatan batas. Seharusnya kaka yang sering bully adiknya. Tidak halnya dengan diriku. Aku malah yang sering di bully oleh Lia. Oh tuhan, seandainya bisa ku ganti adikku ni dengan boneka barbie mending aku piara boneka barbie saja. Daripada Lia yang selalu bikin naik darahku.
"Pagi Yunita" ku kirim pesan ke dia.
"Pagi" balasnya dengan memberi emotikon.
Oh, Yunita kenapa kamu menggemaskan. Padahal cuma dapat pesan seperti itu aku merasa sangat bahagia sekali.
"Jam berapa kamu tidur tadi malam? Maaf saya ketiduran"kataku dengan memberikan emotikon permintaan maaf.
"Nggak tau jam berapa? Selesai makan nggak langsung tidur. Nonton tv dulu".
"Nggak apa-apa kok. Kamu pasti kecapean habis pulang kerja. Libur ya hari ini?"balasnya.
Ya ampun Yunita, kamu begitu perhatian sekali. Beruntung sekali jika kamu adalah istriku. Semakin hari aku semakin menyayangimu Yunita.
" Iya. Hari ini libur. Mau istirahat dulu"jawabku.
"Oh, ya. Tadi Lia marah-marah soalnya aku nyita hp nya buat ngechat kamu"kataku.
"Kenapa kamu nggak hp kamu sendiri saja?"kasian kan Lia.
"Nanti aja. Kapan-kapan? Lagian nggak ada kuotanya" balasku.
"Ya, dokter kok kere sih" ledeknya memberikan emotikon ledekan.
"Bukannya kere. Cuma smart aja" kataku ditambah emotikon berkaca mata.
"Dasar dokter pelit. Udah pikun pelit pula. hehehe" balasnya.
"Bukannya begitu. Hanya saja lebih suka makai hp nya Lia" jelasku untuk membela diri dari ledekannya.
"Tapi kasiankan Lia kalau hp nya kami terus yang makai".
"Iya nanti saya balikin".
"Walaupun adik saya itu rada gesrek, saya sangat sayang sama dia".
" Di dunia ada 3 orang wanita yang berarti dalam hidup saya".
"Mama, Lia dan kamu Yunita" kataku.
Rasanya tak sanggup aku memendam rasa ini sendiri. Biarlah ku beritahu saja dia. Kalau aku sayang dia.
"Lho kok aku sih. Nggak salah kamu" jawabnya heran.
"Nggak salah kok. Kamu sama seperti mama. Wanita yang hebat. Mama adalah wanita terhebat yang berjuang membesarkan saya dan Lia penuh kasih sayang tanpa papa".
" Papaku pergi dengan selingkuhannya waktu aku berusia 18 tahun".
Entah kenapa rasanya aku terlepas untuk bercerita tentang masa lalu hidupku yang sulit tanpa papa. Terasa Yunita bukan orang asing bagiku. Ku ceritakan semuanya yang kusimpan. Tanpa ku sadari linangan air mata jatuh membasahi pipiku teringat kenangan pahit yang telah berlalu. Entah kapan terakhir kali aku menangis seperti ini. Kini kamu lah jadi tempat bersandarku.
Maafkan aku untuk suami Yunita karena telah mencintai istrimu. Namun aku tidak akan merebutnya darimu. Tapi jika kamu menyakitinya dan meninggalkannya maka aku yang akan memeluknya dan tidak akan pernah aku lepas lagi. Tidak akan ku biarkan orang lain memilikinya.
****
Siang itu entah kenap aku iseng buka-buka aplikasi online shop milik Lia. Tiba-tiba mataku tertuju dan tertarik untuk membuka sebuah foto kalung. Cantik sekali gumamku dalam hati. Pasti cocok buat Yunita.
"Hai Yunita".
"Bikin akun facebook ni yeeee.... "balasnya.
" Ya ampun Yunita. Kenapa kamu segitunya sih ke aku".
"Iya, saya buat akun khusus buat chat sama kamu. Biar nggak minjam hp Lia terus"kataku dengan memberikan kode kalau aku menyukainya.
"Oh gitu. baguslah"balasnya.
