Awan mendung berwarna hitam pekat menggantung di langit, ditemani kilatan cahaya petir yang menandakan bahwa tak lama lagi hujan akan segera turun.
Seorang pemuda tengah berlari menerobos keheningan malam. Ia menuju ke satu-satunya rumah yang terletak di ujung kampung itu.
Bau dupa menyambut penciuman siapa pun yang masuk ke rumah bercat hijau itu. Aura yang sukses membuat orang merinding. Cat rumahnya boleh saja berwarna cerah. Namun, tidak dapat dipungkiri, perasaan takut menjalar kala memasuki bangunan itu.
Di dalam rumah, cahaya sangat minim menyinari. Hanya diterangi oleh dua petromaks yang jaraknya dibuat berjauhan.
Seorang kakek tua bernama Mbah Adi dengan kulit hitam legam, mengenakan celana selutut. Kumisnya dibiarkan tebal dan melintang. Ia duduk bersila, di depannya terdapat anglo, tompo, dan beberapa perlengkapan dukun lainnya.
Pemuda bernama Raga itu duduk di hadapannya dengan sungkan.
"A-"
Baru saja ia hendak mengucapkan maksud kedatangannya, tetapi dipotong oleh Mbah Adi. "Saya sudah tahu apa yang kamu inginkan."
"Iya, Mbah. Tolong buat gadis ini tergila-gila pada saya." Raga menunjukkan sebuah foto seorang gadis cantik yang ternyata primadona di kampungnya.
Karena mendengar berita bahwa gadis itu akan segera menikah, Raga tak rela. Ia pun akhirnya menempuh jalan itu. Dalam hati, ia mungkin mengakui hal tersebut salah. Namun, suara batinnya tertutup oleh hawa nafsu dan bisikan setan.
"Tapi, semua itu ada resikonya. Ada harga yang harus dibayar. Karena ini adalah pelet terhebat. Sekuat apa pun kamu berusaha, kamu tidak akan bisa lepas darinya. Bahkan bisa saja nyawa kamu yang jadi taruhannya. Apa kamu siap menerima akibatnya?" Nada suara Mbah Adi terdengar pelan, namun membuat bergidik ngeri siapa pun yang mendengarnya.
Raga menelan saliva dengan keras, ia terdiam cukup lama. Sampai akhirnya menganggukkan kepala.
Perlahan Mbah Adi berkomat-kamit merapal mantra.
"Sekarang, pulanglah! Besok reaksinya akan terlihat," ujarnya setelah selesai.
Raga pun pamit pulang, tak lupa sejumlah uang ia selipkan saat bersalaman.
***
Sementara itu di tempat lain, seorang gadis tengah tertidur pulas. Tanpa ia sadari, kepulan asap hitam perlahan mendekati dan masuk ke dalam kamarnya.
Kepulan asap hitam itu semakin tebal dan mengelilingi kepala Rinay, nama primadona itu. Perlahan sosok makhluk berlendir keluar membelah asap hitam itu, diikuti suara guruh yang menggelegar di udara. Makhluk itu merangkak ke wajah Rinay.
Makhluk mengerikan itu perlahan merobek wajah Rinay, lalu masuk ke dalamnya. Alih-alih kesakitan, gadis itu masih saja terjaga dalam tidurnya. Bahkan wajahnya kembali ke bentuk semula, tanpa ada luka sedikit pun.
***
Seisi kampung geger saat Rinay si primadona membatalkan pernikahannya. Semua orang saling berbisik dan bertanya-tanya, apa penyebabnya. Padahal, setahu mereka lelaki yang mau menikah dengannya sangat tampan, kaya dan dermawan.
Gosip santer itu tentu saja sampai ke telinga Raga, ia hanya tersenyum mendengar kabar yang baginya menggembirakan itu.
Tiba-tiba ponselnya berdering tanda pesan masuk dari Rinay. Raga kegirangan sampai meloncat-loncat, dan tak sengaja berteriak. Lalu ia menutup mulutnya dan menengok ke kiri kanan, takut ada orang yang melihatnya.
"Kalau ada yang lihat, nanti aku disangka orang gila," pikirnya.
Setelah percakapan-percakapan singkat melalui benda berbentuk persegi panjang itu, Raga semakin dekat dengan Rinay. Mereka pun semakin sering jalan berdua. Sampai orang-orang di kampung keheranan, dan mereka juga sempat bergosip bahwa Raga memakai pelet, makanya Rinay nempel terus padanya.
"Eh, kalian kalau ngomong ya dijaga. Mana mungkin aku pakai begituan. Kalau Rinay suka sama aku, berarti itu rezekiku, dong! Punya bini primadona," katanya dengan bangga, menjawab salah satu perkataan orang yang menuduhnya memakai pelet.
"Kalau kalian iri sama aku, bilang aja," ketusnya lagi pada teman-temannya yang mempertanyakan hal sama pada Raga.
