"Sangat menyakitkan bukan jika kita tidak bisa bersama? Setiap malam aku selalu berdoa agar kita bisa berjodoh di masa depan walau aku tahu itu pasti mustahil terwujud. Kita tidak pernah berjumpa, berbicara, dan lebih parahnya hanya aku yang mengenalmu tapi aku menginginkanmu untuk menjadi jodohku di masa depan. Kalau di bayangkan sangat lucu."
"Tapi salahkah jika aku berharap demikian? Setiap manusia yang ada di bumi ini pantas mengharapkan sesuatu walau itu belum pasti terwujud. Tidak apa-apa, berharaplah sesuka hatimu dan biarkan Tuhan yang akan menjawab semuanya."
Malam yang menyesakkan lagi bagi Gaby. Hampir tiap malam dia mengalaminya. Entah apa yang di pikirkannya tapi dia selalu merasa sedih walau air mata tidak keluar dari pelupuk matanya yang cantik itu. Tapi percayalah, hatinya kian menjerit saat ini.
Tidur di ranjang kesayangannya sambil mendengarkan lagu favoritnya 'Can You See My Heart' menggunakan earphone, keadaan yang menggambarkan dirinya saat ini seakan-akan lagu itu tahu apa yang dia rasakan.
Entah sudah ke berapa kali lagu itu di putar berulang-ulang tapi tidak ada kata bosan keluar dari mulutnya. Dia tetap diam, mendengarkan lagu itu, dan menghayati liriknya.
"Bisakah aku bersamanya Tuhan? Aku sangat mencintainya."
Gaby lebih suka meluapkan emosinya di malam hari dibandingkan pagi, siang, atau sore. Kenapa begitu? Entahlah, tapi yang pasti dia lebih suka keadaan di malam hari. Entah sejak kapan dia lebih suka menyendiri. Banyak yang bilang kalau menyendiri itu tidak bagus, tapi tidak berlaku untuk Gaby. Dia tidak terlalu mau mendengarkan omongan orang-orang. Yang dia inginkan hanya menjadi dirinya sendiri.
"Ayolah air mata, tolong keluarlah. Sangat menyakitkan bagiku kalau kau tidak keluar. Jangan menahannya! Hatiku sesak!"
Percuma, air mata itu tidak ingin keluar. Apa dia lelah karena keluar terus menerus? Atau air matanya sudah habis tidak tersisa setetes pun?
"Aku merindukannya Tuhan, ku harap kami bisa berjumpa di alam mimpi. Selamat malam."
Setelah mengatakan itu Gaby tertidur dengan keadaan masih mendengarkan lagu kesayangannya.
***
"Hai Gaby!" Sapa seseorang dengan suara baritone, tak lupa juga dengan senyum yang mengembang di wajahnya.
Gaby menoleh dan langsung terkejut saat melihat sosok yang memanggilnya. Tubuhnya menegang dengan darah mendesir hebat.
"Ka-kamu?" Lirihnya tidak percaya melihat orang yang dia cintai, orang yang ingin dia jumpai, dan orang yang selalu dia bawa di setiap doanya berdiri di hadapannya saat ini.
Lelaki itu tersenyum, menampilkan deretan gigi yang putih bersih itu. Dia berjalan perlahan mengampiri Gaby.
"Ada apa? Kau seperti tidak senang melihat kehadiranku. Bukankah ini yang kau mau?"
Gaby diam tak bergeming. Dia masih tidak percaya dengan keadaan saat ini. "Apa aku sedang bermimpi? Jika iya kumohon jangan bangunkan aku Tuhan. Biarkan aku begini terus." Batinnya.
"Gaby?" Lelaki itu memanggil namanya sambil mengayunkan tangannya di depan wajah Gaby.
"Ah, maafkan aku."
"Kau melamun ya? Kenapa? Kau tidak suka dengan kehadiranku?" Tanyanya.
"Tidak, bukan begitu. Aku senang, hanya saja aku cukup terkejut. Apa ini mimpi? Aku sedang bermimpi ya?" Lelaki itu tidak menjawab pertanyaan Gaby, melainkan dia hanya tersenyum lembut menanggapinya.
Lelaki itu memegang tangan Gaby, "Ayo kita jalan-jalan. Kita harus mengabiskan waktu seharian ini bersama-sama!" Setelah mengatakan itu, lelaki tersebut menarik lembut tangan Gaby dan mereka berjalan kaki menuju ke suatu tempat.
