Aku memejamkan mata sembari menikmati angin berhembus pelan ke muka. Membiarkan hembusan ini berbuat seenaknya dengan memainkan ujung rambutku yang tergerai seadanya. Rambut sepinggang berwarna hitam yang sering di puji banyak orang.
"Rambut lo cantik banget sih Din!"
"Iya, gue iri!"
"Sumpah, rambut lo beda dari yang lainnya!"
Itu beberapa komentar yang sering kudengar. Perlahan tanganku terangkat menyentuh ujung rambut ini. Menatapnya sembari berpikir. Sebelumnya aku tak menyadari mengenai keindahan rambut ini. Kata teman-temanku, rambutku berbeda. Ya, memang benar karena rambut ini berwarna hitam bergelombang. Hitam yang sangat pekat. Gelombangnya kurang lebih sama seperti putri disney yang memerani peran utama di film Brave.
Dulu, aku memakai hijab. Saat beberapa teman perempuan memujiku dengan mata berbinar penuh kekaguman ketika melihat rambutku yang cantik. Aku mulai berpikir untuk melepas hijabku. Dan itu benar-benar terjadi dua tahun yang lalu.
"Dina!" aku menoleh dan mencari sumber suara. Lelaki itu berlari ke arahku. Senyumanku mengembang.
"Din! Naik itu yuk!" aku menatap arah telunjuk Andi Lalu mengangguk semangat.
Aku dan Andi menaiki sebuah kapal berukuran sedang. Orang-orang di sini biasa menyebutnya 'klotok'. Kami sedang berada di pulau Kalimantan. Pulau yang terkenal banyak hutan.
"Din." tangan Andi mengenggam tanganku. Aku menatap jemarinya yang bertaut dengan jariku. Perasaan hangat ini dan tatapan lembut itu membuatku membeku. Aku tersenyum manis lalu mengedarkan pandangan. Melihat keindahan sungai yang entah mengapa bagiku pemandangan menenangkan.
Kami saling diam tapi bukan berarti suasana akan hening. Suara klotok sangat berisik. Mataku kemudian menatap ke arah mesin itu. Di ujung belakang klotok ini terlihat mesin berukuran sedang. Tapi fokusku justru teralihkan pada pemuda yang di apit dua wanita. Sebelah kanannya, wanita berhijab panjang dengan gamis berwarna senada. Sebelah kirinya, gadis cantik dengan rambut tergerai indah. Memakai celana mini dengan kaos pendek ketat. Bagian dadanya terlihat jelas menonjol.
"Masih lama yaa?" tanyaku setengah berteriak pada Andi
"Iya!"
Aku diam. Kami tengah menuju sebuah pulau yang di sebut pulau Kambang. Sebuah pulau yang menjadi tempat wisata. Di sana kau akan menemukan begitu banyak monyet dari yang menggemaskan hingga menyeramkan. Tingkah mereka yang usil seringkali mengundang gelak tawa wisatawan. Ini adalah tempat terakhir yang akan ku kunjungi selama di Kalimantan.
Mataku tak sengaja teralihkan lagi pada pemuda dan dua wanita tadi. Pemuda itu terlihat sangat sopan. Karena tempat yang lumayan sempit seringkali ia tak sengaja tersentuh dengan wanita di sebelah kanannya. Wanita berhijab itu nampak risih. Tapi kemudian diam, mungkin karena memaklumi.
Tubuh pemuda itu lalu agak menempel pada gadis disebelah kirinya. Wajah gadis itu juga nampak risih tapi pemuda itu nampaknya tak mengerti atau ... Tak peduli.
Mataku membesar ketika tangan kekar pemuda itu melingkar di pinggang ramping gadis cantik di sebelah kirinya. Tak hanya diam. Tangan pemuda itu nampak bergerilya di bagian -bagian tertentu.
Gadis itu sesekali menghentakkan tangannya dengan kasar. Tapi pemuda itu nampak berani dan juga tak peduli.
Dahiku berkerut dalam. Mengapa satu pemuda memiliki dua sikap yang jauh berbeda dengan dua wanita?
"Itu preman di sini." aku tersentak dan menatap seorang wanita paruh baya yang duduk dihadapanku. Beliau nampaknya sedang memperhatikan mereka juga. Sama sepertiku. Tapi, beliau memunggungiku dan menatap seorang gadis kecil di sebelahnya.
