Semburat jingga dari matahari terbenam membuat perkebunan ini terlihat indah. Pancaran warna itu membuat beberapa kopi yang mulai berubah warna menjadi matang terlihat semakin cantik.
Aku mengedarkan pandangan. Merasa ada yang memperhatikan. Lalu kembali melanjutkan melihat perkebunan. Tak ada yang mencurigakan. Baru setahun aku menjadi pendatang di desa ini. Sebuah desa yang begitu asri dan alami. Tenang dengan hawa sejuk menusuk dalam tubuh ini. Tak ada polusi. Yang ada hanya kopi. Sejauh manapun kau melangkah di desa ini, ada begitu banyak perkebunan kopi. Karena memang mayoritas penduduk di sini adalah petani kopi.
Berbagai macam kopi ada di sini. Sedangkan aku sendiri memproduksi dua jenis kopi robusta dan arabika dengan cita rasa yang khas dan unik.
Seorang pengamat kopi bergelar coffee master, Reza Ferdian, mengatakan kopi robustaku memiliki rasa yang jarang ditemui pada kopi dari daerah lain. “Saat meminum robusta latte, saya mendapatkan rasa palm sugar yang berpadu dengan kacang goreng (roasted nut) dan rasa karamel yang jarang ditemukan pada unsur robusta,” kata Reza. Ia menambahkan, terdapat beberapa rasa unik lainnya seperti asam jeruk yang jarang ditemui dalam robusta. Selain itu terdapat rasa kayu pinus yang menenangkan.
Biasanya, robusta hanya terasa pahit. Tapi karena terdapat unsur hara yang ikut tercampur pada tanaman kopiku, sehingga berpengaruh terhadap hasil akhirnya. Sedangkan untuk cita rasa kopi arabika, terkandung rasa lemon dan karamel. Selain itu aroma floral juga terasa dalam kopi yang cenderung asam ini.
Karena hal inilah, cita rasa yang unik dapat menambah nilai jual kopi milikku. Kualitas kopi yang baik membutuhkan proses pengolahan yang terjaga. Selain itu, perlu memperhatikan pemasaran kopi. Bila itu dilakukan, Aku yakin harga kopiku akan terus meningkat.
"Apa yang kau lakukan di sini hah!?"
Suara itu membuat dahiku berkerut dalam. Segera kaki melangkah menuju sumber suara. Terlihat seorang gadis tengah tertunduk di hadapan Kang Maman.
"Kang," panggilku pelan. Kang Maman langsung menunduk hormat. Dia bertugas menjaga perkebunan ini. Aku menatapnya dengan sorot tanya.
"Dia ketahuan masuk tanpa izin Tuan," lapornya padaku. Mataku beralih ke gadis itu.
"Maaf Tuan, saya hanya ingin melihat." ucap gadis itu sembari menunduk takut.
"Kau ingin melihat kebun ini?" tanyaku ramah. Dia mengangguk ragu. Aku menatap Kang Maman dengan kode meninggalkan kami. Si Akang menurut.
"Ayo." ajakku ramah sembari tersenyum.
"Ke-kemana tuan? Maafkan saya yang masuk tanpa izin." melihat wajahnya yang ketakutan membuatku berusaha keras menahan tawa.
"Kau bilang ingin melihat kebunku bukan?" wajah itu mendongak. Karena tinggiku yang lebih darinya membuat ia harus seperti itu. Semburat merah muda di pipinya membuatku terkesima. Kedua sudut bibirnya yang ranum terangkat sempurna. Aku menyadarkan diri dari terpesona lalu lebih dulu melangkah memasuki kebunku sendiri. Bisa ku dengar langkah kakinya yang anggun mengikuti.
Aku menjelaskan satu persatu dengan antusias dan mungkin ada rasa bangga di setiap kalimat. Sorot mata binar kekaguman itu membuatku sedikit merona. Padahal sebelumnya. Yang menjalankan kebun ini dari awal adalah ayahku. Aku hanya bertugas melanjutkan meskipun saat berpindah tangan padaku kopi kami semakin terkenal dan kualitasnya juga semakin tinggi.
"Anda sangat hebat," pujinya sembari tersenyum manis. Aku tertawa kecil.
"Tidak, tapi tolong jangan terlalu formal. Panggil aku Adam." wajahnya tersentak kaget. Membuatku sedikit mengernyit dahi tak suka karena tau apa yang ada di pikirannya. Seringkali para warga di sini menunjukkan rasa hormat yang berlebihan, yang justru di mataku sangat memuakkan. Karena aku lebih suka jika di pandang sederajat dengan mereka.
"Ah ternyata rumor itu benar," gumamnya pelan. Aku menatapnya seolah bertanya, 'rumor apa?'
"Rumor bahwa Anda memang rendah hati. Tak seperti tuan tanah yang lain di desa ini," jawabnya sembari tersenyum.