Di sepanjang perjalanan, Gaby tetap fokus melihat wajah lelaki itu sambil bergumam, "Tuhan, terimakasih telah menjawab segala isi dari doaku."
Kini mereka sudah sampai di wahana permainan.
"Kau mengajakku kemari?" Tanya Gaby.
Lelaki itu menganggukkan kepalanya, "Hm, aku sedang ingin bermain denganmu jadi aku membawamu kemari."
Gaby mengedarkan pandangannya ke segala tempat, "Aneh, kenapa ini sepi sekali? Kemana semua orang?" Tanyanya lagi.
"Aku menyewa tempat ini khusus untuk kita berdua."
"Tapi kenapa?"
"Bukankah sudah ku katakan kalau aku ingin menghabiskan waktu berdua denganmu? Sudahlah jangan terlalu di pikirkan. Lebih baik kita bersenang-senang sekarang. Ayo!"
Lelaki itu menarik tangan Gaby menuju Komidi Putar. Mereka bersenang-senang disana. Canda, tawa, bahagia, mereka melewatinya tanpa ada orang yang melarangnya. Sesekali Gaby memotret momen itu menggunakan ponselnya. Bermacam gaya mereka lakukan dan itu sangat menyenangkan.
"Nah, sekarang kau mau main apa lagi?" Tanya lelaki itu.
Gaby berpikir sejenak, "Ayo kita ke rumah hantu!" Antusiasnya.
"Benar kau ingin kesana? Apa kau tidak takut, hm?" Goda lelaki itu.
Gaby menggeleng, "Tidak, tapi jika aku ketakutan aku kan mempunyaimu. Kau akan melindungiku."
Lelaki itu tersenyum dan mengacak rambut Gaby gemas, "Baiklah jika itu maumu, ayo."
Mereka berjalan menuju rumah hantu dan masuk kedalam sana. Aneka suara-suara aneh mulai terdengar di telinga mereka masing-masing. Gaby masih berani seperti perkataannya tadi, sampai tiba-tiba...
"AAAHHHHH!!" Teriak Gaby spontan dan memeluk tubuh kekar lelaki yang ada di sampingnya itu.
"Hei, ada apa?" Tanya lelaki itu khawatir.
"I-itu, ada sesuatu yang memegang kakiku. Tolong aku!" Pekiknya sambil mengeratkan pelukannya. Lelaki itu pun menoleh kebawah.
"Ini? Tenanglah ini cuma tangan palsu, kau tidak perlu takut." Lelaki itu pun menenangkan diri Gaby sambil mengelus lembut punggungnya.
"Sudah lebih baik?" Tanyanya.
Gaby mengangguk, "Ayo kita keluar, aku merasa tidak nyaman disini."
Lelaki itu tertawa, "Bukankah kau yang sangat antusias mengajakku kemari? Lalu kenapa kau yang menciut hanya karena sebuah tangan palsu? Astaga Gaby..."
Gaby mengerucutkan bibirnya, "Aku tidak takut, hanya saja aku kaget. Sudahlah, ayo kita tuntaskan perjalanan ini. Aku mau naik Bianglala.
Lelaki itu tersenyum, "Baiklah, ayo." Ucapnya sambil memegang erat jemari Gaby.
10 menit kemudian mereka sudah keluar dari tempat mengerikan itu. Gaby tampak senang dan bersyukur dalam diam. Karena selain tangan palsu yang di jumpainya, aneka macam suara aneh yang melengking pun terdengar dan makhluk mengerikan di sana. Apa Gaby takut? Jelas dia takut. Selama berada di dalam, Gaby terus menyingkirkan rasa takut itu dari pikirannya.
"Aku tidak mau lagi masuk ke dalam sana." Ucapnya to the point.
"Kenapa? Apa kau takut?" Tanya lelaki itu dan Gaby mengangguk.
"Jangan takut, mereka itu bukan hantu sungguhan. Mereka manusia seperti kita, hanya saja mereka di make-up kan seperti hantu untuk menakuti pengunjung yang masuk kesana."
"Iya aku tahu, tapi tetap saja di dalam sana mengerikan." Gaby memanyunkan bibirnya.