"Denger yaa Ina, Ina harus bisa jaga diri dari semua laki-laki yang begitu. Bukan hanya preman, lelaki biasa yang sering bertindak sopan akan melakukan hal yang kayak gitu kalau ada kesempatan. Tapi Ina bisa mencegahnya dengan menutup aurat dan menundukkan pandangan. Jaga agar jangan sampai bersentuhan."
Samar-samar kudengar petuah beliau untuk gadis kecil itu yang mungkin adalah putrinya. Seperti tetampar. Tapi bukan pipi yang panas tapi justru mataku. Karena aku pernah mengalami hal yang seperti itu. Di lecehkan di depan umum meski tak terlalu keterlaluan tapi cukup memalukan.
Benar, itu terjadi saat hijab yang membungkus rambutku terlepas.
***
"Dina?" aku tersentak dan membalikkan tubuh saat suara itu disertai sentuhan pelan di pundakku.
"Lia?" gumamku sembari menatap gadis manis yang berdiri tepat di hadapanku.
"Apa kabar Dina?" ada sorot mata aneh saat ia bertanya. Aku menelan saliva. Mengerti mungkin suasana canggung seperti ini terjadi karena penampilanku berbeda tak seperti dulu.
Lia salah satu teman lama. Kami dulu satu pesantren dan satu asrama. Menjadi teman dalam suka maupun duka. Lia gadis yang ceria sedangkan aku sering diam tak bersuara.
"Dina?" aku tersentak lalu tersenyum kikuk.
"Alhamdulillah baik Lia. Ka-kamu apa kabar?" aku terbata saat mengatakan kamu karena biasanya berbicara dengan temanku menggunakan kata gue dan lo.
"Alhamdulillah sehat dan baik juga." Lia tersenyum ramah. Sesaat hanya hening di antara kami. Saat aku akan izin pergi lebih dulu dari sini, suara gadis nampak berteriak memanggil nama Lia.
"Kak, Aku cariin dari tadi. Ternyata di sini."
"Kenapa gak nelpon?" Lia membuka tasnya dan menatap layar ponselnya. Kemudian gadis manis ini terkekeh pelan
"Makanya lain kali itu di bunyikan nada deringnya!" gadis yang baru saja datang itu menatapku dengan alis bertaut.
"Kan lagi di mushola. Bisa berabe kalau bunyi waktu sholat isya," sahut Lia membela diri.
"Oh iya, kenalin Ta, ini temen kakak, namanya Dina."
Aku mengangkat tangan dan menyalami gadis yang menatapku dengan sorot mata benci? Ah benci? Entahlah. Tapi tatapannya begitu mengintimidasi.
"Ita," ucapnya ketus dengan menyambut tanganku.
"Dina." Menggoyangkan pelan tangan kami yang berjabat sembari tersenyum ramah.
"Kak, yuk. Udah di tunggu Mas Rehan," ucap Ita sembari menatap Lia.
"Sebentar Ta," sahut Lia.
"Ngapain sih Kak temenan sama nih perempuan. Sholat tapi gak pakai hijab," bisiknya pelan.
Aku tertegun. Menunduk perlahan, mungkin sekarang pipiku memerah malu.
"Ta! Gak boleh gitu. Sholat 'kan kewajiban jadi terserah Dina lah yang mau menjalankan kewajiban. Bagus dong."
"Jaga aurat bukan kewajiban yaa?" sinisnya dengan menatap tajam.
Aku menghela napas kasar. Ternyata Ita adalah salah satu muslimah yang suka banyak bicara dan 'judge' orang lain se-enaknya. Yang lebih miris, Orang-orang seperti mereka cenderung menegur sesamanya dengan hujatan kasar dan tak bermoral. Membuat yang di tegur seringkali marah karena sikapnya bukan karena apa yang mereka sampaikan.
"Ta!"
"Udah gak papa Lia, aku duluan ya!" aku berjalan meninggalkan mereka yang masih di depan mushola Mall di salah satu kawasan Jakarta.
Sempat kudengar bagaimana Lia marah pada Ita atas ucapan tak sopannya. Aku menghela napas. Mata ini juga mulai memanas.
***
Matahari mulai tenggelam di ufuk barat. Aku menghela napas berat. Menatap semburat jingga dari sang surya yang nampak memanjakan mata. Duduk dengan kepala yang bertumpu pada kaki yang kusedekapkan di dada.