Awalnya semua berjalan dengan baik. Sangat baik. Seperti yang Raga harapkan. Akhirnya cinta yang ia impikan selama bertahun-tahun, termiliki juga. Senyuman tulus Rinay akhirnya ditujukan untuknya.
Itu adalah kebahagiaan yang akan ia pertahankan sampai kapan pun. Selamanya.
Beberapa minggu berjalan sejak mereka jadian, Sesuatu mulai terjadi ....
Raga sering melihat sebuah tangan muncul di belakang kepala Rinay.
"Kenapa? Kok bengong?" tanya Rinay menyadarkan lamunan Raga.
Raga mengerjap, seketika pemandangan menyeramkan itu hilang.
"Nggak ... nggak ada apa-apa," jawab Raga.
Namun, semakin lama. Sesuatu itu semakin sering terlihat dan semakin jelas. Dan hanya Raga yang melihatnya. Bahkan Rinay sendiri pun tak merasakan tangan-tangan yang keluar dari kepalanya.
Saat tangan-tangan itu hilang, Rinay hanya diam dan seperti bingung dengan diri sendiri dan sekitarnya.
Ketika tangan-tangan itu kembali muncul, Rinay jadi sosok pemilik senyum indah. Dan selalu memberikan obrolan-obrolan cerianya. Tetapi, kali ini senyumannya terlihat mengerikan.
"Ka-kamu kenapa?" tanya Raga terbata-bata.
"Kenapa apanya? Kamu tuh yang aneh, kenapa lihatin aku begitu, sih? Aku udah nggak cantik lagi, ya?"
"Ng-ngak kok. Kamu tetap ca-cantik seperti dulu."
Raga pun akhirnya berpikir, apa yang telah ia lakukan pada Rinay.
Siapa yang tahan melihat sesuatu yang seperti itu terus-menerus? Raga pun perlahan mulai menjauhi Rinay.
***
Drrttt ....
Satu pesan masuk di ponsel Raga, terpampang nama Rinay di layar. Dibukanya pesan singkat itu.
[Jalan, yuk!].
[Besok aja ya, aku lagi ada perlu di luar nih].
Raga pun membalasnya dengan berbohong, untuk menghindari Rinay.
[Aku sudah ada di depan pintu, keluarlah! Aku tahu kamu ada di dalam].
Glek!
"Apa yang harus kulakukan?" pikirnya kebingungan.
Bukankah itu yang ia inginkan? Membuat Rinay cinta mati padanya. Benar. Semua sudah berjalan seperti yang ia inginkan. Ia tak boleh mengacaukannya.
Raga pun bergegas keluar untuk menemui Rinay.
Tetapi, tetap saja hatinya tak tahan lagi dengan sikap Rinay yang semakin hari semakin aneh.
***
Raga berlari membelah keramaian. Ia sedang menghindar dari kejaran Rinay. Sekeras apapun ia bersembunyi, Rinay selalu bisa menemukannya.
"Kenapa akhir-akhir ini kamu selalu berusaha menghindar dariku, Raga?" tanya Rinay dengan tatapan tajam.
"A-aku sedang sibuk." Begitulah dalihnya.
Sampai suatu malam, Raga mengambil keputusan untuk memutuskan Rinay. Karena, semakin hari makhluk mengerikan itu semakin jelas menampakkan wujud aslinya.
[Keluar sekarang!].
Sebuah pesan masuk dari Rinay.
Dengan langkah berat Raga bergegas menemuinya.
"Mau apa lagi? Kita kan udah putus," kata Raga.
"Kenapa kamu minta putus? Memang apa salahku? Apa kamu sudah bosan sama aku?" tanya Rinay dengan raut wajah sedih.
"Ti-tidak. Bukan begitu ... maksudku ...." Raga menghentikan ucapannya karena melihat sosok berlendir menyembul dari kepalanya. Tentu saja itu membuat Raga ketakutan, dan beringsut pergi. Tak menghiraukan teriakan Rinay yang memanggil-manggil namanya.
Ia pun memutuskan untuk pergi menemui Mbah Adi, agar Rinay dibebaskan dari peletnya. Namun, saat sampai di rumah kakek tua itu, tak ada siapa pun di sana. Bahkan rumahnya terlihat terbengkalai dan kotor. Banyak dedaunan kering bertebaran di teras depan rumahnya. Ranting-ranting pohon merambat masuk ke dalam rumah itu lewat celah ventilasi.
"Ke mana Mbah Adi? Sial, apa yang harus kulakukan?" gumamnya kebingungan.
Sekarang apa yang harus dia lakukan? Sementara Mbah Adi yang memasang pelet itu entah pergi ke mana.
"Raga, aku nggak mau putus sama kamu. Daripada putus, mending kita mati aja, yuk." Suara keras Rinay terdengar dari kejauhan. Dan itu membuat Raga semakin tak karuan.