"Kau jangan khawatir, selama ada aku yang akan menjagamu, kau akan baik-baik saja."
Gaby menatap wajah lelaki itu dengan lekat. Memang benar yang di katakannya. Selama di dalam sana, Lelaki itu tau kalau Gaby ketakutan. Dia berusaha menenangkan Gaby dengan cara merangkul pundaknya dengan erat dan berbisik tepat di telinganya, "Jangan takut, ada aku yang selalu di sampingmu."
Gaby yang awalnya sangat takut tapi saat mendengar kata-kata itu seakan terhipnotis. Dia mulai tenang dan bisa mengontrol ketakutannya.
"Bolehkah aku bertanya?" Tanya Gaby.
"Hm, katakanlah."
"Apakah ini nyata? Maksudku, apakah semua yang kita lalui ini sungguh nyata? Apa aku tidak bermimpi? Aku masih tidak percaya dengan keadaan ini."
"Lelaki itu menjawab, "Kau akan mendapatkan jawabannya saat di malam hari."
"Kenapa harus di malam hari? Kenapa tidak sekarang saja?"
"Karena hanya di malam hari kau bisa mendapatkan jawabannya."
Gaby menunduk dengan tatapan sendu. Dia kecewa karena tidak bisa mendapatkan jawabannya sekarang. Setidaknya biarkan dia tahu apakah semua ini hanya mimpi belaka atau bukan. Jika ini mimpi, Gaby tidak ingin bangun dari tidur nyenyaknya. Biarlah dia tidur selamanya jika jiwanya bisa bersama dengan Lelaki impiannya. Tapi jika ini nyata, Gaby sangat berterima kasih kepada Tuhan karena doanya sudah terwujud, penantiannya sudah ada di depan mata.
"Aku tahu kau kecewa dengan jawabanku, tapi hanya itu yang bisa kau lakukan. Kau hanya perlu menunggu beberapa jam lagi. Itu tidak akan lama, bersabarlah."
Gaby kembali mendongakkan kepalanya dan menatap wajah Lelaki itu, "Baiklah, aku akan menunggunya asalkan itu bersamamu."
Lelaki itu tersenyum, "Bukankah sekarang ini kau sedang bersamaku? Yasudah, tadi kau bilang ingin naik Bianglala kan? Ayo kita kesana." Mereka pun pergi menuju dimana Bianglala berada.
Kini mereka sudah ada di dalam Bianglala, melihat pemandangan kota Seoul yang sangat indah dari atas sana. Masing-masing dari mereka hanyut dalam pikirannya.
"Setelah ini kau mau bermain apa?" Tanya Lelaki itu memecahkan keheningan.
Gaby menggelengkan kepalanya, "Sudah cukup bermain disini. Aku mau ke tempat lain, boleh tidak?"
"Boleh, kau mau kemana?"
"Pantai, sudah lama aku ingin kesana tapi tidak sempat. Aku ingin melihat sunset."
"Ide yang bagus, aku juga ingin melihatnya. Kita disana sampai malam hari dan disana kau akan mendapatkan jawabanmu."
Gaby tersenyum menanggapi perkataan Lelaki itu. "Kuharap itu bukan jawaban buruk Tuhan." Batinnya.
Mereka sudah selesai naik Bianglala dan sekarang mereka sudah keluar dari wahana itu.
"Kita ke pantai sekarang?" Tanya Lelaki itu.
Gaby mengangguk, "Hm, tapi kita naik apa? Taxi?"
"Tidak perlu, kita jalan kaki saja. Ada pantai yang dekat dari sini."
"Benarkah? Kok aku tidak tahu?"
"Makanya jangan menyendiri terus, sekali-sekali keluarlah melihat perkembangan dunia itu seperti apa." Ucapnya memegang tangan Gaby dan menariknya pelan untuk berjalan bersama.
Gaby terkejut, "Kau tahu dari mana kalau aku suka menyendiri?"
"Aku tahu semua tentangmu. Gaby, 21 tahun, seorang mahasiswi, suka menyendiri tapi cerewet, periang jika bersama orang yang dekat dengannya, kau suka samaku dan berharap kalau aku jodohmu di masa depan. Bahkan kau sering membawa namaku di dalam doa."