Ah,, responnya terdengar biasa saja. Apa dia tidak mengerti dengan maksudku. Yunita pahamilah perasaan ku ini. Setidaknya perlihatkan juga perasaanmu.
"Oh ya,aku ada hadiah buat kamu".
"Sebagai tanda terimakasih ku karena sudah mau menjadi teman Lia dan aku" kataku.
"Hadiah apaan? Ga perlu begitu juga kali. Aku suka menjalin persahabatan. Banyak teman banyak rejeki kan" balasnya ditambah emotikon tersenyum.
"Nah itu rejeki buat kamu. Aku minta alamatmu ya".
"Jangan menolak permintaan ku ya".
Setelah itu dia memberikan alamat rumahnya. Aku pun langsung mengorder kalung yang aku liat di aplikasi belanja di hp Lia kemarin. Ah, Yunita belahan jiwaku.
" Eh bocil, pesenin dong kalung kemarin yang gue add di keranjang belanjaan di aplikasi belanja lu"perintahku kepada Lia.
"Baik bener lu ka beliin gue. Tau bener kalau gue lagi pengen punya kalung"katanya senyum-senyum.
"Bukan buat lu. Gue beli buat Yunita. Nih alamat rumahnya. Awas kalau nggak lu pesenin. Gue nggak bakal kasih uang jajan lagi lu"ancamku dengan mata sipit yang melotot tapi nggak bikin takut.
"Biasa aja lagi kak. Biar lu melotot sampai setahun juga nggak nyeramin. Diketawain setan lu yang ada"ledeknya sambil tertawa.
"Nih sudah gue pesenin. Gantiin duit gue kak".
"Lumayan mahal nih harganya. Kempes nih rekening gue".
"Jangan-jangan lu jatuh cinta ya ka sama Yunita. Kalau dia nggak bersuami gue dukung lu sama Yunita. Sayangnya dia udah bersuami"kata Lia tertunduk lesu.
Aku pun juga berharap sama Lia. Ingin rasanya dia ku bawa masuk ke rumah sebagai anggota keluarga baru kita. Semoga saja itu bisa menjadi nyata. Siapa tau besok suaminya Yunita meninggal? Jadi dia akan aku jadikan istri secepatnya.
"Gue mau keluar dulu buang sampah"kataku kepada Lia.
"Kak ganti dulu uang ku yang beli kalung Yunita tadi".
"Nanti aja".
"Nantu lu malah nggak mau ganti" katanya bernada kesal.
"Jangankan uang segitu. Semua uang di rekening gue juga boleh tuh lu ambil semuanya" kataku berlalu meninggalkannya.
Braaaaakkkkkk.........
Terdengar suara tabrakan dari arah luar. Lia yang mendengar langsung berlari keluar untuk melihat. Naasnya semua orang berkumpul dan memanggilnya serta menyebut nama Ferdinand. Lia menghampiri mereka yang sedang berkerumun, ternyata mama Lia sedang memeluk Ferdinand yang sudah bersimbah darah. Lia pun tersungkur tak mempercayai kalau kakaknya menjadi korban kecelakaan.
****
"Tha".
"Aku cuma ingin memberitahukan kalau Ferdinand sudah meninggal".
"Aku memberitahumu karena kamu dekat dengannya".
" Maafkan aku sudah merepotkanmu".
"Mohon dimaafkan jika kakakku ada salah sama kamu".
Lia mengirim pesan kepada Yunita untuk memberitahukan perihal kematiaan Ferdinand.
" Meninggal kenapa Lia?".
"Kapan meninggalnya?"tanya Yunita.
"Kecelakaan tha".
"Sekitar 3 hari yang lalu"balas Lia.
" Aku baru saja dapat kiriman paket dari Ferdinand"kata Yunita.
"Syukurlah kalau sudah sampai" balas Lia.
"Kamu yang kuat ya Lia. Dia pasti berada di tempat yang baik, karena dia orang yang baik Lia".
" Bagaimana kondisi mama kamu?"tanya Yunita.
"Dia masih syok. Dan terus menangis"jawab Lia.