Terlintas bagaimana keseharian dulu saat memakai hijab. Kain penutup kepala itu nampak biasa. Tapi aku baru tau. Bahwa dampaknya sangat luar biasa.
Sekelebat ingatan saat aku dan Andi di Kalimantan melintas begitu saja.
"Din!" Andi menahan pintu kamar hotel tempatku menginap yang akan segera ku tutup. Mata hitamnya menatapku sayu.
"Kenapa?" tanyaku yang masih tak mengerti. Kamarnya berada di sebelah kamarku. Apa ada sesuatu?
"Aku ... Boleh masuk?"
Aku menatapnya dengan alis yng bertaut. Tapi tanganku membuka lebar kamar dan membiarkannya masuk. Andi berjalan ke tepi ranjangku dan aku mengikutinya setelah menutup pintu.
Kami duduk bersebelahan dengan canggung. Sebuah pesan dari ponsel mengangetkanku. Aku membuka pesan itu. Hingga napas panas begitu menggelitik leherku.
Perhatianku teralih dari ponsel pada Andi yang wajahnya sangat dekat dengan wajahku. Deru napasnya yang panas membuat bagian liarku memberontak keluar.
"Ndi?" aku menatapnya dengan menelan saliva. Detik selanjutnya ia menyatukan bibir kami. Terdiam beberapa saat lalu mendorongnya dengan sekuat tenaga.
"Apa yang kamu lakuin Ndi!" bentakku dengan meringsut menjauh darinya.
"Apa lagi Din? Seperti yang biasa mereka lakukan saat pacaran."
Aku dan Andi memang pacaran tapi tak pernah saling bersentuhan hingga melewati batas seperti sekarang.
"Ini hal yang wajar Din, kita udah pacaran dua bulan. Mereka biasanya cuma sebulan bahkan udah tidur bareng."
Plak!
Mataku membulat sempurna. Aku menamparnya.
"Dina!" aku tersentak karena bentakan Andi. Ia menatapku dengan mata merah yang penuh amarah.
"Ma-maaf," lirihku sembari berdiri. Tangan kekarnya menangkap lenganku. Detik selanjutnya aku terjatuh ke pelukannya. Andi mengganti posisi kami dan mendekapku. Mata itu penuh kabut gairah dan amarah.
Aku meronta. Berusaha melepaskan dekapannya. Ia mengunci tubuhku yang ada di bawahnya.
"Ayolah Din, sekali aja." aku diam dengan tetap meronta. Bibirnya mulai menyapu leher dan telinga.
"Oke, tapi nanti." Andi berhenti dan menatapku dalam.
"Sekarang, aku belum siap. Please." aku memelas dengan napas tersengal. Lelah mencoba melawan tenaganya. Berharap dalam hati semoga Andi mengurungkan niatnya. Tapi itu mungkin hanya harapanku saja.
Andi kembali melanjutkan aksinya. Setiap sentuhannya hampir membuatku gila. Dalam sisa kewarasan yang ada aku mengingatkan diriku.
Dina! Sadarlah!
Satu bulir bening jatuh di sudut mata. Karena aku sudah kalah, tak mampu lagi untuk mencegahnya. Otak yang mengatakan ini adalah sikap yang gila sedangkan tubuhku mulai menerima dan merespon setiap sentuhannya.
"Ndi, please ...." Andi mengangkat wajahnya dan menatapku. Mungkin menyadari suaraku yang bergetar.
Andi menghela napas. "Oke, tapi lain kali." bibirnya mengecup pelipisku lalu pergi dari kamar.
Aku menghela napas lega mengingat hal itu. Kakiku melangkah menuju lemari dan mengambil kain berwarna biru. Melangkah lagi menuju kaca di sudut kamarku. Berdiri dan melilitkan hijab pada kepalaku.
Rambutku yang cantik dan hijab yang menarik? Dua-duanya memiliki arti yang berarti dan tentu tak sama. Aku memutuskan untuk kembali memakainya.
Membungkus rambutku yang cantik dengan hijab yang menarik. Berusaha menjadi lebih baik. Kembali pada jalan-Nya. Berusaha menjalankan setiap perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya. Karena hati ini sudah menyadari bahwa fungsi hijab bukan hanya menutup rambut di kepala tapi juga untuk menjaga.
Selesai
***
Bagaimana denganmu? Hijab yang menarik atau rambut yang cantik?
"Hai Nabi, katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mukmin: "Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka". Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak di ganggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang."
(Q.S Al-Ahzab: 59)