Gaby tercengang mendengarnya, "Sedetail itu? Jadi kau tahu semua kelakuanku? Dari mana kau tau kalau aku selalu berdoa sambil mengucapkan namamu?"
"Karena aku bisa mendengarnya. Apa kau tahu? Setiap aku mendengarmu berdoa dan menyebut namaku, aku merasa tersentuh dan bahagia. Aku berharap sama Tuhan agar bisa menemuimu dan inilah yang terjadi, Tuhan mengabulkan doa kita."
"Kau bisa mendengarnya? Semuanya?" Lelaki itu mengangguk.
"Kenapa bisa?" Tanya Gaby lagi.
"Entahlah, setiap malam sebelum tidur pasti aku mendengar sesuatu. Perkataan yang lembut dan manis sembari menyebut namaku. Awalnya aku kira itu hanya ilusi semata, tapi masa setiap malam aku mendengar kata-kata itu lagi? Jadi aku putuskan untuk mencari tau dari mana asal suara-suara itu dan aku juga berdoa kepada Tuhan agar dia membantuku.
"Dan kenapa kau tahu kalau itu suaraku? Aku tahu pasti kau tidak begitu yakin denganku.
"Kau benar. Tapi percayalah, aku juga pernah memimpikan dirimu saat berdoa, saat kau menyendiri, atau saat kau melakukan aktifitas. Aku tahu segalanya tentangmu dari mimpiku. Awalnya aku tidak percaya tapi disaat kau berkata itu benar, maka aku yakin apa yang aku mimpikan itu bukan hanya sekedar mimpi belaka."
"Aku tidak percaya kalau kau juga memimpikanku."
"Hm, aku juga tidak percaya."
Setelah mengatakan itu Gaby tidak menjawab perkataan Lelaki itu. Dia memilih diam dan berjalan dengan tangannya yang masih setia di gandeng. Gaby berkelana dengan pikirannya.
"Kita sudah sampai." Kata Lelaki itu membuka suara.
Gaby kembali mengedarkan pandangannya melihat pantai yang ada di hadapannya saat ini.
"Indah sekali. Ayo kita kesana!" Semangat Gaby dan dia berlari duluan meninggalkan Lelaki itu.
"Hati-hati! Nanti kau terjatuh!" Teriaknya tapi di hiraukan Gaby.
Kini Gaby sudah sampai di pesisir pantai. Dia merentangkan kedua tangannya dan memejamkan mata sambil menyambut angin di sore hari. Terasa damai, itulah yang di rasakan Gaby.
"Kau suka?" Tanya Lelaki itu sudah berdiri di samping Gaby dengan tatapan lurus ke arah pantai.
"Hm, sangat suka sekali." Jawab Gaby tanpa mengubah posisinya.
"Aku senang kalau kau suka."
Gaby membuka matanya dan menurunkan tangannya, "Terimakasih." Katanya.
Lelaki itu menoleh ke arah Gaby, " Untuk apa?"
Gaby pun ikut menolehkan kepalanya hingga tatapan mereka bertemu, "Untuk semuanya. Kau sudah membuatku bahagia seperti sekarang ini. Aku tidak akan melupakan momen terindah ini."
Lelaki itu tersenyum lembut, "Aku juga tidak ingin melupakan momen ini. Momen ini akan menjadi momen yang bersejarah untuk kita."
"Ayo kita berfoto!" Pekik Gaby.
"Baiklah, ayo!"
Mereka kembali berfoto dengan segala macam gaya. Berfoto berdua maupun individu mereka lakukan.
"Aku mau berfoto bersandar di pohon sana, tolong fotokan aku." Kata Gaby sambil menunjuk pohon yang dia maksud.
"Baiklah, ayo kita kesana."
Mereka berdua pun berjalan ke arah pohon yang di tunjuk Gaby. Gaby siap dengan posenya dan Lelaki itu mengambil gambarnya.
"Bagaimana? Bagus tidak?" Tanya Gaby.
"Bagus, kau ingin melihatnya? Kemarilah."
Gaby berlari kecil mengampiri Lelaki itu dan melihat hasil fotonya.
"Wah, bagusnya. Kau seperti photographer saja." Puji Gaby.
"Tidak, ini masih di bawah standar. Pujianmu berlebihan."
"Aku berkata sungguh-sungguh. Hasilnya sangat bagus. Aku suka."
"Benarkah? Kalau begitu terima kasih."