Kemudian Lia mengirimkan sebuah gambar dari hasil foto screenshoot.
𝘛𝘦𝘳𝘶𝘯𝘵𝘶𝘬𝘮𝘶 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘬𝘶 𝘴𝘢𝘺𝘢𝘯𝘨....
𝘑𝘪𝘬𝘢 𝘮𝘦𝘮𝘢𝘯𝘨 𝘳𝘢𝘴𝘢 𝘪𝘯𝘪 𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘮𝘦𝘯𝘺𝘢𝘬𝘪𝘵𝘪𝘬𝘶 𝘣𝘦𝘳𝘪𝘬𝘢𝘯𝘭𝘢𝘩 𝘬𝘦𝘴𝘦𝘮𝘣𝘶𝘩𝘢𝘯 𝘶𝘯𝘵𝘶𝘬 𝘴𝘢𝘬𝘪𝘵𝘯𝘺𝘢
𝘑𝘪𝘬𝘢 𝘮𝘦𝘮𝘢𝘯𝘨 𝘳𝘢𝘴𝘢 𝘪𝘯𝘪 𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘮𝘦𝘮𝘣𝘢𝘩𝘢𝘨𝘪𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘢𝘬𝘶 𝘮𝘢𝘬𝘢 𝘣𝘦𝘳𝘪𝘭𝘢𝘩 𝘣𝘢𝘩𝘢𝘨𝘪𝘢 𝘪𝘵𝘶
𝘔𝘢𝘢𝘧𝘬𝘢𝘯 𝘢𝘬𝘶 𝘵𝘢𝘬 𝘣𝘦𝘳𝘢𝘯𝘪 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘶𝘯𝘨𝘬𝘢𝘱 𝘤𝘪𝘯𝘵𝘢 𝘪𝘯𝘪
𝘈𝘬𝘶 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘪𝘯𝘨𝘪𝘯 𝘮𝘦𝘯𝘺𝘶𝘭𝘪𝘵𝘬𝘢𝘯 𝘥𝘪𝘳𝘪𝘮𝘶
𝘈𝘬𝘶𝘭𝘢𝘩 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘴𝘢𝘭𝘢𝘩 𝘵𝘦𝘭𝘢𝘩 𝘩𝘢𝘥𝘪𝘳 𝘥𝘢𝘭𝘢𝘮 𝘩𝘪𝘥𝘶𝘱𝘮𝘶
𝘛𝘢𝘱𝘪 𝘬𝘢𝘶 𝘢𝘥𝘢𝘭𝘢𝘩 𝘩𝘢𝘭 𝘵𝘦𝘳𝘪𝘯𝘥𝘢𝘩 𝘥𝘢𝘭𝘢𝘮 𝘩𝘪𝘥𝘶𝘱𝘬𝘶
𝘊𝘪𝘯𝘵𝘢𝘬𝘶 𝘵𝘢𝘬 𝘮𝘢𝘮𝘱𝘶 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘨𝘢𝘱𝘢𝘪𝘮𝘶
𝘊𝘪𝘯𝘵𝘢𝘬𝘶 𝘵𝘢𝘬 𝘴𝘢𝘯𝘨𝘨𝘶𝘱 𝘮𝘦𝘳𝘢𝘪𝘩𝘮𝘶
𝘊𝘪𝘯𝘵𝘢𝘬𝘶 𝘮𝘦𝘯𝘢𝘯𝘵𝘪𝘬𝘢𝘯𝘮𝘶
𝘑𝘪𝘬𝘢 𝘩𝘢𝘳𝘪 𝘪𝘯𝘪 𝘬𝘢𝘮𝘶 𝘣𝘶𝘬𝘢𝘯 𝘮𝘪𝘭𝘪𝘬𝘬𝘶
𝘒𝘶 𝘩𝘢𝘳𝘢𝘱 𝘣𝘦𝘴𝘰𝘬 𝘣𝘪𝘴𝘢 𝘣𝘦𝘳𝘴𝘢𝘮𝘢𝘮𝘶
𝘐 𝘓𝘖𝘝𝘌 𝘠𝘖𝘜 𝘠𝘜𝘕𝘐𝘛𝘈