"Ya, aku tak suka mengenai teori kasta. Tanpa sadar , sebenarnya masyarakat Indonesia masih menggunakan sistem ini," ucapku sembari terus melangkah menyusuri perkebunan. Hanya ada kami berdua. Tak ada para petani yang bertugas di kebun ini karena sudah sore.
"Saya setuju, misalkan seperti pembully-an. Tanpa sadar anak-anak Indonesia merasa bahwa seseorang yang pendiam dan tak bisa melawan merupakan kasta terendah dan harus menjadi budak dan bulan-bulanan."
Aku menatapnya. Gadis ini lebih cerdas dari yang ku duga. Dia ... Berbeda.
"Sepertinya aku harus pulang Tuan," pamitnya sembari menatap ke langit senja. Aku tersenyum lalu mengangguk. Dia ikut mengangguk dan berbalik siap pergi.
"Namamu?" tubuh mungilnya berbalik. Semburat jingga yang sisa sedikit tepat berada di belakangnya. Bibir ranum itu tersenyum.
"Lastri."
Berhasil membuatku terkesima karena mata iris kecokelatan miliknya yang indah. Mengusap kasar wajahku sendiri karena lagi-lagi terpesona pada kecantikannya.
***
"Mas."
Aku tersenyum. Ada sebuah getaran di dada saat ia memanggilku dengan sebutan itu.
"Kau tak ingin mengajakku masuk Lastri?" wajahnya kaget setengah mati. Lalu mempersilakanku masuk.
"Kau sendiri?" Lastri menggeleng.
"Ada ibu di kamar. Lagi sakit." matanya berkaca-kaca. Membuatku salah tingkah, bingung ingin berkata apa.
"Abah?" tanyaku spontan. Lagi, mata itu menunjukkan sorot terluka.
"Abah, dua bulan yang lalu udah pergi." Lastri menatapku sembari tersenyum getir. Kemudian hanya hening yang menyelimuti. Aku tau ia sangat ingin bertanya mengapa aku kerumahnya. Tapi ia sangat enggan. Sedangkan aku merasa tak ingin menjelaskan.
"Ah ya, apa Mas suka kopi hitam?" aku mengangguk spontan.
"Sebentar, Lastri buatkan."
"Jangan pakai gula," ucapku agak sungkan.
Tak lama setelah itu, Lastri membawa secangkir kopi yang begitu wangi. Aroma khas yang berbeda dari kopi biasa. Aku menyeruputnya dengan khidmat. Hebat. Ini kopi yang sangat nikmat.
"Nikmat sekali Lastri," pujiku sembari tersenyum.
"Kopi dari kebun Abah memang berbeda. Tapi itu kopi terakhir." lagi, bibir ranumnya tersenyum getir. Aku menatap kepulan asap di atas cangkir yang berisi kopi itu. Di mataku kepulan-kepulan asap itu berubah harapan.
"Bisakah aku melihat kebun abahmu?" ia menautkan alis tak mengerti.
"Itu bukan pemandangan yang indah, kurasa," sahutnya.
"Sayang sekali, aku hanya ingin berjalan-jalan sebenarnya." wajah itu terlihat bingung saat aku mengucapkan dengan nada kecewa.
***
"Aku ingin belajar banyak hal tentang mengolah kebun kopi," gumamnya pelan. Aku tersenyum. Jadi itu alasannya masuk kebunku?
"Jadi itu alasannya?" Lastri tersenyum kikuk. Aku menatap ke sekeliling kami. Sebuah kebun yang cukup luas. Tak ada siapapun, hanya kami dan pohon-pohon kopi yang sudah mati.
"Sayangnya, pengolahan setiap jenis kopi berbeda," ucapku sembari menatapnya.
"Aku baru tau itu kemarin," jawabnya sembari menghembuskan napas kasar.
"Tapi aku bisa membantumu Lastri." Lastri menatapku. Iris kecokelatannya beradu dengan iris hitamku. Saling diam dengan mata terkunci.
"Hmm apa maksudmu Mas?" tanyanya dengan keraguan. Aku tau ia sedang gugup.
"Menikahlah denganku." matanya membulat sempurna.
"Lalu, kita akan mengolah kebun ayahku dan ayahmu bersama-sama. Maju sebagai kedua suami istri pengusaha kopi. Jenis yang berbeda tapi harga dan kualitas yang hampir sama."
Aku tersenyum sembari mengambil tangan mungilnya. Mengusapnya pelan. Andai kau tau Lastri. Saat kau mengatakan kopi terakhir itu aku melihatnya adalah sebuah harapan untuk memilikimu. Terlihat seperti mengambil kesempatan dalam kesempitan tapi aku tak peduli itu.
Selesai
Kalteng, 21 Mei 2020