"Apa baru saja kau merendah untuk meroket?" Tanya Gaby.
"Ah, kau bisa menebaknya ya?" Lelaki itu menggaruk kepalanya.
Gaby mengibaskan rambut panjangnya yang terurai indah, "Gaby gitu loh."
Setelah mengatakan itu, mereka berdua tertawa bahagia.
"Lihat! Sunsetnya sudah mau mulai!" Ucap Gaby.
Lelaki itu melihat ke arah langit, "Indah sekali."
"Indah kan? Untung saja kita tepat waktu."
Lelaki itu menganggukkan kepalanya. Beberapa menit kemudian dia menatap Gaby yang masih senantiasa melihat sunset yang ada di hadapannya dengan tersenyum lebar.
Gaby menyadari tatapan itu dan dia bertanya, "Ada apa?"
Lelaki itu tidak menjawab pertanyaan Gaby, melainkan dia menarik gadis itu dan mencium bibirnya. Gaby terkejut dengan bola mata membesar. Dia mendorong Lelaki itu tapi hasilnya nihil, tenaganya tidak sekuat Lelaki yang sedang menciumnya saat ini.
Yang tadinya bibir itu hanya bersentuhan begitu saja, sekarang mulai berubah menjadi ciuman lembut, sangat lembut. Gaby mengalungkan tangannya ke leher Lelaki itu dan tangan kekar Lelaki itu memeluk erat pinggang Gaby. Bibir dan lidah saling menyambut, membiarkan suara decitan keluar begitu saja. Mereka saling bertukar saliva dengan tempo yang pas.
Berciuman di bawah pohon dengan keadaan sunset yang menyinari mereka sungguh romantis bukan? Biarlah para burung yang lewat dan suara deruan pantai itu menjadi saksi bisu cinta mereka dalam diam.
Setelah 10 menit berlalu, mereka menghentikan ciuman itu. Masing-masing dari mereka mengambil nafas sebanyak-banyaknya, kemudian mengeluarkannya.
"Maafkan aku, seharusnya itu tidak terjadi. Aku tidak bisa mengontrol diriku."
"Tidak apa, aku menyukainya." Jawab Gaby tersenyum malu-malu.
"Hah?!" Kaget Lelaki itu.
"Kenapa? Kau tidak suka? Tapi ku lihat kau sepertinya menikmati ciuman tadi."
"Ti-tidak, bukan seperti itu. Aku suka tapi aku kira kau akan marah dengan kelakuanku yang tiba-tiba menciummu."
Gaby tersenyum, "Tidak, aku tidak marah. Malah sebaliknya, aku bahagia."
"Kenapa begitu?"
"Jawabannya sederhana, karena orang yang kucintai menciumku. Yaitu kau."
Lelaki itu hanya diam tidak menjawab perkataan Gaby.
"Kenapa? Kau tidak suka dengan jawabanku ya? Maaf, bukan maksudku begitu. Aku hanya---"
"Sssttt.." Lelaki itu menempelkan telunjuknya ke bibir Gaby, "Aku hanya ingin jujur dengan perasaanku, itu kan yang ingin kau ucapkan?" Gaby menganggukkan kepalanya. "Tidak apa-apa, jujurlah aku tidak akan marah." Lanjut Lelaki itu kemudian melepaskan telunjuknya dari bibir Gaby.
"Lalu bagaimana? Apakah kau mencintaiku juga?"
"Kau ingin mendengar jawabannya?"
Gaby menganggukkan kepalanya dengan antusias, "Hm, aku mau!"
"Baiklah, ayo duduk. Aku akan menjawab seluruh pertanyaanmu mulai yang pertama sampai yang terakhir."
Kini mereka duduk di bawah pohon beralaskan pasir putih. Menatap pantai dengan suara deruan pantai dan angin malam yang menghangatkan hati bagi siapa yang merasakannya.
Lelaki itu masih diam tidak bergeming, Gaby sebenarnya bingung kenapa dia tidak bicara tapi dia memutuskan tetap diam dan menunggu.
Sementara Lelaki itu bimbang dengan perasaan yang tidak tenang. "Apakah aku bisa melakukannya Tuhan?" Tanyanya di dalam hati.
Mereka diam beberapa saat sampai Lelaki itu membuka suaranya.