"Kenapa gadis setan itu bisa mengikutiku sampai ke sini? Aku harus bagaimana?" pikirnya ketakutan. Keringat dingin bercucuran membasahi wajahnya.
Raga semakin kalang kabut saat sosok Rinay mulai terlihat, muncul dari balik kegelapan. Akhirnya ia memutuskan untuk berlari kembali dari kejaran Rinay, sampai masuk ke pelosok hutan.
Berlari tanpa arah membuat Raga tersesat di dalam hutan. Ia berhenti tepat di depan sumur tua yang tali timbanya sudah dipenuhi tumbuhan merambat.
Ketika berbalik, hendak mencari jalan lain. Tiba-tiba, Rinay muncul di hadapannya.
"Kamu jahat, Raga ...." Rinay menunduk sambil terisak. Lalu wajahnya kembali terangkat menatap Raga tajam. Matanya mendelik, lehernya mengejang, sementara napasnya mulai tersengal-sengal. Rinay berjalan perlahan ke arah Raga.
Raga hanya menatapnya sambil menelan ludah.
"Jangan mendekat, kamu bukan Rinay! Kamu perempuan setan!" teriak Raga ketakutan.
Rinay tak memedulikan teriakan Raga, ia terus mendekat ke arah Raga. Sementara Raga jadi berjalan mundur ke belakang. Sampai akhirnya ia terpojok, punggungnya mengenai sumur tua itu. Raga menoleh ke belakang. Menjulurkan lehernya melihat ke bawah sumur itu yang terlihat cukup dalam. Bisa membunuh siapa saja yang jatuh ke dalam sana.
Seketika muncul ide yang sangat gila. Ia berpikir untuk mendorong gadis itu ke dalam sumur, saat Rinay sudah berada di dekatnya.
Rencana Raga berhasil. Pada saat Rinay berada tepat di depannya, ia langsung menarik dan mendorongnya sampai jatuh ke dalam sumur. Terdengar teriakan keras dari dalam sana. Raga melihat ke bawah sumur itu sambil tersenyum, akhirnya ia bisa terbebas juga dari jeratan wanita itu.
"Ternyata gampang juga menyingkirkan setan itu," ujarnya sambil tersenyum puas.
Tetapi, saat ia berbalik. Tiba-tiba ... sebuah rambut berlendir mengikat lehernya. Rambut itu berasal dari bawah sumur. Raga berusaha keras melepaskan diri dari jeratan rambut itu, namun semuanya sia-sia karena semakin Raga berontak, semakin kuat rambut itu menjeratnya. Sampai akhirnya Raga kalah, ia tertarik masuk ke dalam sumur tua itu.
Raga meraih apa saja untuk menahannya. Tangannya meraih tali timba, dan berhasil membuatnya tertahan untuk sementara waktu. Tetapi, tali itu tak cukup kuat untuk menahan berat badannya. Tali itu pun akhirnya putus.
Raga tak kehabisan akal, ia mencari pegangan apa pun yang bisa dipegang. Tangannya meraih batu sumur dan mengeratkannya di sana.
Dari bawah, sosok berlendir itu terus bergelayut dari mulai kaki Raga. Kini sosok itu sampai ke pinggang Raga, membuat Raga tak henti-hentinya berteriak ketakutan saat lidah sosok itu menjulur-julur dan menjilati tubuhnya.
"Ayo ikut ...," desis makhluk itu.
Tangan Raga tak mampu bertahan lebih lama lagi, karena sosok berbau busuk itu terus menariknya ke dalam air hingga membuat jemari Raga terkelupas akibat terlalu kuat mencengkeram bebatuan sumur. Pada akhirnya ia terjatuh juga disertai teriakan keras yang memecah keheningan malam hutan. Perlahan suara teriakan itu hilang bersamaan dengan suara orang yang tercebur.
***
Keesokan harinya, warga digemparkan dengan penemuan mayat seorang pria dan wanita di pinggir sungai dekat desa. Yang mencuri perhatian adalah kondisi kedua mayat yang tak biasa. Posisi wanita memeluk si pria dari belakang, anehnya mereka tak bisa dilepas. Baru diketahui identitas mereka berdua tak lain adalah Raga dan Rinay. Rupanya sumur tua itu airnya mengalir langsung ke sungai dekat desa mereka.
Para penduduk terpaksa menguburkan jasad mereka berdua secara bersamaan, karena tangan Rinay sangat sulit sekali dilepaskan. Bahkan sudah berbagai macam cara mereka lakukan. Tak ada yang berhasil. Kejadian itu pun membuat mereka semakin yakin bahwa Raga memang sudah memelet Rinay.
Peristiwa yang terjadi pada Raga adalah salah satu bukti bahwa kita tidak boleh bermain-main dengan hal mistik. Terutama meminta bantuan seorang dukun. Berusahalah selagi bisa, dan jangan lupa berdoa kepada Tuhan agar keinginan kita dikabulkan.