"Gaby, maafkan aku." Lirihnya.
Gaby yang ingin menoleh ke arah Lelaki yang ada di sampingnya itu mendadak tidak jadi karena dia menahannya.
"Jangan menoleh, tetap dengan pandangan lurus ke depan dan dengarkan saja perkataanku."
"Gaby, sebenarnya saat ini kau sedang bermimpi." Ucap Lelaki itu to the point.
Deg! Seketika tubuh Gaby menegang mendengar pernyataan Lelaki yang ada di sampingnya. Apa yang dia takutkan ternyata benar-benar terjadi. Dia ingin berbicara tapi entah kenapa lidahnya seakan keluh.
"Tidak Tuhan, ini tidak benar kan? Kumohon jangan bangunkan aku dari mimpi indah ini. Biarkan aku bersamanya walau ini tidak nyata." Katanya dalam hati.
"Aku hanya bisa menjawab keseluruhan doa-doamu lewat mimpi. Aku tidak bisa menemuimu secara nyata. Maafkan aku." Sambung Lelaki itu.
"Tuhan mengijinkan diriku untuk menemuimu lewat mimpi dan ku lakukan seperti saat ini. Aku berusaha membahagiakan dirimu lewat mimpi karena hanya ini yang bisa ku lakukan. Aku tahu kau sangat mencintaiku, menyebut namaku di setiap doamu, aku sangat berterima kasih. Tapi kau tidak bisa memaksakan kehendakmu. Masa depanmu bukan denganku, tapi dengan orang lain. Aku tidak melarang kau untuk mencintaiku, tapi cintamu sangat berlebihan untukku. Kau lebih mencintaiku dibandingkan dengan dirimu sendiri." Lanjutnya.
Tes. Air mata Gaby jatuh dari matanya yang indah itu. Gaby tidak sanggup mendengarnya lagi. Dia ingin bangun sekarang juga.
"Gaby, aku sangat berterima kasih karena kau telah mencintaiku dengan sepenuh hatimu. Tapi maaf, kita tidak bisa bersama. Masa depan kita berbeda. Tapi ingatlah satu hal ini, aku akan selalu ada di sisimu. Kau tidak pernah sendirian."
Gaby memberanikan diri menatap Lelaki yang ada di sepanjang doanya, "Kenapa? Kenapa kita tidak bisa bersama? Apa kau tidak mencintaiku?" Tanyanya dengan suara serak dan pelan.
Lelaki itu tersenyum menatap Gaby dan menghapus air matanya dengan ibu jarinya.
"Jangan tersenyum, itu sangat menyakitkan untukku."
Lelaki itu tetap tersenyum tapi kali ini senyumannya tipis, sangat tipis sampai tidak terlihat. "Karena takdir kita berbeda. Aku tidak ingin melawan takdir karena itu akan berbahaya buat kita."
Gaby terisak mendengar jawabannya, "Kenapa takdir begitu kejam? Kenapa takdir tidak membiarkan kita bersama?"
"Itulah takdir. Itu sudah menjadi ketentuan Tuhan bagi umatnya, tidak ada yang bisa melawannya. Apapun takdir kita, kita harus bisa menerimanya dengan lapang dada dan tetap menjalani kehidupan kita."
"Lalu apa yang harus ku lakukan? Apakah aku harus melupakanmu? Jika iya, aku tidak bisa!"
"Kau tidak harus melupakanku, kau masih bisa mencintaiku seperti dulu. Tapi ingat, kau harus lebih mencintai dirimu sendiri. Jangan menyendiri, itu tidak baik buatmu. Kau orang yang ceria dan periang, berbaurlah dan cari kebahagianmu."
"Tapi kebahagiaanku dirimu!"
Lelaki itu kembali tersenyum, "Aku tahu, tapi kebahagiaanmu bukan tentangku saja. Kebahagiaanmu telah menantimu di masa depan dan kau harus menggapainya."
Setelah mengatakan itu, Lelaki itu bangkit dari duduknya. Dia mengulurkan tangannya ke hadapan gadis itu dan Gaby menyambutnya.
"Kau sudah mendapatkan jawabannya. Sudah saatnya aku pergi, jaga dirimu baik-baik ya? Aku akan merindukanmu." Ucap Lelaki itu.
"Kau mau kemana? Jangan pergi!" Gaby menahannya.
"Aku harus pergi ke tempat asalku, waktuku sudah habis. Kau juga harus bangun dari mimpimu, kasihan temanmu sedari tadi memanggil namamu agar kau bangun."
"Dari mana kau tahu?"
"Karena aku bisa mendengarnya."
Lelaki itu memegang kedua tangan Gaby dan mereka saling berhadapan.
"Aku senang karena kau menikmati momen kebersamaan kita. Aku bisa membuatmu tertawa bahagia, aku juga senang. Seperti yang ku katakan sebelumnya, aku tidak akan melupakan momen ini. Momen ini akan selalu ku kenang." Ucap Lelaki itu.
"Hiks, aku juga tidak akan melupakannya. Terima kasih telah hadir di kehidupanku walau itu hanya sebatas lewat mimpi. Kelak, aku akan terus berdoa agar di dunia nyata aku bisa berjumpa denganmu dan kuharap kau bisa mengenali diriku."
Lelaki itu tetap tersenyum, "Aku juga akan menantikan momen itu. Sekarang aku harus benar-benar pergi. Kau ingat pesanku, kau bisa mencintaiku tapi kau harus lebih mencintai dirimu sendiri. Ingat kalau kau tidak sendirian, ada aku yang selalu di sisimu. Kalau kau merindukanku, bawa aku ke dalam doamu. Jika Tuhan mengijinkan kita untuk bertemu, kuharap bukan lewat mimpi, melainkan dunia nyata." Gaby menganggukkan kepalanya antusias sambil menangis.
Lelaki itu menarik Gaby ke pelukannya. Gaby mengeratkan pelukannya sambil terisak di dada bidang Lelaki itu. Beberapa menit kemudian Lelaki itu melepaskan pelukannya dan kembali memegang kedua tangan Gaby.
Tidak lama kemudian secercah cahaya putih melintas di tengah-tengah mereka.
"Aku pergi sekarang. Jaga dirimu baik-baik, selamat tinggal Gaby." Setelah mengatakan itu, Lelaki itu perlahan menghilang dari hadapannya dan di ikuti dengan cahaya tadi.
"TIDAAAAKKKKK!!!!!" Teriak Gaby sambil menggapai bayangan itu.
"Astaga Gaby! Akhirnya kau bangun juga!! Kau kenapa? Aku sampai cemas ketakutan melihatmu!" Pekik Yunra, sahabat Gaby.
"Yu-yunra? Kenapa aku ada disini? Tadi aku ada di pantai bersama Lelaki itu!"
Yunra mengernyit heran, "Lelaki siapa yang kau maksud? Apa Lelaki yang tidak ingin kau sebut namanya itu?"
Gaby mengangguk sambil menangis, "Iya, dia dimana? Tadi aku sedang bersamanya. Kami ada di wahana permainan dan di pantai. Yunra, katakan kalau aku memang tidak sedang bermimpi kan?"
Yunra ikut sedih mendengar perkataan sahabatnya itu, "Kau mimpi Gaby, kau sedang bermimpi." Katanya pelan.
"Jadi yang di katakannya benar? Aku benar-benar bermimpi?" Yunra menganggukkan kepalanya.
Gaby menangis sejadi jadinya. Ini sangat menyakitkan baginya, tapi kenapa kejadian tadi terasa sangat nyata?
"Tenangkanlah dirimu, kau jangan begini. Percayalah, suatu saat nanti kau pasti akan bertemu dengannya. Sebentar aku ke dapur dulu mengambilkan air putih untukmu." Setelah mengatakan itu Yunra pun pergi.
Gaby tersentak mengingat sesuatu dan dia mengambil handphonenya. Dia membuka galeri dan apa yang dia pikirkan benar-benar terjadi.
"Ternyata benar kalau itu cuma mimpi." Gumamnya sambil menangis.
Dia mengecek galeri untuk melihat foto-foto yang ada di dalam mimpinya itu, namun hasilnya nihil. Tidak ada satupun foto kebersamaan mereka. Yang ada hanya fotonya bersama Yunra, sahabat kesayangannya.
"Aku akan selalu mengingat perkataanmu. Terima kasih telah hadir di dalam hidupku dan membuatku bahagia. Kuharap keinginan kita dapat terwujud, kita bisa berjumpa di dunia nyata."
-THE END-